Menguasai atau dikuasai: menanggapi polemik “asli” vs. “pendatang” di Bali

Sekapur sirih: tiada guna berilmu jika tidak berbagi. Mungkin itu. Kalimat sederhana yang membuat saya beberapa hari ini berpikir untuk kembali menulis. Profesi utama saya, guru bahasa Inggris, mengharuskan saya berbagi ilmu kepada murid-murid dan kadang teman-teman saya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata saya mengembangkan begitu banyak ketertarikan di bidang lain. Maka proses pencarian saya terhadap ilmu pengetahuan pun terus berjalan. Dan saya seperti merasa memiliki kewajiban untuk menyumbangkan barang satu dua hasil olah pikir saya dari proses pencarian ilmu itu. Untuk mengawali janji saya pada diri sendiri untuk rutin menulis mulai sekarang, tulisan ini saya ambil dari postingan saya di Facebook tentang polemik “asli” vs. “pendatang” yang saat ini sedang santer di Bali, yang membuat saya “gatal” untuk tidak mengomentari. Silakan tinggalkan komentar, bagi, atau like jika menurut Anda tulisan ini menarik (atau tidak).

Kalau semua masalah dijawab dengan kalimat, “Saya asli sini,” saya pikir apapun masalahnya (sampah, pembakaran sampah, kependudukan, dsb) tidak akan ada solusinya. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang pernah mengalami hal ini. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kali dan jujur, kali ini saya sudah tidak mau ambil pusing. Banyak teman-teman saya orang Bali dan mereka tidak bodoh. Hidup saya dan mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal remeh temeh yang sumbernya adalah kebodohan (ignorance). Saya sudah bisa memaafkan dan memaklumi orang-orang ini, karena pada dasarnya yang suka ngomong begini ini bodoh atau tidak tahu apa-apa (ignorant). Meminjam kata-kata Yesus, “Father, forgive them, for they know not what they do.

Mempermasalahkan asli vs. tidak asli, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang “asli”; kita semua migran. Karena tidak ada satu pun manusia yang tumbuh dari tanah tempat dia berpijak, seperti layaknya biji yang berkembang jadi tanaman. Yang ada, nenek moyang kita bermigrasi beribu, beratus, atau berpuluh tahun yang lalu ke tempat di mana kita tinggal saat ini. Untuk konteks Bali, ada beberapa tahap migrasi masuknya manusia ke Bali (lihat gambar; diambil dari buku Bali’s First People, karya Richard Mann):

Four groups of settlers arrived in Bali

  1. Cave dwellers (penghuni gua): ini penduduk Bali paling tua, menetap di gua dan hutan, migrasi ke Bali ketika zaman es. Bali masih menjadi bagian dari Paparan Sunda dan menjadi satu dengan Kalimantan. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Waktunya tidak tanggung-tanggung, 17.000 sampai 20.000 tahun yang lalu! Jangankan buyut, buyutnya buyut kita pun belum lahir!
  2. Bali Mula: pendatang setelah penghuni gua. Bukti menunjukkan mereka telah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Tinggal di Zaman Batu atau Perunggu, telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan sudah bisa membuat tempat tinggal dalam bentuk gubuk sederhana.
  3. Bali Aga: konon berasal dari sebuah desa dengan nama Aga di Banyuwangi, Jawa Timur. Konon (lagi) datang setelah abad ke-8. Kenapa konon? Karena rupanya (menurut buku ini) kebenaran tentang Bali Aga masih menjadi perdebatan para ahli.
  4. Majapahit settlement (kolonisasi Majapahit): datang di abad ke-14 dan 15, terutama setelah penguasa terakhir Majapahit di Jawa Timur beralih ke Islam, sementara yang masih memeluk Hindu Majapahit (Siwa-Buddha) berbondong-bondong bermigrasi ke Bali.
  5. Saya tambahkan satu lagi: Bali modern, yang asalnya dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan orang-orang dari luar Indonesia.

Itu masih dalam konteks Bali (yang sempit sekali)… Bagaimana kalau ternyata di masa depan kita bisa berkomunikasi dengan penduduk dari planet bahkan galaksi lain, dan memungkinkan mereka berkunjung ke bumi atau sebaliknya? Seperti yang ada di film Star Wars atau Men in Black? Atau seperti di cerita Superman. Dia dari planet Krypton, bukan planet bumi. Bukannya membasmi kejahatan, kalau kita ungkit-ungkit masalah asli dan pendatang, bisa-bisa dia didemo disuruh kembali ke planetnya (sementara diceritakan bahwa planetnya hancur dan peradabannya musnah, bagaimana mungkin dia kembali ke sana?). Untuk konteks dunia yang fana ini pun, kita manusia cuma pendatang. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Dunia tidak selebar daun kelor.

Jadi sebenarnya dari mana asalnya kata-kata seperti, “Saya asli sini,” dsb? Apalagi setelah dirunut (berdasarkan penjabaran di atas), tidak sedikit pun ungkapan ini mendekati kebenaran. Usut punya usut ternyata karena memang ia tidak hadir dari kebenaran, melainkan dari keinginan untuk menguasai orang lain. Ibarat orang yang sedang dipenuhi rasa takut, ia harus serta merta memilih antara lari atau melawan (flight or fight). Mengeluarkan gertakan (bully) bisa menjadi pilihan untuk melawan, dan tujuannya sederhana: supaya membuat lawan tampak lebih lemah atau tidak berdaya dari dirinya.

Anda tahu kenapa ada orang yang suka menggertak (bully)? Karena ia merasa terancam, ia sadari atau tidak. Ingat, orang-orang yg hebat tidak perlu mempertontonkan bahwa dirinya hebat. Karena begitulah dia apa adanya, tanpa dibuat-buat. Orang yang tidak hebat, di lain sisi, justru harus mencari cara untuk mengkompensasi ketidakhebatannya. Ini bisa dimaklumi, karena seperti halnya hewan, manusia pun memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mempertontonkan diri seperti lebih kuat, hebat, besar daripada yang sesungguhnya. Lihat saja ular kobra yg memipihkan lehernya ketika terancam dengan tujuan menakut-nakuti penyerangnya.

Tapi sayangnya, pola pikir menguasai atau dikuasai, menggertak atau digertak ini sebaiknya sudah harus ditinggalkan. Di era keterbukaan serta informasi di mana orang bekerja dengan otak dan hati, nafsu untuk menguasai (dan memangsa!) berdasarkan ego dan rasa takut harus segera disingkirkan. Kenapa otak? Dalam bidang ekonomi pun ada istilah knowledge-based economy, di mana pembangunan ekonomi hari ini dan masa depan dilandaskan pada ilmu pengetahuan. Masyarakat yang bisa bertahan dan bersaing hari ini dan di masa depan adalah mereka yang mengusai ilmu. Maka kita harus pastikan bahwa titik berat adalah penguasaan ilmu, bukan kemampuan menggertak, mengintimidasi, lebih-lebih menggunakan kekuatan fisik belaka! Bukti sederhana, negara maju adalah di antara negara-negara di dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Yang ke dua, karena kita punya hati, karena kita manusia, bukan lebih rendah dari itu. Dan kita bukan hewan, jadi tidak perlu saling menguasai. Kembali ke poin nomor satu, karena kita dianugerahi kemampuan berpikir, maka berpikirlah, cari tahu, dan mengerti. Sekali lagi: bukan menguasai. Ada pepatah Latin yg berbunyi Homo homini lupus. Artinya a man is a wolf to another man (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Artinya lagi, manusia memiliki potensi untuk kejam, seperti predator yang saling memangsa sesamanya. Tapi dengan berat hati saya harus katakan: saya menolak disamakan dengan binatang. Kita manusia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kita semua setara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua warga negara punya hak dan kewajiban yg sama.

Tapi memang, seperti yang pernah saya tulis di salah satu status, tidak semua manusia mau atau bisa diperlakukan seperti manusia. Maksudnya, tidak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik, ada yang harus dipaksa, diintimidasi, digertak dulu baru berubah (biasanya tipikal yang kurang menggunakan otaknya – silakan kembali ke atas; atau yang kesehatan jiwanya terganggu – silakan baca-baca tentang ciri orang depresi). Nah, ini tugas kita (sebagai anggota masyarakat) dan pemimpin. Saya pikir makin pintar, maju, sadar sebuah masyarakat, tidak perlu lah saling gertak-menggertak. Jadilah manusia. Artinya, jika ingin hidup enak, maka enakkanlah dulu hidup orang lain. Jika ingin hak-haknya dihargai, hargailah dulu hak orang lain. Jika ingin rumahnya bersih, ya bersih-bersihlah. Jika ingin udara segar, ya jangan bakar-bakar sampahlah (untuk yang satu ini, Denpasar dan sekitarnya sudah ada di tahap gawat darurat, potensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara yang ditimbulkannya sudah cukup tinggi).

Kebodohan jangan dibalas dengan kebodohan, tapi dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu pelita, ibarat sinar yang menerangi jalan yang gelap, menuntun kita melangkah ke arah yang ingin kita tuju. Tanpa itu, sama dengan menerka-nerka dan meraba-raba dalam kegelapan. Orang bodoh tidak akan bisa menolong orang bodoh lainnya. Dan untuk saya pribadi, saya enggan hidup dalam kegelapan.

Saya dengan senang hati menerima tanggaan dan sanggahan. Tapi sekali lagi, dengan prinsip: menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Tidak menerima debat kusir, apalagi pengetahuan yang didasarkan pada klenik dan omong kosong.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

3 kunci membangun bisnis, menurut saya

Saya dan tim guru merayakan ulang tahun usaha yang ke empat Desember 2014 lalu

SAMSUNG CSC

Saya dan tim guru merayakan ulang tahun Active English yang ke empat Desember 2014 lalu

 

Sebagai seorang entrepreneur, tidak ada yang lebih baik dari melihat bisnis berkembang ke arah yang selama ini diinginkan. Merintis bisnis sejak 2010, saya merasa tengah berada di antara masa lalu yang berdarah-darah dan masa depan yang cemerlang. At some point, I feel like it finally pays off. Tapi tentu saja saya masih berada jauh dari apa yang diangan-angankan, dan seperti biasa, masih banyak yang harus dikerjakan dan diupayakan, tiap bulan, tiap minggu, tiap hari, tiap jam.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Bob Sadino yang meninggalkan kita 19 Januari 2015 lalu. Dengan gaya nyelenehnya, dia telah menginspirasi banyak orang, termasuk saya. Seperti halnya Om Bob yang punya gaya dan ciri khasnya sendiri dalam membangun usaha, saya pun memiliki gaya dan prinsip saya sendiri yang saya yakini dan ikuti. Di sini saya ingin membaginya. Jika kebetulan Anda setuju, maka mari kita ber-high five. Jika tidak, we can agree to disagree.

1.

"If you are your authentic self, you have no competition."

“If you are your authentic self, you have no competition.”

Ada berapa banyak orang yang membangun bisnis atas dasar meniru yang sudah ada lalu gagal seiring dengan waktu? Terlalu banyak. Bahkan ini sering terjadi di lingkungan orang-orang yang saya kenal. Satu hal dalam menentukan bisnis yang ingin Anda lakukan adalah: jika Anda memilih membuat bisnis yang sama seperti yang telah ada dan telah dilakukan banyak orang, maka semoga beruntung bersaing dalam kompetisi yang telah ada jauh sebelum Anda berpikir untuk memulai.

2.

"Don't bite off more than you can chew."

“Don’t bite off more than you can chew.”

Apa kata pepatah tentang orang-orang serakah? Dalam dongeng atau cerita rakyat biasanya mereka akan berakhir binasa atau malah sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dalam bisnis hal yang sama berlaku. Ketika kita mencoba untuk melakukan banyak hal (semua hal!), maka bersiaplah untuk mati sebelum berkembang. Fokus pada satu hal sampai hal itu “jadi” adalah yang terbaik. Bukan hanya saya, banyak entrepreneur lain yang juga mengamini hal ini.

3.

"All things are difficult before they are easy."

“All things are difficult before they are easy.”

Mungkinkah sebuah candi dibangun dalam satu malam? Hal semacam ini hanya mungkin terjadi dalam dongeng. Pada kenyataannya kesuksesan membutuhkan waktu. Jangan berharap usaha Anda akan berkembang dan maju hanya dalam kurun waktu satu atau dua tahun, apalagi cuma enam bulan! Jangan pula berharap Anda akan segera menikmati hasilnya dalam sekejap. Satu-satunya mata uang yang bisa membayar ini semua adalah konsistensi dan jerih payah Anda.

Kalau Jaya Setiabudi mengatakan, “Sebaikbaiknya usaha adalah yang dimulai bukan ditanyakan terus-menerus,” maka yang bisa saya katakan tentang tulisan ini adalah, “Sebaik-baiknya tulisan ini adalah paling baik untuk yang telah berwirausaha.This will all make sense after you do. Karena menurut saya, wirausaha adalah satu-satunya pekerjaan di dunia yang tidak meminta Anda untuk menunggu sampai Anda pintar untuk melakukannya. Bahkan untuk menjadi wirausaha kita tidak perlu gelar atau sekolah terlebih dahulu. Segala keahlian dan kecapakan hanya dapat diperoleh melalui satu hal:

Melakukannya!

Last but not least, ini dia kutipan dari Om Bob, yang membuat saya menyadari bahwa ternyata dulu saya memulai bisnis dengan modal 1 milyar rupiah! Selamat menikmati dan selamat berusaha! 😀

modal dengkul a'la Bob Sadino

NB: semua gambar saya peroleh dari Google. Tulisan saya yang lain tentang entrepreneurship: Pengakuan seorang entrepreneur pemula. Suka tulisan ini? Jangan lupa like dan share ya. Terima kasih! 🙂

Mesin waktu itu ada di buku-buku sejarah

Tahukah Anda…

  • Bahwa tidak seperti yang dipercaya selama ini sebagai orang “asli” Bali, orang-orang “Bali Aga” disebut demikian karena mereka berasal dari Desa Aga yang terletak di dekat Banyuwangi, Jawa Timur, yang mulai berdatangan ke Bali pada abad 8?
  • Bahwa pernah diceritakan seorang raja Bali memiliki 200 istri?
  • Bahwa di Bali pada jaman dahulu seseorang diperbolehkan dan tidak akan dihukum karena membunuh laki-laki yang menyentuh perempuan yang bukan orangtua, saudara, sepupu, atau suaminya?
  • Bahwa di masa dahulu pada saat-saat tertentu upacara Ngaben anggota keluarga kerajaan juga diikuti dengan tumbal wanita yang terjun ke dalam api yang terdiri dari wanita-wanita terdekat almarhum, seperti pada sebuah adegan di kisah cerita Ramayana?

Saya pun baru mengetahuinya belakangan ini. Terima kasih kepada 2 buah buku yang sedang saya baca, Bali’s First People The Untold Story (dalam bahasa Inggris) dan Bali Tempo Doeloe (terjemahan dalam bahasa Indonesia). Selalu seru kembali ke masa lalu. Ketika membacanya seolah-olah saya dibawa ke masa beratus-ratus tahun lamanya, bahkan beribu tahun untuk buku yang pertama, ketika membaca asal muasal Bali sebelum menjadi sebuah pulau. Tak perlu lah menunggu lama sampai mesin waktu diciptakan, karena saya telah menemukannya. Mesin waktu itu ada di buku-buku sejarah.

mesin waktu buku sejarah

Saya percaya ilmu pengetahuan bisa memberi manusia kekuatan. Saya juga percaya bahwa  pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang (terutama sekali anak-anak), entah itu tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan terutama sekali alam semesta, harus senantiasa dihidupkan, bukan justru dibungkam. Banyak pertanyaan-pertanyaan ini timbul justru akibat dari kegelisahan dan kerumitan hidup yang seolah-olah ingin ditemukan jawabannya. Ibarat Google yang diciptakan sebagai tempat mencari solusi dengan memasukkan kata-kata kunci, maka buku adalah tempat mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan manusia dalam hidupnya.

Saya banyak menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki selama ini tentang Bali di dua buku ini. Pertanyaan pertama adalah: dari mana orang-orang Bali berasal? Apakah betul orang-orang Bali yang saat ini tinggal di Bali berasal dari Majapahit? Sementara orang-orang yang lebih dulu (yang sering disebut “Bali asli”) adalah mereka yang disebut Bali Aga? Jawabannya, yang dimaksud “orang Bali” (sebelum adanya eksodus besar-besaran akibat industri pariwisata di abad 20) adalah dua yang telah disebut, sementara penduduk Bali yang menetap pertama-tama adalah orang-orang Austronesia (manusia pra sejarah) yang kemungkinan besar bermigrasi dari Yunan, Cina (atau Tiongkok), sekitar 17.000 – 20.000 tahun lalu. Pada awalnya kelompok-kelompok manusia ini bermukim di wilayah yang berbeda di Bali dan kini kemungkinan besar telah bercampur aduk sedemikian rupa.

Pertanyaan ke dua, sebagai generasi yang lahir di tahun 80’an, bisa dibilang saya menikmati hanya sedikit sekali dari apa itu Bali yang “sesungguhnya”; kekayaan alam serta budaya dan adat istiadat yang indah dan berlimpah. Memasuki abad 21, tahun 2000, pembangunan infrastruktur di Bali mengalami perkembangan yang begitu cepat (sampai-sampai kebablasan hingga harus menggerus apa yang menjadi ciri khas Bali, alam dan budayanya), sampai-sampai saya sering merasa rindu Bali yang dulu saya kenal ketika kecil dan bertanya-tanya sendiri, jika alam dan budaya bukan lagi menjadi ciri khas Bali, maka apa lagi yang perlu diagung-agungkan dari industri maha dahsyat yang mampu mengubah wajah Bali yang polos menjadi angkuh ini?

Agak menyejukkan kiranya mengetahui bahwa Bali tidak selamanya seperti yang kita kenal sekarang: penuh dengan problematika kota modern seperti kemacetan, sampah, dan kemiskinan. Lewat catatan-catatan perjalanan orang-orang luar (Eropa, Asia, Jawa) mulai abad 16 (tahun 1500’an) hingga 20 (tahun 1900’an), saya mengenal Bali yang dulu, di mana orang-orang datang karena ketertarikan mereka yang tulus akan indahnya alam dan harmonisnya kehidupan budaya (bukan investor yang hanya tertarik pada kepentingannya sendiri dan pundi-pundi uang). Di beberapa catatan bahkan disebut betapa Bali adalah sebuah pulau yang mampu menyokong kehidupan ekonominya sendiri (self-sustaining). Dengan membacanya saya menjadi mengerti apa yang menyebabkan Bali begitu dipuja dan didamba (pada awalnya).

Saya pun berandai-andai jika saja mesin waktu telah ditemukan, saya akan pergi ke masa di mana Bali masih seperti yang diceritakan dalam buku-buku ini. Pasti akan sangat berbeda dengan Bali yang sekarang. Dan saya jadi membayangkan… Jika saja para leluhur dan orang-orang Bali pada jaman itu melalui mesin waktu berkunjung ke Bali sekarang, bisa saja mereka sedih atau marah, karena tanah kelahirannya dirusak, bahkan banyak telah bukan menjadi hak milik orang Bali sendiri. Bali tidak lagi mampu menyokong dirinya sendiri dan menjadi sangat bergantung pada kekuatan luar (luar Bali maupun Indonesia). Bisa kah Anda membayangkan betapa hancurnya hati mereka? Jika kita bisa kembali ke masa lalu lewat buku, kiranya para leluhur tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi agaknya bagi kita belum terlambat.

Tidak butuh mesin waktu atau pun orasi penuh patriotisme (apalagi yang dibumbui chauvinisme) untuk menyadari kecintaan akan tempat tinggal kita – walaupun tak bisa dipungkiri kecintaan saya akan Bali muncul karena telah menetap di pulai ini selama bertahun-tahun. Beralih lah ke buku-buku sejarah. Tidak saja sejarah mengandung ilmu dan fakta (tentu yang telah diklarifikasi), tapi karena lewat sejarah kita bisa merefleksikan masa lalu dan menyongsong masa depan. Membaca sejarah juga berarti menjauhkan diri dari praduga, yang saat ini di sana-sini telah menjadi mesin ampuh pengadu domba. Lagipula, bukankah sangat disayangkan jika orang luar lebih memahami sejarah kita (penulis dan penyusun kedua buku adalah orang asing)? Maka segera ambil lah bukumu dan masuk lah ke dalam mesin waktu!

PS: petualangan saya dengan mesin waktu tidak akan berhenti sampai di sini. Nantikan petualangan saya berikutnya. 🙂

Melihat orang-orang baik di sekitar kita

How to spot a nice person: they know you; seeing you walking down the road from inside their fancy car, they offer you a lift. 

Learned my lesson. Being nice has nothing to do with clothes you wear, cars you drive, places you’ve been to. It requires almost nothing.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan aneh. Aneh karena tiba-tiba mengingat beberapa peristiwa menarik di masa lalu. Ketika saya SMP dan SMA, saya biasanya pulang dari sekolah ke rumah dengan menumpang angkutan umum (di sini kami menyebutnya “bemo”, walaupun rodanya tidak tiga). Paginya orangtua yang mengantarkan kami (anak-anak) ke sekolah. Entah kena nasib apa, SMP dan SMA saya keduanya sekolah unggulan pada saat itu, dan diisi banyak anak dari keluarga kaya dan terpandang. Waktu itu status orangtua saya masih sebagai entrepreneur yang belum “sukses”.  Maka tidak seperti murid-murid kebanyakan pada saat itu yang rata-rata diantar jemput (dan kebanyakan oleh sopir pula), sedikit dari murid-murid dari keluarga menengah ke bawah di mana saya termasuk di dalamnya, pulang naik angkot (saya sendiri harus beberapa kali dan diikuti dengan berjalan kaki). Harap diketahui, di Bali kami tidak memiliki kebiasaan menggunakan angkutan umum. Apalagi pada saat itu, angkutan umum masuk ke kategori kendaraan untuk orang-orang tidak mampu. Maka tak heran saya sering sekali kebarengan ibu-ibu yang berjualan di pasar.

Ada dua kejadian unik, aneh, ajaib, lucu (secara getir) yang saya ingat betul yang berhubungan dengan kebiasaan saya ngangkot jaman dulu ini. Dulu ketika ini terjadi, mungkin saya menganggapnya sepele. Katakanlah saya sekarang sedang sentimentil. Tapi pagi-pagi tadi ketika berangkat mengajar sembari mengingat kejadian ini, saya mbrebes mili sendiri di jalan. Sewaktu kelas 2 SMP, murid-murid kena giliran masuk sekolah siang hari. Tapi tiap kali pelajaran olahraga, biasanya kami pergi ke lapangan yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Lagi, karena tidak ada yang mengantarkan, saya biasanya berjalan kaki ke tempat cari angkot, lalu ngangkot. Satu waktu ternyata ada teman sekelas yang melihat saya berjalan. Beberapa waktu berlalu dan suatu saat dia bertanya pada saya, “Kamu ke sekolah jalan kaki? Aku lihat dari mobil dan papaku tanya.” Saya mengiyakan dan berlalu. Yang ke dua, ketika saya berjalan menuju tempat mencari angkot. Kebetulan yang satu ini angkot luar kota. Tiba-tiba seorang murid dari kelas sebelah tampak dari dalam mobil sedannya, tersenyum sambil melambaikan tangan. Walaupun sebenarnya tujuan kami searah, kendaraannya tetap melaju.

Lucu. Karena di tempat dan waktu lain ketika saya sama-sama masih SMP, malah terjadi peristiwa ini… Jika tidak berolahraga di lapangan, kami biasanya pergi berenang ke sebuah kolam renang. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Suatu hari, ketika teman-teman lain satu per satu dijemput oleh penjemput masing-masing, entah orangtua atau sopir, saya “terdampar” sendiri, belum memutuskan antara ngangkot atau berjalan kaki saja. Tiba-tiba seorang murid kelas sebelah menawarkan diri untuk ikut paman dia saja. Saya pun diajak mendekat ke yang dia bilang sebagai mobil pamannya. Ternyata… di luar sudah ada sebuah mobil ceketer (biasanya mobil bekas angkot, mobil carry jenis tua) menunggu kami. Bagian belakang mobil sudah tidak ada tempat duduknya, dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengangkut aneka jajanan ringan atau snack yang biasanya dijual di pasar dan warung-warung. Saya pun duduk di depan dengan teman saya itu, berdesakan di sebelah sopir. Yang membuat cerita ini menjadi lebih lucu dengan getirnya adalah siapa sebenarnya teman saya yang satu ini.

Yang pergi ke SMP yang sama dengan saya mungkin masih ingat dengan dia. Nama panggilannya diawali dengan K (saya lupa nama aslinya). Hingga saya SMA sampai kuliah masih banyak yang membicarakan dia. Katanya dia sudah masuk ke RSJ Bangli. RSJ? Rumah Sakit Jiwa? Iya, betul, mata Anda tidak salah. K dikenal aneh dan gila. Tiap hari sewaktu jam istirahat kerjanya berjalan-jalan dari kelas ke kelas, meracau, berkata-kata yang tidak masuk akal. Penampilannya pun tidak menarik, kumal, dan cenderung aneh. Walaupun demikian, adalah hobinya untuk mengaku dan mengatakan dirinya cantik. Maka tak heran dia hampir selalu jadi bahan cemohan dan bully murid-murid lain, terutama sekali anak-anak populer dan kaya. Saya tidak mengenalnya dengan dekat, tapi saya juga bukan di antara orang-orang yang membencinya. Akhirnya duduklah saya di dalam mobil ceketer itu. Tidak seperti mobil umumnya, kami berjalan cukup lamban, juga berputar-putar dan mampir ke pasar Badung. Dari situ saya bisa menyimpulkan pamannya berjualan di pasar itu. Saya sempat was-was tidak tahu dibawa ke mana, tapi pikiran saya salah. Akhirnya kami sampai juga.

Sesederhana kelihatannya ketiga peristiwa ini, ada satu hal yang bisa saya petik. Kebaikan seseorang seringkali tidak berhubungan dengan kemampuannya, apa yang dia miliki, pakaian yang ia kenakan, kendaraan yang ia kendarai, atau tempat-tempat yang sudah ia tuju. Seringkali orang-orang yang kelihatannya tidak mampu yang justru lebih bergegas dalam membantu sesamanya. Bisa jadi karena kegetiran sudah lama menjadi teman dekatnya. Maka melihatnya terjadi pada orang lain ia pun tak bisa tinggal diam. Ini lah inti dari empati; mampu ikut merasakan kesulitan orang lain, lalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Yang menjadi kekhawatiran saya adalah ketika anak-anak jaman sekarang (atau bahkan sejak jaman saya dulu, dibuktikan dengan peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan di atas), telah diputus tali empati dan rasa belas kasihnya kepada sesama manusia, apalagi karena dibutakan dengan nilai-nilai hidup yang menjunjung tinggi materi dan individualitas, bahwa yang terpenting adalah memperkaya dan mengamankan diri, keluarga, dan dinastinya sendiri. Generasi seperti ini kah yang akan menjadi ahli waris kita?

Dengan segala kekurangan yang ada dalam keluarga saya, setidaknya saya masih ingat dan akan selalu mengingat satu kejadian ini. Ketika saya melihat teman satu sekolah melambaikan tangan dari dalam mobil sedannya, satu waktu saya dan ibu dari dalam mobil carry kami melihat seorang teman sekolah saya dari kelas lain sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang lewat. Saya pernah bersama-sama naik angkot yang sama dengan dia dan tahu bahwa rumahnya lebih dekat dari rumah saya. Maka ketika ibu bertanya siapa anak itu (karena mengenakan pakaian seragam yang sama) dan mendapatkan jawabannya, ia lalu memberhentikan mobilnya dan mengundang anak laki-laki bertubuh tambun itu untuk naik. Dia tidak mengatakan apa-apa selain terima kasih. Sekarang di saat lebih mudah bagi orang-orang untuk membeli kendaraan dan ada kebudayaan baru untuk ngangkot, mungkin memberi tumpangan bukan lah hal istimewa. Tapi saya tahu, walaupun dulu hanya satu yang memberikan saya tumpangan, saya harus memulai dari diri sendiri; selagi bisa, memberi tumpangan pada siapa yang membutuhkan, secara harfiah maupun metafora.

Peringatan: tulisan ini 100% subyektif. Saya memberikan kebebasan penuh kepada pembaca untuk setuju atau pun tidak menyetujuinya.

Mengajar bahasa Inggris dan cerita-cerita lucu di sekitarnya

Cerita di bawah ini diambil dari pengalaman saya sebagai guru dan admin les privat. Semua berdasarkan kisah nyata dan diceritakan kembali di sini tidak dengan tujuan menjelek-jelekkan yang bersangkutan, tapi semata-mata untuk hiburan. Setelah kejadian rata-rata sang “pelaku” menyadari perilakunya dan kami pun tertawa atau tersenyum gembira. Semoga pembaca sekalian terhibur. 🙂

Satu…

Suatu hari seorang teman minta dicarikan seorang guru les privat bahasa Inggris untuk anak temannya. Seperti biasa, sebelum les privat dimulai, saya berkoordinasi dulu dengan guru yang bersangkutan dan mengabari klien (yang kebetulan dalam hal ini bapak siswa yang akan diajar) dengan informasi mengenai guru yang akan mengajar, seperti nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Setelah semua beres dengan sang guru, saya pun mengirimkan sms ke bapak ini:

“Pak, nanti yang mengajar A _ _ (nama anaknya, saya lupa) dengan Ms Eka ya, pak. No telp sekian sekian. Thank you.”

Selang beberapa detik setelah itu telepon saya malah berdering. Dari bapak ini. Pikir saya, “Ada apa ya? Ah, mungkin ada yang mau ditanyakan.” Saya pun mengangkat teleponnya. Dengan agak panik bapak itu langsung berkata, “Mbak, anak saya perempuan lo dan agak pemalu. Tolong dicarikan guru perempuan saja.”

Saya langsung mengernyitkan dahi. “Lo, maksud bapak ini gimana sih? Kan itu tadi perempuan,” kata saya dalam hati. “Maksudnya bagaimana ya, pak?” tanya saya polos. “Itu lo, mbak, kok gurunya Mas Eka… Anak saya kan pemalu kalau gurunya laki-laki.” PAUSE. Ya, berhenti dulu di situ. Dan saya pun kontan… Menahan tawa!

Dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan bapak ini, saya pun menjawab, “Ooh… Itu… “Ms” itu “miss”, pak, bukan “mas”. Jadi perempuan kok.” Ibarat sedang chatting atau sms, di akhir perkataan saya ini saya tambahkan sebuah smiley untuk menjaga harga diri si bapak. Nada si bapak pun tiba-tiba berubah, dari panik ke lega. “Ooh… Begitu… Baiklah kalau begitu.” Bisa saya bayangkan bapak ini mungkin sedang senyum-senyum sendiri di seberang sana.

Dua…

Baru-baru ini beberapa staff sebuah perusahaan sepakat untuk les bahasa Inggris bersama. Jadilah mereka berlima ada di kelas saya. Kami membicarakan banyak hal dari tips berbahasa Inggris dengan berani sampai grammar. Di pertemuan ke dua kami membahas Present Simple Tense. Setelah memberikan penjelasan, saya pun meminta mereka untuk mengerjakan soal-soal di handout yang saya berikan.

B (bukan nama sebenarnya, hehe…), yang biasanya memang sangat gemar berbicara, tiba-tiba meminta saya untuk mengoreksi jawaban yang tengah ia kerjakan. Saya pun mendekat dan melihat satu per satu. Karena pemahaman akan tenses belum jelas betul, ia menggunakan “can” dalam salah satu contoh kalimatnya. Setelah saya menjelaskan sedikit, ia memperbaiki jawabannya dan kali ini kalimatnya benar.

“Good! This one’s correct,” kata saya padanya. Dan sedetik setelah itu… Tanpa disangka, tanpa dinyana, ia pun berujar, “I am!” sambil menepukkan tangan ke dada dengan nada membanggakan diri, persis seperti ketika seseorang bilang, “Aaa… kuuu!” dalam bahasa Indonesia.

PAUSE. Semua mata kontan tertuju padanya dan gelak tawa langsung membahana ke seluruh ruangan. Entah sengaja atau tidak, tapi perilakunya ini cukup dikenang. Buktinya di pertemuan berikutnya tak hentinya kami menggodanya dengan berujar, “I am!” tiap kali ia berhasil mengerjakan sesuatu di kelas. Dan dia pun seolah-olah bangga telah berhasil membawa gelak tawa di dalam kelas. “I am!”

Tiga…

Kejadian yang satu ini terjadi baru-baru saja. Seorang siswa SMP (berumur 14 tahun) asal Hungaria tengah cuti dari sekolah di negara asalnya dan selama tiga bulan bersekolah di sebuah sekolah internasional di Bali sembari mengambil les privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Di pertemuan pertama kami, ia masih hanya ditemani oleh sepupu yang menjaganya. Sampai suatu hari di pertemuan ke dua, saya bertemu ayahnya yang baru tiba di Bali.

Sebelumnya, saya diperkenalkan dengan ibunya. Seperti anaknya yang fasih berbahasa Inggris, ibunya pun begitu. Saya tidak punya masalah berkomunikasi dengan mereka. Sebelum saya akhirnya bertemu ayahnya, murid saya ini “memperingatkan” saya kalau ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun manggut-manggut saja. Kami pun duduk. Beberapa menit kemudian ayahnya pun muncul. Dengan wajah sumringah tangan kanannya menjabat tangan saya sementara tangan kirinya berusaha merangkul pundak anaknya. Dengan lantang ia langsung berkata, “My parents!” [Orang tua saya!]

PAUSE. Kami bertiga (saya, murid saya, dan ibunya) langsung tertegun sejenak dan saling berpandangan. Murid saya dan ibunya kontan meledak dalam tawa. Anaknya yang memang usil sampai pertengahan sesi pun tidak berhenti tertawa mengingat ucapan ayahnya. Ibunya langsung mengoreksi sang ayah. Harusnya ia mengucapkan, “I am her father,” [Saya ayahnya.] atau, “She is my daughter.”  [Dia anak perempuan saya.] Wajah ayahnya pun bersemu malu, sementara murid saya masih terbahak-bahak, saya cuma bisa menghibur sang ayah dengan mengatakan, “That’s OK, it’s not a problem at all.” [Gpp kok.]

Nah, menurut Anda, cerita mana yang paling menghibur? Atau justru tidak ada? Atau punya cerita-cerita lucu yang serupa? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Atau suka? Jangan lupa like atau share. 🙂

Kita harus berpikir karena kita bukan domba

Kalau kamu bisa membaca tulisan ini, jelas itu berarti kamu bukan domba dong ya? Karena anak TK pun tahu, domba (sejauh ini) tidak bisa membaca. Sejak memutuskan untuk menjadi ‘orang bebas’ rasa-rasanya pikiran ini lebih sering tergelitik dari biasanya. Bukannya saya tidak terbiasa untuk berpikir. Duluuu… Waktu jaman kuliah, berpikir itu sudah jadi bagian sehari-hari. Selain karena dianjurkan dan diwajibkan (jika tidak, bagaimana caranya memahami materi cultural studies yang ribet itu dan lulus dengan selamat?), juga karena ada kebutuhan dan kesenangan ke arah itu. Dan kemarin saya tergelitik kembali setelah membaca tulisan tentang imperialisme di spunk.org, What causes imperialism? setelah sebelumnya pikiran melayang-layang mencari-cari jawaban kenapa kerajaan-kerajaan di Eropa dulu memulai kolonialisme ke Amerika, Asia, dan Afrika (yang belum paham silakan pegangan dulu).

Di tengah membaca artikel yang komprehensif itu saya merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan dan waktu untuk belajar, di tengah-tengah dikejar deadline ini itu dan jadwal mengajar yang kadang bikin susah bernapas. Saya lalu mengingat kembali masa-masa dulu saya ketika masih jadi… Um… Apa istilahnya? Corporate slave (secara harfiah artinya = budak perusahaan)? Jika saja saya memutuskan untuk tidak berhenti, bisa saja kesempatan ini tidak akan pernah datang kepada saya. Pikiran dan ilmu masa-masa kuliah yang masih cacat bisa disempurnakan karena pemahaman dunia yang lebih baik. Saya masih ingat dulu, ketika teman sekantor memergoki saya membaca buku, dengan anehnya dia bilang, “Kamu kok suka baca sih? Aku gak bisa kayak gitu.” Saya tidak bisa menyalahkan dia, karena membaca (yang di luar pekerjaan) bukanlah tuntutan bagi dia dan tidak secara signifikan menyumbangkan sumbangsih ke pundi-pundi rupiah yang sedang dia kumpulkan.

Di tengah-tengah itu semua akhirnya saya ngetwit:

  • Who says knowledge is useless? You will always need light when all you see is darkness. Unless you want to keep on walking… in the dark.
  • Memutuskan berhenti jadi buruh upah mungkin keputusan terbaik yang pernah aku buat, karena sekarang hidupku bukan cuma untuk kerja – tidur – makan – hangout.
  • Sudah sering bilang begini, tapi bukan berarti mengklaim jalan hidupku yang paling benar. Aku merasa kita kuliah memang bukan untuk jadi buruh upah.
  • Syukur-syukur pas kuliah diajari (dan diwajibkan) cara berpikir kritis. Pas jadi buruh upah seolah-olah ilmu & kecakapan ini terbuang sia-sia.
  • Bagaimana mau dipakai, sehari-hari (bahkan lebih dari 8 jam sehari plus kadang di akhir pekan) segala tenaga & pikiran dipakai demi mendedikasikan diri pada perusahaan.
  • Bahkan di hari libur pun segala waktu didedikasikan untuk perusahaan. Tak heran banyak murid yang juga bekerja mengeluh tak ada waktu untuk belajar!
  • Oh ya, yang dimaksud buruh upah = wage labor. Kamu menawarkan tenaga & sebagai gantinya perusahaan memberi kamu gaji (baca: pegawai).
  • Gpp jadi buruh upah, tapi luangkan waktu untuk belajar/ tahu bahwa ada dunia & pengetahuan yang lebih luas dari ‘kotak’ yang kamu sebut ‘bidang pekerjaan’mu.
  • Ada internet & banyak ilmu gratis. Berhubungan dengan orang yang dianggap lebih tahu juga tak sesulit jaman dulu. Intinya: luangkan waktu untuk belajar.

Intinya: saya berpikir lagi, jika kita berharap perubahan dimulai (hanya) oleh orang-orang kelas bawah karena mereka yang terlihat paling pantas untuk marah dan murka dengan ketidakadilan yang ada (karena jelas mereka yang paling tidak diuntungkan), kok kayaknya impossible! Dan itu juga bukannya malah membuat kita terlihat seperti kelas menengah yang bodoh, kejam dan tega melihat orang lain menderita, yang penting hidup kita enak dan rekening kita gendut? Kita-kita ini yang kelas menengah, justru karena kita mampu, harusnya lebih peduli. Bukannya karena kita hidup sudah enak, buat apa saya mengurusi hal-hal yang kritis apalagi berbau politis? Percayalah, segala ketidakadilan terjadi karena sumbangsih kita yang DIAM saat melihatnya! Jangan jadi bagian dari apa yang rakyat Twitter bilang sebagai “Kelas Menengah Ngehek“, kelas menengah yang merasa kesuksesan (juga yang menderita “sok sukses syndrome”) adalah hasil jerih payah mereka sendiri, maka mereka merasa tidak ada urusan dengan segala yang ada di sekitar.

Hidup ini hanya sekali. Buat bermakna. Sumbangsih apa yang mau kamu berikan pada dunia yang kacau balau ini? Dan tidak, sumbangsih ini bukan sekadar doa atau sumbangan ke orang yang kurang mampu. Lebih dari itu. Dunia membutuhkan perhatianmu, perhatian penuh. Segala hal yang kamu putuskan untuk pikirkan dan lakukan, akan memberi efek ke lingkungan dan orang-orang di sekitar kamu. Setidaknya jangan bikin dirimu sendiri, anak-anakmu, dan orang-orang lain di sekitarmu jadi bodoh atau makin bodoh. Dan semua ini diawali dengan berpikir, diamunisi dengan ilmu (makanya jangan malas baca!). Kita ini bukan robot, apalagi domba. Jadi jangan mau dijadikan robot, apalagi domba! Kita ini manusia, yang punya hati, punya rasa kasihan dan kasih sayang. Jadi, masih mau jadi manusia yang isinya cuma kerja, tidur, makan, hangout? Berpikirlah. Kita harus berpikir, karena kita bukan domba!

PS: tulisan ini tidak disponsori/ di-endorse oleh merek atau perusahaan manapun dan bukan merupakan program CSR perusahaan apapun, tapi murni dari dalam hati yang terdalam.

Origami, cara berpikir, dan kreativitas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Xmas tree origami, kerajinan tangan pertama yang saya buat setelah bertahun-tahun lamanya vakum

Di rumah ada banyak kertas kado menganggur sisa  waktu masih punya online shop. Karena merasa tidak ada gunanya, saya berpikir sebaiknya dibikin apa ya kertas-kertas kado ini. Beberapa waktu lalu saya mencoba menjualnya tapi belum ada yang serius membeli. Akhirnya minggu lalu saya iseng buka-buka YouTube mencari tutorial kerajinan tangan menggunakan kertas. Secara mengejutkan saya berhasil membuat sebuah origami (lihat foto). Rasanya senang sekali karena ini adalah kerajinan tangan pertama saya setelah… 10 tahun!

Hah? 10 tahun? Kok bisa? Saya sendiri suka heran, terutama ketika saya kuliah, kenapa saya selalu gagal melakukan hal-hal ini: bikin kerajinan tangan atau craft (dalam bentuk apapun), menggambar, melukis, bahkan menulis kreatif. Heran karena sejak SD hingga SMA justru semua kegiatan ini adalah bidang ahli saya. Saya suka sekali menulis puisi, menggambar, membuat kartu ucapan sendiri (terutama untuk hari perayaan dan ulang tahun teman), membuat kerajinan tangan seperti pigura, hiasan dinding, dsb, menghias celana jeans saya sendiri, membuat craft book, dsb. Sayang semuanya sekarang entah di mana.

Beberapa tahun lalu saya sempat membaca bahwa kreativitas pada anak umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Begitu juga dengan kejeniusan. Dikatakan lagi, tiap orang terlahir jenius. Hanya saja ketika mereka dewasa, secara perlahan mereka kehilangan kecakapan ini. Faktor utama penyebab hilangnya kreativitas dan kejeniusan pada anak justru adalah institusi sekolah. Kreativitas juga sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir divergen (divergent thinking skill). Karena penasaran, saya akhirnya meng-Google beberapa artikel menarik mengenai hal ini. Selain karena saya penasaran kenapa saya tidak semahir dulu dalam hal membuat kerajinan tangan.

Sebelum saya menjelaskan penyebab menurunnya kreativitas pada anak, ada baiknya kita lihat dulu dua cara berpikir di bawah ini. Cara berpikir yang mendukung kreativitas adalah yang di sebelah kanan.

Dua cara berpikir: convergent thinking dan divergent thinking (klik untuk ke sumber gambar)

Dengan melihat gambar di atas dan mengingat bagaimana saya menjalani kuliah dan berusaha memenuhi segala tuntutannya, saya serta merta menjadi sadar mengapa begitu sulit bagi saya untuk kembali membuat kerajinan sewaktu kuliah (hingga sekarang ketika saya menjadi guru bahasa Inggris). Dikombinasikan dengan dua artikel ini, Age and creativity dan Some Possible Reasons for the Drop In Divergent Thinking, inilah penyebab menurunnya kreativitas pada orang dewasa. Pendapat yang saya simpulkan sendiri diberi tanda *.

  1. First and foremost, setelah saya kuliah (agak sedikit menyesal sih hahaha…) cara berpikir saya sama sekali berubah dibandingkan dengan ketika saya SD atau sekolah menengah. Memang saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkuliahan, karena di satu sisi saya harus menjalaninya jika saya menginginkan gelarnya, dan di satu sisi waktu itu saya maupun orangtua tidak mengetahui sedikit pun tentang 2 cara berpikir ini dan implikasinya. Ketika kita kuliah (terutama jurusan yang sama ambil, Sastra Inggris), kita dituntut untuk berpikir secara analitis dan logis. Yang artinya kita dituntut untuk mencari kebenaran. Dan seringkali kebenaran ini cuma satu, entah menurut dosen atau teori tertentu (lihat kembali gambar di atas). Maka sekarang jika dipikir kembali, apa yang sering dikatakan Bob Sadino, “Jika ingin jadi pengusaha sukses, jangan sekolah.” itu benar karena alasan ini. Seorang entrepreneur memang dituntut untuk selalu mencari jalan keluar dan menemukan cara baru demi dapat bersaing di dunia usaha. Tak heran juga banyak orang yang hanya lulusan SD atau SMP yang sukses menjadi pengusaha. *
  2. Karena tuntutan untuk mencari satu kebenaran, kita jadi cenderung takut mengambil resiko atau takut salah. Karena kesalahan akibatnya bisa fatal (dapat nilai jelek, tidak lulus kuliah, ketika bekerja dianggap kurang kompeten atau terampil, dsb), maka kita cenderung belajar bukan dengan inovasi dan penemuan tapi dengan cara meniru, seperti meniru orang lain yang dianggap sudah ‘sukses’ (supaya tidak gagal kan?). Dengan meniru artinya kita menghindari diri dari kemungkinan menemukan penemuan di luar yang sudah ada. Dan ini bukan pertanda baik bagi kreativitas.
  3. Masih berhubungan dengan 2 faktor di atas, penyebab ke tiga adalah pengajaran (di sekolah) yang dilakukan untuk tes atau ujian. Ketika kita sekolah, tujuan kita belajar adalah supaya ketika kita ujian kita bisa mengetahui jawaban yang benar. Tentu semata-mata untuk mendapatkan nilai yang ‘baik’. Karena pola pengajaran dan pendidikan yang seperti ini, akhirnya anak-anak tumbuh dengan anggapan hanya ada satu jawaban dari segala hal yang ada.
  4. Penyebab ke empat menurut saya yang paling penting. Di salah satu artikel disebut sebagai herd instinct (insting hidup dalam kawanan), sementara di artikel yang lain disebut sebagai the price of acceptance and conformity (harga penerimaan dan kepatuhan). Seiring dengan bertambah dewasanya kita, kita ‘diajak’ atau diajarkan untuk patuh pada aturan dan norma yang berlaku dan jika dilanggar akan mengakibatkan konsekuensi yang mengikat, contoh: apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Hal ini semata-mata demi kita bisa hidup di dunia dengan orang lain. Kita mencari aman dengan melakukan apa yang menjadi konsensus bersama yang harus dilakukan dan menghindari apa yang tidak boleh dilakukan. Jika kita menjadi ‘terlalu kreatif’ bisa-bisa apa yang kita lakukan atau pikirkan menjadi tidak terduga, maka berbahaya bagi orang lain. Mungkin contohnya seorang tulang punggung keluarga yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya, bisa mengakibatkan keadaaan ekonomi keluarga menjadi morat marit alias berantakan.

Wah, akhirnya saya menemukan jawaban dari semua ini. Bisa dibilang saya agak frustasi ketika mulai menggambar atau membuat kerajinan. Karena hampir selalu sulit memfokuskan diri untuk mulai mengerjakan karena pola pikir yang sama sekali berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Tapi saya harus berusaha mendobrak keadaan ini (lebay? No! I really mean it!). Jika saya sudah menemukan caranya, akan saya bagi lagi cerita saya di sini. Jika Anda mengalami hal yang sama, semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share. 🙂