#DestinationNoWhere with @anak_alam

The view from the #DestinationNoWhere ‘s village.

Hari Sabtu tanggal 23 February 2013 kemarin, saya beruntung bisa mengikuti acara pengiriman sumbangan oleh Anak Alam beserta beberapa organisasi lain dan berbagi dengan anak-anak sekolah dasar di sebuah desa yang karena beberapa alasan tidak saya sebutkan namanya di sini. Tak heran tajuk dari kegiatan ini adalah #DestinationNoWhere (tujuan tanpa arah (?)). Lokasi desa berada di perbukitan dan kehidupan masyarakatnya terbilang sederhana. Mungkin di antara pembaca sudah ada yang mengenal Anak Alam, mungkin belum. Silakan membaca kembali tentang mereka di sini anakalam.org atau mengikuti mereka di Twitter @anak_alam.

Ini kali pertama saya mengikuti kegiatan Anak Alam. Bisa dibilang saya anggota baru di sana alias masih bau kencur (aih, bahasanya…). Kenapa saya bisa sampai ada di tempat itu bersama mereka kemarin? Ada baiknya saya menceritakan kronologi hidup saya (yang mungkin bagi Anda tidak penting) sampai akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung. Sewaktu saya kuliah, saya juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler, namun kebanyakan berhubungan dengan jurnalistik, bahasa Inggris (lomba-lomba), dan penelitian ilmiah. Selebihnya? Tentu saja kuliah. Ketika saya mengerjakan skripsi, saya memulai karir mengajar saya secara profesional (baca: dibayar). Selepas kuliah pun saya sempat bekerja di dua perusahaan yang berbeda, masih sebagai guru bahasa Inggris. Hari-hari saya ketika itu dipenuhi dengan kerja, kerja, dan kerja.

Akhirnya saya pun mengundurkan diri dari perusahaan terakhir saya bekerja, tempat saya terakhir kalinya menyandang ‘gelar’ sebagai seorang karyawan. Banyak orang bilang tempat saya bekerja ini bagus dan sangat disayangkan saya melepasnya. Ada banyak pertimbangan yang membuat saya memutuskan hal ini. Pertama, saya tidak ingin berhenti bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris (mengikuti jenjang karir yang ditawarkan di sana sama dengan melepas title saya sebagai English teacher). Ke dua, saya merasa menjadi ‘ikan kecil di kolam yang besar’ bukan untuk saya, ini juga yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengelola usaha sendiri. Ke tiga, saya merasa hidup saya jauh lebih ‘besar’ dari sekadar menjadi seorang ‘corporate slave‘, maka saya pun memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Sejak memulai usaha dua tahun lalu hingga sekarang, sudah cukup banyak periswita jatuh bangun yang saya alami. Selain itu yang terpenting adalah perubahan paradigma dan pola pikir. Saya bukan lagi seorang karyawan yang bertumpu pada gaji tiap akhir bulan. Saya harus pandai-pandai mengatur uang masuk dan uang keluar, menahan diri untuk tidak membeli ini itu, karena tentu saja tidak ada seorang pun yang akan menggaji saya di akhir bulan. Saya pun banyak membaca dan belajar tentang entrepreneurship. Dan karena waktu kerja yang fleksibel (sebagian besar bisa saya atur sendiri), saya bisa mengalokasikan waktu saya untuk membuat dan melakukan banyak proyek, di antaranya @EnglishTips4UIndonesian English Teachers Club (IETC), menulis untuk Bog-Bog Bali Cartoon Magazine, dan banyak lagi.

Dan saya pun berpikir… Bayangkan jika saya masih bekerja di tempat-tempat saya sebelumnya, saya yakin hampir 100% waktu saya saya dedikasikan untuk bekerja. Tidak akan ada @EnglishTips4U, IETC, dan proyek-proyek lain yang saya lakukan. Dan saya merasa beruntung telah mengambil jalan ini. Seiring dengan waktu wawasan saya bertambah. Tentang entrepreneurship (hingga akhirnya saya mengenal istilah ‘social entrepreneurship‘ dan berusaha mencari cara untuk menerapkannya), tentang pendidikan, tentang bahasa Inggris, tentang kualitas guru bahasa Inggris di Indonesia (hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat IETC – cerita selengkapnya akan saya tuliskan di tulisan yang terpisah), tentang hidup, tentang perjuangan, tentang orang-orang, dan lain-lain. Semua hasil rasa ingin tahu bertemu dengan waktu senggang.

Sempat saya bangga dan merasa apa yang saya lakukan cukup. Hingga akhirnya seorang guru mempertanyakan, “Apa betul dengan membuat @EnglishTips4U Anda telah membantu banyak orang? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki Twitter atau internet? Bagaimana dengan mereka?” Seketika saya langsung merasa, “Ada apa ini? Kenapa terasa seperti ditusuk langsung di ulu hati?”Jleb! Begitu kira-kira bunyinya. Lucunya, di saat yang bersamaan akun Facebook Active English mulai berteman dengan Pande Putu Setiawan, pendiri Anak Alam. Saya yakin kami berteman karena ketidaksengajaan (saya terkadang menambah teman secara acak). Status Pande yang kebanyakan berisi keadaan sosial di Bali menarik perhatian saya. Saya lalu mulai bertanya-tanya, “Siapa orang ini? Kok bisa ada orang Bali secerdas ini?” (pertanyaan yang konyol memang).

Kenapa saya begitu tertarik dengan status-status yang dibuat Pande, tidak lain karena saya mengalami sendiri bagaimana Bali saat ini telah berubah. Bali bukan yang dulu lagi. Sampah, kemacetan, banjir, bentrok antar ormas, kemiskinan, tata letak wilayah yang semrawut. Semua adalah contoh hal-hal yang selalu membuat saya keki, setidaknya kemacetan pada khususnya yang saya hadapi ketika saya harus mengendarai motor di Denpasar, Badung, dan sekitarnya. Saya pun akhirnya mencari tahu dan menemukan nama ‘Anak Alam’. Tak disangka, teman yang juga admin @EnglishTips4U juga telah bergabung bersama mereka. Akhirnya bulan Februari ini saya memutuskan untuk ikut aktif, setidaknya di bidang yang saya minati: pendidikan. Saya ingin lebih banyak terlibat dalam kegiatan mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di pelosok Bali.

Dan beruntunglah saya bisa bertemu anak-anak di SD desa #DestinationNoWhere kemarin. Berikut ini foto-foto hasil berbagi kami dan ceritanya…

Kids on the side of the road with their new toy balls from Anak Alam.

Pande biasanya menyimpan mainan anak-anak (seperti bola plastik di foto) di dalam mobilnya dan memberikannya ke anak-anak desa yang sewaktu-waktu ia temui di jalan. Bagi anak-anak kota dengan mainan canggih tentu ini terlihat sepele. Tapi bagi mereka? Ia juga sempat mengungkapkan di sebuah survey yang pernah ia lakukan, hadiah paling berkesan menurut anak-anak di desa adalah boneka. Saya mengerti betul kenapa. Ketika saya kecil saya juga mengoleksi boneka dan memiliki ikatan emosional dengan mereka. Ketika saya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (satu-satunya pengalaman saya terjun ke ‘masyarakat’), saya sering kali memainkan boneka di depan anak-anak dan mereka begitu terkesan dan terpesona dengan semua gerakan dan suara yang saya buat. Saya pun menikmati momen ini. Mainan adalah bagian penting dari hidup anak-anak.

Meeting with the locals. Pande on the left with Anak Alam white t-shirt.

Sesampainya di #DestinationNoWhere, kami sudah ditunggu perwakilan dari penduduk lokal beserta kepala dusun (nomor dua dari kiri) untuk acara penyerahan bantuan di balai desa.

The long walk to school, to the only elementary school available in the village.

Sambil menunggu acara penyerahan bantuan, kami para relawan kesehatan (dan saya tidak tahu harus menyebut diri apa – relawan pengajar mungkin?) pergi ke sekolah dasar setempat. Jangan dibayangkan jalan yang kami tempuh seperti berjalan satu atau dua gang di kota. Ini jalannya berkelok-kelok, naik turun, dan cukup jauh. Setelah berjalan sebentar, kami memutuskan untuk menumpang di sebuah truk pickup lalu melanjutkan jalan sedikit lagi. Anak-anak berseragam olahraga oranye sudah menunggu sejak siang. Mereka berjalan kembali ke sekolah bersama kami.

Evi, a health volunteer who is also a student of Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, was giving a presentation to 1st, 2nd, and 3rd graders on kinds of teeth and their functions.

Sampailah kami di sekolah dasar. Kami membagi diri menjadi dua kelompok dan saya kedapatan masuk ke kelas 1, 2, dan 3 (di dalam satu kelas) bersama Evi dan Ria, relawan Anak Alam. Evi yang juga mahasiswa Kedokteran Gigi memberi penjelasan tentang jenis-jenis gigi dan fungsinya, serta bagaimana cara menggosok gigi yang benar kepada anak-anak. Hal-hal yang terlihat sangat sederhana ketika di kota, tapi memiliki nilai (value) yang berbeda di sini. Dan lihatlah papan tulis yang digunakan. Tidak seperti di kota yang telah tergantikan dengan whiteboard (tapi percayalah, saya lebih suka papan tulis old school ini). Kami juga mengajari mereka bernyanyi dan meneriakkan yel-yel. Di akhir penjelasan saya sempat memberikan sebuah permainan bahasa Inggris tentang angka-angka kepada anak-anak yang saya ciptakan saat itu juga.

A second grader was writing the volunteer’s explanation on her book.

Tak bisa dipungkiri, anak-anak, di mana pun mereka berada, entah kota atau pun desa, mempunyai semangat belajar yang sama. Terlebih di desa ini ketika belajar dan datang ke sekolah adalah sesuatu yang ‘istimewa’. Di dalam foto, seorang anak dari kelas tiga yang terlihat menonjol (saya lupa namanya) sedang mencatat apa yang ditulis relawan di papan. Saya pun mendapat cerita dari Ria, bahwa di sekolah ini fokus utama pengajaran adalah mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Guru-guru tidak memiliki mata pelajaran khusus. Tapi melihat dari bagaimana anak-anak menulis dan membaca (walupun untuk yang satu ini masih terbata-bata dan beberapa kali salah sebelum akhirnya benar), saya bisa melihat bagaimana guru-guru di sana sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Bravo for that! 🙂

Kids on truck, hitchhiking to go home.

Bapak-bapak di sebelah kiri foto ini (yang berbaju hitam – maafkan saya tidak tahu nama beliau) mengatakan pada saya ketika saya mengambil foto ini, “Untuk pulang mereka harus jalan lagi sekitar satu sampai dua jam dari sini. Kalau pagi mereka masuk sekolah jam 7, jam 5 atau setengah 6 sudah berangkat dari rumah.” Ah! Never have I imagined that. Sering mendengar anak-anak di pelosok yang datang ke sekolah melewati jembatan reyot yang hampir putus, tapi tidak pernah melihat langsung dengan kepala sendiri. Sewaktu SD dan SMP saya juga sering jalan kaki ke dan pulang sekolah, tapi tentu tidak sejauh itu. Satu hal yang pasti: anak-anak dan penduduk desa di sini bisa dipastikan super sehat! Satu hal yang harusnya membuat kita iri pada mereka.

Kids with plastic bags as school bags. Shown is the plastic bag from a popular supermarket in Denpasar, Tiara Dewata.

Selain bersekolah tanpa sepatu dan bahkan alas kaki, kebanyakan dari mereka menggunakan tas plastik sebagai tas sekolah. Terlihat hanya sedikit anak yang menggunakan tas sekolah dan sepatu. Konon mereka menggunakan tas plastik karena tidak ingin tas sekolahnya kehujanan ketika mereka berjalan ke dan pulang sekolah. Apa ini artinya mereka berjalan ke dan pulang sekolah tanpa payung? Bisa dipastikan iya…

The scenery from above on our way home.

Kegiatan selesai dan kami pun pulang. Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari sesuatu yang baik dan ada perasaan lega setelah melakukan sesuatu yang baik pula. Walaupun sedikit, setidaknya kami (atau saya) sudah mengambil peran. Pengalaman ini tak terlupakan, dan saya menunggu momen-momen lain untuk bisa berbagi dengan anak-anak di lebih banyak desa, berbagi ilmu yang saya punya, dan tentunya bersenang-senang dengan mereka. Jangan ditanya apa yang ada di benak saya ketika saya sampai rumah hingga sekarang. Cuma satu: kira-kira kontribusi apa lagi ya yang bisa saya berikan pada anak-anak ini? Can’t wait for the next #DestinationNoWhere atau kegiatan berbagi ke pelosok-pelosok lagi bersama Anak Alam. Anak Alam, thank you. You rock! 🙂

Advertisements