Tips membaca buku untuk pekerja yang sibuk

tips membaca buku

Source: facebook.com/activeenglishbali

Tulisan iseng-iseng tidak berhadiah ini saya dedikasikan kepada para pekerja yang tiap hari harus bekerja keras sampai seringkali tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca buku. Ternyata kita masih bisa lo membaca buku walaupun sedang sibuk. Karena semua ada triknya. Hal apapun akan mungkin terwujud kalau ada niat sejak awal. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca buku karena sibuk ya… Berikut tips yang bisa diikuti:

  1. Pilih buku yang menjadi minat dan/ atau kebutuhan Anda. Misal: jika Anda seorang praktisi HR, buku tentang psikologi industri atau manajemen SDM akan sangat menarik dan berguna. Dengan begini akan ada motivasi lebih untuk membuka dan membaca buku itu, serta Anda tidak akan berpikir sedang membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Ingat: Anda tidak perlu membaca semua buku di dunia ini. Jadi sebelum membaca, seleksi yang ingin Anda baca terlebih dahulu.
  2. Atau kalau untuk Anda yang suka membaca untuk mencari hiburan (karena banyak yang ingin “lari” dari beban kerja!), pilih buku yang menurut Anda akan menghibur Anda. Yang masuk dalam kategori buku yang Anda cari adalah fiksi, biografi, memoar, spiritual, pengembangan diri, travel, kuliner, lifestyle, hobi, dsb.
  3. Bawa buku yang sedang Anda baca kemana-mana (entah dalam bentuk buku fisik atau pdf di gadget Anda). Tujuannya adalah, ketika ada jeda di antara aktivitas lain (biasanya menunggu orang, sebelum meeting, dsb) Anda bisa meluangkan waktu untuk membaca daripada melakukan hal-hal lain yang kurang bermanfaat.
  4. Setelah kerja atau sebelum tidur, luangkan sedikit waktu untuk membaca (saya biasanya 1 jam, 2 jam kalau saya beruntung). Selain “mengistirahatkan” otak Anda dari jenuhnya bekerja, membaca sebelum tidur bisa berfungsi untuk membuat refleksi diri dan me-reset pikiran. Bonus lain tentu ilmu yang lebih melekat.
  5. Last but not least, kalau ingin lebih termotivasi, bisa bergabung di book club (klub buku tempat orang-orang membaca buku dan membicarakan apa yang mereka baca) sesuai dengan minat Anda, offline atau online. Atau Anda bisa membuatnya sendiri di tempat kerja Anda sendiri. Fungsi bergabung dengan book club adalah untuk mendapat dorongan positif dan motivasi untuk terus membaca. Karena jujur, tidak ada yang lebih mengecilkan hati selain dihadapkan pada orang-orang yang tidak memahami manfaat membaca atau secara terus terang menyuruh Anda berhenti membaca! Saya pun pernah mengalaminya dan hal itu tidak menyenangkan…

Jadi bagaimana? Tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca buku kan? Coba sekali lagi saya ingatkan apa saja manfaat membaca buku. Di antaranya mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan menganalisa lingkungan, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, menambah kosakata, serta memberikan hiburan. Dan yang terpenting untuk orang yang bekerja adalah menambah ilmu dan meningkatkan ketrampilan sesuai dengan bidangnya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri! Selamat membaca!🙂

 

#5BestReads: 1st Semester 2016

Beberapa waktu lalu saya sempat mencuit ide untuk menominasikan 5 buku terbaik yang saya baca sepanjang 2016. Karena satu tahun adalah waktu yang cukup lama, jadi saya berpikir untuk mempersingkat waktunya ke 6 bulan atau satu semester. Bulan ke-6 sudah berlalu. Walaupun demikian, belum telat untuk melakukan nominasi ini. Jadi ini lah 5 Best Reads versi saya. Oh ya, urutan tidak mengindikasikan tingkat penilaian.

1. Bali: A Paradise Created (Adrian Vickers) – Second Edition

Bali A Paradise Created

Buku pertama yang saya baca tahun ini. Yang saya suka dari buku ini adalah karena ia ditulis tanpa tedeng aling-aling. Judul mengindikasikan tidak lain tidak bukan isi buku yang menggambarkan bagaimana citra Bali sebagai sebuah “surga” diciptakan (paradise created). Ada banyak peristiwa dan fakta sejarah yang jarang disebut-sebut di media mainstream. Sayang buku ini hanya tersedia dalam versi aslinya dalam bahasa Inggris.

2. Arok Dedes (Pramoedya Ananta Toer)

Processed with VSCOcam with f2 preset

Saya jarang membaca fiksi. Tapi karena buku ini sering disebut, saya jadi penasaran. Sekali lagi, salah satu buku terbaik yang pernah ditulis Pram. Seperti novel-novel lainnya, buku fiksi ini kental dengan nuansa sejarah. Berlatar peristiwa kudeta atas Tunggul Ametung penguasa Tumapel yang menandakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Singosari, secara menarik dalam novel ini Arok ditempatkan sebagai sosok protagonis yang simpatik.

3. Rise above the Crowd (Indrawan Nugroho)

Rise above the Crowd

Agak berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini jelas bukan buku sejarah. Bisa dibilang masuk dalam kategori pengembangan diri. Penulisnya sendiri adalah seorang konsultan bisnis. Yang saya suka dari buku ini adalah esensi mengenai personal dan business branding yang lebih kurang terinspirasi dari konsep Blue Ocean Strategy (lihat di bawah) dipaparkan secara sistematis dan doable, dengan bahasa yang sederhana.

4. Blue Ocean Strategy (W. Chan Kim & Renee Mauborgne)

Blue Ocean Strategy

Beranjak ke buku bisnis. Perlu 7 tahun akhirnya buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia. Kualitas terjemahan tidak buruk. Karena idenya yang brilian, tak heran buku yang ditulis dalam kurun waktu 20 tahun ini mendapat tanggapan luar biasa. Blue Ocean Strategy merujuk pada strategi dalam memenangkan pasar tanpa harus “bersaing” dengan pemain lain. Dan menurut penelitian yang dilakukan oleh penulis, strategi ini yang membuat banyak perusahaan bertahan. Walaupun contoh-contohnya mengambil pengalaman para korporasi besar, pelaku UMKM pun bisa memetik manfaat dari buku ini. Penasaran?

5. Nusantara: Sejarah Indonesia (Bernard H. M. Vlekke) – Edisi 1961

Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Kembali ke sejarah. Kualitas terjemahan buku ini baik – bahkan lebih baik dari buku di atas. Sebelumnya saya menulis resensinya di Resensi buku: Nusantara. Saya suka buku ini karena memaparkan garis waktu sejarah Indonesia yang begitu panjang (130 – 1940-an M) dengan padat dan ringkas. Buku ini bisa menjadi “gerbang” bagi yang ingin mulai mempelajari sejarah bangsa ini sebelum masuk ke bagian-bagian yang lebih terperinci.

Demikian 5 Best Reads untuk semester pertama 2016 versi saya. Kalau pembaca ingin membuat versi sendiri, entah itu di blog atau sosial media, jangan lupa cantumkan tagar #5BestReads. Mari kita ramaikan jagat literasi Indonesia. Selamat membaca!

Resensi buku: Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Bagi siapa saja yang sedang bingung atau gagal memahami apa dan siapa itu Indonesia, saya sarankan untuk berpaling pada buku ini. Buku ini bisa dibilang usaha paling komprehensif merangkum sejarah Indonesia sejak tahun 130 – 1940-an M, yang ditulis secara padat dan ringkas (untuk garis waktu sepanjang itu, 450 halaman kelewat ringkas!).

Siapa Indonesia? Tidak lain tidak bukan adalah wilayah kepulauan di Asia Timur yang dulunya berada di bawah kekuasaan VOC (1602 – 1799) dan Kerajaan Belanda (seterusnya sejak pembubaran VOC hingga Indonesia Merdeka), yang juga disebut Hindia Timur (atau East Indies). Tak perlu menyesali ataupun merasa malu akan kenyataan ini. Faktanya, sebelum adanya pemerintah kolonial Belanda, Indonesia belum mengenal konsep sebuah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan pulau.

Salah satu hobi nenek moyang kita adalah saling memerangi dan menguasai satu sama lain, antar negara (baca: kerajaan) satu dan lainnya. Kehadiran pemerintah kolonial dalam perang-perang itu sebagian besar bersifat insidental, didorong karena adanya kepentingan Belanda sendiri untuk menjalankan misi dagangnya.

Di tengah kemelut di dalam kerajaannya sendiri serta pemberontakan yang berlarut-larut, Gajah Mada, seorang panglima dari Kerajaan Majapahit, mengangkat sumpah tidak akan menikmati “palapa” sampai ia berhasil mempersatukan wilayah-wilayah di sekitarnya, yaitu Nusantara. “Nusantara” sendiri bermakna “pulau-pulau lain”. Tapi jika kita ingin memahami dari mana asalnya ambisi ini serta “Nusantara” sebagai sebuah gagasan, kita harus kembali ke masa-masa pemerintahan raja terakhir Singasari, Kertanagara.

Situasi internasional yang rumit di akhir abad 13, di mana invasi Mongol memporak-porandakan Eropa dan Asia, membuat Kertanagara merasa bahwa negara-negara di Asia Tenggara harus bersatu untuk menghalangi kekuatan ini. Ia tewas sebelum bisa mewujudkan mimpinya. Semangat ini lah yang menjadi sumber inspirasi Gajah Mada, yang seterusnya diteruskan oleh kerajaan Jawa lainnya, Mataram. Diperkenalkan kembali oleh Ki Hadjar Dewantara, istilah “Nusantara” lalu diusulkan untuk digunakan kembali oleh Muhammad Yamin di sidang-sidang BPUPKI. Pada akhirnya nama Indonesia lah yang dipakai, yang dipopulerkan oleh seorang etnolog asal Jerman.

Peristiwa dalam garis waktu sejarah Indonesia dalam buku ini dibagi ke dalam 16 bab, yang disajikan penuh dengan fakta aktual yang dijamin akan membuat kita terus membuka satu halaman ke halaman berikutnya. Tapi satu yang perlu dicatat, untuk saya sendiri, perlu beberapa waktu untuk mencerna fakta-fakta di dalamnya dan mengaitkannya satu sama lain. Ketika membaca, pembaca diharapkan untuk berkonsentrasi penuh pada apa yang sedang dibaca (dengan kata lain tidak bisa disambi).

Yang paling menarik adalah buku ini tidak hanya berfokus pada sejarah Jawa (atau Majapahit!), tapi juga wilayah lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Sunda Kecil (NTB, NTT), Timor, dan wilayah kepulauan lain di Indonesia. Selain itu, kualitas terjemahannya baik dan tidak banyak terdapat kesalahan penulisan.

Selain kelebihan tadi, ada satu catatan yang perlu diwaspadai, karena walaupun ditulis dengan sangat komprehensif, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada semacam sentimen dari penulis sendiri bahwa Indonesia seharusnya merasa “berterima kasih” kepada (pemerintah kolonial) Belanda karena telah membawa “kemajuan” dan “ketertiban” di Nusantara (dan penulis sendiri adalah seorang Belanda!). Dengan mengesampingkan sentimen itu, kita masih bisa menikmati suguhan-suguhan fakta yang ada.

Jika ada satu hal yang menjadi kekurangan buku ini, adalah peletakan catatan kaki yang jauh di belakang. Mungkin dengan tujuan untuk tidak menginterupsi proses membaca. Saya sendiri melewatkan catatan kaki. Tapi jika pembaca merasa perlu (apalagi untuk tujuan penulisan kembali atau studi), bisa selalu membuka halaman belakang.

Hal-hal lain yang bisa dibaca di buku ini: penerapan Sistem Kultur yang membawa berbagai tanaman dari luar Indonesia untuk dibudidayakan di Indonesia, seperti kopi, teh, tembakau, kayu manis, ubi kayu, kelapa sawit, kina, dan karet, sejarah Istana dan Kebun Raya Bogor, perkembangan Kesultanan Yogya dan Surakarta, sekelumit kisah kepemimpinan Raffles, asal-usul Singapura, sejarah bagaimana agama-agama di Indonesia masuk, jejak-jejak Wahabi di Indonesia, sejarah Kalimantan yang terbagi antara Britania dan Belanda, rekonstruksi sejara Indonesia pra-Islam, dsb.

Buku ini bisa dibeli di toko buku Gramedia. Bagi yang belum membaca, boleh meluangkan waktu dan mencoba membacanya… Bagi yang sudah, bagaimana menurut Anda?

Catatan tambahan: masih ada hubungannya dengan buku ini, silakan cek garis waktu sejarah Indonesia di laman Wikipedia, menarik sekali: Garis waktu sejarah Indonesia.

Perpusda Bali: layanan yang buruk dan nasibmu kini

Tulisan ini adalah hasil kumpulan beberapa postingan saya di Facebook tentang Badan Perpustakaan & Arsip Pemerintah Provinsi Bali (disingkat Perpusda Bali), yang merupakan hasil kunjungan, pengamatan, dan pengalaman saya datang selama 3 kali selama bulan Juni lalu. Selain hasil pengalaman saya sendiri, di akhir tulisan akan saya tambahkan cerita dari beberapa teman lain mengenai pengalaman mereka mengunjungi perpus ini.

Sebelum ke hasil pengamatan, saya ingin menceritakan sedikit alasan saya berkunjung ke tempat ini untuk pertama kalinya dalam hidup. Selama ini sumber penyedia buku saya adalah toko buku – biasanya Gramedia. Ketika saya merasa ingin membaca buku baru, saya selalu pergi ke toko buku untuk membelinya. Tapi seiring dengan waktu, dengan semakin banyaknya buku yang ingin saya baca, kebutuhan akan buku saya meningkat.

Ini artinya biaya untuk membeli buku pun bertambah tinggi. Sementara bujet tidak juga bertambah. Harap diketahui rata-rata buku yang saya beli 3 sampai 5 per bulannya, tergantung dari topik/ tema dan ketebalan atau harga, dan rata-rata non-fiksi. Karena belum menemukan perpus swasta di Denpasar, saya berpikir untuk ke perpus ini, yang konon katanya terbesar di Bali (tentu karena tidak ada lagi alternatif lain).

Tapi alangkah terkejutnya ketika saya berkunjung, tidak saja fasilitasnya yang sangat minim, tapi keadaan diperparah dengan pelayanannya yang sangat tidak memenuhi standar pelayanan untuk tempat umum. Untuk lebih jelasnya, mari saya runutkan kronologi kunjungan saya yang cuma 3 kali itu (dan maaf beribu maaf, saya belum tertarik untuk kembali lagi, kecuali untuk protes atau bertemu dengan pimpinannya)…

Tanggal 15 Juni 2016, sore hari menjelang pukul 3 sore…

Perpusda Bali 1

Jam buka Perpusda Bali yang terlalu singkat.

Saya datang untuk pertama kali. Saya pikir saya ingin mampir setelah keliling menyelesaikan urusan. Di pintu depan saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, jangan-jangan sudah tutup. Dan ternyata benar. Sewaktu masuk, petugas di loket penerima tamu mengatakan bahwa mereka sebentar lagi akan tutup. Akhirnya saya ke sana cuma untuk mengambil foto syarat keanggotaan untuk saya bawa di kunjungan berikutnya.

Cuma satu hal yang saya sesali dari kunjungan pertama saya ini: apa pihak pengelola perpus ini berpikir bahwa orang-orang yang datang ke perpus HANYA murid-murid sekolah dan mahasiswa yang tidak bekerja dari pagi sampai sore?  Maka jam bukanya begitu identik dengan jam buka kantor pemerintahan yang dikelola PNS yang (maaf) terkadang malas? Ini sungguh aneh dan sangat tidak menguntungkan pekerja.

Tanggal 16 Juni 2016, sekitar jam 2 siang…

Akhirnya saya berkunjung lagi. Kali ini dengan membawa syarat keanggotaan (pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar) dan mendaftar. Kali ini saya sudah bisa meminjam buku (3 judul). Berikut hasil pengamatan berikut penilaian saya ketika masuk ke dalam:

Perpusda Bali 8

Saya bisa meminjam 3 buku dengan “kartu anggota” sementara.

Lokasi

Perpusda Bali sendiri berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 15 Denpasar, di pinggir jalan besar yang sibuk. Ini artinya dari segi bisnis dan pemasaran, serta akses dan visibility (mudah dilihat/ dicari), sangat menguntungkan. Tapi sayangnya pihak pengelola sepertinya kurang berinisiatif untuk menarik lebih banyak pengunjung ke tempat ini. Ini bisa dilihat dari sepinya perpus dan sedikitnya pengunjung tiap kali saya datang. 

Suasana

Dengan gedung yang tua, jangan berharap suasana yang modern. Bahkan rak buku, tempat duduk dan mejanya pun tua (termasuk mayoritas pegawainya). Tapi yang menyenangkan adalah suasananya sangat tenang. Ironisnya, yang paling berisik sendiri adalah ibu penjaga yang tiap 10 menit menjelang tutup mengingatkan bahwa perpus sebentar lagi tutup (padahal jam dinding di tempat itu juga tidak kurang jumlahnya).

Perpusda Bali 3

Salah satu lorong dengan rak-rak buku tua.

Buku

Beberapa kawan di Facebook sudah menyebut sebelumnya, kebanyakan koleksi buku lama. Lama di sini tidak hanya dalam artian buku (terbitan) lama, tapi koleksi buku lama yang sepertinya sudah ada di sana sejak dahulu kala dan koleksi ini jarang diperbarui dengan bukti hanya ada sedikit buku baru. Dan maksud saya dengan koleksi buku lama di sini bukan buku-buku kuno. Ini buku-buku yang ada di Ruang Baca Umum.

Tapi tidak menutup kemungkinan ada buku-buku baru walaupun sangat terbatas (beberapa judul dari Pramoedya Ananta Toer ada). Peletakan dan penyusunan buku agak berantakan, tapi kalau sabar dan telaten mencari, bakal menemukan beberapa permata di tumpukan lumpur. Peminjaman buku maksimal 3 judul dalam satu waktu (kurang banyak!) dan untuk 3 buku itu waktu peminjaman selama 2 minggu.

Perpusda Bali 4

Buku-buku tua yang tidak tertata rapi.

Teknologi

Jangan berharap ada sistem inventaris buku ber-barcode, karena tidak ada! Di Ruang Baca Umum di lantai 3, ibu petugas (yang saya bilang berisik tadi) mencatat berapa jumlah buku berdasarkan kategori yang dipinjam hari itu (di hari itu saya intip cuma ada sekitar 20 judul yang keluar; tidak banyak). Lalu saya ke bagian pendaftaran/ loket di lantai 1 untuk dicap tanggal pengembalian buku di bagian belakang masing-masing buku.

Saya bertanya apa ada sesuatu yang harus saya bawa waktu mengembalikan, petugas bilang tidak. Semua dilakukan secara manual. Bahkan di ruang baca waktu saya tanya apa bisa mencari buku di komputer, petugas mengatakan komputernya sedang error (di kunjungan saya yang ke tiga pun demikian). Sepertinya komputer yang digunakan bekas atau hibah yang sudah tidak memadai. Sejauh mata memandang tidak ada free wifi.

Oh ya, perlu saya tambahkan, website resmi Perpusda Bali sudah tidak diperbarui sejak tahun 2012. Jika permasalahannya adalah tidak adanya pegawai yang mumpuni untuk melakukan ini (karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pegawai rata-rata sudah berumur), seharusnya tugas seperti ini bisa di-outsource asalkan pengelolaan tetap berasaskan profesionalisme (pihak perpus membayar orang untuk jasanya).

Ruang baca

Sejauh yang saya lihat ada 3 ruang baca yg bisa diakses publik: Ruang Baca Umum, Ruang Referensi, Ruang Baca Anak-Anak. Ruang Baca Umum dengan koleksi yang bisa dipinjam, Ruang Referensi tidak bisa. Sementara Ruang Baca Anak-Anak saya lihat dari luar cat dan dekorasinya terlihat kuno dan tidak terawat. Agak menyedihkan sebenarnya. Bahkan tidak ada karpet atau sejenisnya untuk tempat anak-anak bermain atau gegoleran.

Yang mengherankan, dengan demikian banyaknya ruangan (dan pegawai) bisa dibilang koleksi bukunya tidak banyak. Menurut website resminya, ada lebih dari 10.000 judul buku. Menurut UNESCO, lingkungan miskin di AS memiliki rasio jumlah anak dan buku sebesar 300: 1. Untuk Bali yang jumlah penduduknya di tahun 2015 sudah mencapai 3.9 juta jiwa, artinya rasio penduduk dan buku adalah 390: 1. Tapi yang lebih buruk adalah fakta bahwa masih sedikit sekali yang memanfaatkan keberadaan perpus.

Pegawai dan pelayanan

3 kali berkunjung dan satu hal yang pasti soal kualitas pelayanan: jangan berharap terlalu banyak. Anggap berkunjung ke kantor pemerintahan yang belum tereformasi. Ibu-ibu petugas sepertinya buru-buru ingin pulang dengan bicara keras-keras di ruang baca. Waktu ada 2 orang datang mendekati jam tutup, dengan sigap dia berseloroh, “Kok sore banget (datangnya)?” Atau waktu sehabis saya pinjam buku dan tak kunjung pergi, dengan “bersemangat” dia berkata, “Ya, yang sudah pinjam silakan langsung ke bawah. Besok lanjut lagi. Oh ya, besok bukanya sampai jam 1 ya!” Sungguh terlalu.

Keanggotaan

Biaya keanggotaan GRATIS. Tapi walaupun demikian, penggratisan ini bukan trik sulap yang serta merta membuat orang tertarik bekunjung dan membaca buku, terutama setelah kejadian yang menimpa saya di kunjungan ke tiga (cerita di bawah). Syarat keanggotaan cuma dua: pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar dan fotokopi KTP. “Kartu anggota” (lihat wujudnya di foto di bawah) jadi di kunjungan berikutnya, dalam bentuk yang jadul.

Perpusda Bali 5

Ini yang pengelola sebut sebagai “kartu anggota” – 90-an banget!

Tanggal 22 Juni 2016, sekitar jam 2.30 siang…

Saya kembali lagi karena ingin mengembalikan buku-buku yang saya pinjam. Cukup tipis dan 1 buku terjemahannya kurang bagus, jadi saya tangguhkan untuk membacanya. Saya kembalikan buku-buku di loket di lantai 1 lalu menuju ke Ruang Baca Umum. Alangkah terkejutnya saya karena ditegur oleh petugas (total 3 orang) yang menyuruh saya menaruh tas jinjing saya di tempat penitipan di luar gedung, dekat tempat parkir.

Ini cukup tidak konsisten karena di kunjungan sebelumnya saya pun membawa tas backpack serut dan tidak ada satu pun yang protes. Di kunjungan kali ini pun ibu petugas di loket pengembalian tidak berkata satu patah kata pun mengenai tas yang saya bawa. Dan saya lihat sekeliling, tidak sedikit yang membawa tas juga. Tegurannya tidak menjadi masalah. Yang mengangetkan adalah bagaimana cara mereka menegur.

Ketika petugas ke dua di Ruang Baca Umum menyuruh (saya katakan menyuruh karena nadanya memang tidak menyenangkan) saya menaruh tas di salah satu ibu petugas yang duduk di sudut ruangan, saya menghampiri ibu itu dan bertanya apa benar ini tempatnya untuk menaruh tas. Dengan sangat ketus dan mata memicing seolah-olah saya punya dosa besar (mungkin mengganggu bengongnya dia), dia malah bertanya, “Siapa yang suruh?!” Detik itu juga saya langsung kehilangan selera untuk mencari buku.

Perpusda Bali 7

Maklumat Pelayanan yang pihak pengelola langgar sendiri.

Saya kembali ke loket di lantai 1, lalu mulai marah-marah ke petugas yang menangani pengembalian buku tadi. Saya minta sebuah kertas dan meminjam pulpen, untuk menulis saran. Anehnya, sepanjang kunjungan saya yang pertama sampai hari ini, tidak satu kali pun saya mendapatkan senyum tulus dari satu pegawai pun, walaupun tak jauh dari loket ada x banner berjudul “Maklumat Pelayanan” (lihat foto di atas).

Melihat saya marah, si ibu petugas ini tiba-tiba melunak dan mulai bisa tersenyum. Ada kehati-hatian dalam cara dia menimpali keluhan saya, begitu juga sedikit rasa takut. Yang mana sebenarnya tidak harus dia lakukan jika pegawai tidak ketus sejak awal. Yang membuat saya lebih kecewa, waktu saya ingin memasukkan kertas ke kotak saran, dia malah mengambilnya. Saya curiga tulisan saya tidak akan sampai ke mana pun. Dan yang paling penting: tidak ada satu pun kata maaf yang keluar dari mulutnya.

Itu lah kali ke tiga dan terakhir saya berkunjung ke Perpusda Bali. Niat awal saya adalah ingin menulis surat yang saya tujukan langsung pada pimpinannya dan saya serahkan di sana, tapi saya masih ragu dan memikirkan satu cara yang punya dampak lebih besar dan langsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya keberadaan perpustakaan. Jika pembaca ada masukan, silakan tinggalkan komentar.

Pentingnya perpustakan bagi masyarakat 

Satu hal, agaknya saya tidak perlu menguliahi lagi soal manfaat membaca. Mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kosakata, hingga memberikan hiburan, adalah sedikit dari banyak manfaat membaca. Kondisi sebuah perpustakaan daerah adalah cermin tingkat literasi daerah itu. Jika bisa dikatakan demikian, saya bisa dengan percaya diri mengatakan tingkat literasi Bali rendah.

Jujur, di kunjungan pertama saya sepulang dari Perpusda saya menangis. Kenapa? Apa yang saya lihat tiap hari di sosial media (online) maupun lingkungan sekitar (offline) entah itu masalah rasisme, kebiasaan membuang dan membakar sampah, pola pikir bebal dan susah maju, itu semua akarnya adalah kurang terbukanya wawasan masyarakat. Dan kunci keluar dari masalah-masalah ini tidak lain tidak bukan adalah pendidikan.

Dan yang saya maksud dengan pendidikan ini bukan gelar atau sekadar hadir di sekolah, tapi proses penyerapan ilmu, keterbukaan pikiran, penerimaan akan perubahan dan ide-ide baru, kemampuan menganalisa fenomena sosial dan menelusuri akar-akar masalahnya, serta menciptakan solusi yang inovatif berdasarkan logika dan ilmu pengetahuan. Untuk sampai ke tahap itu, perlu ada perubahan dalam mindset.

Sebelum sebuah masyarakat maju dan modern secara fisik, terlebih dahulu mereka harus maju dan modern sejak dalam pikiran, sejak dalam jiwa. Dan nutrisi atau makanan apa yang paling tepat bagi jiwa yang sakit dan rusak selain ilmu pengetahuan? Tiada lain tiada bukan sumber ilmu adalah buku. Kegiatannya kita sebut membaca dan kemampuannya kita sebut literasi. Inilah inti dari life long learning, proses belajar seumur hidup.

Perpusda Bali punya segala kekuatan untuk mengubah wajah masyarakat sekitarnya untuk menjadi lebih maju dan modern, tapi sayangnya mereka tidak menyadari kekuatan itu. Ketika untuk membeli bahan kebutuhan saja daya beli masyarakat masih rendah, jangan harap mereka akan berpaling untuk membeli buku. Maka tersedianya buku yang bisa dipinjam secara gratis adalah solusi yang tepat akan akses masyarakat terhadap buku.

Dan satu lagi, salah satu masukan berharga dari seorang teman yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat (dengan pengelolaan perpusda yang jauh lebih baik daripada yang kita punya di Bali ini), salah satu tujuan adanya perpustakaan daerah adalah agar masyarakatnya bisa terus mengembangkan diri dari segi pengetahuan dan ketrampilan yang pada akhirnya memungkinkan dia berkontribusi lebih banyak untuk daerahnya.

Jika kita sering mengeluh sumber daya manusia kita yang tidak memiliki daya saing, mengapa kita begitu lalai dengan fasilitas yang seharusnya tersedia untuk masyarakat kita supaya mereka mengembangkan diri? Dan tentu perpustakaan tidak hanya melulu soal buku, ada banyak kegiatan lain yang bisa diinisiasi dari institusi ini, hanya saja jika dikelola dengan kecintaan tinggi (passion) dan profesionalisme. Itu harapan saya!

Cerita dari teman-teman

Bagian pertama: cerita teman-teman tentang Perpusda Bali

Rika, warga Denpasar:

Pertama kali ke Perpusda pas SD, sama Papa. Sekitar kelas 3 – 4 SD, sekitar tahun 1993 – 1994. Ke sana pinjam buku. Waktu itu kesannya tempatnya bagus, bukunya banyak. Mungkin karena masih kecil ya. Waktu SMA pernah ke sana lagi, untuk baca komik. Dan waktu kuliah (tahun 2007) ke sana lagi untuk cari bahan skripsi. Seingatku dari dulu tidak terkomputerisasi, banyak debu, peletakan buku tidak bagus, padahal banyak buku yang berkualitas, tidak dijual umum, langka. Dan seingatku pegawainya tua-tua. Dari SMA sampai kuliah rasanya tidak banyak berubah.

Perpusda Bali 9

Agaknya dari dulu hingga sekarang rak dan buku ini tidak berubah.

Muthiah, warga Denpasar:

Saya pernah punya pengalaman buruk di sana waktu mencari tanda tangan untuk sidang skripsi (awal 2016). Cuma satu tanda tangan dan sebuah surat, tapi mereka bersikukuh tidak mau memberikan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Lalu saya bilang kalau saya perlu untuk keesokan harinya, dengan nada tinggi. Salah satu pegawai tiba-tiba berubah jadi baik dan pergi ke atasannya untuk mem-print surat dan menandatanganinya. Beberapa teman yang berusaha sopan setelah ditolak oleh mereka, perlu seminggu untuk mendapatkannya. Saya menikmati pergi ke ke sana waktu kecil, tapi sekarang sepertinya saya tidak akan pernah mau kembali lagi.

Elida, pernah kuliah di Denpasar:

Aku lumayan sering ke sana tahun 2014 – 2015. Kesannya ya kesal. Karena perpusnya cukup berisik, terutama ibu-ibu yang jaga. Dia suka mengingatkan pengunjung mengenai jam tutup. Aku ya sudah tahu tutupnya jam berapa, jadi kesannya seperti mengusir. Wifi ada tapi tidak bisa diakses. Pelayanannya jadul, self-service. Kadang petugas tidak tahu rak buku yang dicari di mana. Pegawai jutek, seolah-olah kita yang merepotkan mereka. Koleksi buku tidak kunjung bertambah. Ada buku baru tapi dipajang di etalase depan dan digembok. Cara pinjamnya manual, tulis tangan.

Bagian ke dua: cerita teman-teman tentang perpustakaan di daerahnya

Menariknya, ada beberapa tanggapan menarik dari teman-teman di Facebook yang menceritakan tentang perpustakaan di daerah mereka masing-masing. Berikut saya ambilkan contoh satu dari dalam negeri, satu di luar negeri (Belanda).

Elisabeth, warga Pontianak, Kalimantan Barat: 

IF

Salah satu sudut Perpusda Kalimantan Barat

Sayang ya layanan perpusnya seperti itu. Kalau di Pontianak, layanannya membaik setelah kepala perpustakaannya diganti dengan orang baru yang sebenarnya bukan ahli perpustakaan, tapi beliau mau berusaha membuat lingkungan kerjanya jauh lebih baik. Jadi, mau tidak mau semua bawahan harus ikut visi beliau, sehingga perpustakaan di sini lebih menyenangkan. Koleksi buku baru diperbanyak, semua ruang baca full AC, disediakan ruang komputer, dan ruang serbaguna untuk umum, free wifi, bisa meminjam buku sampai jam 10 malam, dan ada fasilitas ruang belajar untuk umum dari pagi sampai malam, karena di sini jarang ada fasilitas umum yg buka 24 jam. Dan perpustakaannya sampai malam pun tetap ramai.

Banyak mahasiswa yang belajar di sana. Jadi, pemimpin itu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan instansi yang dibawahinya. Jujur saya terkejut baca cerita Ms Neno bahwa perpustakaan di sana (Bali) begitu parah. Padahal, dalam studi pengembangan kawasan di Indonesia, Bali itu termasuk kawasan internasional loh. Seharusnya punya standar kualitas dan layanan yang lebih bagus untuk pendidikan supaya masyarakatnya bisa ikut berkarya dalam standar internasional. Kalbar ini termasuk dalam golongan kawasan terbelakang secara pendidikan loh, tapi terus berusaha supaya masyarakatnya makin pintar.

Di sini perpustakaannya berusaha menjangkau masyarakat ke tempat-tempat nongkrong. Perpustakaan menitipkan koleksi buku dalam sebuah lemari ke warung-warung kopi/ cafe supaya bisa dibaca semua orang. Judul-judul bukunya menarik dan baru. Jadi, sambil nongkrong orang bisa baca gratis. Mereka juga menyediakan perpustakaan keliling yang mampir ke sekolah-sekolah, penjara, dan berbagai tempat umum. Jadi pakai sistem “jemput bola” supaya makin banyak yang rajin membaca. Dan juga menyumbangkan/ mengatur koordinasi sumbangan paket-paket buku ke daerah-daerah pedalaman, juga dibantu LSM. 

Tambahan dari saya, website resmi Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi (BPKD) Provinsi Kalimantan Barat secara rutin diperbarui hingga sekarang. Sumber foto di atas: Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat, Kunci Peningkatan IPM Masyarakat.

Ruri, warga Gouda, Belanda:

blogger-image-1349804047

Salah satu sudut Perpustakan Kota Rotterdam

Selain perpustakaan, di dalam gedung juga ada kafe di lantai 2. Total ada 6 lantai. Walaupun jam buka untuk akhir pekan bervariasi, tapi tiap hari buka. Di lobby ada concierge (penjaga pintu) yang setia menjawab pertanyaan pengunjung dengan ramah. Juga dipasang poster menampilkan program perpus selama bulan berjalan. Contoh kegiatannya: pembacaan buku (anak dan dewasa) oleh penulisnya sendiri, sale buku-buku perpustakaan yang sudah tidak terpakai, dan pemutaran film di ruang digital.

Centerpiece (hiasan di tengah ruangan) dipasang di tengah lobby sesuai tema buku yang akan dibacakan oleh penulisnya bulan ini. Juga touchscreen dan display tentang tokoh yang sedang diangkat untuk bulan ini. Tokoh bulan ini adalah Erasmus. Di meja-meja tempat meminjam buku tidak ada petugasnya. Kalau sudah selesai memilih buku-buku mana yang mau dipinjam, tinggal taruh di atas meja ini dan scan barcode-nya satu-satu. Ada juga ruang digital untuk CD, DVD, dan LP.

Keranjang belanja juga disediakan, kalau-kalau mau pinjam buku banyak. Setahu saya seperti di Gouda, jumlah buku yang boleh dipinjam tidak dibatasi. Di bagian anak-anak ada tribun untuk acara seperti pembacaan buku atau mendongeng atau drama kecil-kecilan. Di tiap lantai ada petugas yang rajin mengembalikan buku sesuai kategorinya. Di lantai dasar, ada permainan catur raksasa untuk warga senior.

Jika ingin membaca lebih lanjut tentang perpustakaan ini, silakan mengunjungi blog Ruri di Rotterdam Library atau Perpustakaan Kota Rotterdam. Saya belum pernah berkunjung ke sini, tapi kesan saya pribadi: inilah contoh perpustakaan yang dikelola oleh orang-orang yang punya kecintaan tinggi pada kegiatan literasi.

Rekomendasi untuk Perpusda Bali

Nah, setelah menceritakan tentang keadaan Perpusda Bali dan perbandingan dengan perpustakaan di daerah lain, saya bisa menyimpulkan rekomendasi di bawah ini (selain dari saya sendiri, ini juga termasuk masukan dari teman-teman):

  1. Jam buka diperpanjang, setidaknya sampai jam 10 malam, dan buka di hari libur. Karena kalau untuk umum, rata-rata orang sekolah, kuliah, kerja pagi dan siang.
  2. Perpustakaan dilayani oleh pegawai yang profesional. Memalukan sekali rasanya Bali sebagai pusat kegiatan pariwisata memiliki tempat umum dengan hospitality (keramah-tamahan) yang sangat rendah. Pegawai juga harus sering dilatih.
  3. Gedung diperbarui dengan disain interior modern. Kalaupun ingin mempertahankan ciri khas arsitektur Bali, sebaiknya dikombinasikan dengan sentuhan modern.
  4. Digitalisasi pelayanan, seperti penggunaan bar code untuk buku-buku, sistem pendaftaran online, serta akses online terhadap buku-buku digital.
  5. Ada ruangan main anak dengan buku-buku. Jadi anak-anak bisa belajar membaca dan mencintai buku sejak dini. Dilengkapi juga dengan toilet yang memadai.
  6. Yakin masih mau mempertahankan sistem penitipan tas? Bagaimana kalau memasang CCTV? Kalaupun keukeuh, cukup taruh loker di depan Ruang Baca.
  7. Bekerjasama dengan berbagai pihak, terutama swasta, untuk menyelenggarakan acara-acara yang berhubungan dengan dunia literasi.
  8. Semua poin di atas mungkin terjadi kalau… Ada reformasi birokrasi.

Jika teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman tentang Perpusda Bali atau cerita tentang perpustakaan di daerah Anda, silakan tinggalkan komentar atau hubungi saya. Tak lupa, jika teman-teman memiliki ide supaya tulisan ini bisa sampai di tangan pihak yang paling mungkin bisa melakukan perubahan di Perpusda Bali (siapapun itu, pemimpin perpus, anggota eksekutif atau legislatif provinsi, dsb), silakan kirimkan info.

Last but not least, jika menurut teman-teman sekalian tulisan ini menarik atau bermanfaat, tidak perlu sungkan untuk menyebarkannya seluas-luasnya. Agar makin banyak orang yang sadar bahwa perlu kerja keras dan kerjasama seluas-luasnya untuk memerangi musuh terbesar umat manusia: kebodohan. Sekian dan terima kasih.

Update: berikut saya sertakan tautan beberapa tulisan blogger mengenai Perpusda Bali.

Berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bali (2009)

Koleksi Buku Pertanian Sedikit (2011)

Melali sambil Melajar di Perpustakaan (2014)

Menguasai atau dikuasai: menanggapi polemik “asli” vs. “pendatang” di Bali

Sekapur sirih: tiada guna berilmu jika tidak berbagi. Mungkin itu. Kalimat sederhana yang membuat saya beberapa hari ini berpikir untuk kembali menulis. Profesi utama saya, guru bahasa Inggris, mengharuskan saya berbagi ilmu kepada murid-murid dan kadang teman-teman saya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata saya mengembangkan begitu banyak ketertarikan di bidang lain. Maka proses pencarian saya terhadap ilmu pengetahuan pun terus berjalan. Dan saya seperti merasa memiliki kewajiban untuk menyumbangkan barang satu dua hasil olah pikir saya dari proses pencarian ilmu itu. Untuk mengawali janji saya pada diri sendiri untuk rutin menulis mulai sekarang, tulisan ini saya ambil dari postingan saya di Facebook tentang polemik “asli” vs. “pendatang” yang saat ini sedang santer di Bali, yang membuat saya “gatal” untuk tidak mengomentari. Silakan tinggalkan komentar, bagi, atau like jika menurut Anda tulisan ini menarik (atau tidak).

Kalau semua masalah dijawab dengan kalimat, “Saya asli sini,” saya pikir apapun masalahnya (sampah, pembakaran sampah, kependudukan, dsb) tidak akan ada solusinya. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang pernah mengalami hal ini. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kali dan jujur, kali ini saya sudah tidak mau ambil pusing. Banyak teman-teman saya orang Bali dan mereka tidak bodoh. Hidup saya dan mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal remeh temeh yang sumbernya adalah kebodohan (ignorance). Saya sudah bisa memaafkan dan memaklumi orang-orang ini, karena pada dasarnya yang suka ngomong begini ini bodoh atau tidak tahu apa-apa (ignorant). Meminjam kata-kata Yesus, “Father, forgive them, for they know not what they do.

Mempermasalahkan asli vs. tidak asli, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang “asli”; kita semua migran. Karena tidak ada satu pun manusia yang tumbuh dari tanah tempat dia berpijak, seperti layaknya biji yang berkembang jadi tanaman. Yang ada, nenek moyang kita bermigrasi beribu, beratus, atau berpuluh tahun yang lalu ke tempat di mana kita tinggal saat ini. Untuk konteks Bali, ada beberapa tahap migrasi masuknya manusia ke Bali (lihat gambar; diambil dari buku Bali’s First People, karya Richard Mann):

Four groups of settlers arrived in Bali

  1. Cave dwellers (penghuni gua): ini penduduk Bali paling tua, menetap di gua dan hutan, migrasi ke Bali ketika zaman es. Bali masih menjadi bagian dari Paparan Sunda dan menjadi satu dengan Kalimantan. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Waktunya tidak tanggung-tanggung, 17.000 sampai 20.000 tahun yang lalu! Jangankan buyut, buyutnya buyut kita pun belum lahir!
  2. Bali Mula: pendatang setelah penghuni gua. Bukti menunjukkan mereka telah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Tinggal di Zaman Batu atau Perunggu, telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan sudah bisa membuat tempat tinggal dalam bentuk gubuk sederhana.
  3. Bali Aga: konon berasal dari sebuah desa dengan nama Aga di Banyuwangi, Jawa Timur. Konon (lagi) datang setelah abad ke-8. Kenapa konon? Karena rupanya (menurut buku ini) kebenaran tentang Bali Aga masih menjadi perdebatan para ahli.
  4. Majapahit settlement (kolonisasi Majapahit): datang di abad ke-14 dan 15, terutama setelah penguasa terakhir Majapahit di Jawa Timur beralih ke Islam, sementara yang masih memeluk Hindu Majapahit (Siwa-Buddha) berbondong-bondong bermigrasi ke Bali.
  5. Saya tambahkan satu lagi: Bali modern, yang asalnya dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan orang-orang dari luar Indonesia.

Itu masih dalam konteks Bali (yang sempit sekali)… Bagaimana kalau ternyata di masa depan kita bisa berkomunikasi dengan penduduk dari planet bahkan galaksi lain, dan memungkinkan mereka berkunjung ke bumi atau sebaliknya? Seperti yang ada di film Star Wars atau Men in Black? Atau seperti di cerita Superman. Dia dari planet Krypton, bukan planet bumi. Bukannya membasmi kejahatan, kalau kita ungkit-ungkit masalah asli dan pendatang, bisa-bisa dia didemo disuruh kembali ke planetnya (sementara diceritakan bahwa planetnya hancur dan peradabannya musnah, bagaimana mungkin dia kembali ke sana?). Untuk konteks dunia yang fana ini pun, kita manusia cuma pendatang. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Dunia tidak selebar daun kelor.

Jadi sebenarnya dari mana asalnya kata-kata seperti, “Saya asli sini,” dsb? Apalagi setelah dirunut (berdasarkan penjabaran di atas), tidak sedikit pun ungkapan ini mendekati kebenaran. Usut punya usut ternyata karena memang ia tidak hadir dari kebenaran, melainkan dari keinginan untuk menguasai orang lain. Ibarat orang yang sedang dipenuhi rasa takut, ia harus serta merta memilih antara lari atau melawan (flight or fight). Mengeluarkan gertakan (bully) bisa menjadi pilihan untuk melawan, dan tujuannya sederhana: supaya membuat lawan tampak lebih lemah atau tidak berdaya dari dirinya.

Anda tahu kenapa ada orang yang suka menggertak (bully)? Karena ia merasa terancam, ia sadari atau tidak. Ingat, orang-orang yg hebat tidak perlu mempertontonkan bahwa dirinya hebat. Karena begitulah dia apa adanya, tanpa dibuat-buat. Orang yang tidak hebat, di lain sisi, justru harus mencari cara untuk mengkompensasi ketidakhebatannya. Ini bisa dimaklumi, karena seperti halnya hewan, manusia pun memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mempertontonkan diri seperti lebih kuat, hebat, besar daripada yang sesungguhnya. Lihat saja ular kobra yg memipihkan lehernya ketika terancam dengan tujuan menakut-nakuti penyerangnya.

Tapi sayangnya, pola pikir menguasai atau dikuasai, menggertak atau digertak ini sebaiknya sudah harus ditinggalkan. Di era keterbukaan serta informasi di mana orang bekerja dengan otak dan hati, nafsu untuk menguasai (dan memangsa!) berdasarkan ego dan rasa takut harus segera disingkirkan. Kenapa otak? Dalam bidang ekonomi pun ada istilah knowledge-based economy, di mana pembangunan ekonomi hari ini dan masa depan dilandaskan pada ilmu pengetahuan. Masyarakat yang bisa bertahan dan bersaing hari ini dan di masa depan adalah mereka yang mengusai ilmu. Maka kita harus pastikan bahwa titik berat adalah penguasaan ilmu, bukan kemampuan menggertak, mengintimidasi, lebih-lebih menggunakan kekuatan fisik belaka! Bukti sederhana, negara maju adalah di antara negara-negara di dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Yang ke dua, karena kita punya hati, karena kita manusia, bukan lebih rendah dari itu. Dan kita bukan hewan, jadi tidak perlu saling menguasai. Kembali ke poin nomor satu, karena kita dianugerahi kemampuan berpikir, maka berpikirlah, cari tahu, dan mengerti. Sekali lagi: bukan menguasai. Ada pepatah Latin yg berbunyi Homo homini lupus. Artinya a man is a wolf to another man (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Artinya lagi, manusia memiliki potensi untuk kejam, seperti predator yang saling memangsa sesamanya. Tapi dengan berat hati saya harus katakan: saya menolak disamakan dengan binatang. Kita manusia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kita semua setara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua warga negara punya hak dan kewajiban yg sama.

Tapi memang, seperti yang pernah saya tulis di salah satu status, tidak semua manusia mau atau bisa diperlakukan seperti manusia. Maksudnya, tidak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik, ada yang harus dipaksa, diintimidasi, digertak dulu baru berubah (biasanya tipikal yang kurang menggunakan otaknya – silakan kembali ke atas; atau yang kesehatan jiwanya terganggu – silakan baca-baca tentang ciri orang depresi). Nah, ini tugas kita (sebagai anggota masyarakat) dan pemimpin. Saya pikir makin pintar, maju, sadar sebuah masyarakat, tidak perlu lah saling gertak-menggertak. Jadilah manusia. Artinya, jika ingin hidup enak, maka enakkanlah dulu hidup orang lain. Jika ingin hak-haknya dihargai, hargailah dulu hak orang lain. Jika ingin rumahnya bersih, ya bersih-bersihlah. Jika ingin udara segar, ya jangan bakar-bakar sampahlah (untuk yang satu ini, Denpasar dan sekitarnya sudah ada di tahap gawat darurat, potensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara yang ditimbulkannya sudah cukup tinggi).

Kebodohan jangan dibalas dengan kebodohan, tapi dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu pelita, ibarat sinar yang menerangi jalan yang gelap, menuntun kita melangkah ke arah yang ingin kita tuju. Tanpa itu, sama dengan menerka-nerka dan meraba-raba dalam kegelapan. Orang bodoh tidak akan bisa menolong orang bodoh lainnya. Dan untuk saya pribadi, saya enggan hidup dalam kegelapan.

Saya dengan senang hati menerima tanggaan dan sanggahan. Tapi sekali lagi, dengan prinsip: menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Tidak menerima debat kusir, apalagi pengetahuan yang didasarkan pada klenik dan omong kosong.

Sekian dan terima kasih.

3 kunci membangun bisnis, menurut saya

Saya dan tim guru merayakan ulang tahun usaha yang ke empat Desember 2014 lalu

SAMSUNG CSC

Saya dan tim guru merayakan ulang tahun Active English yang ke empat Desember 2014 lalu

 

Sebagai seorang entrepreneur, tidak ada yang lebih baik dari melihat bisnis berkembang ke arah yang selama ini diinginkan. Merintis bisnis sejak 2010, saya merasa tengah berada di antara masa lalu yang berdarah-darah dan masa depan yang cemerlang. At some point, I feel like it finally pays off. Tapi tentu saja saya masih berada jauh dari apa yang diangan-angankan, dan seperti biasa, masih banyak yang harus dikerjakan dan diupayakan, tiap bulan, tiap minggu, tiap hari, tiap jam.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Bob Sadino yang meninggalkan kita 19 Januari 2015 lalu. Dengan gaya nyelenehnya, dia telah menginspirasi banyak orang, termasuk saya. Seperti halnya Om Bob yang punya gaya dan ciri khasnya sendiri dalam membangun usaha, saya pun memiliki gaya dan prinsip saya sendiri yang saya yakini dan ikuti. Di sini saya ingin membaginya. Jika kebetulan Anda setuju, maka mari kita ber-high five. Jika tidak, we can agree to disagree.

1.

"If you are your authentic self, you have no competition."

“If you are your authentic self, you have no competition.”

Ada berapa banyak orang yang membangun bisnis atas dasar meniru yang sudah ada lalu gagal seiring dengan waktu? Terlalu banyak. Bahkan ini sering terjadi di lingkungan orang-orang yang saya kenal. Satu hal dalam menentukan bisnis yang ingin Anda lakukan adalah: jika Anda memilih membuat bisnis yang sama seperti yang telah ada dan telah dilakukan banyak orang, maka semoga beruntung bersaing dalam kompetisi yang telah ada jauh sebelum Anda berpikir untuk memulai.

2.

"Don't bite off more than you can chew."

“Don’t bite off more than you can chew.”

Apa kata pepatah tentang orang-orang serakah? Dalam dongeng atau cerita rakyat biasanya mereka akan berakhir binasa atau malah sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dalam bisnis hal yang sama berlaku. Ketika kita mencoba untuk melakukan banyak hal (semua hal!), maka bersiaplah untuk mati sebelum berkembang. Fokus pada satu hal sampai hal itu “jadi” adalah yang terbaik. Bukan hanya saya, banyak entrepreneur lain yang juga mengamini hal ini.

3.

"All things are difficult before they are easy."

“All things are difficult before they are easy.”

Mungkinkah sebuah candi dibangun dalam satu malam? Hal semacam ini hanya mungkin terjadi dalam dongeng. Pada kenyataannya kesuksesan membutuhkan waktu. Jangan berharap usaha Anda akan berkembang dan maju hanya dalam kurun waktu satu atau dua tahun, apalagi cuma enam bulan! Jangan pula berharap Anda akan segera menikmati hasilnya dalam sekejap. Satu-satunya mata uang yang bisa membayar ini semua adalah konsistensi dan jerih payah Anda.

Kalau Jaya Setiabudi mengatakan, “Sebaikbaiknya usaha adalah yang dimulai bukan ditanyakan terus-menerus,” maka yang bisa saya katakan tentang tulisan ini adalah, “Sebaik-baiknya tulisan ini adalah paling baik untuk yang telah berwirausaha.This will all make sense after you do. Karena menurut saya, wirausaha adalah satu-satunya pekerjaan di dunia yang tidak meminta Anda untuk menunggu sampai Anda pintar untuk melakukannya. Bahkan untuk menjadi wirausaha kita tidak perlu gelar atau sekolah terlebih dahulu. Segala keahlian dan kecapakan hanya dapat diperoleh melalui satu hal:

Melakukannya!

Last but not least, ini dia kutipan dari Om Bob, yang membuat saya menyadari bahwa ternyata dulu saya memulai bisnis dengan modal 1 milyar rupiah! Selamat menikmati dan selamat berusaha!😀

modal dengkul a'la Bob Sadino

NB: semua gambar saya peroleh dari Google. Tulisan saya yang lain tentang entrepreneurship: Pengakuan seorang entrepreneur pemula. Suka tulisan ini? Jangan lupa like dan share ya. Terima kasih!🙂

Mesin waktu itu ada di buku-buku sejarah

Tahukah Anda…

  • Bahwa tidak seperti yang dipercaya selama ini sebagai orang “asli” Bali, orang-orang “Bali Aga” disebut demikian karena mereka berasal dari Desa Aga yang terletak di dekat Banyuwangi, Jawa Timur, yang mulai berdatangan ke Bali pada abad 8?
  • Bahwa pernah diceritakan seorang raja Bali memiliki 200 istri?
  • Bahwa di Bali pada jaman dahulu seseorang diperbolehkan dan tidak akan dihukum karena membunuh laki-laki yang menyentuh perempuan yang bukan orangtua, saudara, sepupu, atau suaminya?
  • Bahwa di masa dahulu pada saat-saat tertentu upacara Ngaben anggota keluarga kerajaan juga diikuti dengan tumbal wanita yang terjun ke dalam api yang terdiri dari wanita-wanita terdekat almarhum, seperti pada sebuah adegan di kisah cerita Ramayana?

Saya pun baru mengetahuinya belakangan ini. Terima kasih kepada 2 buah buku yang sedang saya baca, Bali’s First People The Untold Story (dalam bahasa Inggris) dan Bali Tempo Doeloe (terjemahan dalam bahasa Indonesia). Selalu seru kembali ke masa lalu. Ketika membacanya seolah-olah saya dibawa ke masa beratus-ratus tahun lamanya, bahkan beribu tahun untuk buku yang pertama, ketika membaca asal muasal Bali sebelum menjadi sebuah pulau. Tak perlu lah menunggu lama sampai mesin waktu diciptakan, karena saya telah menemukannya. Mesin waktu itu ada di buku-buku sejarah.

mesin waktu buku sejarah

Saya percaya ilmu pengetahuan bisa memberi manusia kekuatan. Saya juga percaya bahwa  pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang (terutama sekali anak-anak), entah itu tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan terutama sekali alam semesta, harus senantiasa dihidupkan, bukan justru dibungkam. Banyak pertanyaan-pertanyaan ini timbul justru akibat dari kegelisahan dan kerumitan hidup yang seolah-olah ingin ditemukan jawabannya. Ibarat Google yang diciptakan sebagai tempat mencari solusi dengan memasukkan kata-kata kunci, maka buku adalah tempat mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan manusia dalam hidupnya.

Saya banyak menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki selama ini tentang Bali di dua buku ini. Pertanyaan pertama adalah: dari mana orang-orang Bali berasal? Apakah betul orang-orang Bali yang saat ini tinggal di Bali berasal dari Majapahit? Sementara orang-orang yang lebih dulu (yang sering disebut “Bali asli”) adalah mereka yang disebut Bali Aga? Jawabannya, yang dimaksud “orang Bali” (sebelum adanya eksodus besar-besaran akibat industri pariwisata di abad 20) adalah dua yang telah disebut, sementara penduduk Bali yang menetap pertama-tama adalah orang-orang Austronesia (manusia pra sejarah) yang kemungkinan besar bermigrasi dari Yunan, Cina (atau Tiongkok), sekitar 17.000 – 20.000 tahun lalu. Pada awalnya kelompok-kelompok manusia ini bermukim di wilayah yang berbeda di Bali dan kini kemungkinan besar telah bercampur aduk sedemikian rupa.

Pertanyaan ke dua, sebagai generasi yang lahir di tahun 80’an, bisa dibilang saya menikmati hanya sedikit sekali dari apa itu Bali yang “sesungguhnya”; kekayaan alam serta budaya dan adat istiadat yang indah dan berlimpah. Memasuki abad 21, tahun 2000, pembangunan infrastruktur di Bali mengalami perkembangan yang begitu cepat (sampai-sampai kebablasan hingga harus menggerus apa yang menjadi ciri khas Bali, alam dan budayanya), sampai-sampai saya sering merasa rindu Bali yang dulu saya kenal ketika kecil dan bertanya-tanya sendiri, jika alam dan budaya bukan lagi menjadi ciri khas Bali, maka apa lagi yang perlu diagung-agungkan dari industri maha dahsyat yang mampu mengubah wajah Bali yang polos menjadi angkuh ini?

Agak menyejukkan kiranya mengetahui bahwa Bali tidak selamanya seperti yang kita kenal sekarang: penuh dengan problematika kota modern seperti kemacetan, sampah, dan kemiskinan. Lewat catatan-catatan perjalanan orang-orang luar (Eropa, Asia, Jawa) mulai abad 16 (tahun 1500’an) hingga 20 (tahun 1900’an), saya mengenal Bali yang dulu, di mana orang-orang datang karena ketertarikan mereka yang tulus akan indahnya alam dan harmonisnya kehidupan budaya (bukan investor yang hanya tertarik pada kepentingannya sendiri dan pundi-pundi uang). Di beberapa catatan bahkan disebut betapa Bali adalah sebuah pulau yang mampu menyokong kehidupan ekonominya sendiri (self-sustaining). Dengan membacanya saya menjadi mengerti apa yang menyebabkan Bali begitu dipuja dan didamba (pada awalnya).

Saya pun berandai-andai jika saja mesin waktu telah ditemukan, saya akan pergi ke masa di mana Bali masih seperti yang diceritakan dalam buku-buku ini. Pasti akan sangat berbeda dengan Bali yang sekarang. Dan saya jadi membayangkan… Jika saja para leluhur dan orang-orang Bali pada jaman itu melalui mesin waktu berkunjung ke Bali sekarang, bisa saja mereka sedih atau marah, karena tanah kelahirannya dirusak, bahkan banyak telah bukan menjadi hak milik orang Bali sendiri. Bali tidak lagi mampu menyokong dirinya sendiri dan menjadi sangat bergantung pada kekuatan luar (luar Bali maupun Indonesia). Bisa kah Anda membayangkan betapa hancurnya hati mereka? Jika kita bisa kembali ke masa lalu lewat buku, kiranya para leluhur tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi agaknya bagi kita belum terlambat.

Tidak butuh mesin waktu atau pun orasi penuh patriotisme (apalagi yang dibumbui chauvinisme) untuk menyadari kecintaan akan tempat tinggal kita – walaupun tak bisa dipungkiri kecintaan saya akan Bali muncul karena telah menetap di pulai ini selama bertahun-tahun. Beralih lah ke buku-buku sejarah. Tidak saja sejarah mengandung ilmu dan fakta (tentu yang telah diklarifikasi), tapi karena lewat sejarah kita bisa merefleksikan masa lalu dan menyongsong masa depan. Membaca sejarah juga berarti menjauhkan diri dari praduga, yang saat ini di sana-sini telah menjadi mesin ampuh pengadu domba. Lagipula, bukankah sangat disayangkan jika orang luar lebih memahami sejarah kita (penulis dan penyusun kedua buku adalah orang asing)? Maka segera ambil lah bukumu dan masuk lah ke dalam mesin waktu!

PS: petualangan saya dengan mesin waktu tidak akan berhenti sampai di sini. Nantikan petualangan saya berikutnya.🙂