Links to downloadable English Language Teaching (ELT) books and ebooks

A member of Indonesian English Teachers’ Club (IETC) asked me if we could have all the links of the downloadable books or ebooks that were posted on the club’s Facebook group in one page. So, here it is now. Happy downloading!

Continuing Professional Development – An Annotated Bibliography by Amol Padwad and Krishna Dixit.

Online books and articles by Stephen D Krashen.

Principles of Language Learning and Teaching by H. Douglas Brown, 4th edition.

A Course in Language Teaching by Penny Ur.

The Practice of English Language Teaching by Jeremy Harmer, 3rd edition.

Conversations in the Classroom by Chris Cotter.

Innovations in learning technologies for English language teaching edited by Gary Motteram.

Blended Learning in English Language Teaching: Course Design and Implementation edited by Edited by Brian Tomlinson and Claire Whittaker.

Some other books on English for tourism and Project Based Learning (PBL) are also available on IETC Facebook group. Please have a visit and search for them there.

This blogpost will always be updated once a new link is found (or broken). Have other links? Feel free to share them by leaving your comment(s). Thank you. :)

Bantu ekonomi lokal, makan di warung lokal

Tumben tulisan ini tidak ada hubungannya sama mengajar atau belajar bahasa Inggris. Boleh dong ya… Saya jadi tergelitik saja dengan orang-orang yang mendengung-dengungkan katanya cinta Indonesia, dukung ekonomi lokal, karya anak bangsa, dsb, tapi sehari-harinya makan di restoran fast food (cepat saji) atau tempat-tempat ‘wah’ lainnya yang kebanyakan empunya (baca: bos besarnya) bukan orang Indonesia. Jadi saya mau berbagi pandangan sedikit kenapa makan di warung lokal itu penting kalau (katanya) kita cinta Indonesia.

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar

Suatu hari saya membuat janji dengan seorang teman di sebuah tempat makan baru dengan gaya kebarat-baratan. Tempat makan ini bukan warung biasa, dengan menu campuran barat dan Indonesia. Karena saya ingin makan makanan yang mengandung nasi, jadi saya pesan soto ayam. Ketika hidangannya disajikan, saya pun mulai mencicipinya. Alangkah terkejutnya saya. Saya yang terbiasa makan di warung pinggir jalan langsung kaget dan rasanya ingin marah dan protes ke yang punya tempat. Sama sekali tidak terasa seperti soto ayam! Kuah hambar cenderung pahit. Bumbu sama sekali tidak terasa. Sementara 100 meter dari tempat itu saya tahu ada warung soto dan nasi goreng Jawa yang menjual soto ayam paling enak di Denpasar. Ini terlalu!

Sampai hari ini saya memang belum menyampaikan komplain atau keberatan saya ini ke pemilik atau manajemen tempat itu. Tapi biarlah saya simpan dalam hati dan saya ceritakan di sini saja. Inti dari pengalaman saya ini… Ada terlalu banyak tempat yang walaupun ia menawarkan kenyamanan, tapi makanan yang disediakan di situ justru tidak otentik dan tidak enak. Apalagi makanan yang berhubungan dengan makanan tradisional atau khas Indonesia. Rata-rata semua menawarkan kemasan yang menarik dan fasilitas yang dicari kebanyakan anak muda dan para profesional, misal: free wi-fi. Saya paham tiap tempat mempunyai model bisnis dan segmen pasarnya sendiri. Mungkin ini yang membedakan tempat-tempat seperti ini dan warung lokal biasa yang menjual ‘makanan asli’ (yang memang menjadi barang dagangan utama dan rasanya enak).

Rujak kuah pindang di warung rujak (tanpa nama) dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Rujak kuah pindang di Warung Pak Ketut Sudiana dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Bukannya saya tidak pernah makan di restoran atau restoran cepat saji, hanya saja kalaupun saya makan di sana, biasanya jarang sekali saya foto atau unggah foto-fotonya di media sosial. Alasannya sederhana, kebanyakan tempat-tempat itu sudah punya channel (saluran) promosi mereka sendiri. Tentu karena modal mereka besar. Tanpa kita mengunggah foto-foto makanan mereka di media sosial, mereka sudah cukup mampu mempromosikan makanannya. Lain halnya dengan warung-warung lokal (yang seringkali makanannya enak betul). Karena model bisnis mereka masih tradisional, maka mereka tidak mengenal sistem promosi seperti perusahaan besar yang modern. Justru kita harus membantu warung-warung yang dimiliki orang lokal ini.

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cenik Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cening Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Saya penggemar makanan Indonesia dan tidak pernah malu mengunggah makanan Indonesia se-ndeso apapun dan di mana pun ia berada – di dalam gang, dekat pasar, dari desa. Bukan karena ndeso-nya tapi karena makanan-makanan itu otentik dan sangat pantas untuk didukung. Jadi sudahlah, kalau ingin mendukung ekonomi masyarakat lokal, lakukan hal sederhana ini: sering-sering makan di warung lokal dan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengunggah foto-fotonya di media sosial, tentu dengan cara yang menarik. Jadi, jangan melulu ke mal ya… Hehehe… Saya bersyukur di Bali ‘cuma’ ada 3 mal (tolong jangan ditambah lagi!) dan sekarang ini saya jarang banget main-main ke sana… Selamat makan! 😉

Diigo: ayo bangun perpustakaan onlinemu!

Logo Diigo

Seorang rekan guru yang juga anggota Indonesian English Teachers Club lewat Facebook Chat baru saja menyarankan saya untuk memasukkan referensi ke dalam tulisan-tulisan saya di blog ini. Sontak saya langsung teringat dengan akun Diigo saya. Mungkin karena terbiasa ngeblog (baca: bukan menulis tulisan akademik atau ilmiah), saya jadi tidak terpikir kalau referensi itu perlu. Ditambah lagi kebiasaan ngeblog yang biasanya tanpa menyertakan referensi. Tapi bukan berarti saya tidak pernah membaca ya… (Guru yang tidak pernah membaca? Apa-apaan ini?)

Jadi apa sebenarnya Diigo? Diigo mungkin bisa dibilang sama seperti sistem Bookmark yang terdapat di browser pada umumnya. Untuk Chrome biasanya Bookmark berintegrasi dengan Gmail, di mana ketika kita login dengan akun Gmail kita, kita tidak perlu khawatir jika kita tidak menggunakan komputer atau device yang sama. Asalkan kita menggunakan Chrome dan login ke akun Gmail, kita pasti akan tetap bisa mengaksesnya di perangkat mana pun. Bedanya dengan Diigo, Chrome Bookmark tidak memungkinkan orang lain (selain pengguna akun Gmail yang bersangkutan) untuk melihat dan mengakses tautan-tautan yang telah kita simpan dalam Bookmark.

Di Diigo, jika kita lihat, tiap pengguna mempunyai My Library sendiri yang terdiri dari tautan-tautan yang telah ia simpan dan tanggal kapan mereka disimpan. Dan orang lain dapat membaca daftar tautan ini dan mengaksesnya. Jadi, My Library lebih seperti sebuah perpustakaan online (atau digital) yang terbuka di mana tiap orang bisa mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan dibaca seseorang. Konsep Diigo juga sebenarnya adalah media sosial. Jadi sesama pengguna bisa saling menambahkan kontak atau teman seperti layaknya Facebook. Tapi tanpa itu pun orang lain yang bukan teman dapat mengakses daftar bacaan kita selagi mengetahui tautan atau nama user (selagi ketika disimpan pengaturannya public, bukan private). Contoh: http://www.diigo.com/user/retnosofyaniek.

Bagaimana cara membuat akun Diigo? Sederhana. Buka diigo.com, klik Join Diigo, lalu isi keterangan yang diminta seperti halnya mendaftar di sebuah website atau media sosial pada umumnya. Setelah memiliki akun Diigo, kita akan diminta untuk mengunduh dan meng-install add-on Diigo di browser kita. Setelah add-on terpasang akan terlihat seperti yang ada di foto yang saya ambil dari komputer dan browser Google Chrome saya di bawah ini (di antara panah merah muda).

Diigo add-on di Google Chrome

Add-on Diigo di Google Chrome

Bagaimana cara mulai membangun perpustakaan kita sendiri? Buka laman yang kita baca, lalu klik add-on Diigo yang menampilkan logonya seperti di foto di atas. Kita bisa menyimpan laman yang kita baca berdasarkan tag (tagar) yang sesuai dengan konten atau isi laman. Misal: Laman dengan judul ‘An Introduction to Project-Based Learning’ kita kategorikan ke dalam tagar ‘PBL’, ‘education’, ‘teaching’. Atau karena laman ini berasal dari website Edutopia yang tersohor itu, kita bisa juga masukkan tagar ‘Edutopia’. Dan tautan ini pun otomatis akan masuk ke My Library kita, asalkan kita sign in di akun Diigo kita (saya biasanya selalu sign in – dan saya tidak pernah berganti perangkat).

Kelebihan Diigo lainnya adalah karena web-based (berbasis web), ia dapat diakses melalui browser apapun (Chrome, Mozilla, Internet Explorer, etc.) dan perangkat apapun yang mendukung (komputer, iPad, iPhone, Android). Kita juga bisa memilih untuk sign in ke akun Diigo kita atau melalui Gmail. Selain itu, seperti layaknya sebuah buku, kita juga bisa meng-highlight (menstabilo) laman web yang sedang kita baca dengan berbagai macam warna. Lucu bukan? Untuk cara menggunakan Diigo yang lainnya, silakan tonton video tutorial ini yang diambil dari laman depan website Diigo.

Untuk Chandra (rekan guru yang saya sebut di atas), terima kasih telah mengingatkan. Mulai sekarang saya akan memasukkan referensi di tulisan-tulisan di blog ini. Dan jika Anda belum mencoba Diigo, ayo coba sekarang… And let’s start connecting! 😉

Sumber gambar Logo Diigo: edudemic.com

“Bu, Anda lebih pintar dari bos Anda. Karena Anda menguasai 3 bahasa dan dia tidak.”

Refleksi kali ini…

Jumat pagi. Murid saya yang satu ini memang super sibuk. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa meluangkan waktu untuk bertemu lagi dan belajar bersama. Ini adalah pertemuan kami yang ke dua. Ia adalah seorang manajer di salah satu perusahaan retail yang cukup besar di Badung, Bali. Dengan bahasa Inggris yang lancar, walaupun dengan aksen Bali yang kental (tentu karena dia orang Bali), ia menceritakan salah satu alasan utama mengapa ia mengambil les privat yang kami lakukan. Tentu setelah saya bertanya (dalam bahasa Inggris), “Ibu bahasa Inggrisnya lancar sekali. Kenapa ibu merasa perlu kursus?”

Alkisah saat ini ia dipimpin oleh seorang bos baru. Seorang perfeksionis berkebangsaan Inggris. Selain perfeksionis, ia dikenal kerap kali mengoreksi bahasa Inggris karyawan atau bawahannya di depan karyawan lain. Hal ini yang membuat banyak karyawan takut berbicara di depannya. Bukan karena mereka tidak bisa. Tapi karena mereka takut salah dan takut dipermalukan di depan umum. Ini lah alasan mengapa ia (yang sebenarnya sudah memiliki ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris yang cukup baik) tiba-tiba kehilangan kepercayaan diri. Belum lagi ditambah ia baru saja kehilangan anak-anak kesayangannya karena sakit.

Dengan kritis saya langsung berpikir, “Saya yakin pasti bos murid saya ini frustasi kalau memang benar bawahannya tidak memiliki ketrampilan bahasa Inggris yang cukup untuk memungkinkan komunikasi terjadi dengan lancar. Tapi sebagai seorang penutur asli, apa iya ia sekejam itu dan tidak memaklumi kalau bahasa Inggris bukan bahasa utama (bahkan ke dua) kita?” Pada kenyataannya memang banyak orang (atau turis di Bali) yang memaklumi keadaan ini. Dengan lemah lesu dan tidak bertenaga murid saya menyelesaikan ceritanya. Otak saya langsung berkata, “Saya tidak bisa membiarkan dia pulang dari sini merasa rendah diri.”

Lalu saya pun berkata pada ibu ini (tentu – lagi – dalam bahasa Inggris):

“Bu, Anda lebih pintar daripada bos Anda. Kenapa? Coba bayangkan. Ibu menguasai setidaknya 3 bahasa, bahkan termasuk bahasa yang sama sekali bukan milik (kebudayaan dan asal muasal) ibu, bahasa Inggris. Ibu bisa bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ibu sudah mengalami banyak proses (pemerolehan bahasa) yang tidak dialami bos ibu. Sejak ibu kecil hingga sekarang (ibu ini sudah separuh baya). Coba bayangkan lagi. Bos ibu mungkin lahir dan besar di Inggris. Menikah, tinggal, dan berinteraksi dengan sesama penutur asli bahasa Inggris. Sementara ibu? Ibu belajar, berusaha sampai akhirnya bisa 3 bahasa. Sementara dia tidak. Lihatlah prestasi yang telah ibu capai. Lain kali jika ia mengoreksi ibu, katakan terima kasih padanya. Tapi ingat, proses yang telah ibu lalui membuat ibu jauh lebih unggul daripada dia. Katakan dalam hati, ‘I’m much better than you.’ Dengan begitu ibu akan selalu merasa tenang.”

Saya mengakhiri kalimat terakhir dan murid saya terlihat sedikit berkaca-kaca sambil mengangguk-angguk pasti. “Iya, ya… You are right,” ujarnya. Ada secercah harapan dalam pandangan matanya yang tadinya sempat layu. Di akhir pertemuan kami ia pun melangkah pulang dengan lebih semangat.

Sering kali kita menganggap remeh kekuatan yang kita miliki sendiri. Saya tidak tahu apakah ini hasil penjajahan selama lebih dari 300 tahun atau lebih hingga saat ini, tapi kita seharusnya tidak menempatkan diri sebagai warga dunia kelas 2, 3, dan seterusnya. Apalagi ketika berhubungan dengan penguasaan bahasa. Bayangkan orang-orang asing datang ke Indonesia melihat orang Indonesia berbahasa Inggris. Tidakkah itu sesuatu yang menakjubkan? Sementara kita ke negara mereka, tidak ada sedikit pun yang berbahasa Indonesia (kalaupun ada jumlahnya tidak sebanyak penutur bahasa Inggris di Indonesia).

Jadi, tolong, kalau sekarang Anda sedang belajar bahasa Inggris, jangan dulu merasa down atau rendah diri. Hargai dan rayakanlah usaha dan kerja keras Anda. Tidak banyak dari penutur asli bahasa Inggris yang tertarik belajar atau menguasai bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Percayalah, bahkan yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris (di Indonesia khususnya). Atau bahkan yang telah lama tinggal di Indonesia pun masih banyak yang ogah-ogahan untuk bisa menguasai bahasa tempat ia berpijak. Jadi jika Anda tertarik mempelajari bahasa yang bukan bahasa ‘asli’ Anda, bukankah ini hal yang menakjubkan? 🙂

Suka dengan tulisan ini? Silakan bagi ke teman dan kolega Anda melalui tombol social media di bawah ini. Terima kasih.

“Imagine tourist destination”: applying semi project-based activity in a business English class

After the success of using text message as homework in one of my ESP classes, I was tempted to try on a new project in a business English class that I taught last month. The business English class was set in a tour and travel company in Denpasar, Bali. It was a short course that lasted for only a month focusing on business (email) writing, communication and presentation skills. At first I planned to have the participants – who are mostly accounting staff – to present a tourist destination in Bali. However, after thinking that this might be too easy for them (as their level of English is somewhat above elementary to pre-intermediate), I changed my mind.

Just like the previous post, in this blogpost I will share about the activity – how I did it and what I achieved – and hopefully it will be useful for all of us.

The aims of the activity:

  1. To meet the objectives of the short course.
  2. To increase students’ engagement and participation.
  3. To promote creativity and active learning.

What activities were there:

There were 4 main sub-activities involved in this ‘Imagine tourist destination’ activity. They were:

  1. Students made their own original promotional brochures of an imaginary tourist destination of their choice.
  2. Students presented their imaginary tourist destinations in front of the class (their ‘audience’ – including me).
  3. Students wrote an inquiry and/ or reservation email playing a role to be an interested tourist to a selected presenter (or ‘the tourist destination’s management or reservation agent’).
  4. Students – acting as the company management – replied to an email from the interested tourist for a follow-up.

Skills practiced through the activity:

  1. Business (brochure and email) writing,
  2. Communication and presentation.

For how long it was done:

It took me at least a total of 5 meetings to complete the whole activity (note: a meeting lasted for an hour/ 60 minutes). 1 meeting for introductory activities and introduction to the activity, 2 meetings for presentations (there were a total of 10 students in the class), and 2 meetings for discussing email writing and giving feedback.

What the results were:

Promotional brochures

Some of the promotional brochures the students made

Some of the promotional brochures the students made

Most of the students came up with what I thought amazing ideas on imaginary tourist destinations. Here are some of them:

  1. The Moon Holiday by Spectacular Planets Attract Cosmic Explorer (SPACE)
  2. Magic Mountain Home Stay (on the foot of Mount Everest)
  3. East Bali National Park – Best Safari Journey Experience by Putra East Bali Safari Tour and Travel
  4. The Resto Plane (a dining experience on a plane around Bali)
  5. Waterfall Restaurant – Best Balinese Restaurant (a dining experience at the bottom of a waterfall in Bali)

All brochures were made and prepared well with shapes, images, and information that are enticing. Since the tourist destinations are imaginary, most of the titles successfully raised curiosity.

Presentations

A student presenting while the audience read the information from the brochure

A student presenting while the audience read the information from the brochure

I enjoyed the presentations mostly because both presenters and audience seemed to enjoy their roles. Although there were times code-switching happened, for example when a presenter suddenly switched to Indonesian when she could not think the English for some Indonesian words, the flow was smooth and communication was done right on target. Both presenters and audience were active, adding to the Q & A sessions’ dynamic. Some answers could be funny too. In short, it was fun and engaging.

Email writing

An email written by a 'travel agent' (of 'Food and Flower Centre')

An email written by a ‘reservation agent’ (of ‘Fruit and Flower Centre’)

Each student had to write 2 emails: one they wrote as a tourist and one as a reservation agent, replying to a tourist’s inquiry and/ or reservation. This is where the challenge lay. As accounting staff, their company might not ask them to make brochures. However, email writing is pretty much their everyday task. As the example above shows, minor mistakes in grammar were seen in most of the emails they wrote. I had only 2 meetings to discuss these mistakes when in fact I think the explanation and practice on email writing needs more time than that. It will be discussed in my conclusion below.

What I learned from this activity:

What made it work

  1. The activity promoted creativity, active learning, and critical thinking.
  2. It increased students’ engagement and participation.
  3. Students learned English using topics that are familiar to them and their work. This is important, especially in adult English classes.
  4. It helped build students’ confidence and fluency especially in communicating and presenting.

Why it did not work

These are the things I should fix if I wish to use this activity for future classes.

  1. Students needed more time to have grammar lesson, application, and practice. The best option would be discussing only grammar points that are specifically related to (their) email writing or exploring only parts where the mistakes were found the most. I did give introduction to email writing for 1-2 meetings before starting the activity, but it was not enough.
  2. A student felt (through the class questionnaire) that the activity did not have a ‘clear goal’. This was probably because she did not feel like ‘learning’. I need to check on my method in delivering the aims of the activity.
Some students posing with their works after the first presentation session

Some students posing with their works after the first presentation session

As usual, I am open to any input or suggestion. Or if you want to try applying something like this in your class (or something that is even better!), let me know. Until then, see you in another post. 🙂

Reference:

Doehla, Don. (2011, April 21). Using Project-Based Learning to Teach World Languages. Retrieved from http://www.edutopia.org/blog/world-language-project-based-learning-education-curriculum-don-doehla

The day I met iTDi

The faces of iTDi Indonesia, posing at the iTDi Day. From left to right: Ami, Marlene, Indrie, Ika, Nina, Icha, Grace, Neno (that’s me), Desti. Bottom: Chuck, Tujuh, Eric, Arief, Try.

So, here’s the story how I ended up attending iTDi Day in Jakarta on May 18, 2013:

So one night, around 2 weeks before May 18, 2013, Chuck Sandy (yes, that Chuck Sandy), approved my friend request on Facebook and sent me a message, inviting me to come to iTDi Day. I knew about iTDi some time before from a post about their event in a Facebook group for English teachers. Thinking it was just a random message, I simply replied to him, “But it’s in Jakarta, Chuck. Perhaps next time if you have it in Denpasar I’ll go.” Then he mentioned about giving scholarships for the event to some people, including me if I’m interested. The next day I gave my answer to him and I never regretted my decision ever since…

The last time I went to Jakarta was when I had a Jakarta-Bandung trip with a former colleague in 2010. To be honest I’m definitely not a fan of the city – or province, should I say (was born in Jakarta, but raised and have been living in Bali all my life, I see a city like Jakarta is pretty much unbearable), but yeah, one has to know what one’s capital city is like. So I booked the tickets and voila! There I was… iTDi team members who came from out of the city stayed in a nice apartment not far from Soekarno Hatta airport (‘not far’ = as in Jakarta definition). I stayed in Jakarta for 3 days, met some old friends (and new!) and relatives too.

Back to iTDi, at the iTDi Day I learned a lot more about what iTDi is. It stands for International Teacher Development Institute. It’s a global community for English teachers who are keen to improve both their language and teaching skills. How does it work? One of the biggest dreams of iTDi is ‘providing professional development for all teachers that is meaningful, accessible, and affordable’. Hence: itdi.pro. On the website, iTDi provides regular courses (and yes, you get certificates from taking these courses), forums (where you can discuss anything related to English teaching and connect to English teachers all around the world), global webinars, and special courses (again, you’ll get certificates from enrolling).

Like the motto ‘for teachers by teachers‘ suggests, if you’re an English teacher (wherever you are, not just in Indonesia) and you wish to improve your language and teaching skills as well as connect and collaborate with English teachers around the world, then this is the right place for you. Attending iTDi Day gave me the opportunity to meet some of the most passionate English teachers in Indonesia, and not to mention Chuck Sandy and Eric Kane of iTDi. At the iTDi Day I also had the chance to meet bu Itje Chodidjah, whose brilliant and provocative thoughts on education I have always followed online, in person. Surprisingly, not until I met her (after watching some of her videos on YouTube) I realized that she’s from Malang, the home city of my university, Brawijaya University. How strange we are all connected.

I took a few lessons on itdi.pro and I can say they use simple and easy-to-understand language as instructions, and also useful and practical lessons that we teachers can relate to. Last night I attended the iTDi Global Webinar for the first time, ‘Breaking Rules’ with John F. Fanselow. In just 2 hours (and we didn’t realize it was 2 hours already!) I learned a lot about how to break the habits in teaching. One thing I remember was when John said, “Language is a skill.” Many countries (including Indonesia) have mistaken English for a content subject in which the students are asked to memorize vocabulary rather than use it. This is true and I can truly relate to that. Along with the webinar, iTDi also provides courses on ‘Breaking Rules’. To learn more about the webinar and courses, visit iTDi Breaking Rules.

So that’s the story how I met iTDi. Rest assured, my teaching journey will never be the same again.

You can also read about iTDi Day on Icha’s blog: iTDi day Indonesia 2013.

Photo credit: iTDi Indonesia