Pengakuan seorang entrepreneur pemula

Seharusnya tulisan ini ditulis dalam bahasa Inggris supaya judulnya terdengar lebih ‘cetar membahana’, seperti ini: ‘the confession of a novice entrepreneur‘. Tapi karena saya yakin tulisan ini akan jadi jauh lebih bermanfaat jika yang membaca teman-teman di Indonesia, maka saya tulis dalam bahasa Indonesia saja.

Kenapa tiba-tiba menulis tentang entrepreneurship? Anggap saja saya ingin berbagi. Saya tidak akan memberikan tips jitu bagaimana menjadi seorang entrepreneur sukses, dsb. karena saya menganggap diri saya belum ‘sukses’ – setidaknya untuk ukuran yang saya inginkan. Dan saya tidak akan membohongi diri saya sendiri.

Saya menulis ini karena sebenarnya ingin memberi… Dorongan, dukungan, atau mungkin motivasi (tapi lantas jangan menyebut saya ‘motivator’ ya) untuk teman-teman yang mau memulai usaha atau menjadi entrepreneur. Satu hal yang pasti: tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Selebihnya, anggap saja saya sedang curhat.

Sejauh ini sudah ada sejumlah orang yang saya kenal yang melepaskan impiannya menjadi seorang entrepreneur untuk alasan yang yah… Sangat prinsipil: uang. Seperti juga saya, sebelum memutuskan untuk menjadi entrepreneur, mereka bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan (yang tentu milik orang lain).

Yang unik adalah, ketika memutuskan untuk 100% terjun memulai usahanya sendiri, mereka berhenti total bekerja di perusahaan tadi. Tapi beberapa waktu kemudian (bahkan hanya dalam hitungan bulan saja – bisa jadi karena alasan uang) akhirnya mereka kembali menyandang gelar sebagai karyawan… Di perusahaan lain.

Hidup itu pilihan (walaupun seringkali kita membuatnya tanpa sadar). Dan mungkin kembali lagi bekerja untuk orang lain demi kestabilan keuangan adalah pilihan mereka. Silakan. Karena pada kenyataannya, kecuali Anda mewarisi usaha keluarga atau orangtua, mengelola (apalagi memulai!) usaha sendiri itu tidak mudah.

Anda belum terkenal, brand Anda belum terjamah manusia lain selain Anda, keluarga, dan teman-teman (yang mau tidak mau karena mereka mengenal Anda pasti akan mendukung Anda), cash flow seret seperti PDAM kalau lagi mampet, penjualan gagal karena lagi-lagi kembali ke faktor pertama: Anda (atau brand Anda) belum dikenal.

Jangan salah, semua yang di atas itu makanan sehari-hari saya. Mungkin ini yang membuat orang-orang tadi keok dan menyerah. Bayangkan. Sebelumnya secara rutin menerima gaji di akhir (atau awal) bulan, sekarang tidak. Dulunya tidak harus mengurusi tetek bengek hulu hilir usaha, sekarang diperas otaknya untuk melakukan itu.

Maka dari itu… Baru juga beberapa bulan (belum tahun!) menjalankan usaha (yang awalnya dimulai dengan menggebu-gebu, semangat ’45, dan impian yang muluk-muluk bakal kaya raya, sukses, dan hidup leha-leha) akhirnya terhenti karena pikiran ini: “Kalau begini terus kapan dapat duitnya? Mending jadi karyawan lagi aja deh…”

Di sini makanya saya menganggap (dan sering berbagi tentang hal ini dengan teman-teman yang sama-sama sedang merintis usaha sendiri) bahwa satu hal penting yang paling (paling) mendasar yang diperlukan untuk menjadi seorang entrepreneur adalah: mindset (maaf, tebakan Anda meleset, bukan, jawabannya bukan modal!).

Jika jawabannya memang modal, ada begitu banyak orang yang memiliki cukup banyak uang (dan aset) tapi tidak kunjung menjadi entrepreneur. Bahkan saya sering mendengar, “Saya juga pengen punya usaha sendiri, kalau ada modal.” Tapi dia tetap jadi karyawan, padahal gajinya di atas 10 juta per bulan! Jadi ini mindset, bukan modal.

Mindset seperti apa yang dimaksud? Ada baiknya saya jabarkan hal-hal penting yang harus siap kita hadapi ketika memutuskan untuk jadi entrepreneur. Dan ini bukan bagian manisnya, tapi pahit!  Begitu pahit sampai-sampai tidak semua orang mampu bertahan (lebay ya? Mungkin… Tapi yang sudah mengalami pasti setuju). Ini dia:

1. Siap-siap merasa sendirian. Menurut liputan Republika (Januari 2013), jumlah wirausaha di Indonesia hanya mencapai sekitar 1,5% dari jumlah total penduduk Indonesia. Itu berarti hanya sekitar 3,5 juta orang di antara nyaris 250 juta orang penduduk (data dari Wikipedia). Artinya lagi, jika Anda adalah seorang entrepreneur, Anda adalah 1 di antara 100 orang. Artinya lagi, bayangkan 99 orang lainnya sibuk memamerkan kenaikan jabatan, THR, nongkrong di tempat-tempat hip, sementara Anda jungkir balik mempertahankan cash flow. Saran saya cuma satu: sabaaar. It’s not your time to shine – yet.

2. Tidak semua orang mau ‘mengerti’ keadaan Anda. Intinya: Anda harus menanggung semuanya sendiri. Karyawan, supplier, kreditor, mereka tidak akan mau tahu apakah Anda sedang mengalami kesulitan keuangan atau tidak. Yang mereka tahu hanya satu: Anda bertanggung jawab atas apa yang Anda janjikan ke mereka.

3. Tidak semua orang mau diajak susah. Masih berhubungan dengan nomor dua. Ketika baru merintis, jangan harap orang-orang akan segera mencintai Anda. Anda belum jadi siapa-siapa, belum punya apa-apa. Tidak semua orang mau ber-partner dengan Anda karena… Ya itu tadi, kredibilitas belum terbangun. Dan pada tahap ini ‘hasil’ jelas belum ‘kelihatan’. Besar kemungkinan Anda malah diremehkan.

4. Siap-siap kecewa. Istilah kerennya Bob Sadino: jadilah orang goblok, karena orang goblok gagal dan tidak kecewa. Penjualan menurun, ya sudah terima… Closing gagal, ya baiklah… Tapi bukan berarti pasrah lo ya! Hanya saja: siap-siap menjadikan kekecewaaan dan kegagalan teman baru. Takut? Entrepreneur sejati tidak takut!

5. Siap-siap terima uang tidak tetap. Siapa bisa menjamin jumlah penjualan akan sama tiap bulannya? Tidak ada. Anda bukan karyawan yang menurut kontrak akan menerima gaji sebesar sekian juta tiap tanggal sekian tiap bulan. Bisa menanggung ini? Kalau tidak, coba pikirkan lagi. Saran lain: coba rintis ketika masih jadi karyawan.

6. Siap-siap kerja 24 jam sehari. Iya, serius. Jadi bagi Anda yang kerja ‘hanya’ 8 jam sehari, merasa beruntung lah. Seorang entrepreneur yang ideal bahkan harus bekerja dalam mimpinya. Kalau Anda bekerja untuk perusahaan Anda sendiri, waktu tidak lah penting. Anda akan mencurahkan semua yang Anda punya, berapa banyak pun itu.

Apa saya mencoba menakuti-nakuti Anda? Tidak, sama sekali tidak. Saya cuma pengen bilang… Halah, masa baru segitu aja udah nyerah sih? Baru beberapa bulan… Baru setahun… Baru satu proyek… Baru… Baru… Baru… Coba ubah pola pikir “kebanyakan gagal = menyerah” dengan “baru segitu, belum segini”, dan bertahanlah! Jangan menyerah!

Dan ketika Anda merasa seperti mau menyerah, apa yang Anda lakukan? Bergaul lah dengan orang-orang yang juga senasib dengan Anda. Orang-orang yang baru memulai usaha, yang sama jatuh bangunnya dengan Anda, yang sama-sama tahu bagaimana rasanya. Setidaknya untuk saling memberi dan menerima dukungan.

Menyerah itu mudah. Apalagi godaan banyak. Tapi ingat: ini semua perjalanan, bukan sekadar tujuan. It’s difficult. But it’s possible. 

Bantu ekonomi lokal, makan di warung lokal

Tumben tulisan ini tidak ada hubungannya sama mengajar atau belajar bahasa Inggris. Boleh dong ya… Saya jadi tergelitik saja dengan orang-orang yang mendengung-dengungkan katanya cinta Indonesia, dukung ekonomi lokal, karya anak bangsa, dsb, tapi sehari-harinya makan di restoran fast food (cepat saji) atau tempat-tempat ‘wah’ lainnya yang kebanyakan empunya (baca: bos besarnya) bukan orang Indonesia. Jadi saya mau berbagi pandangan sedikit kenapa makan di warung lokal itu penting kalau (katanya) kita cinta Indonesia.

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar

Suatu hari saya membuat janji dengan seorang teman di sebuah tempat makan baru dengan gaya kebarat-baratan. Tempat makan ini bukan warung biasa, dengan menu campuran barat dan Indonesia. Karena saya ingin makan makanan yang mengandung nasi, jadi saya pesan soto ayam. Ketika hidangannya disajikan, saya pun mulai mencicipinya. Alangkah terkejutnya saya. Saya yang terbiasa makan di warung pinggir jalan langsung kaget dan rasanya ingin marah dan protes ke yang punya tempat. Sama sekali tidak terasa seperti soto ayam! Kuah hambar cenderung pahit. Bumbu sama sekali tidak terasa. Sementara 100 meter dari tempat itu saya tahu ada warung soto dan nasi goreng Jawa yang menjual soto ayam paling enak di Denpasar. Ini terlalu!

Sampai hari ini saya memang belum menyampaikan komplain atau keberatan saya ini ke pemilik atau manajemen tempat itu. Tapi biarlah saya simpan dalam hati dan saya ceritakan di sini saja. Inti dari pengalaman saya ini… Ada terlalu banyak tempat yang walaupun ia menawarkan kenyamanan, tapi makanan yang disediakan di situ justru tidak otentik dan tidak enak. Apalagi makanan yang berhubungan dengan makanan tradisional atau khas Indonesia. Rata-rata semua menawarkan kemasan yang menarik dan fasilitas yang dicari kebanyakan anak muda dan para profesional, misal: free wi-fi. Saya paham tiap tempat mempunyai model bisnis dan segmen pasarnya sendiri. Mungkin ini yang membedakan tempat-tempat seperti ini dan warung lokal biasa yang menjual ‘makanan asli’ (yang memang menjadi barang dagangan utama dan rasanya enak).

Rujak kuah pindang di warung rujak (tanpa nama) dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Rujak kuah pindang di Warung Pak Ketut Sudiana dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Bukannya saya tidak pernah makan di restoran atau restoran cepat saji, hanya saja kalaupun saya makan di sana, biasanya jarang sekali saya foto atau unggah foto-fotonya di media sosial. Alasannya sederhana, kebanyakan tempat-tempat itu sudah punya channel (saluran) promosi mereka sendiri. Tentu karena modal mereka besar. Tanpa kita mengunggah foto-foto makanan mereka di media sosial, mereka sudah cukup mampu mempromosikan makanannya. Lain halnya dengan warung-warung lokal (yang seringkali makanannya enak betul). Karena model bisnis mereka masih tradisional, maka mereka tidak mengenal sistem promosi seperti perusahaan besar yang modern. Justru kita harus membantu warung-warung yang dimiliki orang lokal ini.

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cenik Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cening Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Saya penggemar makanan Indonesia dan tidak pernah malu mengunggah makanan Indonesia se-ndeso apapun dan di mana pun ia berada – di dalam gang, dekat pasar, dari desa. Bukan karena ndeso-nya tapi karena makanan-makanan itu otentik dan sangat pantas untuk didukung. Jadi sudahlah, kalau ingin mendukung ekonomi masyarakat lokal, lakukan hal sederhana ini: sering-sering makan di warung lokal dan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengunggah foto-fotonya di media sosial, tentu dengan cara yang menarik. Jadi, jangan melulu ke mal ya… Hehehe… Saya bersyukur di Bali ‘cuma’ ada 3 mal (tolong jangan ditambah lagi!) dan sekarang ini saya jarang banget main-main ke sana… Selamat makan! 😉

#DestinationNoWhere with @anak_alam

The view from the #DestinationNoWhere ‘s village.

Hari Sabtu tanggal 23 February 2013 kemarin, saya beruntung bisa mengikuti acara pengiriman sumbangan oleh Anak Alam beserta beberapa organisasi lain dan berbagi dengan anak-anak sekolah dasar di sebuah desa yang karena beberapa alasan tidak saya sebutkan namanya di sini. Tak heran tajuk dari kegiatan ini adalah #DestinationNoWhere (tujuan tanpa arah (?)). Lokasi desa berada di perbukitan dan kehidupan masyarakatnya terbilang sederhana. Mungkin di antara pembaca sudah ada yang mengenal Anak Alam, mungkin belum. Silakan membaca kembali tentang mereka di sini anakalam.org atau mengikuti mereka di Twitter @anak_alam.

Ini kali pertama saya mengikuti kegiatan Anak Alam. Bisa dibilang saya anggota baru di sana alias masih bau kencur (aih, bahasanya…). Kenapa saya bisa sampai ada di tempat itu bersama mereka kemarin? Ada baiknya saya menceritakan kronologi hidup saya (yang mungkin bagi Anda tidak penting) sampai akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung. Sewaktu saya kuliah, saya juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler, namun kebanyakan berhubungan dengan jurnalistik, bahasa Inggris (lomba-lomba), dan penelitian ilmiah. Selebihnya? Tentu saja kuliah. Ketika saya mengerjakan skripsi, saya memulai karir mengajar saya secara profesional (baca: dibayar). Selepas kuliah pun saya sempat bekerja di dua perusahaan yang berbeda, masih sebagai guru bahasa Inggris. Hari-hari saya ketika itu dipenuhi dengan kerja, kerja, dan kerja.

Akhirnya saya pun mengundurkan diri dari perusahaan terakhir saya bekerja, tempat saya terakhir kalinya menyandang ‘gelar’ sebagai seorang karyawan. Banyak orang bilang tempat saya bekerja ini bagus dan sangat disayangkan saya melepasnya. Ada banyak pertimbangan yang membuat saya memutuskan hal ini. Pertama, saya tidak ingin berhenti bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris (mengikuti jenjang karir yang ditawarkan di sana sama dengan melepas title saya sebagai English teacher). Ke dua, saya merasa menjadi ‘ikan kecil di kolam yang besar’ bukan untuk saya, ini juga yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengelola usaha sendiri. Ke tiga, saya merasa hidup saya jauh lebih ‘besar’ dari sekadar menjadi seorang ‘corporate slave‘, maka saya pun memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Sejak memulai usaha dua tahun lalu hingga sekarang, sudah cukup banyak periswita jatuh bangun yang saya alami. Selain itu yang terpenting adalah perubahan paradigma dan pola pikir. Saya bukan lagi seorang karyawan yang bertumpu pada gaji tiap akhir bulan. Saya harus pandai-pandai mengatur uang masuk dan uang keluar, menahan diri untuk tidak membeli ini itu, karena tentu saja tidak ada seorang pun yang akan menggaji saya di akhir bulan. Saya pun banyak membaca dan belajar tentang entrepreneurship. Dan karena waktu kerja yang fleksibel (sebagian besar bisa saya atur sendiri), saya bisa mengalokasikan waktu saya untuk membuat dan melakukan banyak proyek, di antaranya @EnglishTips4UIndonesian English Teachers Club (IETC), menulis untuk Bog-Bog Bali Cartoon Magazine, dan banyak lagi.

Dan saya pun berpikir… Bayangkan jika saya masih bekerja di tempat-tempat saya sebelumnya, saya yakin hampir 100% waktu saya saya dedikasikan untuk bekerja. Tidak akan ada @EnglishTips4U, IETC, dan proyek-proyek lain yang saya lakukan. Dan saya merasa beruntung telah mengambil jalan ini. Seiring dengan waktu wawasan saya bertambah. Tentang entrepreneurship (hingga akhirnya saya mengenal istilah ‘social entrepreneurship‘ dan berusaha mencari cara untuk menerapkannya), tentang pendidikan, tentang bahasa Inggris, tentang kualitas guru bahasa Inggris di Indonesia (hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat IETC – cerita selengkapnya akan saya tuliskan di tulisan yang terpisah), tentang hidup, tentang perjuangan, tentang orang-orang, dan lain-lain. Semua hasil rasa ingin tahu bertemu dengan waktu senggang.

Sempat saya bangga dan merasa apa yang saya lakukan cukup. Hingga akhirnya seorang guru mempertanyakan, “Apa betul dengan membuat @EnglishTips4U Anda telah membantu banyak orang? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki Twitter atau internet? Bagaimana dengan mereka?” Seketika saya langsung merasa, “Ada apa ini? Kenapa terasa seperti ditusuk langsung di ulu hati?”Jleb! Begitu kira-kira bunyinya. Lucunya, di saat yang bersamaan akun Facebook Active English mulai berteman dengan Pande Putu Setiawan, pendiri Anak Alam. Saya yakin kami berteman karena ketidaksengajaan (saya terkadang menambah teman secara acak). Status Pande yang kebanyakan berisi keadaan sosial di Bali menarik perhatian saya. Saya lalu mulai bertanya-tanya, “Siapa orang ini? Kok bisa ada orang Bali secerdas ini?” (pertanyaan yang konyol memang).

Kenapa saya begitu tertarik dengan status-status yang dibuat Pande, tidak lain karena saya mengalami sendiri bagaimana Bali saat ini telah berubah. Bali bukan yang dulu lagi. Sampah, kemacetan, banjir, bentrok antar ormas, kemiskinan, tata letak wilayah yang semrawut. Semua adalah contoh hal-hal yang selalu membuat saya keki, setidaknya kemacetan pada khususnya yang saya hadapi ketika saya harus mengendarai motor di Denpasar, Badung, dan sekitarnya. Saya pun akhirnya mencari tahu dan menemukan nama ‘Anak Alam’. Tak disangka, teman yang juga admin @EnglishTips4U juga telah bergabung bersama mereka. Akhirnya bulan Februari ini saya memutuskan untuk ikut aktif, setidaknya di bidang yang saya minati: pendidikan. Saya ingin lebih banyak terlibat dalam kegiatan mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di pelosok Bali.

Dan beruntunglah saya bisa bertemu anak-anak di SD desa #DestinationNoWhere kemarin. Berikut ini foto-foto hasil berbagi kami dan ceritanya…

Kids on the side of the road with their new toy balls from Anak Alam.

Pande biasanya menyimpan mainan anak-anak (seperti bola plastik di foto) di dalam mobilnya dan memberikannya ke anak-anak desa yang sewaktu-waktu ia temui di jalan. Bagi anak-anak kota dengan mainan canggih tentu ini terlihat sepele. Tapi bagi mereka? Ia juga sempat mengungkapkan di sebuah survey yang pernah ia lakukan, hadiah paling berkesan menurut anak-anak di desa adalah boneka. Saya mengerti betul kenapa. Ketika saya kecil saya juga mengoleksi boneka dan memiliki ikatan emosional dengan mereka. Ketika saya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (satu-satunya pengalaman saya terjun ke ‘masyarakat’), saya sering kali memainkan boneka di depan anak-anak dan mereka begitu terkesan dan terpesona dengan semua gerakan dan suara yang saya buat. Saya pun menikmati momen ini. Mainan adalah bagian penting dari hidup anak-anak.

Meeting with the locals. Pande on the left with Anak Alam white t-shirt.

Sesampainya di #DestinationNoWhere, kami sudah ditunggu perwakilan dari penduduk lokal beserta kepala dusun (nomor dua dari kiri) untuk acara penyerahan bantuan di balai desa.

The long walk to school, to the only elementary school available in the village.

Sambil menunggu acara penyerahan bantuan, kami para relawan kesehatan (dan saya tidak tahu harus menyebut diri apa – relawan pengajar mungkin?) pergi ke sekolah dasar setempat. Jangan dibayangkan jalan yang kami tempuh seperti berjalan satu atau dua gang di kota. Ini jalannya berkelok-kelok, naik turun, dan cukup jauh. Setelah berjalan sebentar, kami memutuskan untuk menumpang di sebuah truk pickup lalu melanjutkan jalan sedikit lagi. Anak-anak berseragam olahraga oranye sudah menunggu sejak siang. Mereka berjalan kembali ke sekolah bersama kami.

Evi, a health volunteer who is also a student of Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, was giving a presentation to 1st, 2nd, and 3rd graders on kinds of teeth and their functions.

Sampailah kami di sekolah dasar. Kami membagi diri menjadi dua kelompok dan saya kedapatan masuk ke kelas 1, 2, dan 3 (di dalam satu kelas) bersama Evi dan Ria, relawan Anak Alam. Evi yang juga mahasiswa Kedokteran Gigi memberi penjelasan tentang jenis-jenis gigi dan fungsinya, serta bagaimana cara menggosok gigi yang benar kepada anak-anak. Hal-hal yang terlihat sangat sederhana ketika di kota, tapi memiliki nilai (value) yang berbeda di sini. Dan lihatlah papan tulis yang digunakan. Tidak seperti di kota yang telah tergantikan dengan whiteboard (tapi percayalah, saya lebih suka papan tulis old school ini). Kami juga mengajari mereka bernyanyi dan meneriakkan yel-yel. Di akhir penjelasan saya sempat memberikan sebuah permainan bahasa Inggris tentang angka-angka kepada anak-anak yang saya ciptakan saat itu juga.

A second grader was writing the volunteer’s explanation on her book.

Tak bisa dipungkiri, anak-anak, di mana pun mereka berada, entah kota atau pun desa, mempunyai semangat belajar yang sama. Terlebih di desa ini ketika belajar dan datang ke sekolah adalah sesuatu yang ‘istimewa’. Di dalam foto, seorang anak dari kelas tiga yang terlihat menonjol (saya lupa namanya) sedang mencatat apa yang ditulis relawan di papan. Saya pun mendapat cerita dari Ria, bahwa di sekolah ini fokus utama pengajaran adalah mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Guru-guru tidak memiliki mata pelajaran khusus. Tapi melihat dari bagaimana anak-anak menulis dan membaca (walupun untuk yang satu ini masih terbata-bata dan beberapa kali salah sebelum akhirnya benar), saya bisa melihat bagaimana guru-guru di sana sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Bravo for that! 🙂

Kids on truck, hitchhiking to go home.

Bapak-bapak di sebelah kiri foto ini (yang berbaju hitam – maafkan saya tidak tahu nama beliau) mengatakan pada saya ketika saya mengambil foto ini, “Untuk pulang mereka harus jalan lagi sekitar satu sampai dua jam dari sini. Kalau pagi mereka masuk sekolah jam 7, jam 5 atau setengah 6 sudah berangkat dari rumah.” Ah! Never have I imagined that. Sering mendengar anak-anak di pelosok yang datang ke sekolah melewati jembatan reyot yang hampir putus, tapi tidak pernah melihat langsung dengan kepala sendiri. Sewaktu SD dan SMP saya juga sering jalan kaki ke dan pulang sekolah, tapi tentu tidak sejauh itu. Satu hal yang pasti: anak-anak dan penduduk desa di sini bisa dipastikan super sehat! Satu hal yang harusnya membuat kita iri pada mereka.

Kids with plastic bags as school bags. Shown is the plastic bag from a popular supermarket in Denpasar, Tiara Dewata.

Selain bersekolah tanpa sepatu dan bahkan alas kaki, kebanyakan dari mereka menggunakan tas plastik sebagai tas sekolah. Terlihat hanya sedikit anak yang menggunakan tas sekolah dan sepatu. Konon mereka menggunakan tas plastik karena tidak ingin tas sekolahnya kehujanan ketika mereka berjalan ke dan pulang sekolah. Apa ini artinya mereka berjalan ke dan pulang sekolah tanpa payung? Bisa dipastikan iya…

The scenery from above on our way home.

Kegiatan selesai dan kami pun pulang. Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari sesuatu yang baik dan ada perasaan lega setelah melakukan sesuatu yang baik pula. Walaupun sedikit, setidaknya kami (atau saya) sudah mengambil peran. Pengalaman ini tak terlupakan, dan saya menunggu momen-momen lain untuk bisa berbagi dengan anak-anak di lebih banyak desa, berbagi ilmu yang saya punya, dan tentunya bersenang-senang dengan mereka. Jangan ditanya apa yang ada di benak saya ketika saya sampai rumah hingga sekarang. Cuma satu: kira-kira kontribusi apa lagi ya yang bisa saya berikan pada anak-anak ini? Can’t wait for the next #DestinationNoWhere atau kegiatan berbagi ke pelosok-pelosok lagi bersama Anak Alam. Anak Alam, thank you. You rock! 🙂

Pensil keberuntungan

My lucky pencil, “pensil keberuntungan”,  early 2011.

Bukan bermaksud klenik, tapi saya ingin menceritakan kisah kecil tentang pensil berwarna pink neon yang telah saya gunakan selama tiga tahun ini. Banyak orang ketika mereka sudah dewasa dan bekerja lebih memilih pulpen sebagai alat tulis ketimbang pensil. Bagaimana tidak, anak-anak sekolah ketika beranjak ke sekolah menengah pertama yang dulunya biasa menggunakan pensil ketika sekolah dasar biasanya sudah dibiasakan untuk menggunakan pulpen di dalam kelas. Tetapi saya tidak. Saya lebih memilih menggunakan pensil. Alasannya sederhana. Karena pensil biasanya lebih ringan, berwarna-warni dan motifnya beragam, dan tentu saja: bisa dihapus.

My “pensil keberuntungan” on a table at a student’s house.

Saya mendapatkan pensil ini ketika masih mengajar di English First Kuta di tahun 2009. Entah dari mana asalnya. Bisa jadi memang alat tulis yang disediakan oleh kantor, atau mungkin milik seorang murid yang tertinggal di kelas (?). Tapi yang jelas semenjak ada di tangan saya, saya langsung jatuh cinta. Alasannya lagi-lagi sederhana: karena warnanya yang mencolok. Sejak saat ini saya terus menggunakannya. Hingga saat saya pindah mengajar ke Banyan Tree Ungasan sampai ketika saya memulai Active English. Pensil ini selalu setia menemani. Dulu yang panjang aslinya sekitar 15 cm, sekarang tinggal 8 cm dengan lapisan plastik yang mulai mengelupas.

A drawing of my “pensil keberuntungan” by a student of mine, Yogi, 10 years old.

Pensil ini sempat beberapa kali hilang namun entah bagaimana bisa saya dapatkan kembali. Seorang perawat mungkin punya sepasang sepatu putih tua kesayangan yang dulu ia pakai sewaktu muda ketika menimba ilmu di sekolah perawat, yang menemaninya dalam susah dan senang dalam menuntut ilmu dan karir, yang akhirnya karena begitu banyak kenangan di dalamnya ia simpan hingga tua. Well, saya memang belum tua (hehe), tapi bagi saya, pensil ini lah “sepatu” itu. Meminjam istilah para sejarawan, pensil keberuntungan ini adalah “saksi bisu” perjalanan karir saya. Dari Ubud, Canggu, Nusa Dua hingga Denpasar dan Kuta, pensil keberuntungan ini selalu ada.