Kita harus berpikir karena kita bukan domba

Kalau kamu bisa membaca tulisan ini, jelas itu berarti kamu bukan domba dong ya? Karena anak TK pun tahu, domba (sejauh ini) tidak bisa membaca. Sejak memutuskan untuk menjadi ‘orang bebas’ rasa-rasanya pikiran ini lebih sering tergelitik dari biasanya. Bukannya saya tidak terbiasa untuk berpikir. Duluuu… Waktu jaman kuliah, berpikir itu sudah jadi bagian sehari-hari. Selain karena dianjurkan dan diwajibkan (jika tidak, bagaimana caranya memahami materi cultural studies yang ribet itu dan lulus dengan selamat?), juga karena ada kebutuhan dan kesenangan ke arah itu. Dan kemarin saya tergelitik kembali setelah membaca tulisan tentang imperialisme di spunk.org, What causes imperialism? setelah sebelumnya pikiran melayang-layang mencari-cari jawaban kenapa kerajaan-kerajaan di Eropa dulu memulai kolonialisme ke Amerika, Asia, dan Afrika (yang belum paham silakan pegangan dulu).

Di tengah membaca artikel yang komprehensif itu saya merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan dan waktu untuk belajar, di tengah-tengah dikejar deadline ini itu dan jadwal mengajar yang kadang bikin susah bernapas. Saya lalu mengingat kembali masa-masa dulu saya ketika masih jadi… Um… Apa istilahnya? Corporate slave (secara harfiah artinya = budak perusahaan)? Jika saja saya memutuskan untuk tidak berhenti, bisa saja kesempatan ini tidak akan pernah datang kepada saya. Pikiran dan ilmu masa-masa kuliah yang masih cacat bisa disempurnakan karena pemahaman dunia yang lebih baik. Saya masih ingat dulu, ketika teman sekantor memergoki saya membaca buku, dengan anehnya dia bilang, “Kamu kok suka baca sih? Aku gak bisa kayak gitu.” Saya tidak bisa menyalahkan dia, karena membaca (yang di luar pekerjaan) bukanlah tuntutan bagi dia dan tidak secara signifikan menyumbangkan sumbangsih ke pundi-pundi rupiah yang sedang dia kumpulkan.

Di tengah-tengah itu semua akhirnya saya ngetwit:

  • Who says knowledge is useless? You will always need light when all you see is darkness. Unless you want to keep on walking… in the dark.
  • Memutuskan berhenti jadi buruh upah mungkin keputusan terbaik yang pernah aku buat, karena sekarang hidupku bukan cuma untuk kerja – tidur – makan – hangout.
  • Sudah sering bilang begini, tapi bukan berarti mengklaim jalan hidupku yang paling benar. Aku merasa kita kuliah memang bukan untuk jadi buruh upah.
  • Syukur-syukur pas kuliah diajari (dan diwajibkan) cara berpikir kritis. Pas jadi buruh upah seolah-olah ilmu & kecakapan ini terbuang sia-sia.
  • Bagaimana mau dipakai, sehari-hari (bahkan lebih dari 8 jam sehari plus kadang di akhir pekan) segala tenaga & pikiran dipakai demi mendedikasikan diri pada perusahaan.
  • Bahkan di hari libur pun segala waktu didedikasikan untuk perusahaan. Tak heran banyak murid yang juga bekerja mengeluh tak ada waktu untuk belajar!
  • Oh ya, yang dimaksud buruh upah = wage labor. Kamu menawarkan tenaga & sebagai gantinya perusahaan memberi kamu gaji (baca: pegawai).
  • Gpp jadi buruh upah, tapi luangkan waktu untuk belajar/ tahu bahwa ada dunia & pengetahuan yang lebih luas dari ‘kotak’ yang kamu sebut ‘bidang pekerjaan’mu.
  • Ada internet & banyak ilmu gratis. Berhubungan dengan orang yang dianggap lebih tahu juga tak sesulit jaman dulu. Intinya: luangkan waktu untuk belajar.

Intinya: saya berpikir lagi, jika kita berharap perubahan dimulai (hanya) oleh orang-orang kelas bawah karena mereka yang terlihat paling pantas untuk marah dan murka dengan ketidakadilan yang ada (karena jelas mereka yang paling tidak diuntungkan), kok kayaknya impossible! Dan itu juga bukannya malah membuat kita terlihat seperti kelas menengah yang bodoh, kejam dan tega melihat orang lain menderita, yang penting hidup kita enak dan rekening kita gendut? Kita-kita ini yang kelas menengah, justru karena kita mampu, harusnya lebih peduli. Bukannya karena kita hidup sudah enak, buat apa saya mengurusi hal-hal yang kritis apalagi berbau politis? Percayalah, segala ketidakadilan terjadi karena sumbangsih kita yang DIAM saat melihatnya! Jangan jadi bagian dari apa yang rakyat Twitter bilang sebagai “Kelas Menengah Ngehek“, kelas menengah yang merasa kesuksesan (juga yang menderita “sok sukses syndrome”) adalah hasil jerih payah mereka sendiri, maka mereka merasa tidak ada urusan dengan segala yang ada di sekitar.

Hidup ini hanya sekali. Buat bermakna. Sumbangsih apa yang mau kamu berikan pada dunia yang kacau balau ini? Dan tidak, sumbangsih ini bukan sekadar doa atau sumbangan ke orang yang kurang mampu. Lebih dari itu. Dunia membutuhkan perhatianmu, perhatian penuh. Segala hal yang kamu putuskan untuk pikirkan dan lakukan, akan memberi efek ke lingkungan dan orang-orang di sekitar kamu. Setidaknya jangan bikin dirimu sendiri, anak-anakmu, dan orang-orang lain di sekitarmu jadi bodoh atau makin bodoh. Dan semua ini diawali dengan berpikir, diamunisi dengan ilmu (makanya jangan malas baca!). Kita ini bukan robot, apalagi domba. Jadi jangan mau dijadikan robot, apalagi domba! Kita ini manusia, yang punya hati, punya rasa kasihan dan kasih sayang. Jadi, masih mau jadi manusia yang isinya cuma kerja, tidur, makan, hangout? Berpikirlah. Kita harus berpikir, karena kita bukan domba!

PS: tulisan ini tidak disponsori/ di-endorse oleh merek atau perusahaan manapun dan bukan merupakan program CSR perusahaan apapun, tapi murni dari dalam hati yang terdalam.

2 thoughts on “Kita harus berpikir karena kita bukan domba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s