Origami, cara berpikir, dan kreativitas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Xmas tree origami, kerajinan tangan pertama yang saya buat setelah bertahun-tahun lamanya vakum

Di rumah ada banyak kertas kado menganggur sisa  waktu masih punya online shop. Karena merasa tidak ada gunanya, saya berpikir sebaiknya dibikin apa ya kertas-kertas kado ini. Beberapa waktu lalu saya mencoba menjualnya tapi belum ada yang serius membeli. Akhirnya minggu lalu saya iseng buka-buka YouTube mencari tutorial kerajinan tangan menggunakan kertas. Secara mengejutkan saya berhasil membuat sebuah origami (lihat foto). Rasanya senang sekali karena ini adalah kerajinan tangan pertama saya setelah… 10 tahun!

Hah? 10 tahun? Kok bisa? Saya sendiri suka heran, terutama ketika saya kuliah, kenapa saya selalu gagal melakukan hal-hal ini: bikin kerajinan tangan atau craft (dalam bentuk apapun), menggambar, melukis, bahkan menulis kreatif. Heran karena sejak SD hingga SMA justru semua kegiatan ini adalah bidang ahli saya. Saya suka sekali menulis puisi, menggambar, membuat kartu ucapan sendiri (terutama untuk hari perayaan dan ulang tahun teman), membuat kerajinan tangan seperti pigura, hiasan dinding, dsb, menghias celana jeans saya sendiri, membuat craft book, dsb. Sayang semuanya sekarang entah di mana.

Beberapa tahun lalu saya sempat membaca bahwa kreativitas pada anak umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Begitu juga dengan kejeniusan. Dikatakan lagi, tiap orang terlahir jenius. Hanya saja ketika mereka dewasa, secara perlahan mereka kehilangan kecakapan ini. Faktor utama penyebab hilangnya kreativitas dan kejeniusan pada anak justru adalah institusi sekolah. Kreativitas juga sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir divergen (divergent thinking skill). Karena penasaran, saya akhirnya meng-Google beberapa artikel menarik mengenai hal ini. Selain karena saya penasaran kenapa saya tidak semahir dulu dalam hal membuat kerajinan tangan.

Sebelum saya menjelaskan penyebab menurunnya kreativitas pada anak, ada baiknya kita lihat dulu dua cara berpikir di bawah ini. Cara berpikir yang mendukung kreativitas adalah yang di sebelah kanan.

Dua cara berpikir: convergent thinking dan divergent thinking (klik untuk ke sumber gambar)

Dengan melihat gambar di atas dan mengingat bagaimana saya menjalani kuliah dan berusaha memenuhi segala tuntutannya, saya serta merta menjadi sadar mengapa begitu sulit bagi saya untuk kembali membuat kerajinan sewaktu kuliah (hingga sekarang ketika saya menjadi guru bahasa Inggris). Dikombinasikan dengan dua artikel ini, Age and creativity dan Some Possible Reasons for the Drop In Divergent Thinking, inilah penyebab menurunnya kreativitas pada orang dewasa. Pendapat yang saya simpulkan sendiri diberi tanda *.

  1. First and foremost, setelah saya kuliah (agak sedikit menyesal sih hahaha…) cara berpikir saya sama sekali berubah dibandingkan dengan ketika saya SD atau sekolah menengah. Memang saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkuliahan, karena di satu sisi saya harus menjalaninya jika saya menginginkan gelarnya, dan di satu sisi waktu itu saya maupun orangtua tidak mengetahui sedikit pun tentang 2 cara berpikir ini dan implikasinya. Ketika kita kuliah (terutama jurusan yang sama ambil, Sastra Inggris), kita dituntut untuk berpikir secara analitis dan logis. Yang artinya kita dituntut untuk mencari kebenaran. Dan seringkali kebenaran ini cuma satu, entah menurut dosen atau teori tertentu (lihat kembali gambar di atas). Maka sekarang jika dipikir kembali, apa yang sering dikatakan Bob Sadino, “Jika ingin jadi pengusaha sukses, jangan sekolah.” itu benar karena alasan ini. Seorang entrepreneur memang dituntut untuk selalu mencari jalan keluar dan menemukan cara baru demi dapat bersaing di dunia usaha. Tak heran juga banyak orang yang hanya lulusan SD atau SMP yang sukses menjadi pengusaha. *
  2. Karena tuntutan untuk mencari satu kebenaran, kita jadi cenderung takut mengambil resiko atau takut salah. Karena kesalahan akibatnya bisa fatal (dapat nilai jelek, tidak lulus kuliah, ketika bekerja dianggap kurang kompeten atau terampil, dsb), maka kita cenderung belajar bukan dengan inovasi dan penemuan tapi dengan cara meniru, seperti meniru orang lain yang dianggap sudah ‘sukses’ (supaya tidak gagal kan?). Dengan meniru artinya kita menghindari diri dari kemungkinan menemukan penemuan di luar yang sudah ada. Dan ini bukan pertanda baik bagi kreativitas.
  3. Masih berhubungan dengan 2 faktor di atas, penyebab ke tiga adalah pengajaran (di sekolah) yang dilakukan untuk tes atau ujian. Ketika kita sekolah, tujuan kita belajar adalah supaya ketika kita ujian kita bisa mengetahui jawaban yang benar. Tentu semata-mata untuk mendapatkan nilai yang ‘baik’. Karena pola pengajaran dan pendidikan yang seperti ini, akhirnya anak-anak tumbuh dengan anggapan hanya ada satu jawaban dari segala hal yang ada.
  4. Penyebab ke empat menurut saya yang paling penting. Di salah satu artikel disebut sebagai herd instinct (insting hidup dalam kawanan), sementara di artikel yang lain disebut sebagai the price of acceptance and conformity (harga penerimaan dan kepatuhan). Seiring dengan bertambah dewasanya kita, kita ‘diajak’ atau diajarkan untuk patuh pada aturan dan norma yang berlaku dan jika dilanggar akan mengakibatkan konsekuensi yang mengikat, contoh: apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Hal ini semata-mata demi kita bisa hidup di dunia dengan orang lain. Kita mencari aman dengan melakukan apa yang menjadi konsensus bersama yang harus dilakukan dan menghindari apa yang tidak boleh dilakukan. Jika kita menjadi ‘terlalu kreatif’ bisa-bisa apa yang kita lakukan atau pikirkan menjadi tidak terduga, maka berbahaya bagi orang lain. Mungkin contohnya seorang tulang punggung keluarga yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya, bisa mengakibatkan keadaaan ekonomi keluarga menjadi morat marit alias berantakan.

Wah, akhirnya saya menemukan jawaban dari semua ini. Bisa dibilang saya agak frustasi ketika mulai menggambar atau membuat kerajinan. Karena hampir selalu sulit memfokuskan diri untuk mulai mengerjakan karena pola pikir yang sama sekali berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Tapi saya harus berusaha mendobrak keadaan ini (lebay? No! I really mean it!). Jika saya sudah menemukan caranya, akan saya bagi lagi cerita saya di sini. Jika Anda mengalami hal yang sama, semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share. 🙂

Website bermanfaat untuk belajar bahasa Inggris

Mengingat banyak pembelajar bahasa Inggris yang berkunjung ke blog ini, saya berpikir akan sangat berguna jika daftar website yang bermanfaat di bawah ini bisa dibagi juga di sini. Beberapa website yang disebut merupakan saduran dari blogpost @EnglishTips4U#EngTalk #EngTips: list of useful English learning websites.

General English

  1. http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish
  2. http://www.ego4u.com/
  3. http://www.englishclub.com/learn-english.htm
  4. http://www.englishpage.com/
  5. http://englishtips4u.com/
  6. http://learnenglish.britishcouncil.org/en/
  7. http://www.learnenglish.de/
  8. http://learningenglish.voanews.com/
  9. http://www.myenglishpages.com/
  10. http://www.onestopenglish.com/
  11. http://www.phrasemix.com/
  12. http://www.reallifebh.com
  13. http://www.rong-chang.com/
  14. http://www.usingenglish.com/

Grammar

  1. http://www.azargrammar.com/
  2. http://www.englishgrammarsecrets.com/
  3. http://www.grammarbook.com/
  4. http://www.grammarinenglish.com/
  5. http://grammar.net
  6. http://www.grammaropolis.com/
  7. http://grammar.quickanddirtytips.com/
  8. http://www.roadtogrammar.com/

Idiom

  1. http://www.idiomsite.com/
  2. http://idioms.thefreedictionary.com/
  3. http://oels.byu.edu/student/idioms/idiomsmain.html
  4. http://www.phrasefinder.co.uk/

Kamus bahasa Inggris

  1. http://dictionary.cambridge.org/
  2. http://dictionary.reference.com/
  3. http://www.ldoceonline.com/
  4. http://www.macmillandictionary.com/
  5. http://www.merriam-webster.com/
  6. http://oxforddictionaries.com/us
  7. thefreedictionary.com/
  8. http://urbandictionary.com

Listening

  1. http://www.esl-lab.com/
  2. http://www.talkenglish.com/Listening/listen.aspx

Soal-soal latihan

  1. http://a4esl.org/q/h/grammar.html
  2. http://www.englishbanana.com/
  3. http://www.englishexercises.net/
  4. http://www.englishexercises.org/
  5. http://www.english-test.net/
  6. http://www.examenglish.com/

Social media belajar bahasa Inggris

  1. http://Livemocha.com
  2. http://www.mylanguageexchange.com/
  3. http://www.paltalk.com/

Video

  1. anglo-link.com
  2. http://www.engvid.com/
  3. http://www.youtube.com/user/bookboxinc
  4. http://www.youtube.com/user/ENGLISHCLASS101

Vocabulary

  1. https://www.vocabulary.com/

Writing

  1. https://owl.english.purdue.edu/owl/

Daftar ini akan terus disunting dan ditambah. Punya daftar yang lain? Silakan bagi di kolom komentar ya. Jangan lupa juga, like dan share. 🙂

Karena kebahagiaan tidak harus seragam kan?

Tiga tahun lalu, sewaktu saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan terakhir saya bekerja, orang-orang penasaran dan gagal paham kenapa saya berhenti (kan karyawan tetap, kan dapat gaji tetap, kan ada kesempatan karir). Beberapa orang yang saya temui pun menyayangkan, “Susah lho diterima di sana. Bukannya gajinya lumayan?” Dan banyak hal lainnya…

Entah kenapa sampai saat ini saya masih merasa dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan tidak sedikit yang mempertanyakan jalan hidup saya (mengelola bisnis kecil yang prospeknya “kurang jelas”), menyarankan saya untuk melamar kerja di perusahaan lain, atau bahkan secara terang-terangan menyuruh mengirimkan lamaran ke perusahaannya demi masa depan yang “lebih cerah”.

Sulit untuk menjelaskan keputusan saya, selain dengan alasan kehidupan yang seperti itu bukan untuk saya. Setelah dua tahun lebih bekerja untuk orang lain dan setahun bekerja di perusahaan terakhir, saya memutuskan untuk lebih banyak melakukan hal-hal yang saya suka, bukan apa yang orang lain minta saya untuk lakukan. Saya ingin menjadi saya, melakukan apapun yang saya mau.

Hingga kini saya masih suka gregetan seperti ingin mencari cara untuk benar-benar menjelaskan supaya mereka mengerti, “This is why!” Tapi rasa-rasanya sulit, terutama karena mereka bukan saya, dan saya bukan mereka. Sampai akhirnya tadi saya menemukan komik ini di laman Facebook seorang teman. Ini, ini! Seperti menjelaskan apa yang ada di dalam kepala saya. Ini lah alasannya kenapa! This is why!

Klik untuk ke sumber gambar

Karena kebahagiaan, tidak harus seragam, kan? 🙂

Practicing making questions with Past, Present, Future Simple using biographies of famous people

This is a simple activity if you want your students to practice making questions (or other activities that use the same tenses) in Past, Present, and Future tenses. There are 2 notions behind this activity:

  1. Tenses are usually taught separately and in isolation from each other. Inspired by Bloom’s Taxonomy, I was trying to apply an activity where students could make comparison between tenses. In this case because they have learned Present Simple, Past Simple, and Future Simple, thus this activity was created.
  2. After reading about Whole Language approach in language teaching and the importance of using authentic instead of artificial (read: textbook like) materials, I was intrigued to use more authentic materials in my class. The biography used here is an example.

Few notes before you do this activity:

  1. Make sure students have already learned about the 3 tenses and done some other necessary activities to practice them.
  2. Choose biography of a famous person who is still alive, because you need your students to also make predictions about the biographee’s life in the future to practice Future Simple Tense.
  3. You can choose to use biography in form of text, video, or the combination of the 2 where different types of skills are in practice.

Here’s how I did it:

  1. I used Bill Gates’ (mini) biography from Bio.com’s YouTube channel.
  2. Before viewing the video, students were divided into pairs.
  3. Students watched the biography, twice (more if you like).
  4. Each pair was instructed to make 3 questions using Past Simple, basically making questions about Bill Gates’ past.
  5. Before the next task, members of the group were swapped.
  6. Each pair was then instructed to make another 3 questions, this time using Present Simple, asking about Bill Gates’ current life.
  7. Members of the group were again swapped.
  8. Each pair for the last time was instructed to make 3 questions using Future Simple, making predictions about Bill Gates’ future.

At the end of the question making, you can ask students to either correct other groups’ questions or answer them. Here are some questions my students made, with few additions from me:

Past Simple Tense:

  1. Where was Bill Gates born?
  2. When did he found Microsoft?
  3. Did he drop out of school?

Present Simple Tense

  1. What does he do now?
  2. What is the name of his foundation?
  3. Is he a creative person?

Future Simple Tense

  1. What will Bill Gates do in 2014?
  2. Who will replace his position?
  3. Will he go bankrupt?

I hope this is useful for you. Don’t forget: like, share, comment. 🙂

Practicing Past Simple Tense with Ladder Race (Game) and Story Writing

Just like my other blogposts under the tag teaching ideas, in this blogpost I am sharing activities that I used in my class for other English teachers to use and be inspired from. If you are reading this and interested in applying the activities described here, you are free to do so with customization and other changes based on your own needs.

There are two activities that I did described in this blogpost to practice Past Simple Tense. Please note that material presentation for Past Simple Tense had already been done before conducting these activities.

1. Ladder Race (game)

Perhaps you’ve heard about this game before, perhaps you haven’t. I tried to find a blog or website that gives description about the game but there was none. So let me explain it in case you don’t know.

Illustration of Ladder Race (game)

Illustration of Ladder Race (game)

  1. What you need: a board (white or black).
  2. Divide the class into 2 groups, let’s say Group A and Group B.
  3. Draw a ladder-like table like shown in the image above, together with numbers, 1 to 10, from bottom to top. The numbers represent the words each group has to race to write on the board.
  4. Start the game by writing the first word based on the category you play. In this case our focus was practicing Past Simple Tense, so the category was Verb 2 or Past Simple of the verb.
  5. Members from each group have to continue writing the second, third, fourth, etc. word by using the last letter from the previous word. For example, the first word is MET, so the next team member has to write a word that begins with the letter “T”. In the image, Group A wrote TOOK, Group B wrote TOLD.
  6. Both groups can’t use the same words. Group discussion is allowed. The first group to finish completing the ladder (1-10) wins.

2. Story Writing

The story writing is still done in groups. Each group, within a limited time frame, has to create a short story with all the 10 words that they have gathered in the first activity, the Ladder Race game. The story has to make sense and each group can decide the theme and topic to whatever they feel suitable with the vocabulary they have.

However, words that have been written by the groups are swapped before they begin the story writing. For example, words that are written by Group A will be given to Group B, vice versa. So each group must use words from the opponent team. Here’s a short story made by my students (Group B) using words from Group A. I found the story quite interesting and funny. They have surely done a good job.

Students' work in story writing using the Past Simple

Students’ work in story writing using the Past Simple

I hope this blogpost is useful. Leave your comment, like, or share. 🙂

Teaching “Will vs. Going to” with YouTube videos

It was only recently that I started making ‘contact’ with YouTube in terms of English Language Teaching (ELT). You can read my first experience in using YouTube here. Drawn by the successful attempt, I decided to give YouTube another try. This time with other grammar points: Will vs. Going to (Future Simple Tense). The activity consisted of 2 parts and used 4 videos: the first 3 videos were used as the explanatory videos for “Will vs. Going to” and the last video for writing (productive skill) practice using the 2 grammar points.

The steps are as below:

1. Students watch the first video about the use of ‘will’. The video contains some funny scenes so my students were quite entertained. You can choose to pause and play as the video contains several conversations and scenes. The video can also be used for other types of activities (listening, fill in the gaps, summary writing, etc.).

2. Worksheet is given to students and teacher explains a little bit about the use of ‘will’. Students are given time to do the worksheet while teacher guides, but only the ‘will’ part (the left-hand side). Download the worksheet that I made and used here Will vs. Going to Worksheet.

3. Students continue watching the second video about the use of ‘going to’. The form of this video is almost the same with the first one: it contains several conversations and scenes. It’s funny too.

4. After watching the second video, teacher explains about the use of ‘going to’ a little bit and students are asked to continue doing the second part of the worksheet (the ‘going to’ part). Again, teacher’s guide and assistance in students’ completing the worksheet is essential.

5. After finishing with ‘will’ and ‘going to’ in the worksheet, teacher prompts the question: “So what’s the difference between will and going to?” Students try to answer the question and teacher confirms it (explanation can be found in the worksheet). Third video is played.

6. After gaining understanding about the difference of ‘will’ and ‘going to’, students are asked to practice using the grammar units — again, with a YouTube video. I was trying to find a short video or movie about how the future will look like, but ended up with this video “What Will Clothes Look Like in the Future?” about the future of clothes. It is quite interesting and my students also found it quite amusing (so did I!).

7. So what’s the instruction for the practice? Students watch the very short documentary twice (or as many as you like depending on students’ level), then in pairs they have to write a summary about the documentary using ‘will’ and going to’. The aim of this practice is so students can make predictions about the future using ‘will’ and ‘going to’. Sentences should start with ‘will’ and ‘going to’ like these:

  1. There will …
  2. There is going to …
  3. The clothes will …
  4. The clothes are going to …

Here’s an example made by a group.

Students' work: Will vs. Going to

Students’ work: Will vs. Going to

Well, that’s all. I hope you find this blogpost useful. If you have comments or suggestions, or perhaps other brilliant ideas to teach grammar, feel free to drop me a comment. Thank you. 🙂

Practicing the imperative and modal auxiliaries with The White Stripes’ We’re Going to be Friends

Do you know this song?

I didn’t know this song until after I desperately asked for some suggestions on songs I could use to teach on my Twitter and a friend suggested me this. At the same time I was teaching the imperative and modal auxiliaries to my business English students. After watching the suggested video (the real music video from the band looks far more depressing than this one here) and reading the lyrics, I found the two grammar points were used a number of times.

Since the activity uses song as its media, the practice eventually incorporates listening as part of the grammar practice. Listening, just like reading, is considered to be an important input in the process of second language learning. Besides that, my other aim of using the song is to also show my students that grammar is not a separable unit or entity in a language. We can find it in speech and utterance, even songs. Hopefully this can motivate them to pay more attention to grammar.

The procedure of the practice involves listening, fill in the gaps activity, and followed by grammar and short writing practice. All of these activities are done individually but at the end of the listening activity they are allowed to discuss their findings. Because the topic of this song is about school, I believe school teachers can definitely use this song too. Here’s how I did the practice and other aspects about it.

Steps I applied during the practice

  1. Students watch the music video. This is done to entice students and let them grasp the context of the song.
  2. Worksheets are given to students. You can download the worksheet I made and used here We’re Going to be Friends Lyrics Worksheet.
  3. The music video is played 3 times while students are listening to the song and filling the gaps in the worksheet.
  4. Time to check students’ work! Students discuss and read (or sing) the lyrics aloud. There are many ways we can do to check students’ work. We can ask different students to read or sing the lyrics aloud one verse at a time, they read aloud or sing together, etc.
  5. By the fourth time they listened to the song, they could sing it. So we decided to sing together as the closing activity before we went to the next tasks: grammar and writing.
  6. Students do the grammar task in group or individually, then complete the activity by doing the writing task individually.

Why this activity is good

  1. According to Dr. Krashen, lowering stress means achieving more learning. Listening to songs can certainly make students feel more relaxed in classroom and help them enjoy the learning process.
  2. Choosing songs with the right tempo is also important. As their first listening activity, this song really suited my students well.
  3. Students can practice grammar from things that are familiar to them and their world — songs. It is hoped that they will be able to apply the practice on their own time.

Tips on using songs for grammar practice

  1. Choose songs that are appropriate to your students’ level, the tempo and difficulty level of the lyrics.
  2. Find songs in which the lyrics contain grammar points you are going to practice. It takes time but it’s worth it.
  3. Beware of lyrics and music videos that contain explicit content. Same concern I mentioned some time ago in my previous post.

So, what do you think about using songs to practice grammar? Are you interested in applying the same or similar activity in your class? Or do you have other ideas? Let me know by leaving your comments. 🙂

Pages you can use as additional handouts for pre-activity:

The imperative

Modal Verbs

Dear guru bahasa Inggris Indonesia: ini PR kita bersama

Tulisan ini sebenarnya hasil unek-unek yang saya tuangkan di akun Twitter saya, @NenoNeno, pada tanggal 22 Agustus 2013. Niatnya saya chirpify tapi karena lama tidak ngeblog, jadi lebih baik saya pindahkan ke sini saja.

Jika menurut Anda apa yang saya sampaikan di sini mengandung ketidakbenaran, silakan dikoreksi atau tinggalkan. Karena saya tidak ingin mengubah isinya, maka penulisan dan bahasa saya biarkan seperti sebagaimana yang saya tulis di Twitter.

Semoga bermanfaat. Syukur-syukur menjadi bahan renungan.

“Lama-lama risih jg memang lihat guru bahasa Inggris yg banyak salah grammar. Sayangnya bahasa Inggris memang bukan content subject.

@cath_mw: how come? mereka lokal atau native? kata temen yg di jkt, ada juga native yg ga menguasai grammar.

Bukan ‘menguasai’ grammar secara teori, mbak.
Tp menggunakannya dgn baik dan benar dlm speaking/writing. That’s why it’s a skill. @cath_mw

Content subject: mata pelajaran yg dipelajari utk dapat informasi (sejarah, biologi, dsb). Smtr bahasa Inggris = skill (ketrampilan).

Tp kalo misal syarat guru bahasa Inggris nilai TOEFL-nya harus minimal 600 mungkin ada banyak banget guru Indonesia yg bakal ‘terpangkas’.

Plus gosipnya kalo kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris ga semua perkuliahan pake bahasa Inggris (kalo saya salah tolong dicerahkan).

@tionovita: saya kuliah Pendidkan Bahasa Inggris, dan emang ga semua perkuliahan pake Bahasa Inggris. Parahnya, ada mata kuliah yg ga penting.

Smtr bahasa itu didapat (acquired), bukan cuma dipelajari (learned). Utk mahir prosesnya bisa panjang, biar maksimal biasanya sejak kecil.

Bayangkan.. Calon guru bahasa Inggris masuk kuliah.. Sblmnya ga terekspos bahasa Inggris dan ketrampilan minim. Smtr kuliah cuma 4 tahun..

Jd.. Ini kyk ‘membentuk’ orang utk jd guru bahasa Inggris cuma dlm waktu 4 tahun & stlh itu mereka dilepas utk jd ‘panutan’ murid-muridnya.

@angelaamoy: iya betul mba, 4tahun itu ga cukup. Aku aja ngerasa masih kering ilmu, dan masih sering ikut course buat referensi mengajar. 🙂

Makanya ga heran akhirnya banyak cerita guru ngajar bahasa Inggris pake bahasa Indonesia sepanjang pelajaran atau ngajarin sesuatu yg salah.

Ditambah lagi perilaku guru (biasanya yg udah tua) yg merasa dia tau segalanya jd ga usah belajar lagi. Ilmu dan skill ga pernah ke-upgrade.

Di kurikulum 2013 jam pelajaran bahasa Inggris utk SMP/SMA dikurangi & utk SD ditiadakan (ga wajib). Ini jd kayak lingkaran setan.. Ngerii.

Anak-anak yg kurang terekspos bahasa Inggris ini nanti dewasa jd guru bahasa Inggris dan akhirnya ujung-ujungnya jd guru spt yg td. Ngerii..

Yg lebih ngeri lagi adalah keadaan ini (banyak guru bahasa Inggris dr Indonesia yg ga berkualitas) bikin celah utk guru-guru asing masuk.

Saya ga bilang guru penutur asli itu jelek atau ga perlu. Tp imbasnya ke persaingan tenaga kerja di dlm negeri — yg kadang ga masuk akal.

Gaji guru penutur asli (biasanya dr negara-negara asal bahasa Inggris) di lembaga kursus biasanya 3-4x lipat guru Indonesia utk entry level.

Yg bikin ga masuk akal bukan ketrampilan bahasa Inggrisnya (jelas ‘bule’ takdirnya dr lahir udah pake bahasa Inggris dong ya, pastinya fasih).

Tp kualifikasi mereka di luar ‘bisa bahasa Inggris’. Sama aja spt menjeneralisasi semua orang Indonesia pasti bisa ngajar bahasa Indonesia.

Kenyataannya mengajar itu perlu ketrampilan khusus. Saya banyak contoh kok ‘guru’ penutur asli yg ga suka ngajar, malah asal-asalan banget.

Tapi walo ‘asal-asalan’ gitu gaji mereka 4x di atas saya dong.. Bagi kalangan guru bahasa Inggris di Indonesia ini udah bukan rahasia lagi.

Saya masih respek sama guru penutur asli yg mengajar bahasa Inggris krn dia menikmati itu, punya gelar di bidang yg sesuai, dan kompeten.

Banyak kah guru penutur asli yg kompeten spt ini? Banyak.. Banyak kah guru penutur asli yg ga kompeten dan asal-asalan? Banyak juga..

Jd sama kayak guru Indonesia jg. Jd mentang-mentang ‘bule’ jangan langsung ‘takluk’ (baca: percaya 1.000%). Cari tau/tanya kualifikasinya, pengalamannya, dsb.

Jangan cuma orang dalam negeri, Indonesia, yg terus-terusan dipertanyakan/diragukan kualifikasinya. Kualat banget sama negeri sendiri..

Kalo cuma pengen temen ngobrol penutur asli, mending ke internet, cari temen chatting, jangan ke tempat kursus. Tempat kursus buat belajar.

Jadi apa nih intinya? Intinya apa? Pesan utk para calon & guru bahasa Inggris: PR-mu banyak. Belajar bahasa Inggris, pengajaran, pendidikan.

Bahasa Inggris skrg statusnya lingua franca. Cepat/lambat kualitas guru ga akan lagi dilihat dr warna kulitnya. Kita harus ambil momen itu.”

“Meong Meong” dan masa depan permainan tradisional Indonesia

Lomba menulis dengan tema seperti ini sudah lama saya tunggu-tunggu. Tak heran ketika Indonesia Travel mengumumkan kompetisi ini saya langsung bersemangat dan bergairah. Jantung seperti terpompa dan wajah tak hentinya sumringah. Permainan dan dunia anak-anak bukanlah hal asing bagi saya. Bukan hanya karena saya mengalami sendiri masa-masa memainkan permainan tradisional bersama teman-teman sekomplek atau sekolah ketika saya kecil dulu, tapi juga karena saya seorang guru bahasa Inggris. Apa hubungannya guru bahasa Inggris dengan permainan tradisional Indonesia? Mari saya ceritakan…

“Meong meong alih ja bikule

Bikul gede gede

Buin mokoh mokoh

Kereng pesan ngerusuhin”

Walaupun orangtua saya lahir dan besar di Surabaya dan Blitar, saya dan segenap saudara kandung dibesarkan di Bali. Karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di Bali, saya merasa lebih lekat dengan budaya Bali ketimbang budaya asal orangtua saya, Jawa Timur. Ketika ditanya tentang asal (daerah), saya akan kesulitan menjawab. Alih-alih memberikan penjelasan yang panjang, saya biasanya cukup mengatakan, “Indonesia.” Saya merasa beruntung ketika kecil bersekolah di sekolah negeri di mana saya bisa berkumpul dengan banyak orang setempat dan belajar tentang budaya lokal, mulai dari aksara (huruf) Bali, tari, sampai permainan anak-anak. Tiap jam mengaso kami hampir selalu memainkan permainan tradisional, dan bahkan beberapa lagunya saya hapal di luar kepala hingga sekarang! Mungkin ini lah efek nyata memperkenalkan sesuatu kepada anak-anak sejak dini: mereka akan membawanya sampai tua.

Satu di antaranya yang paling saya ingat adalah “Meong Meong”. Lirik dan tema lagunya sederhana. Seperti yang mungkin sudah Anda tebak, ‘meong’ berarti kucing dalam bahasa Bali. Jika diterjemahkan secara lepas ke dalam bahasa Indonesia, lagu ini menceritakan tentang bagaimana si penyanyi (anak-anak yang sedang bermain) menyuruh sang kucing untuk menangkap si tikus (meong meong alih ja bikule), yang besar dan gemuk (bikul gede gede, buin mokoh mokoh), yang suka bikin onar (kereng pesan ngerusuhin). Bikul = tikus. Cara memainkannya juga seru. Ada tiga jenis peran yang harus dimainkan: satu anak menjadi kucing, satu menjadi tikus, dan sisanya membentuk lingkaran sambil berputar dan bernyanyi untuk melindungi tikus. Kucing dan tikus akan berkejar-kejaran. Dan ketika kucing berhasil menangkap tikus, akan ada kucing dan tikus baru yang menggantikan. Biasanya permainan ini dimainkan di halaman yang cukup luas.

Sekarang setelah saya pikirkan kembali, alangkah dalamnya sebenarnya metafora yang ingin direpresentasikan permainan tradisional ini. Di tengah carut marutnya politik nasional, ketidakpastian hukum, serta perang melawan korupsi, “Meong Meong” serasa ingin melambangkan perjuangan kebaikan melawan keburukan yang tiada henti dan pantang menyerah. Seberapa pun sulit kucing mengejar tikus dan seberapa pun bersikukuhnya ‘benteng’ berusaha melindungi si tikus, ia akan terus melakukannya sampai dia dapat. Bagi anak-anak, pesan permainan ini sesungguhnya sederhana: bahwa harusnya dalam melakukan kebaikan, seseorang hendaknya tidak mudah putus asa dan menyerah.

Permainan "Meong Meong" yang biasa dimainkan anak-anak.

Permainan “Meong Meong” yang biasa dimainkan anak-anak

Tahun 2006, untuk pertama kalinya saya memainkan permainan ini lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Saya dan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengajar bahasa Inggris di Desa Tenganan Dauh Tukad, desa wisata yang terletak di Kabupaten Karangasem, yang cukup dikenal karena budaya Bali asli-nya (Bali Aga). Pagi hari sebelum kami mulai mengajar di sekolah dasar setempat, kami kumpulkan anak-anak kelas 4, 5, dan 6 di lapangan. Sejenak kami memikirkan kegiatan pemanasan yang asyik sekaligus menyehatkan. Seorang anak nyeletuk, “Meong Meong!” Ingatan saya lalu kembali ke masa-masa sekolah dasar. “Saya suka permainan ini!” seru saya dalam hati. Kami pun bermain dengan seru, dan anggota tim yang berasal dari luar Bali pun sangat menikmati permainan ini. Ramai, lucu, penuh tawa dan gerak. Selesai bermain kami masuk kelas masing-masing dan saya pun melanjutkan dengan memberi materi tentang nama-nama binatang dalam bahasa Inggris.

Tapi saya tidak menyadari betapa pentingnya pengalaman ini sampai saya memulai karir mengajar saya di tahun 2008. Untuk pertama kalinya saya mengenal dunia pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak dan remaja. Sebagai seorang guru baru, selama seminggu penuh saya mengikuti kegiatan orientasi di mana di dalamnya saya diharuskan untuk mengetahui permainan-permainan yang bisa dipakai di kelas sebagai kegiatan pembuka atau pengisi (kami menyebutnya ‘warmers’ dan ‘fillers’). Setahun penuh saya menjadi terbiasa dengan semua permainan yang ada di sana. Beberapa favorit saya adalah ‘Hot Seat‘, ‘Charades‘, dan ‘Musical Chairs‘. Hanya saja, satu hal yang membuat saya penasaran, “Apa yang membuat permainan-permainan ini begitu istimewa? Tidakkah mereka sama dengan permainan-permainan yang biasanya saya mainkan dengan teman-teman saya ketika SD di luar kelas?” Pada kenyataannya, dari sifat dan tujuannya: sama. Yang membedakan: bahasa pengantar dan tentu asal muasalnya.

Di sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pascarsarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, permainan tradisional “Meong Meong” terbukti dapat mengembangkan sikap sosial anak. Disebutkan lagi, sikap sosial terdiri dari kepercayaan diri, disiplin dan sikap kooperatif. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa permainan ini memicu interaksi antara para peserta dan guru. Dengan nada yang sama, dalam sebuah blog post di website BBC Teaching English, mengapa dalam kelas bahasa Inggris permainan sangat dianjurkan untuk dilakukan, karena penting untuk perkembangan fisik, intelektual, dan sosio-emosional seseorang. Dan ini berlaku tidak hanya untuk anak-anak, namun semua orang dari berbagai umur. Ketika Anda berada di tengah-tengah permainan “Meong Meong” (silakan bayangkan), Anda pasti akan merasakan hal ini benar.

Lalu rasa penasaran saya kembali terusik ketika di tahun 2011, untuk keperluan persiapan sebuah acara, saya bertemu Bapak Made Taro, seorang ahli cerita rakyat dan permainan anak-anak Bali. Saya sempat mengobrol beberapa saat di rumah beliau dan betapa kecintaan dan semangatnya akan dunia yang digelutinya membuat saya berpikir lebih jauh… Tidak bisakah kita melakukan sesuatu untuk permainan tradisional Indonesia? Pak Made Taro hari ini berumur 74 tahun. Dan semua orang tentu tidak bisa hidup selamanya. Pikiran saya kembali ke permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya… Apa yang membuat mereka masih dimainkan hingga sekarang? Apa yang membuat mereka tetap ada? Permainan-permainan ini bisa dibilang tidak muda alias kuno. Tapi masih dimainkan hingga sekarang.

Sampai hari ini, kesimpulan akan pertanyaan-pertanyaan saya tadi mengarah pada dua hal. Satu, permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya masih hidup hingga detik ini karena mereka bisa secara luas dan sebebas-bebasnya dimodifikasi oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Untuk satu permainan saja, saya bisa menemukan puluhan versi. Dan tidak ada seorang pun yang sepertinya mempermasalahkan versi mana yang ‘benar’ atau versi mana yang ‘salah’. Sungguh sayang sekali ketika kita secara tidak produktif mengartikan ‘mempertahankan budaya’ dengan cara menempatkan suatu (katakanlah) tradisi kuno sebagaimana adanya (karena mengubahnya berarti tidak mempertahankan budaya atau bentuk asli?) dan membuatnya menjadi tidak terjangkau masyarakat luas. Contoh sederhana adalah bagaimana tidak banyak anak muda yang tertarik dengan pentas seni Ludruk di Surabaya. Karena tidak ada modernisasi dan inovasi, stagnan, dan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Dua, selain mengalami modifikasi (dan dengan kata lain, interpretasi bebas dari banyak pihak), untuk tetap hidup, permainan-permainan tradisional perlu berkembang dalam hal media penyampaiannya. Banyak dari kita tentu tahu ‘Hangman‘. Permainan sederhana yang juga saya pakai ketika mengajar ini tercatat muncul dari masa pemerintahan Ratu Victoria di Inggris di tahun 1800-an. Dan yang kita tahu sekarang, ‘Hangman’ bisa dengan mudah dimainkan di komputer, smartphone, dan internet dengan berbagai macam versinya. Jika kita ingin mengembangkan permainan-permaianan tradisional dengan cara ini, tentu kita tidak lagi mengandalkan orang-orang seperti Pak Made Taro.

Saat ini, penguasa ilmu dan teknologi adalah anak-anak muda. Saya ingat dosen Sastra Inggris saya dulu sempat berucap (dan di mimpinya ini saya juga percaya), hanya saja jika mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus-kampus di Indonesia bisa bersatu (bukannya malah dikotak-kotakkan ketika MOS), mungkin kita akan bisa menciptakan computer game atau online game paling keren sedunia. Dengan cara? Lulusan teknik komputer, antropologi, sejarah, bahasa, sastra, dsb semua bersatu dalam menyelesaikan sebuah maha proyek. Dan dalam kolaborasi yang seperti inilah saya percaya masa depan permainan tradisional Indonesia akan menjadi cerah dan lebih dari sekadar nostalgia untuk yang tua. Mereka akan tetap hidup – selamanya.

Apa untungnya mengembangkan permainan tradisional dengan cara ini? Banyak orang mulai mengkhawatirkan semakin surutnya minat anak-anak muda terhadap permainan tradisional. Daripada memaksa mereka memahami sesuatu yang tidak lahir di masanya, generasi yang besar dengan permainan tradisional dapat menjadi jembatan dengan mengembangkannya. Maka permainan tradisional ini masih bisa digunakan dan dipahami oleh orang-orang dari berbagai generasi. Selain itu, masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki minat akan tradisi kuno akan juga mengenal dan tertarik pada permainan tradisional. Di satu sisi kita mempertahankan ciri budaya lokal Indonesia, di sisi lain kita mempromosikannya. Bukankah ini seperti mendapatkan dua sisi mata pisau yang sama-sama baik? Lagipula, jika ini terjadi, sebagai orang Indonesia, masa sih kita tidak bangga? 🙂

PS: belum pernah melihat dan mendengar permainan dan lagu “Meong Meong”? Video YouTube ini Meong Meong – Tembang Bali bisa membantu Anda membayangkan betapa serunya permainan ini.

Terima kasih kepada:

Foto: Meong Meong – Tembang Bali.

Penerapan Permainan Tradisional Meong-Meongan untuk Perkembangan Sikap Sosial Anak

The importance of games in class

Hangman (game)