Menjelaskan pendidikan Indonesia dengan Bloom’s Taxonomy

Para pendidik atau yang pernah kuliah di jurusan pendidikan sudah pasti tidak asing lagi dengan Bloom’s Taxonomy. Di tahun 1956, Dr Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan, memimpin sekelompok pendidik dalam mengembangkan teori klasifikasi tujuan pembelajaran (classification of learning objectives) yang dikenal dengan Bloom’s Taxonomy. Bloom’s Taxonomy sangat populer digunakan di kelas-kelas hingga saat ini kiranya karena mudah diterapkan. Ini dia penampakan Bloom’s Taxonomy untuk wilayah kognitif yang tersohor itu (versi baru yang direvisi oleh Lorin Anderson):

Bloom’s Taxonomy Versi Baru, direvisi oleh Lorin Anderson

Tujuan Bloom’s Taxonomy sungguh sederhana. Ia membantu pendidik menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Apa tujuan pendidikan? Apa tujuan belajar dan mengajar? Apakah hanya sekadar menghapalkan fakta dan rumus yang ada di buku pelajaran? Atau menciptakan anak-anak didik yang nantinya akan dapat menemukan solusi dari permasalahan yang ada di masyarakatnya, sesuai dengan perkembangan jaman? Bloom’s Taxonomy membantu pendidik untuk merancang kurikulum, lesson plan (RPP), dan ujian sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Karena saya seorang guru bahasa Inggris, maka saya akan mencontohkan penerapan Bloom’s Taxonomy dalam pembuatan pertanyaan-pertanyaan ujian (grammar) yang kiranya akan saya gunakan di kelas saya sebagai berikut (contoh di bawah ini tidak baku dan dapat diubah sesuai dengan mata pelajaran dan bahan yang diujikan):

  1. Remembering (mengingat): Hapalkan rumus Simple Past dan Present Perfect Tense.
  2. Understanding (memahami): Jelaskan dengan bahasamu sendiri apa itu Simple Past danPresent Perfect Tense.
  3. Applying (menerapkan): Buatlah contoh kalimat menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense.
  4. Analyzing (menganalisa): Bandingkan Simple Past dan Present Perfect Tense dan penggunaannya, serta cari perbedaannya.
  5. Evaluating (mengevaluasi): Siswa diberikan contoh teks menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense dan diminta untuk memberikan pendapat tentang penggunaan kedua tenses dalam teks tersebut.
  6. Creating (menciptakan): Siswa dihadapkan pada sebuah cerita (dalam L1/ first language/ bahasa ibu) dan diminta untuk membuat teks menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense tentang cerita tersebut, serta menjelaskan alasan mengapa kedua tenses tersebut harus atau tidak harus digunakan.

Jika kita lihat dari nomor 1 hingga 6, begitu juga pada piramida di atas, terdapat hirarki, di mana ‘remember’ (mengingat) mengisi posisi paling bawah dan memiliki bobot pertanyaan paling mudah, dan ‘creating’ (menciptakan) mengisi kedudukan paling atas dan memiliki bobot pertanyaan paling sulit. Tanda panah menunjukkan ‘increasing difficulty’ (meningkatnya kesulitan) dari ranah paling bawah ke paling atas. Dari sini kita bisa menyimpulkan adanya ‘Higher Order Thinking Skills’ di mana siswa diharapkan tidak hanya ‘mengetahui’, tapi juga dapat ‘menciptakan’ sesuatu dari ilmu yang didapatnya.

Higher Order Thinking Skills vs. Lower Order Thinking Skills

Kembali ke pendidikan Indonesia, di tahap manakah dari Bloom’s Taxonomy ini kita sudah banyak bermain? Saya kira semua akan setuju jika saya mengatakan tujuan belajar dan pendidikan adalah agar anak didik dapat menerapkan ilmu yang dia dapat di sekolah (atau di mana pun itu) ke dalam masyarakat (di luar tempat ia mendapatkan pendidikan itu tadi), di mana di situlah fungsi pendidikan yang sebenarnya akan diuji bermanfaat atau tidaknya. Jadi, sudahkah pendidikan Indonesia ‘hijrah’ dari ‘Lower Oder Thinking Skills’ ke ‘Higher Order Thinking Skills’?

Saya memang belum pernah mengajar di sekolah, namun pengalaman 12 tahun di SD, SMP, SMA, 5 tahun di perguruan tinggi, pengalaman mengajar murid-murid saya yang masih sekolah, serta fakta masih adanya Ujian Nasional (UN) yang jawabannya berupa pilihan ganda, membuat saya ‘curiga’ jangan-jangan kita memang masih belum beranjak dari ranah ‘remembering’ dan ‘Lower Order  Thinking Skills’ ke tingkatan yang lebih tinggi. Saya masih ingat ketika sekolah dulu pekerjaan saya hampir tiap hari adalah menghapalkan teori dan rumus. Menghapalkan = ‘remembering’. Jangankan mengaplikasikan, memahami saja saya belum tentu bisa. Dan sayangnya, apa yang diingat, itu pula yan diujikan.

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan serta merta mengubah wajah pendidikan di Indonesia, tapi sebagai pembelajar dan pendidik, biarlah ini menjadi refleksi saya akan pendidikan di Indonesia. Kalaupun kita ingin perubahan itu segera datang, mungkin para pendidik yang membaca ini dapat segera mengaplikasikan Bloom’s Taxonomy di kelas masing-masing, sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Baca salah satu contoh penerapannya di sini: Applying Bloom’s Taxonomy in Your ClassroomAt lastSelamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berkarya, wahai para pendidik.

Update: menurut Index of cognitive skills and education attainment (indeks ketrampilan kognitif dan pencapaian pendidikan) oleh Pearson, dari setidaknya 39 negara di dunia, Indonesia berada di urutan terbawah.

Sumber gambar 1: lionden.com.

Sumber gambar 2: angelamaiers.com.

Advertisements

3 thoughts on “Menjelaskan pendidikan Indonesia dengan Bloom’s Taxonomy

  1. Pingback: Practicing making questions with Past, Present, Future Simple using biographies of famous people | Ms Neno's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s