Perpusda Bali: layanan yang buruk dan nasibmu kini

Tulisan ini adalah hasil kumpulan beberapa postingan saya di Facebook tentang Badan Perpustakaan & Arsip Pemerintah Provinsi Bali (disingkat Perpusda Bali), yang merupakan hasil kunjungan, pengamatan, dan pengalaman saya datang selama 3 kali selama bulan Juni lalu. Selain hasil pengalaman saya sendiri, di akhir tulisan akan saya tambahkan cerita dari beberapa teman lain mengenai pengalaman mereka mengunjungi perpus ini.

Sebelum ke hasil pengamatan, saya ingin menceritakan sedikit alasan saya berkunjung ke tempat ini untuk pertama kalinya dalam hidup. Selama ini sumber penyedia buku saya adalah toko buku – biasanya Gramedia. Ketika saya merasa ingin membaca buku baru, saya selalu pergi ke toko buku untuk membelinya. Tapi seiring dengan waktu, dengan semakin banyaknya buku yang ingin saya baca, kebutuhan akan buku saya meningkat.

Ini artinya biaya untuk membeli buku pun bertambah tinggi. Sementara bujet tidak juga bertambah. Harap diketahui rata-rata buku yang saya beli 3 sampai 5 per bulannya, tergantung dari topik/ tema dan ketebalan atau harga, dan rata-rata non-fiksi. Karena belum menemukan perpus swasta di Denpasar, saya berpikir untuk ke perpus ini, yang konon katanya terbesar di Bali (tentu karena tidak ada lagi alternatif lain).

Tapi alangkah terkejutnya ketika saya berkunjung, tidak saja fasilitasnya yang sangat minim, tapi keadaan diperparah dengan pelayanannya yang sangat tidak memenuhi standar pelayanan untuk tempat umum. Untuk lebih jelasnya, mari saya runutkan kronologi kunjungan saya yang cuma 3 kali itu (dan maaf beribu maaf, saya belum tertarik untuk kembali lagi, kecuali untuk protes atau bertemu dengan pimpinannya)…

Tanggal 15 Juni 2016, sore hari menjelang pukul 3 sore…

Perpusda Bali 1

Jam buka Perpusda Bali yang terlalu singkat.

Saya datang untuk pertama kali. Saya pikir saya ingin mampir setelah keliling menyelesaikan urusan. Di pintu depan saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, jangan-jangan sudah tutup. Dan ternyata benar. Sewaktu masuk, petugas di loket penerima tamu mengatakan bahwa mereka sebentar lagi akan tutup. Akhirnya saya ke sana cuma untuk mengambil foto syarat keanggotaan untuk saya bawa di kunjungan berikutnya.

Cuma satu hal yang saya sesali dari kunjungan pertama saya ini: apa pihak pengelola perpus ini berpikir bahwa orang-orang yang datang ke perpus HANYA murid-murid sekolah dan mahasiswa yang tidak bekerja dari pagi sampai sore?  Maka jam bukanya begitu identik dengan jam buka kantor pemerintahan yang dikelola PNS yang (maaf) terkadang malas? Ini sungguh aneh dan sangat tidak menguntungkan pekerja.

Tanggal 16 Juni 2016, sekitar jam 2 siang…

Akhirnya saya berkunjung lagi. Kali ini dengan membawa syarat keanggotaan (pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar) dan mendaftar. Kali ini saya sudah bisa meminjam buku (3 judul). Berikut hasil pengamatan berikut penilaian saya ketika masuk ke dalam:

Perpusda Bali 8

Saya bisa meminjam 3 buku dengan “kartu anggota” sementara.

Lokasi

Perpusda Bali sendiri berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 15 Denpasar, di pinggir jalan besar yang sibuk. Ini artinya dari segi bisnis dan pemasaran, serta akses dan visibility (mudah dilihat/ dicari), sangat menguntungkan. Tapi sayangnya pihak pengelola sepertinya kurang berinisiatif untuk menarik lebih banyak pengunjung ke tempat ini. Ini bisa dilihat dari sepinya perpus dan sedikitnya pengunjung tiap kali saya datang. 

Suasana

Dengan gedung yang tua, jangan berharap suasana yang modern. Bahkan rak buku, tempat duduk dan mejanya pun tua (termasuk mayoritas pegawainya). Tapi yang menyenangkan adalah suasananya sangat tenang. Ironisnya, yang paling berisik sendiri adalah ibu penjaga yang tiap 10 menit menjelang tutup mengingatkan bahwa perpus sebentar lagi tutup (padahal jam dinding di tempat itu juga tidak kurang jumlahnya).

Perpusda Bali 3

Salah satu lorong dengan rak-rak buku tua.

Buku

Beberapa kawan di Facebook sudah menyebut sebelumnya, kebanyakan koleksi buku lama. Lama di sini tidak hanya dalam artian buku (terbitan) lama, tapi koleksi buku lama yang sepertinya sudah ada di sana sejak dahulu kala dan koleksi ini jarang diperbarui dengan bukti hanya ada sedikit buku baru. Dan maksud saya dengan koleksi buku lama di sini bukan buku-buku kuno. Ini buku-buku yang ada di Ruang Baca Umum.

Tapi tidak menutup kemungkinan ada buku-buku baru walaupun sangat terbatas (beberapa judul dari Pramoedya Ananta Toer ada). Peletakan dan penyusunan buku agak berantakan, tapi kalau sabar dan telaten mencari, bakal menemukan beberapa permata di tumpukan lumpur. Peminjaman buku maksimal 3 judul dalam satu waktu (kurang banyak!) dan untuk 3 buku itu waktu peminjaman selama 2 minggu.

Perpusda Bali 4

Buku-buku tua yang tidak tertata rapi.

Teknologi

Jangan berharap ada sistem inventaris buku ber-barcode, karena tidak ada! Di Ruang Baca Umum di lantai 3, ibu petugas (yang saya bilang berisik tadi) mencatat berapa jumlah buku berdasarkan kategori yang dipinjam hari itu (di hari itu saya intip cuma ada sekitar 20 judul yang keluar; tidak banyak). Lalu saya ke bagian pendaftaran/ loket di lantai 1 untuk dicap tanggal pengembalian buku di bagian belakang masing-masing buku.

Saya bertanya apa ada sesuatu yang harus saya bawa waktu mengembalikan, petugas bilang tidak. Semua dilakukan secara manual. Bahkan di ruang baca waktu saya tanya apa bisa mencari buku di komputer, petugas mengatakan komputernya sedang error (di kunjungan saya yang ke tiga pun demikian). Sepertinya komputer yang digunakan bekas atau hibah yang sudah tidak memadai. Sejauh mata memandang tidak ada free wifi.

Oh ya, perlu saya tambahkan, website resmi Perpusda Bali sudah tidak diperbarui sejak tahun 2012. Jika permasalahannya adalah tidak adanya pegawai yang mumpuni untuk melakukan ini (karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pegawai rata-rata sudah berumur), seharusnya tugas seperti ini bisa di-outsource asalkan pengelolaan tetap berasaskan profesionalisme (pihak perpus membayar orang untuk jasanya).

Ruang baca

Sejauh yang saya lihat ada 3 ruang baca yg bisa diakses publik: Ruang Baca Umum, Ruang Referensi, Ruang Baca Anak-Anak. Ruang Baca Umum dengan koleksi yang bisa dipinjam, Ruang Referensi tidak bisa. Sementara Ruang Baca Anak-Anak saya lihat dari luar cat dan dekorasinya terlihat kuno dan tidak terawat. Agak menyedihkan sebenarnya. Bahkan tidak ada karpet atau sejenisnya untuk tempat anak-anak bermain atau gegoleran.

Yang mengherankan, dengan demikian banyaknya ruangan (dan pegawai) bisa dibilang koleksi bukunya tidak banyak. Menurut website resminya, ada lebih dari 10.000 judul buku. Menurut UNESCO, lingkungan miskin di AS memiliki rasio jumlah anak dan buku sebesar 300: 1. Untuk Bali yang jumlah penduduknya di tahun 2015 sudah mencapai 3.9 juta jiwa, artinya rasio penduduk dan buku adalah 390: 1. Tapi yang lebih buruk adalah fakta bahwa masih sedikit sekali yang memanfaatkan keberadaan perpus.

Pegawai dan pelayanan

3 kali berkunjung dan satu hal yang pasti soal kualitas pelayanan: jangan berharap terlalu banyak. Anggap berkunjung ke kantor pemerintahan yang belum tereformasi. Ibu-ibu petugas sepertinya buru-buru ingin pulang dengan bicara keras-keras di ruang baca. Waktu ada 2 orang datang mendekati jam tutup, dengan sigap dia berseloroh, “Kok sore banget (datangnya)?” Atau waktu sehabis saya pinjam buku dan tak kunjung pergi, dengan “bersemangat” dia berkata, “Ya, yang sudah pinjam silakan langsung ke bawah. Besok lanjut lagi. Oh ya, besok bukanya sampai jam 1 ya!” Sungguh terlalu.

Keanggotaan

Biaya keanggotaan GRATIS. Tapi walaupun demikian, penggratisan ini bukan trik sulap yang serta merta membuat orang tertarik bekunjung dan membaca buku, terutama setelah kejadian yang menimpa saya di kunjungan ke tiga (cerita di bawah). Syarat keanggotaan cuma dua: pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar dan fotokopi KTP. “Kartu anggota” (lihat wujudnya di foto di bawah) jadi di kunjungan berikutnya, dalam bentuk yang jadul.

Perpusda Bali 5

Ini yang pengelola sebut sebagai “kartu anggota” – 90-an banget!

Tanggal 22 Juni 2016, sekitar jam 2.30 siang…

Saya kembali lagi karena ingin mengembalikan buku-buku yang saya pinjam. Cukup tipis dan 1 buku terjemahannya kurang bagus, jadi saya tangguhkan untuk membacanya. Saya kembalikan buku-buku di loket di lantai 1 lalu menuju ke Ruang Baca Umum. Alangkah terkejutnya saya karena ditegur oleh petugas (total 3 orang) yang menyuruh saya menaruh tas jinjing saya di tempat penitipan di luar gedung, dekat tempat parkir.

Ini cukup tidak konsisten karena di kunjungan sebelumnya saya pun membawa tas backpack serut dan tidak ada satu pun yang protes. Di kunjungan kali ini pun ibu petugas di loket pengembalian tidak berkata satu patah kata pun mengenai tas yang saya bawa. Dan saya lihat sekeliling, tidak sedikit yang membawa tas juga. Tegurannya tidak menjadi masalah. Yang mengangetkan adalah bagaimana cara mereka menegur.

Ketika petugas ke dua di Ruang Baca Umum menyuruh (saya katakan menyuruh karena nadanya memang tidak menyenangkan) saya menaruh tas di salah satu ibu petugas yang duduk di sudut ruangan, saya menghampiri ibu itu dan bertanya apa benar ini tempatnya untuk menaruh tas. Dengan sangat ketus dan mata memicing seolah-olah saya punya dosa besar (mungkin mengganggu bengongnya dia), dia malah bertanya, “Siapa yang suruh?!” Detik itu juga saya langsung kehilangan selera untuk mencari buku.

Perpusda Bali 7

Maklumat Pelayanan yang pihak pengelola langgar sendiri.

Saya kembali ke loket di lantai 1, lalu mulai marah-marah ke petugas yang menangani pengembalian buku tadi. Saya minta sebuah kertas dan meminjam pulpen, untuk menulis saran. Anehnya, sepanjang kunjungan saya yang pertama sampai hari ini, tidak satu kali pun saya mendapatkan senyum tulus dari satu pegawai pun, walaupun tak jauh dari loket ada x banner berjudul “Maklumat Pelayanan” (lihat foto di atas).

Melihat saya marah, si ibu petugas ini tiba-tiba melunak dan mulai bisa tersenyum. Ada kehati-hatian dalam cara dia menimpali keluhan saya, begitu juga sedikit rasa takut. Yang mana sebenarnya tidak harus dia lakukan jika pegawai tidak ketus sejak awal. Yang membuat saya lebih kecewa, waktu saya ingin memasukkan kertas ke kotak saran, dia malah mengambilnya. Saya curiga tulisan saya tidak akan sampai ke mana pun. Dan yang paling penting: tidak ada satu pun kata maaf yang keluar dari mulutnya.

Itu lah kali ke tiga dan terakhir saya berkunjung ke Perpusda Bali. Niat awal saya adalah ingin menulis surat yang saya tujukan langsung pada pimpinannya dan saya serahkan di sana, tapi saya masih ragu dan memikirkan satu cara yang punya dampak lebih besar dan langsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya keberadaan perpustakaan. Jika pembaca ada masukan, silakan tinggalkan komentar.

Pentingnya perpustakan bagi masyarakat 

Satu hal, agaknya saya tidak perlu menguliahi lagi soal manfaat membaca. Mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kosakata, hingga memberikan hiburan, adalah sedikit dari banyak manfaat membaca. Kondisi sebuah perpustakaan daerah adalah cermin tingkat literasi daerah itu. Jika bisa dikatakan demikian, saya bisa dengan percaya diri mengatakan tingkat literasi Bali rendah.

Jujur, di kunjungan pertama saya sepulang dari Perpusda saya menangis. Kenapa? Apa yang saya lihat tiap hari di sosial media (online) maupun lingkungan sekitar (offline) entah itu masalah rasisme, kebiasaan membuang dan membakar sampah, pola pikir bebal dan susah maju, itu semua akarnya adalah kurang terbukanya wawasan masyarakat. Dan kunci keluar dari masalah-masalah ini tidak lain tidak bukan adalah pendidikan.

Dan yang saya maksud dengan pendidikan ini bukan gelar atau sekadar hadir di sekolah, tapi proses penyerapan ilmu, keterbukaan pikiran, penerimaan akan perubahan dan ide-ide baru, kemampuan menganalisa fenomena sosial dan menelusuri akar-akar masalahnya, serta menciptakan solusi yang inovatif berdasarkan logika dan ilmu pengetahuan. Untuk sampai ke tahap itu, perlu ada perubahan dalam mindset.

Sebelum sebuah masyarakat maju dan modern secara fisik, terlebih dahulu mereka harus maju dan modern sejak dalam pikiran, sejak dalam jiwa. Dan nutrisi atau makanan apa yang paling tepat bagi jiwa yang sakit dan rusak selain ilmu pengetahuan? Tiada lain tiada bukan sumber ilmu adalah buku. Kegiatannya kita sebut membaca dan kemampuannya kita sebut literasi. Inilah inti dari life long learning, proses belajar seumur hidup.

Perpusda Bali punya segala kekuatan untuk mengubah wajah masyarakat sekitarnya untuk menjadi lebih maju dan modern, tapi sayangnya mereka tidak menyadari kekuatan itu. Ketika untuk membeli bahan kebutuhan saja daya beli masyarakat masih rendah, jangan harap mereka akan berpaling untuk membeli buku. Maka tersedianya buku yang bisa dipinjam secara gratis adalah solusi yang tepat akan akses masyarakat terhadap buku.

Dan satu lagi, salah satu masukan berharga dari seorang teman yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat (dengan pengelolaan perpusda yang jauh lebih baik daripada yang kita punya di Bali ini), salah satu tujuan adanya perpustakaan daerah adalah agar masyarakatnya bisa terus mengembangkan diri dari segi pengetahuan dan ketrampilan yang pada akhirnya memungkinkan dia berkontribusi lebih banyak untuk daerahnya.

Jika kita sering mengeluh sumber daya manusia kita yang tidak memiliki daya saing, mengapa kita begitu lalai dengan fasilitas yang seharusnya tersedia untuk masyarakat kita supaya mereka mengembangkan diri? Dan tentu perpustakaan tidak hanya melulu soal buku, ada banyak kegiatan lain yang bisa diinisiasi dari institusi ini, hanya saja jika dikelola dengan kecintaan tinggi (passion) dan profesionalisme. Itu harapan saya!

Cerita dari teman-teman

Bagian pertama: cerita teman-teman tentang Perpusda Bali

Rika, warga Denpasar:

Pertama kali ke Perpusda pas SD, sama Papa. Sekitar kelas 3 – 4 SD, sekitar tahun 1993 – 1994. Ke sana pinjam buku. Waktu itu kesannya tempatnya bagus, bukunya banyak. Mungkin karena masih kecil ya. Waktu SMA pernah ke sana lagi, untuk baca komik. Dan waktu kuliah (tahun 2007) ke sana lagi untuk cari bahan skripsi. Seingatku dari dulu tidak terkomputerisasi, banyak debu, peletakan buku tidak bagus, padahal banyak buku yang berkualitas, tidak dijual umum, langka. Dan seingatku pegawainya tua-tua. Dari SMA sampai kuliah rasanya tidak banyak berubah.

Perpusda Bali 9

Agaknya dari dulu hingga sekarang rak dan buku ini tidak berubah.

Muthiah, warga Denpasar:

Saya pernah punya pengalaman buruk di sana waktu mencari tanda tangan untuk sidang skripsi (awal 2016). Cuma satu tanda tangan dan sebuah surat, tapi mereka bersikukuh tidak mau memberikan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Lalu saya bilang kalau saya perlu untuk keesokan harinya, dengan nada tinggi. Salah satu pegawai tiba-tiba berubah jadi baik dan pergi ke atasannya untuk mem-print surat dan menandatanganinya. Beberapa teman yang berusaha sopan setelah ditolak oleh mereka, perlu seminggu untuk mendapatkannya. Saya menikmati pergi ke ke sana waktu kecil, tapi sekarang sepertinya saya tidak akan pernah mau kembali lagi.

Elida, pernah kuliah di Denpasar:

Aku lumayan sering ke sana tahun 2014 – 2015. Kesannya ya kesal. Karena perpusnya cukup berisik, terutama ibu-ibu yang jaga. Dia suka mengingatkan pengunjung mengenai jam tutup. Aku ya sudah tahu tutupnya jam berapa, jadi kesannya seperti mengusir. Wifi ada tapi tidak bisa diakses. Pelayanannya jadul, self-service. Kadang petugas tidak tahu rak buku yang dicari di mana. Pegawai jutek, seolah-olah kita yang merepotkan mereka. Koleksi buku tidak kunjung bertambah. Ada buku baru tapi dipajang di etalase depan dan digembok. Cara pinjamnya manual, tulis tangan.

Bagian ke dua: cerita teman-teman tentang perpustakaan di daerahnya

Menariknya, ada beberapa tanggapan menarik dari teman-teman di Facebook yang menceritakan tentang perpustakaan di daerah mereka masing-masing. Berikut saya ambilkan contoh satu dari dalam negeri, satu di luar negeri (Belanda).

Elisabeth, warga Pontianak, Kalimantan Barat: 

IF

Salah satu sudut Perpusda Kalimantan Barat

Sayang ya layanan perpusnya seperti itu. Kalau di Pontianak, layanannya membaik setelah kepala perpustakaannya diganti dengan orang baru yang sebenarnya bukan ahli perpustakaan, tapi beliau mau berusaha membuat lingkungan kerjanya jauh lebih baik. Jadi, mau tidak mau semua bawahan harus ikut visi beliau, sehingga perpustakaan di sini lebih menyenangkan. Koleksi buku baru diperbanyak, semua ruang baca full AC, disediakan ruang komputer, dan ruang serbaguna untuk umum, free wifi, bisa meminjam buku sampai jam 10 malam, dan ada fasilitas ruang belajar untuk umum dari pagi sampai malam, karena di sini jarang ada fasilitas umum yg buka 24 jam. Dan perpustakaannya sampai malam pun tetap ramai.

Banyak mahasiswa yang belajar di sana. Jadi, pemimpin itu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan instansi yang dibawahinya. Jujur saya terkejut baca cerita Ms Neno bahwa perpustakaan di sana (Bali) begitu parah. Padahal, dalam studi pengembangan kawasan di Indonesia, Bali itu termasuk kawasan internasional loh. Seharusnya punya standar kualitas dan layanan yang lebih bagus untuk pendidikan supaya masyarakatnya bisa ikut berkarya dalam standar internasional. Kalbar ini termasuk dalam golongan kawasan terbelakang secara pendidikan loh, tapi terus berusaha supaya masyarakatnya makin pintar.

Di sini perpustakaannya berusaha menjangkau masyarakat ke tempat-tempat nongkrong. Perpustakaan menitipkan koleksi buku dalam sebuah lemari ke warung-warung kopi/ cafe supaya bisa dibaca semua orang. Judul-judul bukunya menarik dan baru. Jadi, sambil nongkrong orang bisa baca gratis. Mereka juga menyediakan perpustakaan keliling yang mampir ke sekolah-sekolah, penjara, dan berbagai tempat umum. Jadi pakai sistem “jemput bola” supaya makin banyak yang rajin membaca. Dan juga menyumbangkan/ mengatur koordinasi sumbangan paket-paket buku ke daerah-daerah pedalaman, juga dibantu LSM. 

Tambahan dari saya, website resmi Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi (BPKD) Provinsi Kalimantan Barat secara rutin diperbarui hingga sekarang. Sumber foto di atas: Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat, Kunci Peningkatan IPM Masyarakat.

Ruri, warga Gouda, Belanda:

blogger-image-1349804047

Salah satu sudut Perpustakan Kota Rotterdam

Selain perpustakaan, di dalam gedung juga ada kafe di lantai 2. Total ada 6 lantai. Walaupun jam buka untuk akhir pekan bervariasi, tapi tiap hari buka. Di lobby ada concierge (penjaga pintu) yang setia menjawab pertanyaan pengunjung dengan ramah. Juga dipasang poster menampilkan program perpus selama bulan berjalan. Contoh kegiatannya: pembacaan buku (anak dan dewasa) oleh penulisnya sendiri, sale buku-buku perpustakaan yang sudah tidak terpakai, dan pemutaran film di ruang digital.

Centerpiece (hiasan di tengah ruangan) dipasang di tengah lobby sesuai tema buku yang akan dibacakan oleh penulisnya bulan ini. Juga touchscreen dan display tentang tokoh yang sedang diangkat untuk bulan ini. Tokoh bulan ini adalah Erasmus. Di meja-meja tempat meminjam buku tidak ada petugasnya. Kalau sudah selesai memilih buku-buku mana yang mau dipinjam, tinggal taruh di atas meja ini dan scan barcode-nya satu-satu. Ada juga ruang digital untuk CD, DVD, dan LP.

Keranjang belanja juga disediakan, kalau-kalau mau pinjam buku banyak. Setahu saya seperti di Gouda, jumlah buku yang boleh dipinjam tidak dibatasi. Di bagian anak-anak ada tribun untuk acara seperti pembacaan buku atau mendongeng atau drama kecil-kecilan. Di tiap lantai ada petugas yang rajin mengembalikan buku sesuai kategorinya. Di lantai dasar, ada permainan catur raksasa untuk warga senior.

Jika ingin membaca lebih lanjut tentang perpustakaan ini, silakan mengunjungi blog Ruri di Rotterdam Library atau Perpustakaan Kota Rotterdam. Saya belum pernah berkunjung ke sini, tapi kesan saya pribadi: inilah contoh perpustakaan yang dikelola oleh orang-orang yang punya kecintaan tinggi pada kegiatan literasi.

Rekomendasi untuk Perpusda Bali

Nah, setelah menceritakan tentang keadaan Perpusda Bali dan perbandingan dengan perpustakaan di daerah lain, saya bisa menyimpulkan rekomendasi di bawah ini (selain dari saya sendiri, ini juga termasuk masukan dari teman-teman):

  1. Jam buka diperpanjang, setidaknya sampai jam 10 malam, dan buka di hari libur. Karena kalau untuk umum, rata-rata orang sekolah, kuliah, kerja pagi dan siang.
  2. Perpustakaan dilayani oleh pegawai yang profesional. Memalukan sekali rasanya Bali sebagai pusat kegiatan pariwisata memiliki tempat umum dengan hospitality (keramah-tamahan) yang sangat rendah. Pegawai juga harus sering dilatih.
  3. Gedung diperbarui dengan disain interior modern. Kalaupun ingin mempertahankan ciri khas arsitektur Bali, sebaiknya dikombinasikan dengan sentuhan modern.
  4. Digitalisasi pelayanan, seperti penggunaan bar code untuk buku-buku, sistem pendaftaran online, serta akses online terhadap buku-buku digital.
  5. Ada ruangan main anak dengan buku-buku. Jadi anak-anak bisa belajar membaca dan mencintai buku sejak dini. Dilengkapi juga dengan toilet yang memadai.
  6. Yakin masih mau mempertahankan sistem penitipan tas? Bagaimana kalau memasang CCTV? Kalaupun keukeuh, cukup taruh loker di depan Ruang Baca.
  7. Bekerjasama dengan berbagai pihak, terutama swasta, untuk menyelenggarakan acara-acara yang berhubungan dengan dunia literasi.
  8. Semua poin di atas mungkin terjadi kalau… Ada reformasi birokrasi.

Jika teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman tentang Perpusda Bali atau cerita tentang perpustakaan di daerah Anda, silakan tinggalkan komentar atau hubungi saya. Tak lupa, jika teman-teman memiliki ide supaya tulisan ini bisa sampai di tangan pihak yang paling mungkin bisa melakukan perubahan di Perpusda Bali (siapapun itu, pemimpin perpus, anggota eksekutif atau legislatif provinsi, dsb), silakan kirimkan info.

Last but not least, jika menurut teman-teman sekalian tulisan ini menarik atau bermanfaat, tidak perlu sungkan untuk menyebarkannya seluas-luasnya. Agar makin banyak orang yang sadar bahwa perlu kerja keras dan kerjasama seluas-luasnya untuk memerangi musuh terbesar umat manusia: kebodohan. Sekian dan terima kasih.

Update: berikut saya sertakan tautan beberapa tulisan blogger mengenai Perpusda Bali.

Berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bali (2009)

Koleksi Buku Pertanian Sedikit (2011)

Melali sambil Melajar di Perpustakaan (2014)

Advertisements

Menguasai atau dikuasai: menanggapi polemik “asli” vs. “pendatang” di Bali

Sekapur sirih: tiada guna berilmu jika tidak berbagi. Mungkin itu. Kalimat sederhana yang membuat saya beberapa hari ini berpikir untuk kembali menulis. Profesi utama saya, guru bahasa Inggris, mengharuskan saya berbagi ilmu kepada murid-murid dan kadang teman-teman saya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata saya mengembangkan begitu banyak ketertarikan di bidang lain. Maka proses pencarian saya terhadap ilmu pengetahuan pun terus berjalan. Dan saya seperti merasa memiliki kewajiban untuk menyumbangkan barang satu dua hasil olah pikir saya dari proses pencarian ilmu itu. Untuk mengawali janji saya pada diri sendiri untuk rutin menulis mulai sekarang, tulisan ini saya ambil dari postingan saya di Facebook tentang polemik “asli” vs. “pendatang” yang saat ini sedang santer di Bali, yang membuat saya “gatal” untuk tidak mengomentari. Silakan tinggalkan komentar, bagi, atau like jika menurut Anda tulisan ini menarik (atau tidak).

Kalau semua masalah dijawab dengan kalimat, “Saya asli sini,” saya pikir apapun masalahnya (sampah, pembakaran sampah, kependudukan, dsb) tidak akan ada solusinya. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang pernah mengalami hal ini. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kali dan jujur, kali ini saya sudah tidak mau ambil pusing. Banyak teman-teman saya orang Bali dan mereka tidak bodoh. Hidup saya dan mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal remeh temeh yang sumbernya adalah kebodohan (ignorance). Saya sudah bisa memaafkan dan memaklumi orang-orang ini, karena pada dasarnya yang suka ngomong begini ini bodoh atau tidak tahu apa-apa (ignorant). Meminjam kata-kata Yesus, “Father, forgive them, for they know not what they do.

Mempermasalahkan asli vs. tidak asli, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang “asli”; kita semua migran. Karena tidak ada satu pun manusia yang tumbuh dari tanah tempat dia berpijak, seperti layaknya biji yang berkembang jadi tanaman. Yang ada, nenek moyang kita bermigrasi beribu, beratus, atau berpuluh tahun yang lalu ke tempat di mana kita tinggal saat ini. Untuk konteks Bali, ada beberapa tahap migrasi masuknya manusia ke Bali (lihat gambar; diambil dari buku Bali’s First People, karya Richard Mann):

Four groups of settlers arrived in Bali

  1. Cave dwellers (penghuni gua): ini penduduk Bali paling tua, menetap di gua dan hutan, migrasi ke Bali ketika zaman es. Bali masih menjadi bagian dari Paparan Sunda dan menjadi satu dengan Kalimantan. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Waktunya tidak tanggung-tanggung, 17.000 sampai 20.000 tahun yang lalu! Jangankan buyut, buyutnya buyut kita pun belum lahir!
  2. Bali Mula: pendatang setelah penghuni gua. Bukti menunjukkan mereka telah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Tinggal di Zaman Batu atau Perunggu, telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan sudah bisa membuat tempat tinggal dalam bentuk gubuk sederhana.
  3. Bali Aga: konon berasal dari sebuah desa dengan nama Aga di Banyuwangi, Jawa Timur. Konon (lagi) datang setelah abad ke-8. Kenapa konon? Karena rupanya (menurut buku ini) kebenaran tentang Bali Aga masih menjadi perdebatan para ahli.
  4. Majapahit settlement (kolonisasi Majapahit): datang di abad ke-14 dan 15, terutama setelah penguasa terakhir Majapahit di Jawa Timur beralih ke Islam, sementara yang masih memeluk Hindu Majapahit (Siwa-Buddha) berbondong-bondong bermigrasi ke Bali.
  5. Saya tambahkan satu lagi: Bali modern, yang asalnya dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan orang-orang dari luar Indonesia.

Itu masih dalam konteks Bali (yang sempit sekali)… Bagaimana kalau ternyata di masa depan kita bisa berkomunikasi dengan penduduk dari planet bahkan galaksi lain, dan memungkinkan mereka berkunjung ke bumi atau sebaliknya? Seperti yang ada di film Star Wars atau Men in Black? Atau seperti di cerita Superman. Dia dari planet Krypton, bukan planet bumi. Bukannya membasmi kejahatan, kalau kita ungkit-ungkit masalah asli dan pendatang, bisa-bisa dia didemo disuruh kembali ke planetnya (sementara diceritakan bahwa planetnya hancur dan peradabannya musnah, bagaimana mungkin dia kembali ke sana?). Untuk konteks dunia yang fana ini pun, kita manusia cuma pendatang. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Dunia tidak selebar daun kelor.

Jadi sebenarnya dari mana asalnya kata-kata seperti, “Saya asli sini,” dsb? Apalagi setelah dirunut (berdasarkan penjabaran di atas), tidak sedikit pun ungkapan ini mendekati kebenaran. Usut punya usut ternyata karena memang ia tidak hadir dari kebenaran, melainkan dari keinginan untuk menguasai orang lain. Ibarat orang yang sedang dipenuhi rasa takut, ia harus serta merta memilih antara lari atau melawan (flight or fight). Mengeluarkan gertakan (bully) bisa menjadi pilihan untuk melawan, dan tujuannya sederhana: supaya membuat lawan tampak lebih lemah atau tidak berdaya dari dirinya.

Anda tahu kenapa ada orang yang suka menggertak (bully)? Karena ia merasa terancam, ia sadari atau tidak. Ingat, orang-orang yg hebat tidak perlu mempertontonkan bahwa dirinya hebat. Karena begitulah dia apa adanya, tanpa dibuat-buat. Orang yang tidak hebat, di lain sisi, justru harus mencari cara untuk mengkompensasi ketidakhebatannya. Ini bisa dimaklumi, karena seperti halnya hewan, manusia pun memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mempertontonkan diri seperti lebih kuat, hebat, besar daripada yang sesungguhnya. Lihat saja ular kobra yg memipihkan lehernya ketika terancam dengan tujuan menakut-nakuti penyerangnya.

Tapi sayangnya, pola pikir menguasai atau dikuasai, menggertak atau digertak ini sebaiknya sudah harus ditinggalkan. Di era keterbukaan serta informasi di mana orang bekerja dengan otak dan hati, nafsu untuk menguasai (dan memangsa!) berdasarkan ego dan rasa takut harus segera disingkirkan. Kenapa otak? Dalam bidang ekonomi pun ada istilah knowledge-based economy, di mana pembangunan ekonomi hari ini dan masa depan dilandaskan pada ilmu pengetahuan. Masyarakat yang bisa bertahan dan bersaing hari ini dan di masa depan adalah mereka yang mengusai ilmu. Maka kita harus pastikan bahwa titik berat adalah penguasaan ilmu, bukan kemampuan menggertak, mengintimidasi, lebih-lebih menggunakan kekuatan fisik belaka! Bukti sederhana, negara maju adalah di antara negara-negara di dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Yang ke dua, karena kita punya hati, karena kita manusia, bukan lebih rendah dari itu. Dan kita bukan hewan, jadi tidak perlu saling menguasai. Kembali ke poin nomor satu, karena kita dianugerahi kemampuan berpikir, maka berpikirlah, cari tahu, dan mengerti. Sekali lagi: bukan menguasai. Ada pepatah Latin yg berbunyi Homo homini lupus. Artinya a man is a wolf to another man (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Artinya lagi, manusia memiliki potensi untuk kejam, seperti predator yang saling memangsa sesamanya. Tapi dengan berat hati saya harus katakan: saya menolak disamakan dengan binatang. Kita manusia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kita semua setara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua warga negara punya hak dan kewajiban yg sama.

Tapi memang, seperti yang pernah saya tulis di salah satu status, tidak semua manusia mau atau bisa diperlakukan seperti manusia. Maksudnya, tidak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik, ada yang harus dipaksa, diintimidasi, digertak dulu baru berubah (biasanya tipikal yang kurang menggunakan otaknya – silakan kembali ke atas; atau yang kesehatan jiwanya terganggu – silakan baca-baca tentang ciri orang depresi). Nah, ini tugas kita (sebagai anggota masyarakat) dan pemimpin. Saya pikir makin pintar, maju, sadar sebuah masyarakat, tidak perlu lah saling gertak-menggertak. Jadilah manusia. Artinya, jika ingin hidup enak, maka enakkanlah dulu hidup orang lain. Jika ingin hak-haknya dihargai, hargailah dulu hak orang lain. Jika ingin rumahnya bersih, ya bersih-bersihlah. Jika ingin udara segar, ya jangan bakar-bakar sampahlah (untuk yang satu ini, Denpasar dan sekitarnya sudah ada di tahap gawat darurat, potensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara yang ditimbulkannya sudah cukup tinggi).

Kebodohan jangan dibalas dengan kebodohan, tapi dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu pelita, ibarat sinar yang menerangi jalan yang gelap, menuntun kita melangkah ke arah yang ingin kita tuju. Tanpa itu, sama dengan menerka-nerka dan meraba-raba dalam kegelapan. Orang bodoh tidak akan bisa menolong orang bodoh lainnya. Dan untuk saya pribadi, saya enggan hidup dalam kegelapan.

Saya dengan senang hati menerima tanggaan dan sanggahan. Tapi sekali lagi, dengan prinsip: menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Tidak menerima debat kusir, apalagi pengetahuan yang didasarkan pada klenik dan omong kosong.

Sekian dan terima kasih.

“Meong Meong” dan masa depan permainan tradisional Indonesia

Lomba menulis dengan tema seperti ini sudah lama saya tunggu-tunggu. Tak heran ketika Indonesia Travel mengumumkan kompetisi ini saya langsung bersemangat dan bergairah. Jantung seperti terpompa dan wajah tak hentinya sumringah. Permainan dan dunia anak-anak bukanlah hal asing bagi saya. Bukan hanya karena saya mengalami sendiri masa-masa memainkan permainan tradisional bersama teman-teman sekomplek atau sekolah ketika saya kecil dulu, tapi juga karena saya seorang guru bahasa Inggris. Apa hubungannya guru bahasa Inggris dengan permainan tradisional Indonesia? Mari saya ceritakan…

“Meong meong alih ja bikule

Bikul gede gede

Buin mokoh mokoh

Kereng pesan ngerusuhin”

Walaupun orangtua saya lahir dan besar di Surabaya dan Blitar, saya dan segenap saudara kandung dibesarkan di Bali. Karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di Bali, saya merasa lebih lekat dengan budaya Bali ketimbang budaya asal orangtua saya, Jawa Timur. Ketika ditanya tentang asal (daerah), saya akan kesulitan menjawab. Alih-alih memberikan penjelasan yang panjang, saya biasanya cukup mengatakan, “Indonesia.” Saya merasa beruntung ketika kecil bersekolah di sekolah negeri di mana saya bisa berkumpul dengan banyak orang setempat dan belajar tentang budaya lokal, mulai dari aksara (huruf) Bali, tari, sampai permainan anak-anak. Tiap jam mengaso kami hampir selalu memainkan permainan tradisional, dan bahkan beberapa lagunya saya hapal di luar kepala hingga sekarang! Mungkin ini lah efek nyata memperkenalkan sesuatu kepada anak-anak sejak dini: mereka akan membawanya sampai tua.

Satu di antaranya yang paling saya ingat adalah “Meong Meong”. Lirik dan tema lagunya sederhana. Seperti yang mungkin sudah Anda tebak, ‘meong’ berarti kucing dalam bahasa Bali. Jika diterjemahkan secara lepas ke dalam bahasa Indonesia, lagu ini menceritakan tentang bagaimana si penyanyi (anak-anak yang sedang bermain) menyuruh sang kucing untuk menangkap si tikus (meong meong alih ja bikule), yang besar dan gemuk (bikul gede gede, buin mokoh mokoh), yang suka bikin onar (kereng pesan ngerusuhin). Bikul = tikus. Cara memainkannya juga seru. Ada tiga jenis peran yang harus dimainkan: satu anak menjadi kucing, satu menjadi tikus, dan sisanya membentuk lingkaran sambil berputar dan bernyanyi untuk melindungi tikus. Kucing dan tikus akan berkejar-kejaran. Dan ketika kucing berhasil menangkap tikus, akan ada kucing dan tikus baru yang menggantikan. Biasanya permainan ini dimainkan di halaman yang cukup luas.

Sekarang setelah saya pikirkan kembali, alangkah dalamnya sebenarnya metafora yang ingin direpresentasikan permainan tradisional ini. Di tengah carut marutnya politik nasional, ketidakpastian hukum, serta perang melawan korupsi, “Meong Meong” serasa ingin melambangkan perjuangan kebaikan melawan keburukan yang tiada henti dan pantang menyerah. Seberapa pun sulit kucing mengejar tikus dan seberapa pun bersikukuhnya ‘benteng’ berusaha melindungi si tikus, ia akan terus melakukannya sampai dia dapat. Bagi anak-anak, pesan permainan ini sesungguhnya sederhana: bahwa harusnya dalam melakukan kebaikan, seseorang hendaknya tidak mudah putus asa dan menyerah.

Permainan "Meong Meong" yang biasa dimainkan anak-anak.

Permainan “Meong Meong” yang biasa dimainkan anak-anak

Tahun 2006, untuk pertama kalinya saya memainkan permainan ini lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Saya dan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengajar bahasa Inggris di Desa Tenganan Dauh Tukad, desa wisata yang terletak di Kabupaten Karangasem, yang cukup dikenal karena budaya Bali asli-nya (Bali Aga). Pagi hari sebelum kami mulai mengajar di sekolah dasar setempat, kami kumpulkan anak-anak kelas 4, 5, dan 6 di lapangan. Sejenak kami memikirkan kegiatan pemanasan yang asyik sekaligus menyehatkan. Seorang anak nyeletuk, “Meong Meong!” Ingatan saya lalu kembali ke masa-masa sekolah dasar. “Saya suka permainan ini!” seru saya dalam hati. Kami pun bermain dengan seru, dan anggota tim yang berasal dari luar Bali pun sangat menikmati permainan ini. Ramai, lucu, penuh tawa dan gerak. Selesai bermain kami masuk kelas masing-masing dan saya pun melanjutkan dengan memberi materi tentang nama-nama binatang dalam bahasa Inggris.

Tapi saya tidak menyadari betapa pentingnya pengalaman ini sampai saya memulai karir mengajar saya di tahun 2008. Untuk pertama kalinya saya mengenal dunia pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak dan remaja. Sebagai seorang guru baru, selama seminggu penuh saya mengikuti kegiatan orientasi di mana di dalamnya saya diharuskan untuk mengetahui permainan-permainan yang bisa dipakai di kelas sebagai kegiatan pembuka atau pengisi (kami menyebutnya ‘warmers’ dan ‘fillers’). Setahun penuh saya menjadi terbiasa dengan semua permainan yang ada di sana. Beberapa favorit saya adalah ‘Hot Seat‘, ‘Charades‘, dan ‘Musical Chairs‘. Hanya saja, satu hal yang membuat saya penasaran, “Apa yang membuat permainan-permainan ini begitu istimewa? Tidakkah mereka sama dengan permainan-permainan yang biasanya saya mainkan dengan teman-teman saya ketika SD di luar kelas?” Pada kenyataannya, dari sifat dan tujuannya: sama. Yang membedakan: bahasa pengantar dan tentu asal muasalnya.

Di sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pascarsarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, permainan tradisional “Meong Meong” terbukti dapat mengembangkan sikap sosial anak. Disebutkan lagi, sikap sosial terdiri dari kepercayaan diri, disiplin dan sikap kooperatif. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa permainan ini memicu interaksi antara para peserta dan guru. Dengan nada yang sama, dalam sebuah blog post di website BBC Teaching English, mengapa dalam kelas bahasa Inggris permainan sangat dianjurkan untuk dilakukan, karena penting untuk perkembangan fisik, intelektual, dan sosio-emosional seseorang. Dan ini berlaku tidak hanya untuk anak-anak, namun semua orang dari berbagai umur. Ketika Anda berada di tengah-tengah permainan “Meong Meong” (silakan bayangkan), Anda pasti akan merasakan hal ini benar.

Lalu rasa penasaran saya kembali terusik ketika di tahun 2011, untuk keperluan persiapan sebuah acara, saya bertemu Bapak Made Taro, seorang ahli cerita rakyat dan permainan anak-anak Bali. Saya sempat mengobrol beberapa saat di rumah beliau dan betapa kecintaan dan semangatnya akan dunia yang digelutinya membuat saya berpikir lebih jauh… Tidak bisakah kita melakukan sesuatu untuk permainan tradisional Indonesia? Pak Made Taro hari ini berumur 74 tahun. Dan semua orang tentu tidak bisa hidup selamanya. Pikiran saya kembali ke permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya… Apa yang membuat mereka masih dimainkan hingga sekarang? Apa yang membuat mereka tetap ada? Permainan-permainan ini bisa dibilang tidak muda alias kuno. Tapi masih dimainkan hingga sekarang.

Sampai hari ini, kesimpulan akan pertanyaan-pertanyaan saya tadi mengarah pada dua hal. Satu, permainan-permainan dalam kelas bahasa Inggris saya masih hidup hingga detik ini karena mereka bisa secara luas dan sebebas-bebasnya dimodifikasi oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Untuk satu permainan saja, saya bisa menemukan puluhan versi. Dan tidak ada seorang pun yang sepertinya mempermasalahkan versi mana yang ‘benar’ atau versi mana yang ‘salah’. Sungguh sayang sekali ketika kita secara tidak produktif mengartikan ‘mempertahankan budaya’ dengan cara menempatkan suatu (katakanlah) tradisi kuno sebagaimana adanya (karena mengubahnya berarti tidak mempertahankan budaya atau bentuk asli?) dan membuatnya menjadi tidak terjangkau masyarakat luas. Contoh sederhana adalah bagaimana tidak banyak anak muda yang tertarik dengan pentas seni Ludruk di Surabaya. Karena tidak ada modernisasi dan inovasi, stagnan, dan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Dua, selain mengalami modifikasi (dan dengan kata lain, interpretasi bebas dari banyak pihak), untuk tetap hidup, permainan-permainan tradisional perlu berkembang dalam hal media penyampaiannya. Banyak dari kita tentu tahu ‘Hangman‘. Permainan sederhana yang juga saya pakai ketika mengajar ini tercatat muncul dari masa pemerintahan Ratu Victoria di Inggris di tahun 1800-an. Dan yang kita tahu sekarang, ‘Hangman’ bisa dengan mudah dimainkan di komputer, smartphone, dan internet dengan berbagai macam versinya. Jika kita ingin mengembangkan permainan-permaianan tradisional dengan cara ini, tentu kita tidak lagi mengandalkan orang-orang seperti Pak Made Taro.

Saat ini, penguasa ilmu dan teknologi adalah anak-anak muda. Saya ingat dosen Sastra Inggris saya dulu sempat berucap (dan di mimpinya ini saya juga percaya), hanya saja jika mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus-kampus di Indonesia bisa bersatu (bukannya malah dikotak-kotakkan ketika MOS), mungkin kita akan bisa menciptakan computer game atau online game paling keren sedunia. Dengan cara? Lulusan teknik komputer, antropologi, sejarah, bahasa, sastra, dsb semua bersatu dalam menyelesaikan sebuah maha proyek. Dan dalam kolaborasi yang seperti inilah saya percaya masa depan permainan tradisional Indonesia akan menjadi cerah dan lebih dari sekadar nostalgia untuk yang tua. Mereka akan tetap hidup – selamanya.

Apa untungnya mengembangkan permainan tradisional dengan cara ini? Banyak orang mulai mengkhawatirkan semakin surutnya minat anak-anak muda terhadap permainan tradisional. Daripada memaksa mereka memahami sesuatu yang tidak lahir di masanya, generasi yang besar dengan permainan tradisional dapat menjadi jembatan dengan mengembangkannya. Maka permainan tradisional ini masih bisa digunakan dan dipahami oleh orang-orang dari berbagai generasi. Selain itu, masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki minat akan tradisi kuno akan juga mengenal dan tertarik pada permainan tradisional. Di satu sisi kita mempertahankan ciri budaya lokal Indonesia, di sisi lain kita mempromosikannya. Bukankah ini seperti mendapatkan dua sisi mata pisau yang sama-sama baik? Lagipula, jika ini terjadi, sebagai orang Indonesia, masa sih kita tidak bangga? 🙂

PS: belum pernah melihat dan mendengar permainan dan lagu “Meong Meong”? Video YouTube ini Meong Meong – Tembang Bali bisa membantu Anda membayangkan betapa serunya permainan ini.

Terima kasih kepada:

Foto: Meong Meong – Tembang Bali.

Penerapan Permainan Tradisional Meong-Meongan untuk Perkembangan Sikap Sosial Anak

The importance of games in class

Hangman (game)

#DestinationNoWhere with @anak_alam

The view from the #DestinationNoWhere ‘s village.

Hari Sabtu tanggal 23 February 2013 kemarin, saya beruntung bisa mengikuti acara pengiriman sumbangan oleh Anak Alam beserta beberapa organisasi lain dan berbagi dengan anak-anak sekolah dasar di sebuah desa yang karena beberapa alasan tidak saya sebutkan namanya di sini. Tak heran tajuk dari kegiatan ini adalah #DestinationNoWhere (tujuan tanpa arah (?)). Lokasi desa berada di perbukitan dan kehidupan masyarakatnya terbilang sederhana. Mungkin di antara pembaca sudah ada yang mengenal Anak Alam, mungkin belum. Silakan membaca kembali tentang mereka di sini anakalam.org atau mengikuti mereka di Twitter @anak_alam.

Ini kali pertama saya mengikuti kegiatan Anak Alam. Bisa dibilang saya anggota baru di sana alias masih bau kencur (aih, bahasanya…). Kenapa saya bisa sampai ada di tempat itu bersama mereka kemarin? Ada baiknya saya menceritakan kronologi hidup saya (yang mungkin bagi Anda tidak penting) sampai akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung. Sewaktu saya kuliah, saya juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler, namun kebanyakan berhubungan dengan jurnalistik, bahasa Inggris (lomba-lomba), dan penelitian ilmiah. Selebihnya? Tentu saja kuliah. Ketika saya mengerjakan skripsi, saya memulai karir mengajar saya secara profesional (baca: dibayar). Selepas kuliah pun saya sempat bekerja di dua perusahaan yang berbeda, masih sebagai guru bahasa Inggris. Hari-hari saya ketika itu dipenuhi dengan kerja, kerja, dan kerja.

Akhirnya saya pun mengundurkan diri dari perusahaan terakhir saya bekerja, tempat saya terakhir kalinya menyandang ‘gelar’ sebagai seorang karyawan. Banyak orang bilang tempat saya bekerja ini bagus dan sangat disayangkan saya melepasnya. Ada banyak pertimbangan yang membuat saya memutuskan hal ini. Pertama, saya tidak ingin berhenti bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris (mengikuti jenjang karir yang ditawarkan di sana sama dengan melepas title saya sebagai English teacher). Ke dua, saya merasa menjadi ‘ikan kecil di kolam yang besar’ bukan untuk saya, ini juga yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengelola usaha sendiri. Ke tiga, saya merasa hidup saya jauh lebih ‘besar’ dari sekadar menjadi seorang ‘corporate slave‘, maka saya pun memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Sejak memulai usaha dua tahun lalu hingga sekarang, sudah cukup banyak periswita jatuh bangun yang saya alami. Selain itu yang terpenting adalah perubahan paradigma dan pola pikir. Saya bukan lagi seorang karyawan yang bertumpu pada gaji tiap akhir bulan. Saya harus pandai-pandai mengatur uang masuk dan uang keluar, menahan diri untuk tidak membeli ini itu, karena tentu saja tidak ada seorang pun yang akan menggaji saya di akhir bulan. Saya pun banyak membaca dan belajar tentang entrepreneurship. Dan karena waktu kerja yang fleksibel (sebagian besar bisa saya atur sendiri), saya bisa mengalokasikan waktu saya untuk membuat dan melakukan banyak proyek, di antaranya @EnglishTips4UIndonesian English Teachers Club (IETC), menulis untuk Bog-Bog Bali Cartoon Magazine, dan banyak lagi.

Dan saya pun berpikir… Bayangkan jika saya masih bekerja di tempat-tempat saya sebelumnya, saya yakin hampir 100% waktu saya saya dedikasikan untuk bekerja. Tidak akan ada @EnglishTips4U, IETC, dan proyek-proyek lain yang saya lakukan. Dan saya merasa beruntung telah mengambil jalan ini. Seiring dengan waktu wawasan saya bertambah. Tentang entrepreneurship (hingga akhirnya saya mengenal istilah ‘social entrepreneurship‘ dan berusaha mencari cara untuk menerapkannya), tentang pendidikan, tentang bahasa Inggris, tentang kualitas guru bahasa Inggris di Indonesia (hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat IETC – cerita selengkapnya akan saya tuliskan di tulisan yang terpisah), tentang hidup, tentang perjuangan, tentang orang-orang, dan lain-lain. Semua hasil rasa ingin tahu bertemu dengan waktu senggang.

Sempat saya bangga dan merasa apa yang saya lakukan cukup. Hingga akhirnya seorang guru mempertanyakan, “Apa betul dengan membuat @EnglishTips4U Anda telah membantu banyak orang? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki Twitter atau internet? Bagaimana dengan mereka?” Seketika saya langsung merasa, “Ada apa ini? Kenapa terasa seperti ditusuk langsung di ulu hati?”Jleb! Begitu kira-kira bunyinya. Lucunya, di saat yang bersamaan akun Facebook Active English mulai berteman dengan Pande Putu Setiawan, pendiri Anak Alam. Saya yakin kami berteman karena ketidaksengajaan (saya terkadang menambah teman secara acak). Status Pande yang kebanyakan berisi keadaan sosial di Bali menarik perhatian saya. Saya lalu mulai bertanya-tanya, “Siapa orang ini? Kok bisa ada orang Bali secerdas ini?” (pertanyaan yang konyol memang).

Kenapa saya begitu tertarik dengan status-status yang dibuat Pande, tidak lain karena saya mengalami sendiri bagaimana Bali saat ini telah berubah. Bali bukan yang dulu lagi. Sampah, kemacetan, banjir, bentrok antar ormas, kemiskinan, tata letak wilayah yang semrawut. Semua adalah contoh hal-hal yang selalu membuat saya keki, setidaknya kemacetan pada khususnya yang saya hadapi ketika saya harus mengendarai motor di Denpasar, Badung, dan sekitarnya. Saya pun akhirnya mencari tahu dan menemukan nama ‘Anak Alam’. Tak disangka, teman yang juga admin @EnglishTips4U juga telah bergabung bersama mereka. Akhirnya bulan Februari ini saya memutuskan untuk ikut aktif, setidaknya di bidang yang saya minati: pendidikan. Saya ingin lebih banyak terlibat dalam kegiatan mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di pelosok Bali.

Dan beruntunglah saya bisa bertemu anak-anak di SD desa #DestinationNoWhere kemarin. Berikut ini foto-foto hasil berbagi kami dan ceritanya…

Kids on the side of the road with their new toy balls from Anak Alam.

Pande biasanya menyimpan mainan anak-anak (seperti bola plastik di foto) di dalam mobilnya dan memberikannya ke anak-anak desa yang sewaktu-waktu ia temui di jalan. Bagi anak-anak kota dengan mainan canggih tentu ini terlihat sepele. Tapi bagi mereka? Ia juga sempat mengungkapkan di sebuah survey yang pernah ia lakukan, hadiah paling berkesan menurut anak-anak di desa adalah boneka. Saya mengerti betul kenapa. Ketika saya kecil saya juga mengoleksi boneka dan memiliki ikatan emosional dengan mereka. Ketika saya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (satu-satunya pengalaman saya terjun ke ‘masyarakat’), saya sering kali memainkan boneka di depan anak-anak dan mereka begitu terkesan dan terpesona dengan semua gerakan dan suara yang saya buat. Saya pun menikmati momen ini. Mainan adalah bagian penting dari hidup anak-anak.

Meeting with the locals. Pande on the left with Anak Alam white t-shirt.

Sesampainya di #DestinationNoWhere, kami sudah ditunggu perwakilan dari penduduk lokal beserta kepala dusun (nomor dua dari kiri) untuk acara penyerahan bantuan di balai desa.

The long walk to school, to the only elementary school available in the village.

Sambil menunggu acara penyerahan bantuan, kami para relawan kesehatan (dan saya tidak tahu harus menyebut diri apa – relawan pengajar mungkin?) pergi ke sekolah dasar setempat. Jangan dibayangkan jalan yang kami tempuh seperti berjalan satu atau dua gang di kota. Ini jalannya berkelok-kelok, naik turun, dan cukup jauh. Setelah berjalan sebentar, kami memutuskan untuk menumpang di sebuah truk pickup lalu melanjutkan jalan sedikit lagi. Anak-anak berseragam olahraga oranye sudah menunggu sejak siang. Mereka berjalan kembali ke sekolah bersama kami.

Evi, a health volunteer who is also a student of Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, was giving a presentation to 1st, 2nd, and 3rd graders on kinds of teeth and their functions.

Sampailah kami di sekolah dasar. Kami membagi diri menjadi dua kelompok dan saya kedapatan masuk ke kelas 1, 2, dan 3 (di dalam satu kelas) bersama Evi dan Ria, relawan Anak Alam. Evi yang juga mahasiswa Kedokteran Gigi memberi penjelasan tentang jenis-jenis gigi dan fungsinya, serta bagaimana cara menggosok gigi yang benar kepada anak-anak. Hal-hal yang terlihat sangat sederhana ketika di kota, tapi memiliki nilai (value) yang berbeda di sini. Dan lihatlah papan tulis yang digunakan. Tidak seperti di kota yang telah tergantikan dengan whiteboard (tapi percayalah, saya lebih suka papan tulis old school ini). Kami juga mengajari mereka bernyanyi dan meneriakkan yel-yel. Di akhir penjelasan saya sempat memberikan sebuah permainan bahasa Inggris tentang angka-angka kepada anak-anak yang saya ciptakan saat itu juga.

A second grader was writing the volunteer’s explanation on her book.

Tak bisa dipungkiri, anak-anak, di mana pun mereka berada, entah kota atau pun desa, mempunyai semangat belajar yang sama. Terlebih di desa ini ketika belajar dan datang ke sekolah adalah sesuatu yang ‘istimewa’. Di dalam foto, seorang anak dari kelas tiga yang terlihat menonjol (saya lupa namanya) sedang mencatat apa yang ditulis relawan di papan. Saya pun mendapat cerita dari Ria, bahwa di sekolah ini fokus utama pengajaran adalah mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Guru-guru tidak memiliki mata pelajaran khusus. Tapi melihat dari bagaimana anak-anak menulis dan membaca (walupun untuk yang satu ini masih terbata-bata dan beberapa kali salah sebelum akhirnya benar), saya bisa melihat bagaimana guru-guru di sana sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Bravo for that! 🙂

Kids on truck, hitchhiking to go home.

Bapak-bapak di sebelah kiri foto ini (yang berbaju hitam – maafkan saya tidak tahu nama beliau) mengatakan pada saya ketika saya mengambil foto ini, “Untuk pulang mereka harus jalan lagi sekitar satu sampai dua jam dari sini. Kalau pagi mereka masuk sekolah jam 7, jam 5 atau setengah 6 sudah berangkat dari rumah.” Ah! Never have I imagined that. Sering mendengar anak-anak di pelosok yang datang ke sekolah melewati jembatan reyot yang hampir putus, tapi tidak pernah melihat langsung dengan kepala sendiri. Sewaktu SD dan SMP saya juga sering jalan kaki ke dan pulang sekolah, tapi tentu tidak sejauh itu. Satu hal yang pasti: anak-anak dan penduduk desa di sini bisa dipastikan super sehat! Satu hal yang harusnya membuat kita iri pada mereka.

Kids with plastic bags as school bags. Shown is the plastic bag from a popular supermarket in Denpasar, Tiara Dewata.

Selain bersekolah tanpa sepatu dan bahkan alas kaki, kebanyakan dari mereka menggunakan tas plastik sebagai tas sekolah. Terlihat hanya sedikit anak yang menggunakan tas sekolah dan sepatu. Konon mereka menggunakan tas plastik karena tidak ingin tas sekolahnya kehujanan ketika mereka berjalan ke dan pulang sekolah. Apa ini artinya mereka berjalan ke dan pulang sekolah tanpa payung? Bisa dipastikan iya…

The scenery from above on our way home.

Kegiatan selesai dan kami pun pulang. Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari sesuatu yang baik dan ada perasaan lega setelah melakukan sesuatu yang baik pula. Walaupun sedikit, setidaknya kami (atau saya) sudah mengambil peran. Pengalaman ini tak terlupakan, dan saya menunggu momen-momen lain untuk bisa berbagi dengan anak-anak di lebih banyak desa, berbagi ilmu yang saya punya, dan tentunya bersenang-senang dengan mereka. Jangan ditanya apa yang ada di benak saya ketika saya sampai rumah hingga sekarang. Cuma satu: kira-kira kontribusi apa lagi ya yang bisa saya berikan pada anak-anak ini? Can’t wait for the next #DestinationNoWhere atau kegiatan berbagi ke pelosok-pelosok lagi bersama Anak Alam. Anak Alam, thank you. You rock! 🙂