Pengakuan seorang entrepreneur pemula

Seharusnya tulisan ini ditulis dalam bahasa Inggris supaya judulnya terdengar lebih ‘cetar membahana’, seperti ini: ‘the confession of a novice entrepreneur‘. Tapi karena saya yakin tulisan ini akan jadi jauh lebih bermanfaat jika yang membaca teman-teman di Indonesia, maka saya tulis dalam bahasa Indonesia saja.

Kenapa tiba-tiba menulis tentang entrepreneurship? Anggap saja saya ingin berbagi. Saya tidak akan memberikan tips jitu bagaimana menjadi seorang entrepreneur sukses, dsb. karena saya menganggap diri saya belum ‘sukses’ – setidaknya untuk ukuran yang saya inginkan. Dan saya tidak akan membohongi diri saya sendiri.

Saya menulis ini karena sebenarnya ingin memberi… Dorongan, dukungan, atau mungkin motivasi (tapi lantas jangan menyebut saya ‘motivator’ ya) untuk teman-teman yang mau memulai usaha atau menjadi entrepreneur. Satu hal yang pasti: tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Selebihnya, anggap saja saya sedang curhat.

Sejauh ini sudah ada sejumlah orang yang saya kenal yang melepaskan impiannya menjadi seorang entrepreneur untuk alasan yang yah… Sangat prinsipil: uang. Seperti juga saya, sebelum memutuskan untuk menjadi entrepreneur, mereka bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan (yang tentu milik orang lain).

Yang unik adalah, ketika memutuskan untuk 100% terjun memulai usahanya sendiri, mereka berhenti total bekerja di perusahaan tadi. Tapi beberapa waktu kemudian (bahkan hanya dalam hitungan bulan saja – bisa jadi karena alasan uang) akhirnya mereka kembali menyandang gelar sebagai karyawan… Di perusahaan lain.

Hidup itu pilihan (walaupun seringkali kita membuatnya tanpa sadar). Dan mungkin kembali lagi bekerja untuk orang lain demi kestabilan keuangan adalah pilihan mereka. Silakan. Karena pada kenyataannya, kecuali Anda mewarisi usaha keluarga atau orangtua, mengelola (apalagi memulai!) usaha sendiri itu tidak mudah.

Anda belum terkenal, brand Anda belum terjamah manusia lain selain Anda, keluarga, dan teman-teman (yang mau tidak mau karena mereka mengenal Anda pasti akan mendukung Anda), cash flow seret seperti PDAM kalau lagi mampet, penjualan gagal karena lagi-lagi kembali ke faktor pertama: Anda (atau brand Anda) belum dikenal.

Jangan salah, semua yang di atas itu makanan sehari-hari saya. Mungkin ini yang membuat orang-orang tadi keok dan menyerah. Bayangkan. Sebelumnya secara rutin menerima gaji di akhir (atau awal) bulan, sekarang tidak. Dulunya tidak harus mengurusi tetek bengek hulu hilir usaha, sekarang diperas otaknya untuk melakukan itu.

Maka dari itu… Baru juga beberapa bulan (belum tahun!) menjalankan usaha (yang awalnya dimulai dengan menggebu-gebu, semangat ’45, dan impian yang muluk-muluk bakal kaya raya, sukses, dan hidup leha-leha) akhirnya terhenti karena pikiran ini: “Kalau begini terus kapan dapat duitnya? Mending jadi karyawan lagi aja deh…”

Di sini makanya saya menganggap (dan sering berbagi tentang hal ini dengan teman-teman yang sama-sama sedang merintis usaha sendiri) bahwa satu hal penting yang paling (paling) mendasar yang diperlukan untuk menjadi seorang entrepreneur adalah: mindset (maaf, tebakan Anda meleset, bukan, jawabannya bukan modal!).

Jika jawabannya memang modal, ada begitu banyak orang yang memiliki cukup banyak uang (dan aset) tapi tidak kunjung menjadi entrepreneur. Bahkan saya sering mendengar, “Saya juga pengen punya usaha sendiri, kalau ada modal.” Tapi dia tetap jadi karyawan, padahal gajinya di atas 10 juta per bulan! Jadi ini mindset, bukan modal.

Mindset seperti apa yang dimaksud? Ada baiknya saya jabarkan hal-hal penting yang harus siap kita hadapi ketika memutuskan untuk jadi entrepreneur. Dan ini bukan bagian manisnya, tapi pahit!  Begitu pahit sampai-sampai tidak semua orang mampu bertahan (lebay ya? Mungkin… Tapi yang sudah mengalami pasti setuju). Ini dia:

1. Siap-siap merasa sendirian. Menurut liputan Republika (Januari 2013), jumlah wirausaha di Indonesia hanya mencapai sekitar 1,5% dari jumlah total penduduk Indonesia. Itu berarti hanya sekitar 3,5 juta orang di antara nyaris 250 juta orang penduduk (data dari Wikipedia). Artinya lagi, jika Anda adalah seorang entrepreneur, Anda adalah 1 di antara 100 orang. Artinya lagi, bayangkan 99 orang lainnya sibuk memamerkan kenaikan jabatan, THR, nongkrong di tempat-tempat hip, sementara Anda jungkir balik mempertahankan cash flow. Saran saya cuma satu: sabaaar. It’s not your time to shine – yet.

2. Tidak semua orang mau ‘mengerti’ keadaan Anda. Intinya: Anda harus menanggung semuanya sendiri. Karyawan, supplier, kreditor, mereka tidak akan mau tahu apakah Anda sedang mengalami kesulitan keuangan atau tidak. Yang mereka tahu hanya satu: Anda bertanggung jawab atas apa yang Anda janjikan ke mereka.

3. Tidak semua orang mau diajak susah. Masih berhubungan dengan nomor dua. Ketika baru merintis, jangan harap orang-orang akan segera mencintai Anda. Anda belum jadi siapa-siapa, belum punya apa-apa. Tidak semua orang mau ber-partner dengan Anda karena… Ya itu tadi, kredibilitas belum terbangun. Dan pada tahap ini ‘hasil’ jelas belum ‘kelihatan’. Besar kemungkinan Anda malah diremehkan.

4. Siap-siap kecewa. Istilah kerennya Bob Sadino: jadilah orang goblok, karena orang goblok gagal dan tidak kecewa. Penjualan menurun, ya sudah terima… Closing gagal, ya baiklah… Tapi bukan berarti pasrah lo ya! Hanya saja: siap-siap menjadikan kekecewaaan dan kegagalan teman baru. Takut? Entrepreneur sejati tidak takut!

5. Siap-siap terima uang tidak tetap. Siapa bisa menjamin jumlah penjualan akan sama tiap bulannya? Tidak ada. Anda bukan karyawan yang menurut kontrak akan menerima gaji sebesar sekian juta tiap tanggal sekian tiap bulan. Bisa menanggung ini? Kalau tidak, coba pikirkan lagi. Saran lain: coba rintis ketika masih jadi karyawan.

6. Siap-siap kerja 24 jam sehari. Iya, serius. Jadi bagi Anda yang kerja ‘hanya’ 8 jam sehari, merasa beruntung lah. Seorang entrepreneur yang ideal bahkan harus bekerja dalam mimpinya. Kalau Anda bekerja untuk perusahaan Anda sendiri, waktu tidak lah penting. Anda akan mencurahkan semua yang Anda punya, berapa banyak pun itu.

Apa saya mencoba menakuti-nakuti Anda? Tidak, sama sekali tidak. Saya cuma pengen bilang… Halah, masa baru segitu aja udah nyerah sih? Baru beberapa bulan… Baru setahun… Baru satu proyek… Baru… Baru… Baru… Coba ubah pola pikir “kebanyakan gagal = menyerah” dengan “baru segitu, belum segini”, dan bertahanlah! Jangan menyerah!

Dan ketika Anda merasa seperti mau menyerah, apa yang Anda lakukan? Bergaul lah dengan orang-orang yang juga senasib dengan Anda. Orang-orang yang baru memulai usaha, yang sama jatuh bangunnya dengan Anda, yang sama-sama tahu bagaimana rasanya. Setidaknya untuk saling memberi dan menerima dukungan.

Menyerah itu mudah. Apalagi godaan banyak. Tapi ingat: ini semua perjalanan, bukan sekadar tujuan. It’s difficult. But it’s possible. 

Dear students, this is what your homework really means to you

I was so embarrassed… To have given a speech in front of my class. But it was a speech I had to give.

Last week, a student from my business English class complained about me giving too much homework. I have to say this is a typical issue in adult classes. I understand they have lots on their plates: work, family, spouse (husband/ wife), kids, other stuff in other places, etc. In the past, what I usually did was let them get away with it. I would usually just give in to the idea that they should not be given any homework. But not today. Not again. So, what was the homework actually about?

I asked them to do pair work to present a topic on English tenses. Each group was assigned to prepare and present one tense based on the number they got. I mentioned about this assignment on this blog a little bit here. The presentation did not have to be perfect (probably only according to my point of view). I let them find their own materials and make the presentation outside class, and they did not have to prepare any handout. The supervision was done at the presentation.

When you teach at school, it’s easier to give your students homework. However, when you teach a group of adults, they will have all the reasons not to do it. Usually the higher their position is in the company, the more reasons they have to avoid doing it. To some extent, some adult students also think (probably because they are used to other people do the work for them?), that the success of their learning relies solely on what their teacher can make of them.

For all we know, as an English teacher, this kind of mindset is a bit… misleading. I believe, just like the Chinese proverb, teachers open door but students must enter by themselves. They have to be actively involved in and responsible for their own learning. And so with a smile and a bit of wrinkles on my forehead, I replied:

“English is not a content subject where you can read a book one night and suddenly speak English the next day. One needs to constantly keep in contact with the language. We only have two times 90 minutes a week. Do you really think that your English will improve in just 3 hours a week? I personally think as an English teacher, no, it won’t. That’s why I’m giving you homework. The homework functions as a bridge. The bridge to connect the time you learn in class and outside class. So you will not forget that you are learning English when you’re not here.

This is not the first time I teach adult class, and I’ve seen many classes I taught did not give significant change in my students’ English. And I don’t want that to happen. Again. Especially to this class. I learned my lesson. Do you want this class to be effective? Do you want your learning to be successful? Well, I’m sorry that I have to break the truth: there’s no shortcut to success. You have to do the hard work. If you have a particular goal, I’m pretty certain you will somehow do anything possible to reach that goal. And I hope that’s what you do in this English class.

And so about the homework? That’s all for you, not for me.”

Do you think I am doing the right thing? Do you think that some tough love is necessary in teaching? Let me hear your thoughts. 🙂

List of free webinars for English teachers (plus some tips!)

Today while I was chatting on Facebook (I do this a lot, don’t I? Well, isn’t that the whole idea of PLN?) with Qori, a member of Indonesian English Teachers’ Club (IETC), I remembered that I had this idea of putting a list of free webinars for English teachers on this blog. I have shared these links on the group’s Facebook and joined some of them. But before you ask, here’s a little bit on what a webinar is.

What is a webinar?

I believe by now all of you are already familiar with the term ‘webinar’. However, if you haven’t, as you might have guessed it, a webinar is basically a seminar that is held online, on a website.

Webinar = web + seminar.

Thanks to the advancement of technology, thus educational technology, people now can hold seminar, workshop, presentation, lecture online, using website or other forms of online technology as the platform. By making all of these activities available online, knowledge and skills can now be easily transferred or distributed across countries with minimum cost (at least from the point of view of the receiver).

As many economists consider this as a ‘weird’ economic behavior, nowadays more and more high-profile institutions provide and host online classes, including webinars. And why is this weird? Because they provide them for free. If you’re into free online courses, you should go check these websites (though courses are not limited to English teaching): Coursera, Khan Academy.

Why should I attend a webinar (at least once or twice)?

  1. The first thing I would consider is because it’s totally free. However though, you still need to provide yourself a decent computer and internet connection.
  2. It can help with your professional development. I guess one of the most important reasons to be in a webinar is that you can get all the latest trend, knowledge, and skills that you need to teach in your class. That’s surely something you and your institution can benefit from. Also, you can meet other teachers from all around the world (or other cities in your country) and start connecting (remember PLN?).
  3. Even though they are free, the speakers of these webinars are mostly experts in their field. So why waste this chance?
  4. Attending a webinar and basically following the latest trend in education and educational technology in specific will give you a sense on what’s going on in the world out there.

What should I prepare for a webinar?

  1. First and foremost: a computer (or laptop). Some webinars can be accessed through tablet or mobile device, but computer is always the best choice. Some platforms (e.g. Adobe Connect) have limited support on mobile device functionalities, although some might not (e.g. Blackboard).
  2. The second most important thing: a stable internet access. I have followed some webinars and noticed that Adobe Connect has the heaviest load of all other platforms (again, this is based on Indonesian standard modem-based internet connection). I believe this is due to its many features that run at the same time: video, voice, online chat, slides. Before you attend a webinar, you are usually informed on what platform the host will use (but you can read about it in this blogpost), so you can at least prepare yourself with better internet connection.
  3. The third most important thing: your time. Even though it is conducted online and you can sometimes attend a webinar while doing other stuff offline, I am sure you don’t want to miss valuable information delivered in the webinar. And because of its online nature, a webinar can only be held for around a maximum of 2 hours, so things can really go fast while you’re at it.

Other tips on attending a webinar

  1. Because there are lots of webinars out there, sometimes we are confused on which to attend. One thing for sure, you do not have to attend them all. What I usually do is register for webinars on topics that I need and specialize. For example: I’m teaching mostly adults and ESP, that is why attending a webinar on teaching young learners is a second priority for me.
  2. Be active in finding information on where to find webinars, Google them, join clubs for English teachers that give information about them, and connect with other teachers who are following the trend and can give you the information.
  3. Always bookmark sites that provide webinars so you will not lose them in the future. If you’re using Diigo, that’s even better, because other teachers will be able to look at your list too.
  4. Note down the schedule of webinars you have registered so you will not miss them. Some automatically send iCal reminder via email. If you miss a webinar, you usually can watch the recording later. However, you will not be able to ask questions directly to the speakers or interact with other participants. Also, since the hosts of these webinars are not in Indonesia, you will need a time converter to convert the time into WIB, WITA, or WIT.

And… Here’s the list of free webinars for English teachers

  1. American TESOL Webinars. You do not have to register to the website if you want to join a webinar. Webinars are presented every Friday at 4 PM EST or New York time with Shelly Terrell. Simply visit the site at the time given and login. Platform: Adobe Connect.
  2. English Language Teaching Webinars by Oxford University Press. You need to register for a webinar before attending it although you do not need to register to the website. Registration is closed one day before the webinar. Certificates of attendance and presentation slides are available after the webinar. Platform: Blackboard.
  3. Teacher Training Webinars by Macmillan English. You need to register for a webinar before attending it. Seats are limited (up to 2,000?) but they are free. Recordings and presentations of previous webinars are available with no registration. Platform: Blackboard.
  4. International Teacher Development Institute (iTDi). iTDi occasionally conducts free webinars for members of the website. You have to register to the website to register for it. The website also provides an online community for English teachers from all over the world. So while you’re not attending webinars, you can still connect with other teachers, experts, and mentors. Platform: Adobe Connect.
  5. IATEFL Webinars. Webinars are free but the recordings are only available for paid members. Make sure you do not miss the date and time to make the most of the webinars provided. Presentation slides are available after the webinar but only for a short while before they are moved to members’ area. Registration is not needed. Platform: Adobe Connect.
  6. Shaping The Way We Teach English Webinars by American English. Here you can find recordings of previous webinars, including the presentations and resources that came with them. No information on upcoming webinars so far. Platform: Adobe Connect.
  7. Webinars for English Teachers by US Embassy in Lima, Peru. You have to visit their Facebook Page or subscribe to their newsletter to get information about upcoming webinars. Meanwhile you can watch the recorded webinars on their YouTube channel. No registration is needed. By far this webinar is the most bandwidth-friendly, most probably because it only provides audio and chat.
  8. TeachingEnglish Webinars by British Council. Recorded webinars are available on the website and no registration is needed. However, too bad there are no new updates on the webinar or other activities on the page. Platform: Adobe Connect.
  9. Cambridge English Teacher. You have to register to the website if you want to register for a webinar. Most of the webinars are provided for paid members. There are only few webinars available for free for non-members.

Last but not least, I hope this blogpost is useful for you and your professional development. Feel free to drop your comment(s). 🙂

Belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter

Jika saat ini Anda sedang dalam proses belajar bahasa Inggris, maka Anda harus mencari segala kemungkinan cara belajar bahasa Inggris yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dan jika Anda memiliki dana yang terbatas, belajar bahasa Inggris melalui internet bisa menjadi solusi yang jitu. Saat ini ada banyak website dan akun social media yang menyediakan pelayanan ini.

Misalnya, laman Facebook Active English, penyedia pelatihan dan les privat bahasa Inggris yang saya jalankan sejak 2010 lalu, yang tiap hari menyediakan tips seputar grammar, vocabulary (perbendaharaan kata), business English, dan idiom melalui gambar dan tautan artikel yang bermanfaat. Atau akun Twitter @ActiveEnglish_ dan @EnglishTips4U yang juga selalu memberikan tips bermanfaat.

Tapi ada kalanya Anda terlalu sibuk dan hanya memiliki sedikit waktu untuk membuka akun social media Anda, terutama jika Anda seorang profesional dengan jadwal yang ketat dan daftar pekerjaan yang panjang. Anda tidak perlu khawatir, karena saya melalui Active English baru-baru ini menerbitkan sebuah e-newsletter gratis yang bisa Anda dapatkan langsung di email Anda: Active English: Learners’ Guide.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter

Active English: Learners’ Guide, Volume 2, July 2013

Apa itu Active English: Learners’ Guide?

Semua konten yang ada di e-newsletter didisain sedemikian rupa agar bermanfaat bagi pembacanya. E-newsletter ini terdiri dari tips, cerita, inspirasi, tautan bermanfaat, serta tentu penawaran menarik tentang bagaimana kami bisa membantu proses belajar bahasa Inggris Anda. Menariknya, bagi Anda yang tiap hari berurusan dengan email, dengan berlangganan e-newsletter ini Anda tidak perlu lagi membuka browser atau laman lain. E-newsletter akan langsung hadir di inbox email Anda.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter b

Active English: Learners’ Guide, Volume 2, July 2013

4 cara memaksimalkan Active English: Learners’ Guide

Setelah berlangganan dan menerima e-newsletter, jangan hanya berhenti di situ. Lakukan hal-hal di bawah ini agar e-newsletter Anda memberikan lebih banyak lagi manfaat bagi Anda:

  1. Baca lebih banyak tulisan dan artikel di tautan-tautan yang diberikan.
  2. Like laman Facebook Active English dan ikuti Twitter @ActiveEnglish_ untuk mulai memanfaatkan social media sebagai tempat berkonsultasi online dengan guru bahasa Inggris dan admin kami.
  3. Manfaatkan penawaran-penawaran yang kami berikan.
  4. Hubungi kami melalui telpon, email, Facebook, Twitter, maupun WhatsApp untuk berkonsultasi lebih lanjut tentang bagaimana kami dapat membantu Anda atau perusahaan Anda dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Bagaimana saya bisa berlangganan?

Jika Anda tidak ingin ketinggalan edisi terbaru Active English: Learners’ Guide tiap bulannya, ada baiknya Anda berlangganan mulai sekarang. Caranya sangat mudah. Klik laman Berlangganan ini dan isi formulir berlangganan dengan informasi yang diminta, seperti yang terlihat di bawah ini.

belajar bahasa Inggris gratis lewat e-newsletter c

Formulir berlangganan Active English: Learners’ Guide

Belum berlangganan dan telah melewatkan edisi-edisi sebelumnya? Jangan khawatir, Anda dapat membaca dua edisi sebelumnya (Juni dan Juli 2013) di tautan-tautan di bawah ini.

Active English: Learners’ Guide Volume 1 June 2013

Active English: Learners’ Guide Volume 2 July 2013

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa: ambil kendali terhadap proses belajar Anda (take control of your own learning) dan berlangganan e-newsletter mulai sekarang. 🙂

7 reasons why you and your students will love LyricsTraining

Have you tried LyricsTraining? I have and I loved it. And so my students.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A small group of students played LyricsTraining (we used TV as the screen)

I bet many of us (English teachers) have tried this method (and your students once in a while would ask you to do that too): teach English through (English) songs by asking them to listen to a song and fill in the gaps of the song’s lyrics. Most of the time we prepared the song, lyrics, and worksheet by ourselves (yep, browsed, copy-pasted, edited, and printed it). With LyricsTraining, you do not need to do all that. Just prepare your computer and internet, and you’re ready to go.

Here’s 7 reasons why you and your students will love LyricsTraining:

  1. The website provides the latest songs and lyrics, things your students (or maybe yourself if you love (pop) music!) would love. You can search for your (or your students’) favorite songs, singers, bands, or lyrics in the Search box on top of the site.
  2. Songs and lyrics are categorized into 3 levels of difficulty: Easy, Medium, Hard. It makes it easier for students to choose what level they want to play. I guess lyrics levels are made based on the song tempo and vocabulary in the lyrics. The faster the tempo and the more advanced the vocabulary, the higher the level is.
  3. Aside from point 2, there are also 3 game modes you can choose for each song: Beginner, Intermediate, Expert. In Beginner mode, players only need to fill in 10% of the blanks, while in Intermediate they have to fill in 25% of the blanks. Expert mode means players have to fill in all the lyrics by themselves (no clues given).
  4. Just like karaoke, scores are provided at the end of the game. How do we get high scores? Type as fast as you can and choose the highest level and mode! This feature is great if you want to make students compete against each other.
  5. Here’s another interesting feature of this site. If you stop and can’t listen to the lyrics, the lyrics bar (the green highlight with arrows pointing down) will also stop and wait for you!
  6. Also, if you’re stuck and want to give up, you can choose to skip a word by pressing the Tab button on your keyboard. For more shortcuts you can click ‘Help’ at the bottom right of the video.
  7. Don’t feel like typing the lyrics? Go for a karaoke instead! Choose ‘Karaoke’ when you open a video and you can watch it with its full lyrics. You and your students can sing the song together.

Skills practiced and tips for maximizing LyricsTraining:

  1. Students can practice listening in a more challenging way.
  2. They can also practice (or test?) their vocabulary.
  3. Besides listening and vocabulary, we can also use LyricsTraining to teach grammar, idiomatic expressions, and slang. Before we play a song, it’s much better to prepare points students are about to practice in the song, choose the right song to do that, and prepare a follow-up activity afterwards. It gives them a sense of purpose and the practice will be more efficient and systematic.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

P!nk’s Raise Your Glass – as innocent as the song might be, it does contain some ‘bad’ words you don’t want your students to pick up

Some cautions!

However, though, I have some concerns and teachers need to be cautious before using LyricsTraining in their class, especially because of these reasons:

  1. Be very careful in choosing songs. Many of them use inappropriate language that might not be suitable for younger learners (or in fact, all learners). Other issue is although the lyrics might not be blatantly inappropriate, some (or many?) contain sexual implication.
  2. Even if the lyrics are fine, you still need to check the music videos, especially if they contain sexual imagery and nudity.

Well, I hope this post is useful. Ready to sing along? Happy playing!

Like this blogpost? If yes, please consider sharing it with your friends and colleagues by using the sharing buttons below. Thank you!

Finally, my first Prezi!

I am currently teaching a 4 month course of business English at a travel company and have this idea of asking my students to present English tenses and other grammar points in front of the class, instead of having me doing that (a little bit tricky? No. I believe many have done that, and the idea of flipped classroom that has been a hype lately has inspired me in doing this).

But first, before I ask them to prepare their own presentations, I have to make one myself as an example (only as an example – sometimes it’s difficult to ask students [especially Indonesians] to make or create something without an example. So before they ask me to give an example and I come unprepared, I’m making one for them now). Since the topic of their first presentation session is tenses, I will have to start with the first tense: the Present Simple Tense. Here it is the Prezi I made, a very simple presentation and you can make ones that are more complicated.

If you’re having trouble viewing this presentation, you can also view it on Prezi site here The Present Simple Tense.

My impressions on Prezi:

  1. It’s fun.
  2. Very easy to make.
  3. Very visual and attractive – think about increasing your students’ attention span.
  4. Very simple and clean.
  5. Although it needs internet connection, it doesn’t really require large bandwidth to view.
  6. Downloading portable Prezi is not recommendable as it takes years (not literally) – applies in Indonesia with regular modem-based internet access only.

I’m assuming that many people (read: my business English students) haven’t tried Prezi, so there are 2 main tasks that I will have to do. The first would be to guide my students’ presentations on tenses. The second would be to guide them on using Prezi.

If you’re interested in using Prezi and haven’t tried it yet, feel free to sign up here Prezi Sign Up.

Links to downloadable English Language Teaching (ELT) books and ebooks

A member of Indonesian English Teachers’ Club (IETC) asked me if we could have all the links of the downloadable books or ebooks that were posted on the club’s Facebook group in one page. So, here it is now. Happy downloading!

Continuing Professional Development – An Annotated Bibliography by Amol Padwad and Krishna Dixit.

Online books and articles by Stephen D Krashen.

Principles of Language Learning and Teaching by H. Douglas Brown, 4th edition.

A Course in Language Teaching by Penny Ur.

The Practice of English Language Teaching by Jeremy Harmer, 3rd edition.

Conversations in the Classroom by Chris Cotter.

Innovations in learning technologies for English language teaching edited by Gary Motteram.

Blended Learning in English Language Teaching: Course Design and Implementation edited by Edited by Brian Tomlinson and Claire Whittaker.

Some other books on English for tourism and Project Based Learning (PBL) are also available on IETC Facebook group. Please have a visit and search for them there.

This blogpost will always be updated once a new link is found (or broken). Have other links? Feel free to share them by leaving your comment(s). Thank you. :)

Bantu ekonomi lokal, makan di warung lokal

Tumben tulisan ini tidak ada hubungannya sama mengajar atau belajar bahasa Inggris. Boleh dong ya… Saya jadi tergelitik saja dengan orang-orang yang mendengung-dengungkan katanya cinta Indonesia, dukung ekonomi lokal, karya anak bangsa, dsb, tapi sehari-harinya makan di restoran fast food (cepat saji) atau tempat-tempat ‘wah’ lainnya yang kebanyakan empunya (baca: bos besarnya) bukan orang Indonesia. Jadi saya mau berbagi pandangan sedikit kenapa makan di warung lokal itu penting kalau (katanya) kita cinta Indonesia.

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar

Suatu hari saya membuat janji dengan seorang teman di sebuah tempat makan baru dengan gaya kebarat-baratan. Tempat makan ini bukan warung biasa, dengan menu campuran barat dan Indonesia. Karena saya ingin makan makanan yang mengandung nasi, jadi saya pesan soto ayam. Ketika hidangannya disajikan, saya pun mulai mencicipinya. Alangkah terkejutnya saya. Saya yang terbiasa makan di warung pinggir jalan langsung kaget dan rasanya ingin marah dan protes ke yang punya tempat. Sama sekali tidak terasa seperti soto ayam! Kuah hambar cenderung pahit. Bumbu sama sekali tidak terasa. Sementara 100 meter dari tempat itu saya tahu ada warung soto dan nasi goreng Jawa yang menjual soto ayam paling enak di Denpasar. Ini terlalu!

Sampai hari ini saya memang belum menyampaikan komplain atau keberatan saya ini ke pemilik atau manajemen tempat itu. Tapi biarlah saya simpan dalam hati dan saya ceritakan di sini saja. Inti dari pengalaman saya ini… Ada terlalu banyak tempat yang walaupun ia menawarkan kenyamanan, tapi makanan yang disediakan di situ justru tidak otentik dan tidak enak. Apalagi makanan yang berhubungan dengan makanan tradisional atau khas Indonesia. Rata-rata semua menawarkan kemasan yang menarik dan fasilitas yang dicari kebanyakan anak muda dan para profesional, misal: free wi-fi. Saya paham tiap tempat mempunyai model bisnis dan segmen pasarnya sendiri. Mungkin ini yang membedakan tempat-tempat seperti ini dan warung lokal biasa yang menjual ‘makanan asli’ (yang memang menjadi barang dagangan utama dan rasanya enak).

Rujak kuah pindang di warung rujak (tanpa nama) dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Rujak kuah pindang di Warung Pak Ketut Sudiana dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Bukannya saya tidak pernah makan di restoran atau restoran cepat saji, hanya saja kalaupun saya makan di sana, biasanya jarang sekali saya foto atau unggah foto-fotonya di media sosial. Alasannya sederhana, kebanyakan tempat-tempat itu sudah punya channel (saluran) promosi mereka sendiri. Tentu karena modal mereka besar. Tanpa kita mengunggah foto-foto makanan mereka di media sosial, mereka sudah cukup mampu mempromosikan makanannya. Lain halnya dengan warung-warung lokal (yang seringkali makanannya enak betul). Karena model bisnis mereka masih tradisional, maka mereka tidak mengenal sistem promosi seperti perusahaan besar yang modern. Justru kita harus membantu warung-warung yang dimiliki orang lokal ini.

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cenik Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cening Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Saya penggemar makanan Indonesia dan tidak pernah malu mengunggah makanan Indonesia se-ndeso apapun dan di mana pun ia berada – di dalam gang, dekat pasar, dari desa. Bukan karena ndeso-nya tapi karena makanan-makanan itu otentik dan sangat pantas untuk didukung. Jadi sudahlah, kalau ingin mendukung ekonomi masyarakat lokal, lakukan hal sederhana ini: sering-sering makan di warung lokal dan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengunggah foto-fotonya di media sosial, tentu dengan cara yang menarik. Jadi, jangan melulu ke mal ya… Hehehe… Saya bersyukur di Bali ‘cuma’ ada 3 mal (tolong jangan ditambah lagi!) dan sekarang ini saya jarang banget main-main ke sana… Selamat makan! 😉

Diigo: ayo bangun perpustakaan onlinemu!

Logo Diigo

Seorang rekan guru yang juga anggota Indonesian English Teachers Club lewat Facebook Chat baru saja menyarankan saya untuk memasukkan referensi ke dalam tulisan-tulisan saya di blog ini. Sontak saya langsung teringat dengan akun Diigo saya. Mungkin karena terbiasa ngeblog (baca: bukan menulis tulisan akademik atau ilmiah), saya jadi tidak terpikir kalau referensi itu perlu. Ditambah lagi kebiasaan ngeblog yang biasanya tanpa menyertakan referensi. Tapi bukan berarti saya tidak pernah membaca ya… (Guru yang tidak pernah membaca? Apa-apaan ini?)

Jadi apa sebenarnya Diigo? Diigo mungkin bisa dibilang sama seperti sistem Bookmark yang terdapat di browser pada umumnya. Untuk Chrome biasanya Bookmark berintegrasi dengan Gmail, di mana ketika kita login dengan akun Gmail kita, kita tidak perlu khawatir jika kita tidak menggunakan komputer atau device yang sama. Asalkan kita menggunakan Chrome dan login ke akun Gmail, kita pasti akan tetap bisa mengaksesnya di perangkat mana pun. Bedanya dengan Diigo, Chrome Bookmark tidak memungkinkan orang lain (selain pengguna akun Gmail yang bersangkutan) untuk melihat dan mengakses tautan-tautan yang telah kita simpan dalam Bookmark.

Di Diigo, jika kita lihat, tiap pengguna mempunyai My Library sendiri yang terdiri dari tautan-tautan yang telah ia simpan dan tanggal kapan mereka disimpan. Dan orang lain dapat membaca daftar tautan ini dan mengaksesnya. Jadi, My Library lebih seperti sebuah perpustakaan online (atau digital) yang terbuka di mana tiap orang bisa mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan dibaca seseorang. Konsep Diigo juga sebenarnya adalah media sosial. Jadi sesama pengguna bisa saling menambahkan kontak atau teman seperti layaknya Facebook. Tapi tanpa itu pun orang lain yang bukan teman dapat mengakses daftar bacaan kita selagi mengetahui tautan atau nama user (selagi ketika disimpan pengaturannya public, bukan private). Contoh: http://www.diigo.com/user/retnosofyaniek.

Bagaimana cara membuat akun Diigo? Sederhana. Buka diigo.com, klik Join Diigo, lalu isi keterangan yang diminta seperti halnya mendaftar di sebuah website atau media sosial pada umumnya. Setelah memiliki akun Diigo, kita akan diminta untuk mengunduh dan meng-install add-on Diigo di browser kita. Setelah add-on terpasang akan terlihat seperti yang ada di foto yang saya ambil dari komputer dan browser Google Chrome saya di bawah ini (di antara panah merah muda).

Diigo add-on di Google Chrome

Add-on Diigo di Google Chrome

Bagaimana cara mulai membangun perpustakaan kita sendiri? Buka laman yang kita baca, lalu klik add-on Diigo yang menampilkan logonya seperti di foto di atas. Kita bisa menyimpan laman yang kita baca berdasarkan tag (tagar) yang sesuai dengan konten atau isi laman. Misal: Laman dengan judul ‘An Introduction to Project-Based Learning’ kita kategorikan ke dalam tagar ‘PBL’, ‘education’, ‘teaching’. Atau karena laman ini berasal dari website Edutopia yang tersohor itu, kita bisa juga masukkan tagar ‘Edutopia’. Dan tautan ini pun otomatis akan masuk ke My Library kita, asalkan kita sign in di akun Diigo kita (saya biasanya selalu sign in – dan saya tidak pernah berganti perangkat).

Kelebihan Diigo lainnya adalah karena web-based (berbasis web), ia dapat diakses melalui browser apapun (Chrome, Mozilla, Internet Explorer, etc.) dan perangkat apapun yang mendukung (komputer, iPad, iPhone, Android). Kita juga bisa memilih untuk sign in ke akun Diigo kita atau melalui Gmail. Selain itu, seperti layaknya sebuah buku, kita juga bisa meng-highlight (menstabilo) laman web yang sedang kita baca dengan berbagai macam warna. Lucu bukan? Untuk cara menggunakan Diigo yang lainnya, silakan tonton video tutorial ini yang diambil dari laman depan website Diigo.

Untuk Chandra (rekan guru yang saya sebut di atas), terima kasih telah mengingatkan. Mulai sekarang saya akan memasukkan referensi di tulisan-tulisan di blog ini. Dan jika Anda belum mencoba Diigo, ayo coba sekarang… And let’s start connecting! 😉

Sumber gambar Logo Diigo: edudemic.com