#5BestReads: 1st Semester 2016

Beberapa waktu lalu saya sempat mencuit ide untuk menominasikan 5 buku terbaik yang saya baca sepanjang 2016. Karena satu tahun adalah waktu yang cukup lama, jadi saya berpikir untuk mempersingkat waktunya ke 6 bulan atau satu semester. Bulan ke-6 sudah berlalu. Walaupun demikian, belum telat untuk melakukan nominasi ini. Jadi ini lah 5 Best Reads versi saya. Oh ya, urutan tidak mengindikasikan tingkat penilaian.

1. Bali: A Paradise Created (Adrian Vickers) – Second Edition

Bali A Paradise Created

Buku pertama yang saya baca tahun ini. Yang saya suka dari buku ini adalah karena ia ditulis tanpa tedeng aling-aling. Judul mengindikasikan tidak lain tidak bukan isi buku yang menggambarkan bagaimana citra Bali sebagai sebuah “surga” diciptakan (paradise created). Ada banyak peristiwa dan fakta sejarah yang jarang disebut-sebut di media mainstream. Sayang buku ini hanya tersedia dalam versi aslinya dalam bahasa Inggris.

2. Arok Dedes (Pramoedya Ananta Toer)

Processed with VSCOcam with f2 preset

Saya jarang membaca fiksi. Tapi karena buku ini sering disebut, saya jadi penasaran. Sekali lagi, salah satu buku terbaik yang pernah ditulis Pram. Seperti novel-novel lainnya, buku fiksi ini kental dengan nuansa sejarah. Berlatar peristiwa kudeta atas Tunggul Ametung penguasa Tumapel yang menandakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Singosari, secara menarik dalam novel ini Arok ditempatkan sebagai sosok protagonis yang simpatik.

3. Rise above the Crowd (Indrawan Nugroho)

Rise above the Crowd

Agak berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini jelas bukan buku sejarah. Bisa dibilang masuk dalam kategori pengembangan diri. Penulisnya sendiri adalah seorang konsultan bisnis. Yang saya suka dari buku ini adalah esensi mengenai personal dan business branding yang lebih kurang terinspirasi dari konsep Blue Ocean Strategy (lihat di bawah) dipaparkan secara sistematis dan doable, dengan bahasa yang sederhana.

4. Blue Ocean Strategy (W. Chan Kim & Renee Mauborgne)

Blue Ocean Strategy

Beranjak ke buku bisnis. Perlu 7 tahun akhirnya buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia. Kualitas terjemahan tidak buruk. Karena idenya yang brilian, tak heran buku yang ditulis dalam kurun waktu 20 tahun ini mendapat tanggapan luar biasa. Blue Ocean Strategy merujuk pada strategi dalam memenangkan pasar tanpa harus “bersaing” dengan pemain lain. Dan menurut penelitian yang dilakukan oleh penulis, strategi ini yang membuat banyak perusahaan bertahan. Walaupun contoh-contohnya mengambil pengalaman para korporasi besar, pelaku UMKM pun bisa memetik manfaat dari buku ini. Penasaran?

5. Nusantara: Sejarah Indonesia (Bernard H. M. Vlekke) – Edisi 1961

Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Kembali ke sejarah. Kualitas terjemahan buku ini baik – bahkan lebih baik dari buku di atas. Sebelumnya saya menulis resensinya di Resensi buku: Nusantara. Saya suka buku ini karena memaparkan garis waktu sejarah Indonesia yang begitu panjang (130 – 1940-an M) dengan padat dan ringkas. Buku ini bisa menjadi “gerbang” bagi yang ingin mulai mempelajari sejarah bangsa ini sebelum masuk ke bagian-bagian yang lebih terperinci.

Demikian 5 Best Reads untuk semester pertama 2016 versi saya. Kalau pembaca ingin membuat versi sendiri, entah itu di blog atau sosial media, jangan lupa cantumkan tagar #5BestReads. Mari kita ramaikan jagat literasi Indonesia. Selamat membaca!

Advertisements

Perpusda Bali: layanan yang buruk dan nasibmu kini

Tulisan ini adalah hasil kumpulan beberapa postingan saya di Facebook tentang Badan Perpustakaan & Arsip Pemerintah Provinsi Bali (disingkat Perpusda Bali), yang merupakan hasil kunjungan, pengamatan, dan pengalaman saya datang selama 3 kali selama bulan Juni lalu. Selain hasil pengalaman saya sendiri, di akhir tulisan akan saya tambahkan cerita dari beberapa teman lain mengenai pengalaman mereka mengunjungi perpus ini.

Sebelum ke hasil pengamatan, saya ingin menceritakan sedikit alasan saya berkunjung ke tempat ini untuk pertama kalinya dalam hidup. Selama ini sumber penyedia buku saya adalah toko buku – biasanya Gramedia. Ketika saya merasa ingin membaca buku baru, saya selalu pergi ke toko buku untuk membelinya. Tapi seiring dengan waktu, dengan semakin banyaknya buku yang ingin saya baca, kebutuhan akan buku saya meningkat.

Ini artinya biaya untuk membeli buku pun bertambah tinggi. Sementara bujet tidak juga bertambah. Harap diketahui rata-rata buku yang saya beli 3 sampai 5 per bulannya, tergantung dari topik/ tema dan ketebalan atau harga, dan rata-rata non-fiksi. Karena belum menemukan perpus swasta di Denpasar, saya berpikir untuk ke perpus ini, yang konon katanya terbesar di Bali (tentu karena tidak ada lagi alternatif lain).

Tapi alangkah terkejutnya ketika saya berkunjung, tidak saja fasilitasnya yang sangat minim, tapi keadaan diperparah dengan pelayanannya yang sangat tidak memenuhi standar pelayanan untuk tempat umum. Untuk lebih jelasnya, mari saya runutkan kronologi kunjungan saya yang cuma 3 kali itu (dan maaf beribu maaf, saya belum tertarik untuk kembali lagi, kecuali untuk protes atau bertemu dengan pimpinannya)…

Tanggal 15 Juni 2016, sore hari menjelang pukul 3 sore…

Perpusda Bali 1

Jam buka Perpusda Bali yang terlalu singkat.

Saya datang untuk pertama kali. Saya pikir saya ingin mampir setelah keliling menyelesaikan urusan. Di pintu depan saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, jangan-jangan sudah tutup. Dan ternyata benar. Sewaktu masuk, petugas di loket penerima tamu mengatakan bahwa mereka sebentar lagi akan tutup. Akhirnya saya ke sana cuma untuk mengambil foto syarat keanggotaan untuk saya bawa di kunjungan berikutnya.

Cuma satu hal yang saya sesali dari kunjungan pertama saya ini: apa pihak pengelola perpus ini berpikir bahwa orang-orang yang datang ke perpus HANYA murid-murid sekolah dan mahasiswa yang tidak bekerja dari pagi sampai sore?  Maka jam bukanya begitu identik dengan jam buka kantor pemerintahan yang dikelola PNS yang (maaf) terkadang malas? Ini sungguh aneh dan sangat tidak menguntungkan pekerja.

Tanggal 16 Juni 2016, sekitar jam 2 siang…

Akhirnya saya berkunjung lagi. Kali ini dengan membawa syarat keanggotaan (pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar) dan mendaftar. Kali ini saya sudah bisa meminjam buku (3 judul). Berikut hasil pengamatan berikut penilaian saya ketika masuk ke dalam:

Perpusda Bali 8

Saya bisa meminjam 3 buku dengan “kartu anggota” sementara.

Lokasi

Perpusda Bali sendiri berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 15 Denpasar, di pinggir jalan besar yang sibuk. Ini artinya dari segi bisnis dan pemasaran, serta akses dan visibility (mudah dilihat/ dicari), sangat menguntungkan. Tapi sayangnya pihak pengelola sepertinya kurang berinisiatif untuk menarik lebih banyak pengunjung ke tempat ini. Ini bisa dilihat dari sepinya perpus dan sedikitnya pengunjung tiap kali saya datang. 

Suasana

Dengan gedung yang tua, jangan berharap suasana yang modern. Bahkan rak buku, tempat duduk dan mejanya pun tua (termasuk mayoritas pegawainya). Tapi yang menyenangkan adalah suasananya sangat tenang. Ironisnya, yang paling berisik sendiri adalah ibu penjaga yang tiap 10 menit menjelang tutup mengingatkan bahwa perpus sebentar lagi tutup (padahal jam dinding di tempat itu juga tidak kurang jumlahnya).

Perpusda Bali 3

Salah satu lorong dengan rak-rak buku tua.

Buku

Beberapa kawan di Facebook sudah menyebut sebelumnya, kebanyakan koleksi buku lama. Lama di sini tidak hanya dalam artian buku (terbitan) lama, tapi koleksi buku lama yang sepertinya sudah ada di sana sejak dahulu kala dan koleksi ini jarang diperbarui dengan bukti hanya ada sedikit buku baru. Dan maksud saya dengan koleksi buku lama di sini bukan buku-buku kuno. Ini buku-buku yang ada di Ruang Baca Umum.

Tapi tidak menutup kemungkinan ada buku-buku baru walaupun sangat terbatas (beberapa judul dari Pramoedya Ananta Toer ada). Peletakan dan penyusunan buku agak berantakan, tapi kalau sabar dan telaten mencari, bakal menemukan beberapa permata di tumpukan lumpur. Peminjaman buku maksimal 3 judul dalam satu waktu (kurang banyak!) dan untuk 3 buku itu waktu peminjaman selama 2 minggu.

Perpusda Bali 4

Buku-buku tua yang tidak tertata rapi.

Teknologi

Jangan berharap ada sistem inventaris buku ber-barcode, karena tidak ada! Di Ruang Baca Umum di lantai 3, ibu petugas (yang saya bilang berisik tadi) mencatat berapa jumlah buku berdasarkan kategori yang dipinjam hari itu (di hari itu saya intip cuma ada sekitar 20 judul yang keluar; tidak banyak). Lalu saya ke bagian pendaftaran/ loket di lantai 1 untuk dicap tanggal pengembalian buku di bagian belakang masing-masing buku.

Saya bertanya apa ada sesuatu yang harus saya bawa waktu mengembalikan, petugas bilang tidak. Semua dilakukan secara manual. Bahkan di ruang baca waktu saya tanya apa bisa mencari buku di komputer, petugas mengatakan komputernya sedang error (di kunjungan saya yang ke tiga pun demikian). Sepertinya komputer yang digunakan bekas atau hibah yang sudah tidak memadai. Sejauh mata memandang tidak ada free wifi.

Oh ya, perlu saya tambahkan, website resmi Perpusda Bali sudah tidak diperbarui sejak tahun 2012. Jika permasalahannya adalah tidak adanya pegawai yang mumpuni untuk melakukan ini (karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pegawai rata-rata sudah berumur), seharusnya tugas seperti ini bisa di-outsource asalkan pengelolaan tetap berasaskan profesionalisme (pihak perpus membayar orang untuk jasanya).

Ruang baca

Sejauh yang saya lihat ada 3 ruang baca yg bisa diakses publik: Ruang Baca Umum, Ruang Referensi, Ruang Baca Anak-Anak. Ruang Baca Umum dengan koleksi yang bisa dipinjam, Ruang Referensi tidak bisa. Sementara Ruang Baca Anak-Anak saya lihat dari luar cat dan dekorasinya terlihat kuno dan tidak terawat. Agak menyedihkan sebenarnya. Bahkan tidak ada karpet atau sejenisnya untuk tempat anak-anak bermain atau gegoleran.

Yang mengherankan, dengan demikian banyaknya ruangan (dan pegawai) bisa dibilang koleksi bukunya tidak banyak. Menurut website resminya, ada lebih dari 10.000 judul buku. Menurut UNESCO, lingkungan miskin di AS memiliki rasio jumlah anak dan buku sebesar 300: 1. Untuk Bali yang jumlah penduduknya di tahun 2015 sudah mencapai 3.9 juta jiwa, artinya rasio penduduk dan buku adalah 390: 1. Tapi yang lebih buruk adalah fakta bahwa masih sedikit sekali yang memanfaatkan keberadaan perpus.

Pegawai dan pelayanan

3 kali berkunjung dan satu hal yang pasti soal kualitas pelayanan: jangan berharap terlalu banyak. Anggap berkunjung ke kantor pemerintahan yang belum tereformasi. Ibu-ibu petugas sepertinya buru-buru ingin pulang dengan bicara keras-keras di ruang baca. Waktu ada 2 orang datang mendekati jam tutup, dengan sigap dia berseloroh, “Kok sore banget (datangnya)?” Atau waktu sehabis saya pinjam buku dan tak kunjung pergi, dengan “bersemangat” dia berkata, “Ya, yang sudah pinjam silakan langsung ke bawah. Besok lanjut lagi. Oh ya, besok bukanya sampai jam 1 ya!” Sungguh terlalu.

Keanggotaan

Biaya keanggotaan GRATIS. Tapi walaupun demikian, penggratisan ini bukan trik sulap yang serta merta membuat orang tertarik bekunjung dan membaca buku, terutama setelah kejadian yang menimpa saya di kunjungan ke tiga (cerita di bawah). Syarat keanggotaan cuma dua: pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar dan fotokopi KTP. “Kartu anggota” (lihat wujudnya di foto di bawah) jadi di kunjungan berikutnya, dalam bentuk yang jadul.

Perpusda Bali 5

Ini yang pengelola sebut sebagai “kartu anggota” – 90-an banget!

Tanggal 22 Juni 2016, sekitar jam 2.30 siang…

Saya kembali lagi karena ingin mengembalikan buku-buku yang saya pinjam. Cukup tipis dan 1 buku terjemahannya kurang bagus, jadi saya tangguhkan untuk membacanya. Saya kembalikan buku-buku di loket di lantai 1 lalu menuju ke Ruang Baca Umum. Alangkah terkejutnya saya karena ditegur oleh petugas (total 3 orang) yang menyuruh saya menaruh tas jinjing saya di tempat penitipan di luar gedung, dekat tempat parkir.

Ini cukup tidak konsisten karena di kunjungan sebelumnya saya pun membawa tas backpack serut dan tidak ada satu pun yang protes. Di kunjungan kali ini pun ibu petugas di loket pengembalian tidak berkata satu patah kata pun mengenai tas yang saya bawa. Dan saya lihat sekeliling, tidak sedikit yang membawa tas juga. Tegurannya tidak menjadi masalah. Yang mengangetkan adalah bagaimana cara mereka menegur.

Ketika petugas ke dua di Ruang Baca Umum menyuruh (saya katakan menyuruh karena nadanya memang tidak menyenangkan) saya menaruh tas di salah satu ibu petugas yang duduk di sudut ruangan, saya menghampiri ibu itu dan bertanya apa benar ini tempatnya untuk menaruh tas. Dengan sangat ketus dan mata memicing seolah-olah saya punya dosa besar (mungkin mengganggu bengongnya dia), dia malah bertanya, “Siapa yang suruh?!” Detik itu juga saya langsung kehilangan selera untuk mencari buku.

Perpusda Bali 7

Maklumat Pelayanan yang pihak pengelola langgar sendiri.

Saya kembali ke loket di lantai 1, lalu mulai marah-marah ke petugas yang menangani pengembalian buku tadi. Saya minta sebuah kertas dan meminjam pulpen, untuk menulis saran. Anehnya, sepanjang kunjungan saya yang pertama sampai hari ini, tidak satu kali pun saya mendapatkan senyum tulus dari satu pegawai pun, walaupun tak jauh dari loket ada x banner berjudul “Maklumat Pelayanan” (lihat foto di atas).

Melihat saya marah, si ibu petugas ini tiba-tiba melunak dan mulai bisa tersenyum. Ada kehati-hatian dalam cara dia menimpali keluhan saya, begitu juga sedikit rasa takut. Yang mana sebenarnya tidak harus dia lakukan jika pegawai tidak ketus sejak awal. Yang membuat saya lebih kecewa, waktu saya ingin memasukkan kertas ke kotak saran, dia malah mengambilnya. Saya curiga tulisan saya tidak akan sampai ke mana pun. Dan yang paling penting: tidak ada satu pun kata maaf yang keluar dari mulutnya.

Itu lah kali ke tiga dan terakhir saya berkunjung ke Perpusda Bali. Niat awal saya adalah ingin menulis surat yang saya tujukan langsung pada pimpinannya dan saya serahkan di sana, tapi saya masih ragu dan memikirkan satu cara yang punya dampak lebih besar dan langsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya keberadaan perpustakaan. Jika pembaca ada masukan, silakan tinggalkan komentar.

Pentingnya perpustakan bagi masyarakat 

Satu hal, agaknya saya tidak perlu menguliahi lagi soal manfaat membaca. Mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kosakata, hingga memberikan hiburan, adalah sedikit dari banyak manfaat membaca. Kondisi sebuah perpustakaan daerah adalah cermin tingkat literasi daerah itu. Jika bisa dikatakan demikian, saya bisa dengan percaya diri mengatakan tingkat literasi Bali rendah.

Jujur, di kunjungan pertama saya sepulang dari Perpusda saya menangis. Kenapa? Apa yang saya lihat tiap hari di sosial media (online) maupun lingkungan sekitar (offline) entah itu masalah rasisme, kebiasaan membuang dan membakar sampah, pola pikir bebal dan susah maju, itu semua akarnya adalah kurang terbukanya wawasan masyarakat. Dan kunci keluar dari masalah-masalah ini tidak lain tidak bukan adalah pendidikan.

Dan yang saya maksud dengan pendidikan ini bukan gelar atau sekadar hadir di sekolah, tapi proses penyerapan ilmu, keterbukaan pikiran, penerimaan akan perubahan dan ide-ide baru, kemampuan menganalisa fenomena sosial dan menelusuri akar-akar masalahnya, serta menciptakan solusi yang inovatif berdasarkan logika dan ilmu pengetahuan. Untuk sampai ke tahap itu, perlu ada perubahan dalam mindset.

Sebelum sebuah masyarakat maju dan modern secara fisik, terlebih dahulu mereka harus maju dan modern sejak dalam pikiran, sejak dalam jiwa. Dan nutrisi atau makanan apa yang paling tepat bagi jiwa yang sakit dan rusak selain ilmu pengetahuan? Tiada lain tiada bukan sumber ilmu adalah buku. Kegiatannya kita sebut membaca dan kemampuannya kita sebut literasi. Inilah inti dari life long learning, proses belajar seumur hidup.

Perpusda Bali punya segala kekuatan untuk mengubah wajah masyarakat sekitarnya untuk menjadi lebih maju dan modern, tapi sayangnya mereka tidak menyadari kekuatan itu. Ketika untuk membeli bahan kebutuhan saja daya beli masyarakat masih rendah, jangan harap mereka akan berpaling untuk membeli buku. Maka tersedianya buku yang bisa dipinjam secara gratis adalah solusi yang tepat akan akses masyarakat terhadap buku.

Dan satu lagi, salah satu masukan berharga dari seorang teman yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat (dengan pengelolaan perpusda yang jauh lebih baik daripada yang kita punya di Bali ini), salah satu tujuan adanya perpustakaan daerah adalah agar masyarakatnya bisa terus mengembangkan diri dari segi pengetahuan dan ketrampilan yang pada akhirnya memungkinkan dia berkontribusi lebih banyak untuk daerahnya.

Jika kita sering mengeluh sumber daya manusia kita yang tidak memiliki daya saing, mengapa kita begitu lalai dengan fasilitas yang seharusnya tersedia untuk masyarakat kita supaya mereka mengembangkan diri? Dan tentu perpustakaan tidak hanya melulu soal buku, ada banyak kegiatan lain yang bisa diinisiasi dari institusi ini, hanya saja jika dikelola dengan kecintaan tinggi (passion) dan profesionalisme. Itu harapan saya!

Cerita dari teman-teman

Bagian pertama: cerita teman-teman tentang Perpusda Bali

Rika, warga Denpasar:

Pertama kali ke Perpusda pas SD, sama Papa. Sekitar kelas 3 – 4 SD, sekitar tahun 1993 – 1994. Ke sana pinjam buku. Waktu itu kesannya tempatnya bagus, bukunya banyak. Mungkin karena masih kecil ya. Waktu SMA pernah ke sana lagi, untuk baca komik. Dan waktu kuliah (tahun 2007) ke sana lagi untuk cari bahan skripsi. Seingatku dari dulu tidak terkomputerisasi, banyak debu, peletakan buku tidak bagus, padahal banyak buku yang berkualitas, tidak dijual umum, langka. Dan seingatku pegawainya tua-tua. Dari SMA sampai kuliah rasanya tidak banyak berubah.

Perpusda Bali 9

Agaknya dari dulu hingga sekarang rak dan buku ini tidak berubah.

Muthiah, warga Denpasar:

Saya pernah punya pengalaman buruk di sana waktu mencari tanda tangan untuk sidang skripsi (awal 2016). Cuma satu tanda tangan dan sebuah surat, tapi mereka bersikukuh tidak mau memberikan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Lalu saya bilang kalau saya perlu untuk keesokan harinya, dengan nada tinggi. Salah satu pegawai tiba-tiba berubah jadi baik dan pergi ke atasannya untuk mem-print surat dan menandatanganinya. Beberapa teman yang berusaha sopan setelah ditolak oleh mereka, perlu seminggu untuk mendapatkannya. Saya menikmati pergi ke ke sana waktu kecil, tapi sekarang sepertinya saya tidak akan pernah mau kembali lagi.

Elida, pernah kuliah di Denpasar:

Aku lumayan sering ke sana tahun 2014 – 2015. Kesannya ya kesal. Karena perpusnya cukup berisik, terutama ibu-ibu yang jaga. Dia suka mengingatkan pengunjung mengenai jam tutup. Aku ya sudah tahu tutupnya jam berapa, jadi kesannya seperti mengusir. Wifi ada tapi tidak bisa diakses. Pelayanannya jadul, self-service. Kadang petugas tidak tahu rak buku yang dicari di mana. Pegawai jutek, seolah-olah kita yang merepotkan mereka. Koleksi buku tidak kunjung bertambah. Ada buku baru tapi dipajang di etalase depan dan digembok. Cara pinjamnya manual, tulis tangan.

Bagian ke dua: cerita teman-teman tentang perpustakaan di daerahnya

Menariknya, ada beberapa tanggapan menarik dari teman-teman di Facebook yang menceritakan tentang perpustakaan di daerah mereka masing-masing. Berikut saya ambilkan contoh satu dari dalam negeri, satu di luar negeri (Belanda).

Elisabeth, warga Pontianak, Kalimantan Barat: 

IF

Salah satu sudut Perpusda Kalimantan Barat

Sayang ya layanan perpusnya seperti itu. Kalau di Pontianak, layanannya membaik setelah kepala perpustakaannya diganti dengan orang baru yang sebenarnya bukan ahli perpustakaan, tapi beliau mau berusaha membuat lingkungan kerjanya jauh lebih baik. Jadi, mau tidak mau semua bawahan harus ikut visi beliau, sehingga perpustakaan di sini lebih menyenangkan. Koleksi buku baru diperbanyak, semua ruang baca full AC, disediakan ruang komputer, dan ruang serbaguna untuk umum, free wifi, bisa meminjam buku sampai jam 10 malam, dan ada fasilitas ruang belajar untuk umum dari pagi sampai malam, karena di sini jarang ada fasilitas umum yg buka 24 jam. Dan perpustakaannya sampai malam pun tetap ramai.

Banyak mahasiswa yang belajar di sana. Jadi, pemimpin itu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan instansi yang dibawahinya. Jujur saya terkejut baca cerita Ms Neno bahwa perpustakaan di sana (Bali) begitu parah. Padahal, dalam studi pengembangan kawasan di Indonesia, Bali itu termasuk kawasan internasional loh. Seharusnya punya standar kualitas dan layanan yang lebih bagus untuk pendidikan supaya masyarakatnya bisa ikut berkarya dalam standar internasional. Kalbar ini termasuk dalam golongan kawasan terbelakang secara pendidikan loh, tapi terus berusaha supaya masyarakatnya makin pintar.

Di sini perpustakaannya berusaha menjangkau masyarakat ke tempat-tempat nongkrong. Perpustakaan menitipkan koleksi buku dalam sebuah lemari ke warung-warung kopi/ cafe supaya bisa dibaca semua orang. Judul-judul bukunya menarik dan baru. Jadi, sambil nongkrong orang bisa baca gratis. Mereka juga menyediakan perpustakaan keliling yang mampir ke sekolah-sekolah, penjara, dan berbagai tempat umum. Jadi pakai sistem “jemput bola” supaya makin banyak yang rajin membaca. Dan juga menyumbangkan/ mengatur koordinasi sumbangan paket-paket buku ke daerah-daerah pedalaman, juga dibantu LSM. 

Tambahan dari saya, website resmi Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi (BPKD) Provinsi Kalimantan Barat secara rutin diperbarui hingga sekarang. Sumber foto di atas: Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat, Kunci Peningkatan IPM Masyarakat.

Ruri, warga Gouda, Belanda:

blogger-image-1349804047

Salah satu sudut Perpustakan Kota Rotterdam

Selain perpustakaan, di dalam gedung juga ada kafe di lantai 2. Total ada 6 lantai. Walaupun jam buka untuk akhir pekan bervariasi, tapi tiap hari buka. Di lobby ada concierge (penjaga pintu) yang setia menjawab pertanyaan pengunjung dengan ramah. Juga dipasang poster menampilkan program perpus selama bulan berjalan. Contoh kegiatannya: pembacaan buku (anak dan dewasa) oleh penulisnya sendiri, sale buku-buku perpustakaan yang sudah tidak terpakai, dan pemutaran film di ruang digital.

Centerpiece (hiasan di tengah ruangan) dipasang di tengah lobby sesuai tema buku yang akan dibacakan oleh penulisnya bulan ini. Juga touchscreen dan display tentang tokoh yang sedang diangkat untuk bulan ini. Tokoh bulan ini adalah Erasmus. Di meja-meja tempat meminjam buku tidak ada petugasnya. Kalau sudah selesai memilih buku-buku mana yang mau dipinjam, tinggal taruh di atas meja ini dan scan barcode-nya satu-satu. Ada juga ruang digital untuk CD, DVD, dan LP.

Keranjang belanja juga disediakan, kalau-kalau mau pinjam buku banyak. Setahu saya seperti di Gouda, jumlah buku yang boleh dipinjam tidak dibatasi. Di bagian anak-anak ada tribun untuk acara seperti pembacaan buku atau mendongeng atau drama kecil-kecilan. Di tiap lantai ada petugas yang rajin mengembalikan buku sesuai kategorinya. Di lantai dasar, ada permainan catur raksasa untuk warga senior.

Jika ingin membaca lebih lanjut tentang perpustakaan ini, silakan mengunjungi blog Ruri di Rotterdam Library atau Perpustakaan Kota Rotterdam. Saya belum pernah berkunjung ke sini, tapi kesan saya pribadi: inilah contoh perpustakaan yang dikelola oleh orang-orang yang punya kecintaan tinggi pada kegiatan literasi.

Rekomendasi untuk Perpusda Bali

Nah, setelah menceritakan tentang keadaan Perpusda Bali dan perbandingan dengan perpustakaan di daerah lain, saya bisa menyimpulkan rekomendasi di bawah ini (selain dari saya sendiri, ini juga termasuk masukan dari teman-teman):

  1. Jam buka diperpanjang, setidaknya sampai jam 10 malam, dan buka di hari libur. Karena kalau untuk umum, rata-rata orang sekolah, kuliah, kerja pagi dan siang.
  2. Perpustakaan dilayani oleh pegawai yang profesional. Memalukan sekali rasanya Bali sebagai pusat kegiatan pariwisata memiliki tempat umum dengan hospitality (keramah-tamahan) yang sangat rendah. Pegawai juga harus sering dilatih.
  3. Gedung diperbarui dengan disain interior modern. Kalaupun ingin mempertahankan ciri khas arsitektur Bali, sebaiknya dikombinasikan dengan sentuhan modern.
  4. Digitalisasi pelayanan, seperti penggunaan bar code untuk buku-buku, sistem pendaftaran online, serta akses online terhadap buku-buku digital.
  5. Ada ruangan main anak dengan buku-buku. Jadi anak-anak bisa belajar membaca dan mencintai buku sejak dini. Dilengkapi juga dengan toilet yang memadai.
  6. Yakin masih mau mempertahankan sistem penitipan tas? Bagaimana kalau memasang CCTV? Kalaupun keukeuh, cukup taruh loker di depan Ruang Baca.
  7. Bekerjasama dengan berbagai pihak, terutama swasta, untuk menyelenggarakan acara-acara yang berhubungan dengan dunia literasi.
  8. Semua poin di atas mungkin terjadi kalau… Ada reformasi birokrasi.

Jika teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman tentang Perpusda Bali atau cerita tentang perpustakaan di daerah Anda, silakan tinggalkan komentar atau hubungi saya. Tak lupa, jika teman-teman memiliki ide supaya tulisan ini bisa sampai di tangan pihak yang paling mungkin bisa melakukan perubahan di Perpusda Bali (siapapun itu, pemimpin perpus, anggota eksekutif atau legislatif provinsi, dsb), silakan kirimkan info.

Last but not least, jika menurut teman-teman sekalian tulisan ini menarik atau bermanfaat, tidak perlu sungkan untuk menyebarkannya seluas-luasnya. Agar makin banyak orang yang sadar bahwa perlu kerja keras dan kerjasama seluas-luasnya untuk memerangi musuh terbesar umat manusia: kebodohan. Sekian dan terima kasih.

Update: berikut saya sertakan tautan beberapa tulisan blogger mengenai Perpusda Bali.

Berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bali (2009)

Koleksi Buku Pertanian Sedikit (2011)

Melali sambil Melajar di Perpustakaan (2014)

Website bermanfaat untuk belajar bahasa Inggris

Mengingat banyak pembelajar bahasa Inggris yang berkunjung ke blog ini, saya berpikir akan sangat berguna jika daftar website yang bermanfaat di bawah ini bisa dibagi juga di sini. Beberapa website yang disebut merupakan saduran dari blogpost @EnglishTips4U#EngTalk #EngTips: list of useful English learning websites.

General English

  1. http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish
  2. http://www.ego4u.com/
  3. http://www.englishclub.com/learn-english.htm
  4. http://www.englishpage.com/
  5. http://englishtips4u.com/
  6. http://learnenglish.britishcouncil.org/en/
  7. http://www.learnenglish.de/
  8. http://learningenglish.voanews.com/
  9. http://www.myenglishpages.com/
  10. http://www.onestopenglish.com/
  11. http://www.phrasemix.com/
  12. http://www.reallifebh.com
  13. http://www.rong-chang.com/
  14. http://www.usingenglish.com/

Grammar

  1. http://www.azargrammar.com/
  2. http://www.englishgrammarsecrets.com/
  3. http://www.grammarbook.com/
  4. http://www.grammarinenglish.com/
  5. http://grammar.net
  6. http://www.grammaropolis.com/
  7. http://grammar.quickanddirtytips.com/
  8. http://www.roadtogrammar.com/

Idiom

  1. http://www.idiomsite.com/
  2. http://idioms.thefreedictionary.com/
  3. http://oels.byu.edu/student/idioms/idiomsmain.html
  4. http://www.phrasefinder.co.uk/

Kamus bahasa Inggris

  1. http://dictionary.cambridge.org/
  2. http://dictionary.reference.com/
  3. http://www.ldoceonline.com/
  4. http://www.macmillandictionary.com/
  5. http://www.merriam-webster.com/
  6. http://oxforddictionaries.com/us
  7. thefreedictionary.com/
  8. http://urbandictionary.com

Listening

  1. http://www.esl-lab.com/
  2. http://www.talkenglish.com/Listening/listen.aspx

Soal-soal latihan

  1. http://a4esl.org/q/h/grammar.html
  2. http://www.englishbanana.com/
  3. http://www.englishexercises.net/
  4. http://www.englishexercises.org/
  5. http://www.english-test.net/
  6. http://www.examenglish.com/

Social media belajar bahasa Inggris

  1. http://Livemocha.com
  2. http://www.mylanguageexchange.com/
  3. http://www.paltalk.com/

Video

  1. anglo-link.com
  2. http://www.engvid.com/
  3. http://www.youtube.com/user/bookboxinc
  4. http://www.youtube.com/user/ENGLISHCLASS101

Vocabulary

  1. https://www.vocabulary.com/

Writing

  1. https://owl.english.purdue.edu/owl/

Daftar ini akan terus disunting dan ditambah. Punya daftar yang lain? Silakan bagi di kolom komentar ya. Jangan lupa juga, like dan share. 🙂

Dear students, this is what your homework really means to you

I was so embarrassed… To have given a speech in front of my class. But it was a speech I had to give.

Last week, a student from my business English class complained about me giving too much homework. I have to say this is a typical issue in adult classes. I understand they have lots on their plates: work, family, spouse (husband/ wife), kids, other stuff in other places, etc. In the past, what I usually did was let them get away with it. I would usually just give in to the idea that they should not be given any homework. But not today. Not again. So, what was the homework actually about?

I asked them to do pair work to present a topic on English tenses. Each group was assigned to prepare and present one tense based on the number they got. I mentioned about this assignment on this blog a little bit here. The presentation did not have to be perfect (probably only according to my point of view). I let them find their own materials and make the presentation outside class, and they did not have to prepare any handout. The supervision was done at the presentation.

When you teach at school, it’s easier to give your students homework. However, when you teach a group of adults, they will have all the reasons not to do it. Usually the higher their position is in the company, the more reasons they have to avoid doing it. To some extent, some adult students also think (probably because they are used to other people do the work for them?), that the success of their learning relies solely on what their teacher can make of them.

For all we know, as an English teacher, this kind of mindset is a bit… misleading. I believe, just like the Chinese proverb, teachers open door but students must enter by themselves. They have to be actively involved in and responsible for their own learning. And so with a smile and a bit of wrinkles on my forehead, I replied:

“English is not a content subject where you can read a book one night and suddenly speak English the next day. One needs to constantly keep in contact with the language. We only have two times 90 minutes a week. Do you really think that your English will improve in just 3 hours a week? I personally think as an English teacher, no, it won’t. That’s why I’m giving you homework. The homework functions as a bridge. The bridge to connect the time you learn in class and outside class. So you will not forget that you are learning English when you’re not here.

This is not the first time I teach adult class, and I’ve seen many classes I taught did not give significant change in my students’ English. And I don’t want that to happen. Again. Especially to this class. I learned my lesson. Do you want this class to be effective? Do you want your learning to be successful? Well, I’m sorry that I have to break the truth: there’s no shortcut to success. You have to do the hard work. If you have a particular goal, I’m pretty certain you will somehow do anything possible to reach that goal. And I hope that’s what you do in this English class.

And so about the homework? That’s all for you, not for me.”

Do you think I am doing the right thing? Do you think that some tough love is necessary in teaching? Let me hear your thoughts. 🙂

Belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter

Jika saat ini Anda sedang dalam proses belajar bahasa Inggris, maka Anda harus mencari segala kemungkinan cara belajar bahasa Inggris yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dan jika Anda memiliki dana yang terbatas, belajar bahasa Inggris melalui internet bisa menjadi solusi yang jitu. Saat ini ada banyak website dan akun social media yang menyediakan pelayanan ini.

Misalnya, laman Facebook Active English, penyedia pelatihan dan les privat bahasa Inggris yang saya jalankan sejak 2010 lalu, yang tiap hari menyediakan tips seputar grammar, vocabulary (perbendaharaan kata), business English, dan idiom melalui gambar dan tautan artikel yang bermanfaat. Atau akun Twitter @ActiveEnglish_ dan @EnglishTips4U yang juga selalu memberikan tips bermanfaat.

Tapi ada kalanya Anda terlalu sibuk dan hanya memiliki sedikit waktu untuk membuka akun social media Anda, terutama jika Anda seorang profesional dengan jadwal yang ketat dan daftar pekerjaan yang panjang. Anda tidak perlu khawatir, karena saya melalui Active English baru-baru ini menerbitkan sebuah e-newsletter gratis yang bisa Anda dapatkan langsung di email Anda: Active English: Learners’ Guide.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter

Active English: Learners’ Guide, Volume 2, July 2013

Apa itu Active English: Learners’ Guide?

Semua konten yang ada di e-newsletter didisain sedemikian rupa agar bermanfaat bagi pembacanya. E-newsletter ini terdiri dari tips, cerita, inspirasi, tautan bermanfaat, serta tentu penawaran menarik tentang bagaimana kami bisa membantu proses belajar bahasa Inggris Anda. Menariknya, bagi Anda yang tiap hari berurusan dengan email, dengan berlangganan e-newsletter ini Anda tidak perlu lagi membuka browser atau laman lain. E-newsletter akan langsung hadir di inbox email Anda.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter b

Active English: Learners’ Guide, Volume 2, July 2013

4 cara memaksimalkan Active English: Learners’ Guide

Setelah berlangganan dan menerima e-newsletter, jangan hanya berhenti di situ. Lakukan hal-hal di bawah ini agar e-newsletter Anda memberikan lebih banyak lagi manfaat bagi Anda:

  1. Baca lebih banyak tulisan dan artikel di tautan-tautan yang diberikan.
  2. Like laman Facebook Active English dan ikuti Twitter @ActiveEnglish_ untuk mulai memanfaatkan social media sebagai tempat berkonsultasi online dengan guru bahasa Inggris dan admin kami.
  3. Manfaatkan penawaran-penawaran yang kami berikan.
  4. Hubungi kami melalui telpon, email, Facebook, Twitter, maupun WhatsApp untuk berkonsultasi lebih lanjut tentang bagaimana kami dapat membantu Anda atau perusahaan Anda dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Bagaimana saya bisa berlangganan?

Jika Anda tidak ingin ketinggalan edisi terbaru Active English: Learners’ Guide tiap bulannya, ada baiknya Anda berlangganan mulai sekarang. Caranya sangat mudah. Klik laman Berlangganan ini dan isi formulir berlangganan dengan informasi yang diminta, seperti yang terlihat di bawah ini.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter c

Formulir berlangganan Active English: Learners’ Guide

Belum berlangganan dan telah melewatkan edisi-edisi sebelumnya? Jangan khawatir, Anda dapat membaca dua edisi sebelumnya (Juni dan Juli 2013) di tautan-tautan di bawah ini.

Active English: Learners’ Guide Volume 1 June 2013

Active English: Learners’ Guide Volume 2 July 2013

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa: ambil kendali terhadap proses belajar Anda (take control of your own learning) dan berlangganan e-newsletter mulai sekarang. 🙂

“Bu, Anda lebih pintar dari bos Anda. Karena Anda menguasai 3 bahasa dan dia tidak.”

Refleksi kali ini…

Jumat pagi. Murid saya yang satu ini memang super sibuk. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa meluangkan waktu untuk bertemu lagi dan belajar bersama. Ini adalah pertemuan kami yang ke dua. Ia adalah seorang manajer di salah satu perusahaan retail yang cukup besar di Badung, Bali. Dengan bahasa Inggris yang lancar, walaupun dengan aksen Bali yang kental (tentu karena dia orang Bali), ia menceritakan salah satu alasan utama mengapa ia mengambil les privat yang kami lakukan. Tentu setelah saya bertanya (dalam bahasa Inggris), “Ibu bahasa Inggrisnya lancar sekali. Kenapa ibu merasa perlu kursus?”

Alkisah saat ini ia dipimpin oleh seorang bos baru. Seorang perfeksionis berkebangsaan Inggris. Selain perfeksionis, ia dikenal kerap kali mengoreksi bahasa Inggris karyawan atau bawahannya di depan karyawan lain. Hal ini yang membuat banyak karyawan takut berbicara di depannya. Bukan karena mereka tidak bisa. Tapi karena mereka takut salah dan takut dipermalukan di depan umum. Ini lah alasan mengapa ia (yang sebenarnya sudah memiliki ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris yang cukup baik) tiba-tiba kehilangan kepercayaan diri. Belum lagi ditambah ia baru saja kehilangan anak-anak kesayangannya karena sakit.

Dengan kritis saya langsung berpikir, “Saya yakin pasti bos murid saya ini frustasi kalau memang benar bawahannya tidak memiliki ketrampilan bahasa Inggris yang cukup untuk memungkinkan komunikasi terjadi dengan lancar. Tapi sebagai seorang penutur asli, apa iya ia sekejam itu dan tidak memaklumi kalau bahasa Inggris bukan bahasa utama (bahkan ke dua) kita?” Pada kenyataannya memang banyak orang (atau turis di Bali) yang memaklumi keadaan ini. Dengan lemah lesu dan tidak bertenaga murid saya menyelesaikan ceritanya. Otak saya langsung berkata, “Saya tidak bisa membiarkan dia pulang dari sini merasa rendah diri.”

Lalu saya pun berkata pada ibu ini (tentu – lagi – dalam bahasa Inggris):

“Bu, Anda lebih pintar daripada bos Anda. Kenapa? Coba bayangkan. Ibu menguasai setidaknya 3 bahasa, bahkan termasuk bahasa yang sama sekali bukan milik (kebudayaan dan asal muasal) ibu, bahasa Inggris. Ibu bisa bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ibu sudah mengalami banyak proses (pemerolehan bahasa) yang tidak dialami bos ibu. Sejak ibu kecil hingga sekarang (ibu ini sudah separuh baya). Coba bayangkan lagi. Bos ibu mungkin lahir dan besar di Inggris. Menikah, tinggal, dan berinteraksi dengan sesama penutur asli bahasa Inggris. Sementara ibu? Ibu belajar, berusaha sampai akhirnya bisa 3 bahasa. Sementara dia tidak. Lihatlah prestasi yang telah ibu capai. Lain kali jika ia mengoreksi ibu, katakan terima kasih padanya. Tapi ingat, proses yang telah ibu lalui membuat ibu jauh lebih unggul daripada dia. Katakan dalam hati, ‘I’m much better than you.’ Dengan begitu ibu akan selalu merasa tenang.”

Saya mengakhiri kalimat terakhir dan murid saya terlihat sedikit berkaca-kaca sambil mengangguk-angguk pasti. “Iya, ya… You are right,” ujarnya. Ada secercah harapan dalam pandangan matanya yang tadinya sempat layu. Di akhir pertemuan kami ia pun melangkah pulang dengan lebih semangat.

Sering kali kita menganggap remeh kekuatan yang kita miliki sendiri. Saya tidak tahu apakah ini hasil penjajahan selama lebih dari 300 tahun atau lebih hingga saat ini, tapi kita seharusnya tidak menempatkan diri sebagai warga dunia kelas 2, 3, dan seterusnya. Apalagi ketika berhubungan dengan penguasaan bahasa. Bayangkan orang-orang asing datang ke Indonesia melihat orang Indonesia berbahasa Inggris. Tidakkah itu sesuatu yang menakjubkan? Sementara kita ke negara mereka, tidak ada sedikit pun yang berbahasa Indonesia (kalaupun ada jumlahnya tidak sebanyak penutur bahasa Inggris di Indonesia).

Jadi, tolong, kalau sekarang Anda sedang belajar bahasa Inggris, jangan dulu merasa down atau rendah diri. Hargai dan rayakanlah usaha dan kerja keras Anda. Tidak banyak dari penutur asli bahasa Inggris yang tertarik belajar atau menguasai bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Percayalah, bahkan yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris (di Indonesia khususnya). Atau bahkan yang telah lama tinggal di Indonesia pun masih banyak yang ogah-ogahan untuk bisa menguasai bahasa tempat ia berpijak. Jadi jika Anda tertarik mempelajari bahasa yang bukan bahasa ‘asli’ Anda, bukankah ini hal yang menakjubkan? 🙂

Suka dengan tulisan ini? Silakan bagi ke teman dan kolega Anda melalui tombol social media di bawah ini. Terima kasih.

@EnglishTips4U: who we are

@EnglishTips4U’s logo

Tahu @EnglishTips4U? Atau jangan-jangan sudah follow aka sudah jadi fella? Atau sering mampir ke website EnglishTips4U.com? Sebagai yang memulai @EnglishTips4U, di tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang apa itu @EnglishTips4U, bagaimana kami memulai, dan apa saja yang sudah kami lakukan selama ini. Sebagai pembuka, ada baiknya kamu membaca tulisan saya sebelumnya tentang @EnglishTips4U: @EnglishTips4U: the project.

Di tulisan itu (tertanggal 15 September 2011 – 8 bulan setelah ia dimulai pada Januari 2011), follower Twitter kami baru mencapai 5.000 lebih, dengan jumlah admin aktif 3 orang (saya, Patty, dan Chatrine – Chatrine saat ini sudah tidak aktif). Sampai tulisan ini dibuat, jumlah follower kami 49,121, dengan jumlah admin aktif 8 orang (7 orang admin harian dan 1 supporting admin). Dan seperti yang saya tulis, sudah tahu dong ya asal mula @EnglishTips4U? 😉

Menurut Cambridge Dictionaries Online (kamus online favorit!), definisi portal adalah:

“a page on the internet that allows people to get useful information, such as news and weather, and to find other websites”

Ketika akhirnya menggunakan tagline “Twitter-based English learning portal”, saya berpikir waktu itu koleksi materi kami di website sudah cukup banyak (ketika itu masih menggunakan Posterous), traffic ke website pun lumayan, dan rata-rata pengunjung datang untuk mencari dan membaca materi bahasa Inggris. Tiap hari admin yang bertugas pun secara rutin memberi tautan website dan tiap ada postingan baru selalu muncul di timeline Twitter dan Facebook (walaupun halaman Facebook tergolong baru).

Kenapa “Twitter-based”? Karena semua materi berawal dari Twitter, baru dipindahkan ke website. Dari awal sudah seperti itu alurnya. Sejak website pertama kami di WordPress dengan nama yang sama sekali berbeda: Rumah Belajar Bali, Posterous, sampai EnglishTips4U.com. Keuntungan menggunakan sistem ini, orang akan tetap bisa mengikuti pelajaran di Twitter dengan menyenangkan, tapi masih bisa membaca di website kalau kelewatan.

Sering ada mention yang masuk, “Adminnya siapa sih?” Well, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini ya: About us. Yang jelas saya sendiri berasal dan tinggal di Denpasar, Bali. Admin ke dua yang bergabung, Firdaus, di Malang, lalu Patty di Jakarta, Chatrine di Semarang (namun sekarang sudah hijrah ke Denpasar), Ika di Jakarta, Vitri di Denpasar (yang tidak sengaja saya ‘temukan’ di sini), dan tiga yang terakhir: Iis, Wai, Febby, semua di Jakarta.

Bagaimana kami bekerja? Dulu ketika semua admin masih menggunakan BlackBerry, sehari-hari kami berkomunikasi melalui BBM. Sekarang kami pindah ke WhatsApp (ya, ya… You certainly know why… 😛). Tiap hari sesi di’admini’ oleh admin yang berbeda. Admin bebas memilih topik asalkan belum pernah dibahas sebelumnya dan tiap hari menggunakan tagar yang diselang-seling (tidak boleh sama). Di bawah ini daftar tagar yang kami punya:

Sudah pernah mengikuti semua tagar? Yang mana favoritmu? Beberapa tagar populer antara lain #USSlang, #UKSlang, #AUSSlang (semua yang slang sepertinya populer ya?), #IOTW, #EngTalk, #FixIt, #EngQuiz, dan #EngGame. Sementara yang sudah jarang sekali digunakan: #EngSurvey dan #folktale. Selain fasih dengan penggunaan tagar, para admin tentu harus memiliki English proficiency yang baik dan kecintaan yang tinggi akan belajar bahasa Inggris (cieh…).

Sekarang setelah kami berdelapan, kami merasa para admin lebih seperti sebuah online community ketimbang kumpulan admin. Community kecil dengan format lebih besar terdiri dari semua para fellas (mungkin juga kamu yang membaca ini!). FYI, panggilan ‘fella’ (dengan bentuk jamak ‘fellas’) sendiri pertama kali diusulkan oleh Chatrine. Belum tahu apa arti fella? Coba dilirik dulu penjelasannya di Oxford Dictionaries Online: fella.

Well… Sepertinya sekian dulu ceritanya… Supaya lebih enak dilihat, mari saya sajikan timeline @EnglishTips4U (yang sesungguhnya) yang sudah ingin saya buat dari beberapa waktu yang lalu. Dari saat kami ‘lahir’ sampai sekarang. Check it out! And don’t forget to leave comments on what you think about us. Suggestions and inputs are highly appreciated. 🙂

@EnglishTips4U’s Timeline

  • 31 December 2010: blog post pertama lahir… Dengan bahasan yang cukup membahana: ‘gold digger’ and ‘bitch’ (what was I thinking?!).
  • 2 Januari 2011: @EnglishTips4U lahir. Twit pertama muncul… (tapi saya sendiri sudah lupa apa twit pertama kami… Well…)
  • 30 Januari 2011: Firdaus, admin ke dua, bergabung dengan kultwit tentang ‘phrase’.
  • 18 Juni 2011: blog post pertama di Posterous. Kita pindah ke rumah ke duaaa…
  • Agustus 2011: Patty dan Chatrine bergabung…
  • September 2011: Ika bergabung…
  • 26 November 2011: Saya mewakili @EnglishTips4U menjadi fasilitator di ‘@EnglishTips4U, Learn English the Social Media Way‘ Workshop di ajang Bali Creative Festival.
  • Maret 2012: Vitri bergabung…
  • May 2012: Neno, atas nama @EnglishTips4U, menyumbang dua artikel di majalah ‘Essay’ terbitan English Students’ Association (ESA) Universitas Udayana, Bali. Masing-masing tulisannya berjudul Commonly Used English Idioms dan Etymology and the History of English Words.
  • Juni 2012: Iis dan Wai bergabung… (keduanya berhasil ‘lolos’ dari seleksi #AdminHunt – ajang pencarian admin yang waktu itu kami adakan).
  • Juni 2012: dalam rangka ‘mencari’ logo baru, kami mengadakan #LogoCompetition (yang logonya masih dipakai sampai sekarang, didisain oleh Fatima. Profil Fatima bisa dibaca di laman About us ya…). Pengumuman pemenang diumumkan awal Juli 2012.
  • Juli 2012: Febby bergabung… Febby juga kami ‘temukan’ via #AdminHunt.
  • 23 Juli 2012e-learningenglish.net, website belajar bahasa Inggris online yang dikelola native English speakers yang juga ESL instructors yang berdomisili di Korea, memasukkan @EnglishTips4U di urutan ke-3 dalam daftar ‘Suggested Sites for ESL Learners‘.
  • 22 Oktober 2012: Vitri, salah satu admin kami, menjadi pembicara di ‘Having Fun with English‘ Seminar yang diselenggarakan oleh President University, Jababeka.
  • 31 Oktober 2012: Learn English Online, sebuah blog yang menyediakan berbagai tautan dan materi bahasa Inggris, menempatkan @EnglishTips4U di nomor 2 ‘Top Twitter Accounts to Follow to Help You Learn English‘.
  • Januari 2013: dalam rangka merayakan hari ulang tahun yang ke-2 (setelah sekarang panel of admins jadi lebih rameee…), kami mengadakan #PhotoContest dengan jumlah total peserta 45 orang dan 146 foto! Info acara bisa dilihat di #PhotoContest dan daftar pemenangnya di #PhotoContest Winners.
  • 7 Februari 2013i-studentglobal.com, portal yang didedikasikan untuk mahasiswa internasional yang berbasis di UK, memasukkan @EnglishTips4U di urutan ke-2 ‘5 Twitter accounts to help you learn English‘. The remarka brilliant free English learning portal.
  • 1 April 2013: Ruth Theodora, mahasiswi Teknik Informatika Universitas Gunadarma, dan timnya berhasil membuat aplikasi Android sederhana yang menggunakan materi bahasa Inggris dari website @EnglishTips4U sebagai tugas kuliah dan dilombakan di universitasnya.
  • 10 April 2013Joan Winona, mahasiswi Ilmu Komunikasi UI, membuat laman @EnglishTips4U di Wikipedia Indonesia sebagai tugas kuliahnya. Laman itu bisa diakses di English Tips For You (update: karena beberapa alasan, laman ini dihapus oleh salah satu admin Wikipedia Indonesia dan saat ini tidak tersedia).
  • 11 April 2013: Firdaus muncul di Radio Kencana, Malang, sebagai bintang tamu, ngobrol tentang @EnglishTips4U dan bahasa Inggris.
  • April 2013 – …it’s a tough work but we are trying to finish a book! Kapan terbitnya? Surprise, surprise… Tunggu saja tanggal mainnya ya! 😉
  • May – June 2013: di ajang kompetisi Top 100 Language Lovers 2013 yang diselenggarakan oleh sebuah portal bahasa di Jerman, @EnglishTips4U dinominasikan di 2 kategori: Top 100 Language Twitter Accounts 2013 dan Top 100 Language Professional Blogs 2013.
  • 12 June 2013: hasil kompetisi Top 100 Language Lovers 2013 diumumkan. @EnglishTips4U mendapat peringkat 9 The Best Language Twitter Account 2013 dan Top 100 Language Professional Blogs 2013, sementara secara umum berada di urutan ke 12 Top 100 Language Lovers 2013. Terima kasih untuk semua yang sudah memilih!