Dear guru bahasa Inggris Indonesia: ini PR kita bersama

Tulisan ini sebenarnya hasil unek-unek yang saya tuangkan di akun Twitter saya, @NenoNeno, pada tanggal 22 Agustus 2013. Niatnya saya chirpify tapi karena lama tidak ngeblog, jadi lebih baik saya pindahkan ke sini saja.

Jika menurut Anda apa yang saya sampaikan di sini mengandung ketidakbenaran, silakan dikoreksi atau tinggalkan. Karena saya tidak ingin mengubah isinya, maka penulisan dan bahasa saya biarkan seperti sebagaimana yang saya tulis di Twitter.

Semoga bermanfaat. Syukur-syukur menjadi bahan renungan.

“Lama-lama risih jg memang lihat guru bahasa Inggris yg banyak salah grammar. Sayangnya bahasa Inggris memang bukan content subject.

@cath_mw: how come? mereka lokal atau native? kata temen yg di jkt, ada juga native yg ga menguasai grammar.

Bukan ‘menguasai’ grammar secara teori, mbak.
Tp menggunakannya dgn baik dan benar dlm speaking/writing. That’s why it’s a skill. @cath_mw

Content subject: mata pelajaran yg dipelajari utk dapat informasi (sejarah, biologi, dsb). Smtr bahasa Inggris = skill (ketrampilan).

Tp kalo misal syarat guru bahasa Inggris nilai TOEFL-nya harus minimal 600 mungkin ada banyak banget guru Indonesia yg bakal ‘terpangkas’.

Plus gosipnya kalo kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris ga semua perkuliahan pake bahasa Inggris (kalo saya salah tolong dicerahkan).

@tionovita: saya kuliah Pendidkan Bahasa Inggris, dan emang ga semua perkuliahan pake Bahasa Inggris. Parahnya, ada mata kuliah yg ga penting.

Smtr bahasa itu didapat (acquired), bukan cuma dipelajari (learned). Utk mahir prosesnya bisa panjang, biar maksimal biasanya sejak kecil.

Bayangkan.. Calon guru bahasa Inggris masuk kuliah.. Sblmnya ga terekspos bahasa Inggris dan ketrampilan minim. Smtr kuliah cuma 4 tahun..

Jd.. Ini kyk ‘membentuk’ orang utk jd guru bahasa Inggris cuma dlm waktu 4 tahun & stlh itu mereka dilepas utk jd ‘panutan’ murid-muridnya.

@angelaamoy: iya betul mba, 4tahun itu ga cukup. Aku aja ngerasa masih kering ilmu, dan masih sering ikut course buat referensi mengajar. 🙂

Makanya ga heran akhirnya banyak cerita guru ngajar bahasa Inggris pake bahasa Indonesia sepanjang pelajaran atau ngajarin sesuatu yg salah.

Ditambah lagi perilaku guru (biasanya yg udah tua) yg merasa dia tau segalanya jd ga usah belajar lagi. Ilmu dan skill ga pernah ke-upgrade.

Di kurikulum 2013 jam pelajaran bahasa Inggris utk SMP/SMA dikurangi & utk SD ditiadakan (ga wajib). Ini jd kayak lingkaran setan.. Ngerii.

Anak-anak yg kurang terekspos bahasa Inggris ini nanti dewasa jd guru bahasa Inggris dan akhirnya ujung-ujungnya jd guru spt yg td. Ngerii..

Yg lebih ngeri lagi adalah keadaan ini (banyak guru bahasa Inggris dr Indonesia yg ga berkualitas) bikin celah utk guru-guru asing masuk.

Saya ga bilang guru penutur asli itu jelek atau ga perlu. Tp imbasnya ke persaingan tenaga kerja di dlm negeri — yg kadang ga masuk akal.

Gaji guru penutur asli (biasanya dr negara-negara asal bahasa Inggris) di lembaga kursus biasanya 3-4x lipat guru Indonesia utk entry level.

Yg bikin ga masuk akal bukan ketrampilan bahasa Inggrisnya (jelas ‘bule’ takdirnya dr lahir udah pake bahasa Inggris dong ya, pastinya fasih).

Tp kualifikasi mereka di luar ‘bisa bahasa Inggris’. Sama aja spt menjeneralisasi semua orang Indonesia pasti bisa ngajar bahasa Indonesia.

Kenyataannya mengajar itu perlu ketrampilan khusus. Saya banyak contoh kok ‘guru’ penutur asli yg ga suka ngajar, malah asal-asalan banget.

Tapi walo ‘asal-asalan’ gitu gaji mereka 4x di atas saya dong.. Bagi kalangan guru bahasa Inggris di Indonesia ini udah bukan rahasia lagi.

Saya masih respek sama guru penutur asli yg mengajar bahasa Inggris krn dia menikmati itu, punya gelar di bidang yg sesuai, dan kompeten.

Banyak kah guru penutur asli yg kompeten spt ini? Banyak.. Banyak kah guru penutur asli yg ga kompeten dan asal-asalan? Banyak juga..

Jd sama kayak guru Indonesia jg. Jd mentang-mentang ‘bule’ jangan langsung ‘takluk’ (baca: percaya 1.000%). Cari tau/tanya kualifikasinya, pengalamannya, dsb.

Jangan cuma orang dalam negeri, Indonesia, yg terus-terusan dipertanyakan/diragukan kualifikasinya. Kualat banget sama negeri sendiri..

Kalo cuma pengen temen ngobrol penutur asli, mending ke internet, cari temen chatting, jangan ke tempat kursus. Tempat kursus buat belajar.

Jadi apa nih intinya? Intinya apa? Pesan utk para calon & guru bahasa Inggris: PR-mu banyak. Belajar bahasa Inggris, pengajaran, pendidikan.

Bahasa Inggris skrg statusnya lingua franca. Cepat/lambat kualitas guru ga akan lagi dilihat dr warna kulitnya. Kita harus ambil momen itu.”

Advertisements

5 thoughts on “Dear guru bahasa Inggris Indonesia: ini PR kita bersama

  1. Tempat belajar bahasa Inggris di tingkat universitas itu ada dua: (1) Fakultas Sastra (yang nantinya orangnya bergelar “S.S.” atau Sarjana Sastra karena fokus materi perkuliahannya adalah pada bahasa Inggris murni, jadi orangnya bakal jadi ahli bahasa dong!), (2) IKIP atau FKIP (yang nantinya orangnya bergelar “S.Pd” atau Sarjana Pendidikan karena fokus materi perkuliahannya adalah pada pedagogi/ ilmu-ilmu pendidikan dan lain-lain sementara itu bahasa Inggris bukan jadi fokus kuliah). Kalau mau jadi guru yang pintar bahasa Inggris, ya pertama-tama yang harus dilakukan adalah kuliah dulu di FSUI jurusan sastra Inggris, biar ngelotok bahasa inggrisnya karena di sana para mahasiswa/i tidak diganggu oleh “mata-mata kuliah yang tidak ada hubungannya dengan bahasa Inggris”. Lalu, setelah itu, kuliah Akta IV deh di IKIP selama setahun. Begitu caranya yang saya tahu. Terimakasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s