“Meong Meong” dan masa depan permainan tradisional Indonesia

Lomba menulis dengan tema seperti ini sudah lama saya tunggu-tunggu. Tak heran ketika Indonesia Travel mengumumkan kompetisi ini saya langsung bersemangat dan bergairah. Jantung seperti terpompa dan wajah tak hentinya sumringah. Permainan dan dunia anak-anak bukanlah hal asing bagi saya. Bukan hanya karena saya mengalami sendiri masa-masa memainkan permainan tradisional bersama teman-teman sekomplek atau sekolah ketika saya kecil dulu, tapi juga karena saya seorang guru bahasa Inggris. Apa hubungannya guru bahasa Inggris dengan permainan tradisional Indonesia? Mari saya ceritakan…

“Meong meong alih ja bikule

Bikul gede gede

Buin mokoh mokoh

Kereng pesan ngerusuhin”

Walaupun orangtua saya lahir dan besar di Surabaya dan Blitar, saya dan segenap saudara kandung dibesarkan di Bali. Karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di Bali, saya merasa lebih lekat dengan budaya Bali ketimbang budaya asal orangtua saya, Jawa Timur. Ketika ditanya tentang asal (daerah), saya akan kesulitan menjawab. Alih-alih memberikan penjelasan yang panjang, saya biasanya cukup mengatakan, “Indonesia.” Saya merasa beruntung ketika kecil bersekolah di sekolah negeri di mana saya bisa berkumpul dengan banyak orang setempat dan belajar tentang budaya lokal, mulai dari aksara (huruf) Bali, tari, sampai permainan anak-anak. Tiap jam mengaso kami hampir selalu memainkan permainan tradisional, dan bahkan beberapa lagunya saya hapal di luar kepala hingga sekarang! Mungkin ini lah efek nyata memperkenalkan sesuatu kepada anak-anak sejak dini: mereka akan membawanya sampai tua.

Satu di antaranya yang paling saya ingat adalah “Meong Meong”. Lirik dan tema lagunya sederhana. Seperti yang mungkin sudah Anda tebak, ‘meong’ berarti kucing dalam bahasa Bali. Jika diterjemahkan secara lepas ke dalam bahasa Indonesia, lagu ini menceritakan tentang bagaimana si penyanyi (anak-anak yang sedang bermain) menyuruh sang kucing untuk menangkap si tikus (meong meong alih ja bikule), yang besar dan gemuk (bikul gede gede, buin mokoh mokoh), yang suka bikin onar (kereng pesan ngerusuhin). Bikul = tikus. Cara memainkannya juga seru. Ada tiga jenis peran yang harus dimainkan: satu anak menjadi kucing, satu menjadi tikus, dan sisanya membentuk lingkaran sambil berputar dan bernyanyi untuk melindungi tikus. Kucing dan tikus akan berkejar-kejaran. Dan ketika kucing berhasil menangkap tikus, akan ada kucing dan tikus baru yang menggantikan. Biasanya permainan ini dimainkan di halaman yang cukup luas.

Sekarang setelah saya pikirkan kembali, alangkah dalamnya sebenarnya metafora yang ingin direpresentasikan permainan tradisional ini. Di tengah carut marutnya politik nasional, ketidakpastian hukum, serta perang melawan korupsi, “Meong Meong” serasa ingin melambangkan perjuangan kebaikan melawan keburukan yang tiada henti dan pantang menyerah. Seberapa pun sulit kucing mengejar tikus dan seberapa pun bersikukuhnya ‘benteng’ berusaha melindungi si tikus, ia akan terus melakukannya sampai dia dapat. Bagi anak-anak, pesan permainan ini sesungguhnya sederhana: bahwa harusnya dalam melakukan kebaikan, seseorang hendaknya tidak mudah putus asa dan menyerah.

Permainan "Meong Meong" yang biasa dimainkan anak-anak.

Permainan “Meong Meong” yang biasa dimainkan anak-anak

Tahun 2006, untuk pertama kalinya saya memainkan permainan ini lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Saya dan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengajar bahasa Inggris di Desa Tenganan Dauh Tukad, desa wisata yang terletak di Kabupaten Karangasem, yang cukup dikenal karena budaya Bali asli-nya (Bali Aga). Pagi hari sebelum kami mulai mengajar di sekolah dasar setempat, kami kumpulkan anak-anak kelas 4, 5, dan 6 di lapangan. Sejenak kami memikirkan kegiatan pemanasan yang asyik sekaligus menyehatkan. Seorang anak nyeletuk, “Meong Meong!” Ingatan saya lalu kembali ke masa-masa sekolah dasar. “Saya suka permainan ini!” seru saya dalam hati. Kami pun bermain dengan seru, dan anggota tim yang berasal dari luar Bali pun sangat menikmati permainan ini. Ramai, lucu, penuh tawa dan gerak. Selesai bermain kami masuk kelas masing-masing dan saya pun melanjutkan dengan memberi materi tentang nama-nama binatang dalam bahasa Inggris.

Tapi saya tidak menyadari betapa pentingnya pengalaman ini sampai saya memulai karir mengajar saya di tahun 2008. Untuk pertama kalinya saya mengenal dunia pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak dan remaja. Sebagai seorang guru baru, selama seminggu penuh saya mengikuti kegiatan orientasi di mana di dalamnya saya diharuskan untuk mengetahui permainan-permainan yang bisa dipakai di kelas sebagai kegiatan pembuka atau pengisi (kami menyebutnya ‘warmers’ dan ‘fillers’). Setahun penuh saya menjadi terbiasa dengan semua permainan yang ada di sana. Beberapa favorit saya adalah ‘Hot Seat‘, ‘Charades‘, dan ‘Musical Chairs‘. Hanya saja, satu hal yang membuat saya penasaran, “Apa yang membuat permainan-permainan ini begitu istimewa? Tidakkah mereka sama dengan permainan-permainan yang biasanya saya mainkan dengan teman-teman saya ketika SD di luar kelas?” Pada kenyataannya, dari sifat dan tujuannya: sama. Yang membedakan: bahasa pengantar dan tentu asal muasalnya.

Di sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pascarsarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, permainan tradisional “Meong Meong” terbukti dapat mengembangkan sikap sosial anak. Disebutkan lagi, sikap sosial terdiri dari kepercayaan diri, disiplin dan sikap kooperatif. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa permainan ini memicu interaksi antara para peserta dan guru. Dengan nada yang sama, dalam sebuah blog post di website BBC Teaching English, mengapa dalam kelas bahasa Inggris permainan sangat dianjurkan untuk dilakukan, karena penting untuk perkembangan fisik, intelektual, dan sosio-emosional seseorang. Dan ini berlaku tidak hanya untuk anak-anak, namun semua orang dari berbagai umur. Ketika Anda berada di tengah-tengah permainan “Meong Meong” (silakan bayangkan), Anda pasti akan merasakan hal ini benar.

Lalu rasa penasaran saya kembali terusik ketika di tahun 2011, untuk keperluan persiapan sebuah acara, saya bertemu Bapak Made Taro, seorang ahli cerita rakyat dan permainan anak-anak Bali. Saya sempat mengobrol beberapa saat di rumah beliau dan betapa kecintaan dan semangatnya akan dunia yang digelutinya membuat saya berpikir lebih jauh… Tidak bisakah kita melakukan sesuatu untuk permainan tradisional Indonesia? Pak Made Taro hari ini berumur 74 tahun. Dan semua orang tentu tidak bisa hidup selamanya. Pikiran saya kembali ke permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya… Apa yang membuat mereka masih dimainkan hingga sekarang? Apa yang membuat mereka tetap ada? Permainan-permainan ini bisa dibilang tidak muda alias kuno. Tapi masih dimainkan hingga sekarang.

Sampai hari ini, kesimpulan akan pertanyaan-pertanyaan saya tadi mengarah pada dua hal. Satu, permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya masih hidup hingga detik ini karena mereka bisa secara luas dan sebebas-bebasnya dimodifikasi oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Untuk satu permainan saja, saya bisa menemukan puluhan versi. Dan tidak ada seorang pun yang sepertinya mempermasalahkan versi mana yang ‘benar’ atau versi mana yang ‘salah’. Sungguh sayang sekali ketika kita secara tidak produktif mengartikan ‘mempertahankan budaya’ dengan cara menempatkan suatu (katakanlah) tradisi kuno sebagaimana adanya (karena mengubahnya berarti tidak mempertahankan budaya atau bentuk asli?) dan membuatnya menjadi tidak terjangkau masyarakat luas. Contoh sederhana adalah bagaimana tidak banyak anak muda yang tertarik dengan pentas seni Ludruk di Surabaya. Karena tidak ada modernisasi dan inovasi, stagnan, dan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Dua, selain mengalami modifikasi (dan dengan kata lain, interpretasi bebas dari banyak pihak), untuk tetap hidup, permainan-permainan tradisional perlu berkembang dalam hal media penyampaiannya. Banyak dari kita tentu tahu ‘Hangman‘. Permainan sederhana yang juga saya pakai ketika mengajar ini tercatat muncul dari masa pemerintahan Ratu Victoria di Inggris di tahun 1800-an. Dan yang kita tahu sekarang, ‘Hangman’ bisa dengan mudah dimainkan di komputer, smartphone, dan internet dengan berbagai macam versinya. Jika kita ingin mengembangkan permainan-permaianan tradisional dengan cara ini, tentu kita tidak lagi mengandalkan orang-orang seperti Pak Made Taro.

Saat ini, penguasa ilmu dan teknologi adalah anak-anak muda. Saya ingat dosen Sastra Inggris saya dulu sempat berucap (dan di mimpinya ini saya juga percaya), hanya saja jika mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus-kampus di Indonesia bisa bersatu (bukannya malah dikotak-kotakkan ketika MOS), mungkin kita akan bisa menciptakan computer game atau online game paling keren sedunia. Dengan cara? Lulusan teknik komputer, antropologi, sejarah, bahasa, sastra, dsb semua bersatu dalam menyelesaikan sebuah maha proyek. Dan dalam kolaborasi yang seperti inilah saya percaya masa depan permainan tradisional Indonesia akan menjadi cerah dan lebih dari sekadar nostalgia untuk yang tua. Mereka akan tetap hidup – selamanya.

Apa untungnya mengembangkan permainan tradisional dengan cara ini? Banyak orang mulai mengkhawatirkan semakin surutnya minat anak-anak muda terhadap permainan tradisional. Daripada memaksa mereka memahami sesuatu yang tidak lahir di masanya, generasi yang besar dengan permainan tradisional dapat menjadi jembatan dengan mengembangkannya. Maka permainan tradisional ini masih bisa digunakan dan dipahami oleh orang-orang dari berbagai generasi. Selain itu, masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki minat akan tradisi kuno akan juga mengenal dan tertarik pada permainan tradisional. Di satu sisi kita mempertahankan ciri budaya lokal Indonesia, di sisi lain kita mempromosikannya. Bukankah ini seperti mendapatkan dua sisi mata pisau yang sama-sama baik? Lagipula, jika ini terjadi, sebagai orang Indonesia, masa sih kita tidak bangga? 🙂

PS: belum pernah melihat dan mendengar permainan dan lagu “Meong Meong”? Video YouTube ini Meong Meong – Tembang Bali bisa membantu Anda membayangkan betapa serunya permainan ini.

Terima kasih kepada:

Foto: Meong Meong – Tembang Bali.

Penerapan Permainan Tradisional Meong-Meongan untuk Perkembangan Sikap Sosial Anak

The importance of games in class

Hangman (game)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s