Mengajar bahasa Inggris dan cerita-cerita lucu di sekitarnya

Cerita di bawah ini diambil dari pengalaman saya sebagai guru dan admin les privat. Semua berdasarkan kisah nyata dan diceritakan kembali di sini tidak dengan tujuan menjelek-jelekkan yang bersangkutan, tapi semata-mata untuk hiburan. Setelah kejadian rata-rata sang “pelaku” menyadari perilakunya dan kami pun tertawa atau tersenyum gembira. Semoga pembaca sekalian terhibur. 🙂

Satu…

Suatu hari seorang teman minta dicarikan seorang guru les privat bahasa Inggris untuk anak temannya. Seperti biasa, sebelum les privat dimulai, saya berkoordinasi dulu dengan guru yang bersangkutan dan mengabari klien (yang kebetulan dalam hal ini bapak siswa yang akan diajar) dengan informasi mengenai guru yang akan mengajar, seperti nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Setelah semua beres dengan sang guru, saya pun mengirimkan sms ke bapak ini:

“Pak, nanti yang mengajar A _ _ (nama anaknya, saya lupa) dengan Ms Eka ya, pak. No telp sekian sekian. Thank you.”

Selang beberapa detik setelah itu telepon saya malah berdering. Dari bapak ini. Pikir saya, “Ada apa ya? Ah, mungkin ada yang mau ditanyakan.” Saya pun mengangkat teleponnya. Dengan agak panik bapak itu langsung berkata, “Mbak, anak saya perempuan lo dan agak pemalu. Tolong dicarikan guru perempuan saja.”

Saya langsung mengernyitkan dahi. “Lo, maksud bapak ini gimana sih? Kan itu tadi perempuan,” kata saya dalam hati. “Maksudnya bagaimana ya, pak?” tanya saya polos. “Itu lo, mbak, kok gurunya Mas Eka… Anak saya kan pemalu kalau gurunya laki-laki.” PAUSE. Ya, berhenti dulu di situ. Dan saya pun kontan… Menahan tawa!

Dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan bapak ini, saya pun menjawab, “Ooh… Itu… “Ms” itu “miss”, pak, bukan “mas”. Jadi perempuan kok.” Ibarat sedang chatting atau sms, di akhir perkataan saya ini saya tambahkan sebuah smiley untuk menjaga harga diri si bapak. Nada si bapak pun tiba-tiba berubah, dari panik ke lega. “Ooh… Begitu… Baiklah kalau begitu.” Bisa saya bayangkan bapak ini mungkin sedang senyum-senyum sendiri di seberang sana.

Dua…

Baru-baru ini beberapa staff sebuah perusahaan sepakat untuk les bahasa Inggris bersama. Jadilah mereka berlima ada di kelas saya. Kami membicarakan banyak hal dari tips berbahasa Inggris dengan berani sampai grammar. Di pertemuan ke dua kami membahas Present Simple Tense. Setelah memberikan penjelasan, saya pun meminta mereka untuk mengerjakan soal-soal di handout yang saya berikan.

B (bukan nama sebenarnya, hehe…), yang biasanya memang sangat gemar berbicara, tiba-tiba meminta saya untuk mengoreksi jawaban yang tengah ia kerjakan. Saya pun mendekat dan melihat satu per satu. Karena pemahaman akan tenses belum jelas betul, ia menggunakan “can” dalam salah satu contoh kalimatnya. Setelah saya menjelaskan sedikit, ia memperbaiki jawabannya dan kali ini kalimatnya benar.

“Good! This one’s correct,” kata saya padanya. Dan sedetik setelah itu… Tanpa disangka, tanpa dinyana, ia pun berujar, “I am!” sambil menepukkan tangan ke dada dengan nada membanggakan diri, persis seperti ketika seseorang bilang, “Aaa… kuuu!” dalam bahasa Indonesia.

PAUSE. Semua mata kontan tertuju padanya dan gelak tawa langsung membahana ke seluruh ruangan. Entah sengaja atau tidak, tapi perilakunya ini cukup dikenang. Buktinya di pertemuan berikutnya tak hentinya kami menggodanya dengan berujar, “I am!” tiap kali ia berhasil mengerjakan sesuatu di kelas. Dan dia pun seolah-olah bangga telah berhasil membawa gelak tawa di dalam kelas. “I am!”

Tiga…

Kejadian yang satu ini terjadi baru-baru saja. Seorang siswa SMP (berumur 14 tahun) asal Hungaria tengah cuti dari sekolah di negara asalnya dan selama tiga bulan bersekolah di sebuah sekolah internasional di Bali sembari mengambil les privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Di pertemuan pertama kami, ia masih hanya ditemani oleh sepupu yang menjaganya. Sampai suatu hari di pertemuan ke dua, saya bertemu ayahnya yang baru tiba di Bali.

Sebelumnya, saya diperkenalkan dengan ibunya. Seperti anaknya yang fasih berbahasa Inggris, ibunya pun begitu. Saya tidak punya masalah berkomunikasi dengan mereka. Sebelum saya akhirnya bertemu ayahnya, murid saya ini “memperingatkan” saya kalau ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun manggut-manggut saja. Kami pun duduk. Beberapa menit kemudian ayahnya pun muncul. Dengan wajah sumringah tangan kanannya menjabat tangan saya sementara tangan kirinya berusaha merangkul pundak anaknya. Dengan lantang ia langsung berkata, “My parents!” [Orang tua saya!]

PAUSE. Kami bertiga (saya, murid saya, dan ibunya) langsung tertegun sejenak dan saling berpandangan. Murid saya dan ibunya kontan meledak dalam tawa. Anaknya yang memang usil sampai pertengahan sesi pun tidak berhenti tertawa mengingat ucapan ayahnya. Ibunya langsung mengoreksi sang ayah. Harusnya ia mengucapkan, “I am her father,” [Saya ayahnya.] atau, “She is my daughter.”  [Dia anak perempuan saya.] Wajah ayahnya pun bersemu malu, sementara murid saya masih terbahak-bahak, saya cuma bisa menghibur sang ayah dengan mengatakan, “That’s OK, it’s not a problem at all.” [Gpp kok.]

Nah, menurut Anda, cerita mana yang paling menghibur? Atau justru tidak ada? Atau punya cerita-cerita lucu yang serupa? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Atau suka? Jangan lupa like atau share. 🙂