“You’re never too old to learn”

“You’re never too old to learn.” -English proverb

Ada pepatah lama dalam bahasa Inggris yang berbunyi “You’re never too old to learn“, yang artinya “Kamu tidak pernah terlalu tua untuk belajar”. Banyak orang mungkin mengatakannya karena kalimat ini terdengar bijaksana dan keren, tapi profesi saya sebagai seorang guru membuat saya (secara tidak sengaja) membuktikannya sendiri. Dan ternyata memang benar. Umur tidak membatasi kemampuan belajar seseorang, selagi pikiran mereka masih bisa bekerja dengan baik.

Sebagai guru lepas (freelance), banyak orang bertanya siapa saja murid saya, berapa umur mereka, berapa umur termuda murid yang saya ajar, dan berapa umur tertua murid yang saya ajar, dan hal-hal lain dengan tema yang sama. Umur termuda murid yang pernah saya ajar (sekarang tidak lagi) sekitar lima tahun, tepatnya anak-anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak. Well, sebenarnya tugas saya tidak benar-benar menjadi guru, tapi asisten guru yang mengajar mereka, sewaktu saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris. Kelebihan mengajar anak-anak adalah persiapannya yang bisa dibilang tidak lama. Tapi… bekerja dengan anak-anak sama dengan menandatangani kontrak untuk mengajar sambil berolahraga dan berusaha bertingkah laku seperti mereka!

Selain persiapan yang minim (anak-anak tentu tidak harus belajar tentang Future Perfect Continuous Tense kan?), anak-anak begitu mudah untuk dipengaruhi karena… ya karena mereka anak-anak. Segala hal bagi mereka adalah baru dan menyenangkan. Hal sederhana seperti main kereta-keretaan bisa membuat mereka tertawa dan puas. Tapi karena mereka anak-anak, apa berarti kemampuan mereka lebih sedikit dari orang yang lebih tua? Oh, jangan salah. Benar jika ada yang berpendapat otak anak-anak itu seperti sponge (spons). Ajarkan mereka sesering mungkin bahasa Inggris di sekolah dan di rumah, penuhi hari-hari mereka dengan segala hal yang kebarat-baratan, dan para orangtua dijamin akan dengan segera membesarkan anak-anak Indonesia “bak bule”, berbahasa Inggris fasih dan bertingkah laku seperti orang barat.

Sementara itu, murid tertua saya? Well, saya tidak tahu pasti berapa umur bapak ini, tapi seorang staf pernah mengatakan pada saat saya mengajarnya, ia berumur kurang lebih 60 tahun dan sebentar lagi akan pensiun (usia pensiun pegawai swasta 65 tahun bukan?). Sebut saja nama bapak ini N. Kami bertemu waktu saya mengajar di sebuah villa di Canggu. Saya juga mengajar English for Hotel di Active English, walaupun sebelumnya saya juga punya pengalaman mengajar staf hotel selama setahun. N adalah seorang security officer atau satpam. Bersama dengan anggota security department yang lain, ia mengikuti kursus bahasa Inggris yang diadakan oleh pihak villa. Waktu itu saya sempat ragu dengan kemampuan dan keinginan belajarnya, mengingat usianya yang sudah cukup senja.

Tapi ternyata saya salah. Saya tidak bisa mengatakan bahwa N berbakat dalam bahasa Inggris, karena banyak orang yang lebih berbakat daripada dia. Tapi satu hal yang bisa saya ingat dari setiap pertemuan kami adalah… Bagaimanapun sulit bahasa Inggris baginya, ia terus berusaha dan tidak menyerah. Dari segi kerajinan ia biasa saja. Ia juga bukan murid yang menonjol, tapi saya tidak pernah melihat dia mengabaikan kelas atau materi yang saya berikan. Perilaku (attitude) yang cukup baik yang bisa mendukungnya untuk memaksimalkan hasil belajar. Yang membuat saya cemas justru bukan N, tapi salah satu murid yang berumur jauh lebih muda dari dia, tapi karena motivasi dan perilaku yang lemah, membuatnya menjadi yang terburuk di kelas. Katakanlah nama bapak ini A.

Umur A sekitar 40 tahun. Ia memang bukan yang terbaik di kelas, tapi yang membuatnya sulit untuk maju adalah pola pikir dan perilakunya. Suatu waktu ketika kelas berakhir, ia pernah berkeluh kesah pada saya bahwa sebenarnya ia tidak butuh belajar bahasa Inggris. Alasannya? Pertama, tempat ia bekerja seharusnya tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak uang untuk mengadakan kursus bahasa Inggris, karena seharusnya mereka lebih fokus pada menaikkan gaji karyawan. Ke dua, letak rumahnya yang cukup jauh dari tempat kerja memaksanya untuk bolak-balik rumah-tempat kerja untuk menghadiri kursus. Ke tiga, banyak saudaranya yang bekerja di hotel prestis (hotel bintang lima) dengan bahasa Inggris yang baik (yang artinya ada yang mengajarkan dia di rumah?).

Pada awalnya saya terkejut dengan segala yang ia ungkapkan. Saya berpikir, “Apakah saya salah telah mengajarkannya bahasa Inggris?” Lama-kelamaan saya sadar, semua yang dia katakan hari itu sesungguhnya hanyalah “topeng” yang ia kenakan untuk menutup-nutupi ketidakmampuannya. Mungkin kepercayaan dirinya sedikit terguncang. Tapi uniknya, N yang hampir sepuh tidak pernah melakukan ini. Tiap ada permainan atau tugas bersama, N akan berusaha untuk ikut berpartisipasi, entah itu dengan bertanya ke temannya yang lain atau meminjam catatan. A tidak pernah melakukan ini. Mungkin dia terlalu malu (atau angkuh?) untuk bertanya pada temannya. Ketika saya bertanya di depan kelas, N akan berusaha menjawab dengan nada lantang, sementara A akan berusaha menghindar untuk tidak menjawabnya.

Di akhir kursus, bisa ditebak, N mendapatkan nilai lebih baik daripada A (tentu nilai yang mereka kumpulkan bukan semata-mata berdasarkan hasil ujian, tapi lebih dari kumpulan hasil belajar sehari-hari). Walaupun begitu, saya cukup lega, karena setelah A menumpahkan curahan hatinya itu pada saya, dikit demi sedikit ada perubahan dalam perilakunya di kelas. Walaupun dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi di dalam kelas, ia berusaha mengikutinya walaupun hanya dengan ikut tertawa jika yang lainnya tertawa (oh ya, kelas itu memang penuh dengan canda dan tawa). Saya masih ingat saya mengatakan ini di akhir curhatan dia, “Oh, apa bapak gak pengen kayak saudara bapak yang bahasa Inggrisnya bagus dan bisa kerja di tempat yang lebih bagus juga?”

Saya tahu cuma sedikit yang bisa saya lakukan untuk memotivasi dia untuk setidaknya lebih peduli pada kelas yang dia ikuti (atau kelas yang atasannya ingin dia ikuti dan ambil manfaatnya, demi kepentingan pekerjaan dan atasannya juga). Mungkin dengan menghubung-hubungkannya dengan sesuatu yang sudah ia kenal (yaitu saudaranya yang pintar bahasa Inggris dan bekerja di tempat yang lebih baik) bisa membuatnya berpikir bahwa kelas ini sebenarnya diadakan untuk kepentingannya juga. Di situ akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan, bukan umur (muda) yang menentukan prestasi belajar kita, tapi motivasi dan perilaku kita tentang proses belajar itu sendiri. Jika kita menginginkannya, saya yakin tidak ada yang tidak mungkin. Jadi, jangan pernah berhenti belajar, berapapun usia Anda sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s