Melihat orang-orang baik di sekitar kita

How to spot a nice person: they know you; seeing you walking down the road from inside their fancy car, they offer you a lift. 

Learned my lesson. Being nice has nothing to do with clothes you wear, cars you drive, places you’ve been to. It requires almost nothing.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan aneh. Aneh karena tiba-tiba mengingat beberapa peristiwa menarik di masa lalu. Ketika saya SMP dan SMA, saya biasanya pulang dari sekolah ke rumah dengan menumpang angkutan umum (di sini kami menyebutnya “bemo”, walaupun rodanya tidak tiga). Paginya orangtua yang mengantarkan kami (anak-anak) ke sekolah. Entah kena nasib apa, SMP dan SMA saya keduanya sekolah unggulan pada saat itu, dan diisi banyak anak dari keluarga kaya dan terpandang. Waktu itu status orangtua saya masih sebagai entrepreneur yang belum “sukses”.  Maka tidak seperti murid-murid kebanyakan pada saat itu yang rata-rata diantar jemput (dan kebanyakan oleh sopir pula), sedikit dari murid-murid dari keluarga menengah ke bawah di mana saya termasuk di dalamnya, pulang naik angkot (saya sendiri harus beberapa kali dan diikuti dengan berjalan kaki). Harap diketahui, di Bali kami tidak memiliki kebiasaan menggunakan angkutan umum. Apalagi pada saat itu, angkutan umum masuk ke kategori kendaraan untuk orang-orang tidak mampu. Maka tak heran saya sering sekali kebarengan ibu-ibu yang berjualan di pasar.

Ada dua kejadian unik, aneh, ajaib, lucu (secara getir) yang saya ingat betul yang berhubungan dengan kebiasaan saya ngangkot jaman dulu ini. Dulu ketika ini terjadi, mungkin saya menganggapnya sepele. Katakanlah saya sekarang sedang sentimentil. Tapi pagi-pagi tadi ketika berangkat mengajar sembari mengingat kejadian ini, saya mbrebes mili sendiri di jalan. Sewaktu kelas 2 SMP, murid-murid kena giliran masuk sekolah siang hari. Tapi tiap kali pelajaran olahraga, biasanya kami pergi ke lapangan yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Lagi, karena tidak ada yang mengantarkan, saya biasanya berjalan kaki ke tempat cari angkot, lalu ngangkot. Satu waktu ternyata ada teman sekelas yang melihat saya berjalan. Beberapa waktu berlalu dan suatu saat dia bertanya pada saya, “Kamu ke sekolah jalan kaki? Aku lihat dari mobil dan papaku tanya.” Saya mengiyakan dan berlalu. Yang ke dua, ketika saya berjalan menuju tempat mencari angkot. Kebetulan yang satu ini angkot luar kota. Tiba-tiba seorang murid dari kelas sebelah tampak dari dalam mobil sedannya, tersenyum sambil melambaikan tangan. Walaupun sebenarnya tujuan kami searah, kendaraannya tetap melaju.

Lucu. Karena di tempat dan waktu lain ketika saya sama-sama masih SMP, malah terjadi peristiwa ini… Jika tidak berolahraga di lapangan, kami biasanya pergi berenang ke sebuah kolam renang. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Suatu hari, ketika teman-teman lain satu per satu dijemput oleh penjemput masing-masing, entah orangtua atau sopir, saya “terdampar” sendiri, belum memutuskan antara ngangkot atau berjalan kaki saja. Tiba-tiba seorang murid kelas sebelah menawarkan diri untuk ikut paman dia saja. Saya pun diajak mendekat ke yang dia bilang sebagai mobil pamannya. Ternyata… di luar sudah ada sebuah mobil ceketer (biasanya mobil bekas angkot, mobil carry jenis tua) menunggu kami. Bagian belakang mobil sudah tidak ada tempat duduknya, dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengangkut aneka jajanan ringan atau snack yang biasanya dijual di pasar dan warung-warung. Saya pun duduk di depan dengan teman saya itu, berdesakan di sebelah sopir. Yang membuat cerita ini menjadi lebih lucu dengan getirnya adalah siapa sebenarnya teman saya yang satu ini.

Yang pergi ke SMP yang sama dengan saya mungkin masih ingat dengan dia. Nama panggilannya diawali dengan K (saya lupa nama aslinya). Hingga saya SMA sampai kuliah masih banyak yang membicarakan dia. Katanya dia sudah masuk ke RSJ Bangli. RSJ? Rumah Sakit Jiwa? Iya, betul, mata Anda tidak salah. K dikenal aneh dan gila. Tiap hari sewaktu jam istirahat kerjanya berjalan-jalan dari kelas ke kelas, meracau, berkata-kata yang tidak masuk akal. Penampilannya pun tidak menarik, kumal, dan cenderung aneh. Walaupun demikian, adalah hobinya untuk mengaku dan mengatakan dirinya cantik. Maka tak heran dia hampir selalu jadi bahan cemohan dan bully murid-murid lain, terutama sekali anak-anak populer dan kaya. Saya tidak mengenalnya dengan dekat, tapi saya juga bukan di antara orang-orang yang membencinya. Akhirnya duduklah saya di dalam mobil ceketer itu. Tidak seperti mobil umumnya, kami berjalan cukup lamban, juga berputar-putar dan mampir ke pasar Badung. Dari situ saya bisa menyimpulkan pamannya berjualan di pasar itu. Saya sempat was-was tidak tahu dibawa ke mana, tapi pikiran saya salah. Akhirnya kami sampai juga.

Sesederhana kelihatannya ketiga peristiwa ini, ada satu hal yang bisa saya petik. Kebaikan seseorang seringkali tidak berhubungan dengan kemampuannya, apa yang dia miliki, pakaian yang ia kenakan, kendaraan yang ia kendarai, atau tempat-tempat yang sudah ia tuju. Seringkali orang-orang yang kelihatannya tidak mampu yang justru lebih bergegas dalam membantu sesamanya. Bisa jadi karena kegetiran sudah lama menjadi teman dekatnya. Maka melihatnya terjadi pada orang lain ia pun tak bisa tinggal diam. Ini lah inti dari empati; mampu ikut merasakan kesulitan orang lain, lalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Yang menjadi kekhawatiran saya adalah ketika anak-anak jaman sekarang (atau bahkan sejak jaman saya dulu, dibuktikan dengan peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan di atas), telah diputus tali empati dan rasa belas kasihnya kepada sesama manusia, apalagi karena dibutakan dengan nilai-nilai hidup yang menjunjung tinggi materi dan individualitas, bahwa yang terpenting adalah memperkaya dan mengamankan diri, keluarga, dan dinastinya sendiri. Generasi seperti ini kah yang akan menjadi ahli waris kita?

Dengan segala kekurangan yang ada dalam keluarga saya, setidaknya saya masih ingat dan akan selalu mengingat satu kejadian ini. Ketika saya melihat teman satu sekolah melambaikan tangan dari dalam mobil sedannya, satu waktu saya dan ibu dari dalam mobil carry kami melihat seorang teman sekolah saya dari kelas lain sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang lewat. Saya pernah bersama-sama naik angkot yang sama dengan dia dan tahu bahwa rumahnya lebih dekat dari rumah saya. Maka ketika ibu bertanya siapa anak itu (karena mengenakan pakaian seragam yang sama) dan mendapatkan jawabannya, ia lalu memberhentikan mobilnya dan mengundang anak laki-laki bertubuh tambun itu untuk naik. Dia tidak mengatakan apa-apa selain terima kasih. Sekarang di saat lebih mudah bagi orang-orang untuk membeli kendaraan dan ada kebudayaan baru untuk ngangkot, mungkin memberi tumpangan bukan lah hal istimewa. Tapi saya tahu, walaupun dulu hanya satu yang memberikan saya tumpangan, saya harus memulai dari diri sendiri; selagi bisa, memberi tumpangan pada siapa yang membutuhkan, secara harfiah maupun metafora.

Peringatan: tulisan ini 100% subyektif. Saya memberikan kebebasan penuh kepada pembaca untuk setuju atau pun tidak menyetujuinya.

Advertisements

Mengajar bahasa Inggris dan cerita-cerita lucu di sekitarnya

Cerita di bawah ini diambil dari pengalaman saya sebagai guru dan admin les privat. Semua berdasarkan kisah nyata dan diceritakan kembali di sini tidak dengan tujuan menjelek-jelekkan yang bersangkutan, tapi semata-mata untuk hiburan. Setelah kejadian rata-rata sang “pelaku” menyadari perilakunya dan kami pun tertawa atau tersenyum gembira. Semoga pembaca sekalian terhibur. 🙂

Satu…

Suatu hari seorang teman minta dicarikan seorang guru les privat bahasa Inggris untuk anak temannya. Seperti biasa, sebelum les privat dimulai, saya berkoordinasi dulu dengan guru yang bersangkutan dan mengabari klien (yang kebetulan dalam hal ini bapak siswa yang akan diajar) dengan informasi mengenai guru yang akan mengajar, seperti nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Setelah semua beres dengan sang guru, saya pun mengirimkan sms ke bapak ini:

“Pak, nanti yang mengajar A _ _ (nama anaknya, saya lupa) dengan Ms Eka ya, pak. No telp sekian sekian. Thank you.”

Selang beberapa detik setelah itu telepon saya malah berdering. Dari bapak ini. Pikir saya, “Ada apa ya? Ah, mungkin ada yang mau ditanyakan.” Saya pun mengangkat teleponnya. Dengan agak panik bapak itu langsung berkata, “Mbak, anak saya perempuan lo dan agak pemalu. Tolong dicarikan guru perempuan saja.”

Saya langsung mengernyitkan dahi. “Lo, maksud bapak ini gimana sih? Kan itu tadi perempuan,” kata saya dalam hati. “Maksudnya bagaimana ya, pak?” tanya saya polos. “Itu lo, mbak, kok gurunya Mas Eka… Anak saya kan pemalu kalau gurunya laki-laki.” PAUSE. Ya, berhenti dulu di situ. Dan saya pun kontan… Menahan tawa!

Dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan bapak ini, saya pun menjawab, “Ooh… Itu… “Ms” itu “miss”, pak, bukan “mas”. Jadi perempuan kok.” Ibarat sedang chatting atau sms, di akhir perkataan saya ini saya tambahkan sebuah smiley untuk menjaga harga diri si bapak. Nada si bapak pun tiba-tiba berubah, dari panik ke lega. “Ooh… Begitu… Baiklah kalau begitu.” Bisa saya bayangkan bapak ini mungkin sedang senyum-senyum sendiri di seberang sana.

Dua…

Baru-baru ini beberapa staff sebuah perusahaan sepakat untuk les bahasa Inggris bersama. Jadilah mereka berlima ada di kelas saya. Kami membicarakan banyak hal dari tips berbahasa Inggris dengan berani sampai grammar. Di pertemuan ke dua kami membahas Present Simple Tense. Setelah memberikan penjelasan, saya pun meminta mereka untuk mengerjakan soal-soal di handout yang saya berikan.

B (bukan nama sebenarnya, hehe…), yang biasanya memang sangat gemar berbicara, tiba-tiba meminta saya untuk mengoreksi jawaban yang tengah ia kerjakan. Saya pun mendekat dan melihat satu per satu. Karena pemahaman akan tenses belum jelas betul, ia menggunakan “can” dalam salah satu contoh kalimatnya. Setelah saya menjelaskan sedikit, ia memperbaiki jawabannya dan kali ini kalimatnya benar.

“Good! This one’s correct,” kata saya padanya. Dan sedetik setelah itu… Tanpa disangka, tanpa dinyana, ia pun berujar, “I am!” sambil menepukkan tangan ke dada dengan nada membanggakan diri, persis seperti ketika seseorang bilang, “Aaa… kuuu!” dalam bahasa Indonesia.

PAUSE. Semua mata kontan tertuju padanya dan gelak tawa langsung membahana ke seluruh ruangan. Entah sengaja atau tidak, tapi perilakunya ini cukup dikenang. Buktinya di pertemuan berikutnya tak hentinya kami menggodanya dengan berujar, “I am!” tiap kali ia berhasil mengerjakan sesuatu di kelas. Dan dia pun seolah-olah bangga telah berhasil membawa gelak tawa di dalam kelas. “I am!”

Tiga…

Kejadian yang satu ini terjadi baru-baru saja. Seorang siswa SMP (berumur 14 tahun) asal Hungaria tengah cuti dari sekolah di negara asalnya dan selama tiga bulan bersekolah di sebuah sekolah internasional di Bali sembari mengambil les privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Di pertemuan pertama kami, ia masih hanya ditemani oleh sepupu yang menjaganya. Sampai suatu hari di pertemuan ke dua, saya bertemu ayahnya yang baru tiba di Bali.

Sebelumnya, saya diperkenalkan dengan ibunya. Seperti anaknya yang fasih berbahasa Inggris, ibunya pun begitu. Saya tidak punya masalah berkomunikasi dengan mereka. Sebelum saya akhirnya bertemu ayahnya, murid saya ini “memperingatkan” saya kalau ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun manggut-manggut saja. Kami pun duduk. Beberapa menit kemudian ayahnya pun muncul. Dengan wajah sumringah tangan kanannya menjabat tangan saya sementara tangan kirinya berusaha merangkul pundak anaknya. Dengan lantang ia langsung berkata, “My parents!” [Orang tua saya!]

PAUSE. Kami bertiga (saya, murid saya, dan ibunya) langsung tertegun sejenak dan saling berpandangan. Murid saya dan ibunya kontan meledak dalam tawa. Anaknya yang memang usil sampai pertengahan sesi pun tidak berhenti tertawa mengingat ucapan ayahnya. Ibunya langsung mengoreksi sang ayah. Harusnya ia mengucapkan, “I am her father,” [Saya ayahnya.] atau, “She is my daughter.”  [Dia anak perempuan saya.] Wajah ayahnya pun bersemu malu, sementara murid saya masih terbahak-bahak, saya cuma bisa menghibur sang ayah dengan mengatakan, “That’s OK, it’s not a problem at all.” [Gpp kok.]

Nah, menurut Anda, cerita mana yang paling menghibur? Atau justru tidak ada? Atau punya cerita-cerita lucu yang serupa? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Atau suka? Jangan lupa like atau share. 🙂

Kita harus berpikir karena kita bukan domba

Kalau kamu bisa membaca tulisan ini, jelas itu berarti kamu bukan domba dong ya? Karena anak TK pun tahu, domba (sejauh ini) tidak bisa membaca. Sejak memutuskan untuk menjadi ‘orang bebas’ rasa-rasanya pikiran ini lebih sering tergelitik dari biasanya. Bukannya saya tidak terbiasa untuk berpikir. Duluuu… Waktu jaman kuliah, berpikir itu sudah jadi bagian sehari-hari. Selain karena dianjurkan dan diwajibkan (jika tidak, bagaimana caranya memahami materi cultural studies yang ribet itu dan lulus dengan selamat?), juga karena ada kebutuhan dan kesenangan ke arah itu. Dan kemarin saya tergelitik kembali setelah membaca tulisan tentang imperialisme di spunk.org, What causes imperialism? setelah sebelumnya pikiran melayang-layang mencari-cari jawaban kenapa kerajaan-kerajaan di Eropa dulu memulai kolonialisme ke Amerika, Asia, dan Afrika (yang belum paham silakan pegangan dulu).

Di tengah membaca artikel yang komprehensif itu saya merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan dan waktu untuk belajar, di tengah-tengah dikejar deadline ini itu dan jadwal mengajar yang kadang bikin susah bernapas. Saya lalu mengingat kembali masa-masa dulu saya ketika masih jadi… Um… Apa istilahnya? Corporate slave (secara harfiah artinya = budak perusahaan)? Jika saja saya memutuskan untuk tidak berhenti, bisa saja kesempatan ini tidak akan pernah datang kepada saya. Pikiran dan ilmu masa-masa kuliah yang masih cacat bisa disempurnakan karena pemahaman dunia yang lebih baik. Saya masih ingat dulu, ketika teman sekantor memergoki saya membaca buku, dengan anehnya dia bilang, “Kamu kok suka baca sih? Aku gak bisa kayak gitu.” Saya tidak bisa menyalahkan dia, karena membaca (yang di luar pekerjaan) bukanlah tuntutan bagi dia dan tidak secara signifikan menyumbangkan sumbangsih ke pundi-pundi rupiah yang sedang dia kumpulkan.

Di tengah-tengah itu semua akhirnya saya ngetwit:

  • Who says knowledge is useless? You will always need light when all you see is darkness. Unless you want to keep on walking… in the dark.
  • Memutuskan berhenti jadi buruh upah mungkin keputusan terbaik yang pernah aku buat, karena sekarang hidupku bukan cuma untuk kerja – tidur – makan – hangout.
  • Sudah sering bilang begini, tapi bukan berarti mengklaim jalan hidupku yang paling benar. Aku merasa kita kuliah memang bukan untuk jadi buruh upah.
  • Syukur-syukur pas kuliah diajari (dan diwajibkan) cara berpikir kritis. Pas jadi buruh upah seolah-olah ilmu & kecakapan ini terbuang sia-sia.
  • Bagaimana mau dipakai, sehari-hari (bahkan lebih dari 8 jam sehari plus kadang di akhir pekan) segala tenaga & pikiran dipakai demi mendedikasikan diri pada perusahaan.
  • Bahkan di hari libur pun segala waktu didedikasikan untuk perusahaan. Tak heran banyak murid yang juga bekerja mengeluh tak ada waktu untuk belajar!
  • Oh ya, yang dimaksud buruh upah = wage labor. Kamu menawarkan tenaga & sebagai gantinya perusahaan memberi kamu gaji (baca: pegawai).
  • Gpp jadi buruh upah, tapi luangkan waktu untuk belajar/ tahu bahwa ada dunia & pengetahuan yang lebih luas dari ‘kotak’ yang kamu sebut ‘bidang pekerjaan’mu.
  • Ada internet & banyak ilmu gratis. Berhubungan dengan orang yang dianggap lebih tahu juga tak sesulit jaman dulu. Intinya: luangkan waktu untuk belajar.

Intinya: saya berpikir lagi, jika kita berharap perubahan dimulai (hanya) oleh orang-orang kelas bawah karena mereka yang terlihat paling pantas untuk marah dan murka dengan ketidakadilan yang ada (karena jelas mereka yang paling tidak diuntungkan), kok kayaknya impossible! Dan itu juga bukannya malah membuat kita terlihat seperti kelas menengah yang bodoh, kejam dan tega melihat orang lain menderita, yang penting hidup kita enak dan rekening kita gendut? Kita-kita ini yang kelas menengah, justru karena kita mampu, harusnya lebih peduli. Bukannya karena kita hidup sudah enak, buat apa saya mengurusi hal-hal yang kritis apalagi berbau politis? Percayalah, segala ketidakadilan terjadi karena sumbangsih kita yang DIAM saat melihatnya! Jangan jadi bagian dari apa yang rakyat Twitter bilang sebagai “Kelas Menengah Ngehek“, kelas menengah yang merasa kesuksesan (juga yang menderita “sok sukses syndrome”) adalah hasil jerih payah mereka sendiri, maka mereka merasa tidak ada urusan dengan segala yang ada di sekitar.

Hidup ini hanya sekali. Buat bermakna. Sumbangsih apa yang mau kamu berikan pada dunia yang kacau balau ini? Dan tidak, sumbangsih ini bukan sekadar doa atau sumbangan ke orang yang kurang mampu. Lebih dari itu. Dunia membutuhkan perhatianmu, perhatian penuh. Segala hal yang kamu putuskan untuk pikirkan dan lakukan, akan memberi efek ke lingkungan dan orang-orang di sekitar kamu. Setidaknya jangan bikin dirimu sendiri, anak-anakmu, dan orang-orang lain di sekitarmu jadi bodoh atau makin bodoh. Dan semua ini diawali dengan berpikir, diamunisi dengan ilmu (makanya jangan malas baca!). Kita ini bukan robot, apalagi domba. Jadi jangan mau dijadikan robot, apalagi domba! Kita ini manusia, yang punya hati, punya rasa kasihan dan kasih sayang. Jadi, masih mau jadi manusia yang isinya cuma kerja, tidur, makan, hangout? Berpikirlah. Kita harus berpikir, karena kita bukan domba!

PS: tulisan ini tidak disponsori/ di-endorse oleh merek atau perusahaan manapun dan bukan merupakan program CSR perusahaan apapun, tapi murni dari dalam hati yang terdalam.

Origami, cara berpikir, dan kreativitas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Xmas tree origami, kerajinan tangan pertama yang saya buat setelah bertahun-tahun lamanya vakum

Di rumah ada banyak kertas kado menganggur sisa  waktu masih punya online shop. Karena merasa tidak ada gunanya, saya berpikir sebaiknya dibikin apa ya kertas-kertas kado ini. Beberapa waktu lalu saya mencoba menjualnya tapi belum ada yang serius membeli. Akhirnya minggu lalu saya iseng buka-buka YouTube mencari tutorial kerajinan tangan menggunakan kertas. Secara mengejutkan saya berhasil membuat sebuah origami (lihat foto). Rasanya senang sekali karena ini adalah kerajinan tangan pertama saya setelah… 10 tahun!

Hah? 10 tahun? Kok bisa? Saya sendiri suka heran, terutama ketika saya kuliah, kenapa saya selalu gagal melakukan hal-hal ini: bikin kerajinan tangan atau craft (dalam bentuk apapun), menggambar, melukis, bahkan menulis kreatif. Heran karena sejak SD hingga SMA justru semua kegiatan ini adalah bidang ahli saya. Saya suka sekali menulis puisi, menggambar, membuat kartu ucapan sendiri (terutama untuk hari perayaan dan ulang tahun teman), membuat kerajinan tangan seperti pigura, hiasan dinding, dsb, menghias celana jeans saya sendiri, membuat craft book, dsb. Sayang semuanya sekarang entah di mana.

Beberapa tahun lalu saya sempat membaca bahwa kreativitas pada anak umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Begitu juga dengan kejeniusan. Dikatakan lagi, tiap orang terlahir jenius. Hanya saja ketika mereka dewasa, secara perlahan mereka kehilangan kecakapan ini. Faktor utama penyebab hilangnya kreativitas dan kejeniusan pada anak justru adalah institusi sekolah. Kreativitas juga sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir divergen (divergent thinking skill). Karena penasaran, saya akhirnya meng-Google beberapa artikel menarik mengenai hal ini. Selain karena saya penasaran kenapa saya tidak semahir dulu dalam hal membuat kerajinan tangan.

Sebelum saya menjelaskan penyebab menurunnya kreativitas pada anak, ada baiknya kita lihat dulu dua cara berpikir di bawah ini. Cara berpikir yang mendukung kreativitas adalah yang di sebelah kanan.

Dua cara berpikir: convergent thinking dan divergent thinking (klik untuk ke sumber gambar)

Dengan melihat gambar di atas dan mengingat bagaimana saya menjalani kuliah dan berusaha memenuhi segala tuntutannya, saya serta merta menjadi sadar mengapa begitu sulit bagi saya untuk kembali membuat kerajinan sewaktu kuliah (hingga sekarang ketika saya menjadi guru bahasa Inggris). Dikombinasikan dengan dua artikel ini, Age and creativity dan Some Possible Reasons for the Drop In Divergent Thinking, inilah penyebab menurunnya kreativitas pada orang dewasa. Pendapat yang saya simpulkan sendiri diberi tanda *.

  1. First and foremost, setelah saya kuliah (agak sedikit menyesal sih hahaha…) cara berpikir saya sama sekali berubah dibandingkan dengan ketika saya SD atau sekolah menengah. Memang saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkuliahan, karena di satu sisi saya harus menjalaninya jika saya menginginkan gelarnya, dan di satu sisi waktu itu saya maupun orangtua tidak mengetahui sedikit pun tentang 2 cara berpikir ini dan implikasinya. Ketika kita kuliah (terutama jurusan yang sama ambil, Sastra Inggris), kita dituntut untuk berpikir secara analitis dan logis. Yang artinya kita dituntut untuk mencari kebenaran. Dan seringkali kebenaran ini cuma satu, entah menurut dosen atau teori tertentu (lihat kembali gambar di atas). Maka sekarang jika dipikir kembali, apa yang sering dikatakan Bob Sadino, “Jika ingin jadi pengusaha sukses, jangan sekolah.” itu benar karena alasan ini. Seorang entrepreneur memang dituntut untuk selalu mencari jalan keluar dan menemukan cara baru demi dapat bersaing di dunia usaha. Tak heran juga banyak orang yang hanya lulusan SD atau SMP yang sukses menjadi pengusaha. *
  2. Karena tuntutan untuk mencari satu kebenaran, kita jadi cenderung takut mengambil resiko atau takut salah. Karena kesalahan akibatnya bisa fatal (dapat nilai jelek, tidak lulus kuliah, ketika bekerja dianggap kurang kompeten atau terampil, dsb), maka kita cenderung belajar bukan dengan inovasi dan penemuan tapi dengan cara meniru, seperti meniru orang lain yang dianggap sudah ‘sukses’ (supaya tidak gagal kan?). Dengan meniru artinya kita menghindari diri dari kemungkinan menemukan penemuan di luar yang sudah ada. Dan ini bukan pertanda baik bagi kreativitas.
  3. Masih berhubungan dengan 2 faktor di atas, penyebab ke tiga adalah pengajaran (di sekolah) yang dilakukan untuk tes atau ujian. Ketika kita sekolah, tujuan kita belajar adalah supaya ketika kita ujian kita bisa mengetahui jawaban yang benar. Tentu semata-mata untuk mendapatkan nilai yang ‘baik’. Karena pola pengajaran dan pendidikan yang seperti ini, akhirnya anak-anak tumbuh dengan anggapan hanya ada satu jawaban dari segala hal yang ada.
  4. Penyebab ke empat menurut saya yang paling penting. Di salah satu artikel disebut sebagai herd instinct (insting hidup dalam kawanan), sementara di artikel yang lain disebut sebagai the price of acceptance and conformity (harga penerimaan dan kepatuhan). Seiring dengan bertambah dewasanya kita, kita ‘diajak’ atau diajarkan untuk patuh pada aturan dan norma yang berlaku dan jika dilanggar akan mengakibatkan konsekuensi yang mengikat, contoh: apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Hal ini semata-mata demi kita bisa hidup di dunia dengan orang lain. Kita mencari aman dengan melakukan apa yang menjadi konsensus bersama yang harus dilakukan dan menghindari apa yang tidak boleh dilakukan. Jika kita menjadi ‘terlalu kreatif’ bisa-bisa apa yang kita lakukan atau pikirkan menjadi tidak terduga, maka berbahaya bagi orang lain. Mungkin contohnya seorang tulang punggung keluarga yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya, bisa mengakibatkan keadaaan ekonomi keluarga menjadi morat marit alias berantakan.

Wah, akhirnya saya menemukan jawaban dari semua ini. Bisa dibilang saya agak frustasi ketika mulai menggambar atau membuat kerajinan. Karena hampir selalu sulit memfokuskan diri untuk mulai mengerjakan karena pola pikir yang sama sekali berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Tapi saya harus berusaha mendobrak keadaan ini (lebay? No! I really mean it!). Jika saya sudah menemukan caranya, akan saya bagi lagi cerita saya di sini. Jika Anda mengalami hal yang sama, semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share. 🙂

Website bermanfaat untuk belajar bahasa Inggris

Mengingat banyak pembelajar bahasa Inggris yang berkunjung ke blog ini, saya berpikir akan sangat berguna jika daftar website yang bermanfaat di bawah ini bisa dibagi juga di sini. Beberapa website yang disebut merupakan saduran dari blogpost @EnglishTips4U#EngTalk #EngTips: list of useful English learning websites.

General English

  1. http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish
  2. http://www.ego4u.com/
  3. http://www.englishclub.com/learn-english.htm
  4. http://www.englishpage.com/
  5. http://englishtips4u.com/
  6. http://learnenglish.britishcouncil.org/en/
  7. http://www.learnenglish.de/
  8. http://learningenglish.voanews.com/
  9. http://www.myenglishpages.com/
  10. http://www.onestopenglish.com/
  11. http://www.phrasemix.com/
  12. http://www.reallifebh.com
  13. http://www.rong-chang.com/
  14. http://www.usingenglish.com/

Grammar

  1. http://www.azargrammar.com/
  2. http://www.englishgrammarsecrets.com/
  3. http://www.grammarbook.com/
  4. http://www.grammarinenglish.com/
  5. http://grammar.net
  6. http://www.grammaropolis.com/
  7. http://grammar.quickanddirtytips.com/
  8. http://www.roadtogrammar.com/

Idiom

  1. http://www.idiomsite.com/
  2. http://idioms.thefreedictionary.com/
  3. http://oels.byu.edu/student/idioms/idiomsmain.html
  4. http://www.phrasefinder.co.uk/

Kamus bahasa Inggris

  1. http://dictionary.cambridge.org/
  2. http://dictionary.reference.com/
  3. http://www.ldoceonline.com/
  4. http://www.macmillandictionary.com/
  5. http://www.merriam-webster.com/
  6. http://oxforddictionaries.com/us
  7. thefreedictionary.com/
  8. http://urbandictionary.com

Listening

  1. http://www.esl-lab.com/
  2. http://www.talkenglish.com/Listening/listen.aspx

Soal-soal latihan

  1. http://a4esl.org/q/h/grammar.html
  2. http://www.englishbanana.com/
  3. http://www.englishexercises.net/
  4. http://www.englishexercises.org/
  5. http://www.english-test.net/
  6. http://www.examenglish.com/

Social media belajar bahasa Inggris

  1. http://Livemocha.com
  2. http://www.mylanguageexchange.com/
  3. http://www.paltalk.com/

Video

  1. anglo-link.com
  2. http://www.engvid.com/
  3. http://www.youtube.com/user/bookboxinc
  4. http://www.youtube.com/user/ENGLISHCLASS101

Vocabulary

  1. https://www.vocabulary.com/

Writing

  1. https://owl.english.purdue.edu/owl/

Daftar ini akan terus disunting dan ditambah. Punya daftar yang lain? Silakan bagi di kolom komentar ya. Jangan lupa juga, like dan share. 🙂

Karena kebahagiaan tidak harus seragam kan?

Tiga tahun lalu, sewaktu saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan terakhir saya bekerja, orang-orang penasaran dan gagal paham kenapa saya berhenti (kan karyawan tetap, kan dapat gaji tetap, kan ada kesempatan karir). Beberapa orang yang saya temui pun menyayangkan, “Susah lho diterima di sana. Bukannya gajinya lumayan?” Dan banyak hal lainnya…

Entah kenapa sampai saat ini saya masih merasa dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan tidak sedikit yang mempertanyakan jalan hidup saya (mengelola bisnis kecil yang prospeknya “kurang jelas”), menyarankan saya untuk melamar kerja di perusahaan lain, atau bahkan secara terang-terangan menyuruh mengirimkan lamaran ke perusahaannya demi masa depan yang “lebih cerah”.

Sulit untuk menjelaskan keputusan saya, selain dengan alasan kehidupan yang seperti itu bukan untuk saya. Setelah dua tahun lebih bekerja untuk orang lain dan setahun bekerja di perusahaan terakhir, saya memutuskan untuk lebih banyak melakukan hal-hal yang saya suka, bukan apa yang orang lain minta saya untuk lakukan. Saya ingin menjadi saya, melakukan apapun yang saya mau.

Hingga kini saya masih suka gregetan seperti ingin mencari cara untuk benar-benar menjelaskan supaya mereka mengerti, “This is why!” Tapi rasa-rasanya sulit, terutama karena mereka bukan saya, dan saya bukan mereka. Sampai akhirnya tadi saya menemukan komik ini di laman Facebook seorang teman. Ini, ini! Seperti menjelaskan apa yang ada di dalam kepala saya. Ini lah alasannya kenapa! This is why!

Klik untuk ke sumber gambar

Karena kebahagiaan, tidak harus seragam, kan? 🙂

Practicing making questions with Past, Present, Future Simple using biographies of famous people

This is a simple activity if you want your students to practice making questions (or other activities that use the same tenses) in Past, Present, and Future tenses. There are 2 notions behind this activity:

  1. Tenses are usually taught separately and in isolation from each other. Inspired by Bloom’s Taxonomy, I was trying to apply an activity where students could make comparison between tenses. In this case because they have learned Present Simple, Past Simple, and Future Simple, thus this activity was created.
  2. After reading about Whole Language approach in language teaching and the importance of using authentic instead of artificial (read: textbook like) materials, I was intrigued to use more authentic materials in my class. The biography used here is an example.

Few notes before you do this activity:

  1. Make sure students have already learned about the 3 tenses and done some other necessary activities to practice them.
  2. Choose biography of a famous person who is still alive, because you need your students to also make predictions about the biographee’s life in the future to practice Future Simple Tense.
  3. You can choose to use biography in form of text, video, or the combination of the 2 where different types of skills are in practice.

Here’s how I did it:

  1. I used Bill Gates’ (mini) biography from Bio.com’s YouTube channel.
  2. Before viewing the video, students were divided into pairs.
  3. Students watched the biography, twice (more if you like).
  4. Each pair was instructed to make 3 questions using Past Simple, basically making questions about Bill Gates’ past.
  5. Before the next task, members of the group were swapped.
  6. Each pair was then instructed to make another 3 questions, this time using Present Simple, asking about Bill Gates’ current life.
  7. Members of the group were again swapped.
  8. Each pair for the last time was instructed to make 3 questions using Future Simple, making predictions about Bill Gates’ future.

At the end of the question making, you can ask students to either correct other groups’ questions or answer them. Here are some questions my students made, with few additions from me:

Past Simple Tense:

  1. Where was Bill Gates born?
  2. When did he found Microsoft?
  3. Did he drop out of school?

Present Simple Tense

  1. What does he do now?
  2. What is the name of his foundation?
  3. Is he a creative person?

Future Simple Tense

  1. What will Bill Gates do in 2014?
  2. Who will replace his position?
  3. Will he go bankrupt?

I hope this is useful for you. Don’t forget: like, share, comment. 🙂