Origami, cara berpikir, dan kreativitas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Xmas tree origami, kerajinan tangan pertama yang saya buat setelah bertahun-tahun lamanya vakum

Di rumah ada banyak kertas kado menganggur sisa  waktu masih punya online shop. Karena merasa tidak ada gunanya, saya berpikir sebaiknya dibikin apa ya kertas-kertas kado ini. Beberapa waktu lalu saya mencoba menjualnya tapi belum ada yang serius membeli. Akhirnya minggu lalu saya iseng buka-buka YouTube mencari tutorial kerajinan tangan menggunakan kertas. Secara mengejutkan saya berhasil membuat sebuah origami (lihat foto). Rasanya senang sekali karena ini adalah kerajinan tangan pertama saya setelah… 10 tahun!

Hah? 10 tahun? Kok bisa? Saya sendiri suka heran, terutama ketika saya kuliah, kenapa saya selalu gagal melakukan hal-hal ini: bikin kerajinan tangan atau craft (dalam bentuk apapun), menggambar, melukis, bahkan menulis kreatif. Heran karena sejak SD hingga SMA justru semua kegiatan ini adalah bidang ahli saya. Saya suka sekali menulis puisi, menggambar, membuat kartu ucapan sendiri (terutama untuk hari perayaan dan ulang tahun teman), membuat kerajinan tangan seperti pigura, hiasan dinding, dsb, menghias celana jeans saya sendiri, membuat craft book, dsb. Sayang semuanya sekarang entah di mana.

Beberapa tahun lalu saya sempat membaca bahwa kreativitas pada anak umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Begitu juga dengan kejeniusan. Dikatakan lagi, tiap orang terlahir jenius. Hanya saja ketika mereka dewasa, secara perlahan mereka kehilangan kecakapan ini. Faktor utama penyebab hilangnya kreativitas dan kejeniusan pada anak justru adalah institusi sekolah. Kreativitas juga sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir divergen (divergent thinking skill). Karena penasaran, saya akhirnya meng-Google beberapa artikel menarik mengenai hal ini. Selain karena saya penasaran kenapa saya tidak semahir dulu dalam hal membuat kerajinan tangan.

Sebelum saya menjelaskan penyebab menurunnya kreativitas pada anak, ada baiknya kita lihat dulu dua cara berpikir di bawah ini. Cara berpikir yang mendukung kreativitas adalah yang di sebelah kanan.

Dua cara berpikir: convergent thinking dan divergent thinking (klik untuk ke sumber gambar)

Dengan melihat gambar di atas dan mengingat bagaimana saya menjalani kuliah dan berusaha memenuhi segala tuntutannya, saya serta merta menjadi sadar mengapa begitu sulit bagi saya untuk kembali membuat kerajinan sewaktu kuliah (hingga sekarang ketika saya menjadi guru bahasa Inggris). Dikombinasikan dengan dua artikel ini, Age and creativity dan Some Possible Reasons for the Drop In Divergent Thinking, inilah penyebab menurunnya kreativitas pada orang dewasa. Pendapat yang saya simpulkan sendiri diberi tanda *.

  1. First and foremost, setelah saya kuliah (agak sedikit menyesal sih hahaha…) cara berpikir saya sama sekali berubah dibandingkan dengan ketika saya SD atau sekolah menengah. Memang saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkuliahan, karena di satu sisi saya harus menjalaninya jika saya menginginkan gelarnya, dan di satu sisi waktu itu saya maupun orangtua tidak mengetahui sedikit pun tentang 2 cara berpikir ini dan implikasinya. Ketika kita kuliah (terutama jurusan yang sama ambil, Sastra Inggris), kita dituntut untuk berpikir secara analitis dan logis. Yang artinya kita dituntut untuk mencari kebenaran. Dan seringkali kebenaran ini cuma satu, entah menurut dosen atau teori tertentu (lihat kembali gambar di atas). Maka sekarang jika dipikir kembali, apa yang sering dikatakan Bob Sadino, “Jika ingin jadi pengusaha sukses, jangan sekolah.” itu benar karena alasan ini. Seorang entrepreneur memang dituntut untuk selalu mencari jalan keluar dan menemukan cara baru demi dapat bersaing di dunia usaha. Tak heran juga banyak orang yang hanya lulusan SD atau SMP yang sukses menjadi pengusaha. *
  2. Karena tuntutan untuk mencari satu kebenaran, kita jadi cenderung takut mengambil resiko atau takut salah. Karena kesalahan akibatnya bisa fatal (dapat nilai jelek, tidak lulus kuliah, ketika bekerja dianggap kurang kompeten atau terampil, dsb), maka kita cenderung belajar bukan dengan inovasi dan penemuan tapi dengan cara meniru, seperti meniru orang lain yang dianggap sudah ‘sukses’ (supaya tidak gagal kan?). Dengan meniru artinya kita menghindari diri dari kemungkinan menemukan penemuan di luar yang sudah ada. Dan ini bukan pertanda baik bagi kreativitas.
  3. Masih berhubungan dengan 2 faktor di atas, penyebab ke tiga adalah pengajaran (di sekolah) yang dilakukan untuk tes atau ujian. Ketika kita sekolah, tujuan kita belajar adalah supaya ketika kita ujian kita bisa mengetahui jawaban yang benar. Tentu semata-mata untuk mendapatkan nilai yang ‘baik’. Karena pola pengajaran dan pendidikan yang seperti ini, akhirnya anak-anak tumbuh dengan anggapan hanya ada satu jawaban dari segala hal yang ada.
  4. Penyebab ke empat menurut saya yang paling penting. Di salah satu artikel disebut sebagai herd instinct (insting hidup dalam kawanan), sementara di artikel yang lain disebut sebagai the price of acceptance and conformity (harga penerimaan dan kepatuhan). Seiring dengan bertambah dewasanya kita, kita ‘diajak’ atau diajarkan untuk patuh pada aturan dan norma yang berlaku dan jika dilanggar akan mengakibatkan konsekuensi yang mengikat, contoh: apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Hal ini semata-mata demi kita bisa hidup di dunia dengan orang lain. Kita mencari aman dengan melakukan apa yang menjadi konsensus bersama yang harus dilakukan dan menghindari apa yang tidak boleh dilakukan. Jika kita menjadi ‘terlalu kreatif’ bisa-bisa apa yang kita lakukan atau pikirkan menjadi tidak terduga, maka berbahaya bagi orang lain. Mungkin contohnya seorang tulang punggung keluarga yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya, bisa mengakibatkan keadaaan ekonomi keluarga menjadi morat marit alias berantakan.

Wah, akhirnya saya menemukan jawaban dari semua ini. Bisa dibilang saya agak frustasi ketika mulai menggambar atau membuat kerajinan. Karena hampir selalu sulit memfokuskan diri untuk mulai mengerjakan karena pola pikir yang sama sekali berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Tapi saya harus berusaha mendobrak keadaan ini (lebay? No! I really mean it!). Jika saya sudah menemukan caranya, akan saya bagi lagi cerita saya di sini. Jika Anda mengalami hal yang sama, semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share. 🙂

Advertisements

“Imagine tourist destination”: applying semi project-based activity in a business English class

After the success of using text message as homework in one of my ESP classes, I was tempted to try on a new project in a business English class that I taught last month. The business English class was set in a tour and travel company in Denpasar, Bali. It was a short course that lasted for only a month focusing on business (email) writing, communication and presentation skills. At first I planned to have the participants – who are mostly accounting staff – to present a tourist destination in Bali. However, after thinking that this might be too easy for them (as their level of English is somewhat above elementary to pre-intermediate), I changed my mind.

Just like the previous post, in this blogpost I will share about the activity – how I did it and what I achieved – and hopefully it will be useful for all of us.

The aims of the activity:

  1. To meet the objectives of the short course.
  2. To increase students’ engagement and participation.
  3. To promote creativity and active learning.

What activities were there:

There were 4 main sub-activities involved in this ‘Imagine tourist destination’ activity. They were:

  1. Students made their own original promotional brochures of an imaginary tourist destination of their choice.
  2. Students presented their imaginary tourist destinations in front of the class (their ‘audience’ – including me).
  3. Students wrote an inquiry and/ or reservation email playing a role to be an interested tourist to a selected presenter (or ‘the tourist destination’s management or reservation agent’).
  4. Students – acting as the company management – replied to an email from the interested tourist for a follow-up.

Skills practiced through the activity:

  1. Business (brochure and email) writing,
  2. Communication and presentation.

For how long it was done:

It took me at least a total of 5 meetings to complete the whole activity (note: a meeting lasted for an hour/ 60 minutes). 1 meeting for introductory activities and introduction to the activity, 2 meetings for presentations (there were a total of 10 students in the class), and 2 meetings for discussing email writing and giving feedback.

What the results were:

Promotional brochures

Some of the promotional brochures the students made

Some of the promotional brochures the students made

Most of the students came up with what I thought amazing ideas on imaginary tourist destinations. Here are some of them:

  1. The Moon Holiday by Spectacular Planets Attract Cosmic Explorer (SPACE)
  2. Magic Mountain Home Stay (on the foot of Mount Everest)
  3. East Bali National Park – Best Safari Journey Experience by Putra East Bali Safari Tour and Travel
  4. The Resto Plane (a dining experience on a plane around Bali)
  5. Waterfall Restaurant – Best Balinese Restaurant (a dining experience at the bottom of a waterfall in Bali)

All brochures were made and prepared well with shapes, images, and information that are enticing. Since the tourist destinations are imaginary, most of the titles successfully raised curiosity.

Presentations

A student presenting while the audience read the information from the brochure

A student presenting while the audience read the information from the brochure

I enjoyed the presentations mostly because both presenters and audience seemed to enjoy their roles. Although there were times code-switching happened, for example when a presenter suddenly switched to Indonesian when she could not think the English for some Indonesian words, the flow was smooth and communication was done right on target. Both presenters and audience were active, adding to the Q & A sessions’ dynamic. Some answers could be funny too. In short, it was fun and engaging.

Email writing

An email written by a 'travel agent' (of 'Food and Flower Centre')

An email written by a ‘reservation agent’ (of ‘Fruit and Flower Centre’)

Each student had to write 2 emails: one they wrote as a tourist and one as a reservation agent, replying to a tourist’s inquiry and/ or reservation. This is where the challenge lay. As accounting staff, their company might not ask them to make brochures. However, email writing is pretty much their everyday task. As the example above shows, minor mistakes in grammar were seen in most of the emails they wrote. I had only 2 meetings to discuss these mistakes when in fact I think the explanation and practice on email writing needs more time than that. It will be discussed in my conclusion below.

What I learned from this activity:

What made it work

  1. The activity promoted creativity, active learning, and critical thinking.
  2. It increased students’ engagement and participation.
  3. Students learned English using topics that are familiar to them and their work. This is important, especially in adult English classes.
  4. It helped build students’ confidence and fluency especially in communicating and presenting.

Why it did not work

These are the things I should fix if I wish to use this activity for future classes.

  1. Students needed more time to have grammar lesson, application, and practice. The best option would be discussing only grammar points that are specifically related to (their) email writing or exploring only parts where the mistakes were found the most. I did give introduction to email writing for 1-2 meetings before starting the activity, but it was not enough.
  2. A student felt (through the class questionnaire) that the activity did not have a ‘clear goal’. This was probably because she did not feel like ‘learning’. I need to check on my method in delivering the aims of the activity.
Some students posing with their works after the first presentation session

Some students posing with their works after the first presentation session

As usual, I am open to any input or suggestion. Or if you want to try applying something like this in your class (or something that is even better!), let me know. Until then, see you in another post. 🙂

Reference:

Doehla, Don. (2011, April 21). Using Project-Based Learning to Teach World Languages. Retrieved from http://www.edutopia.org/blog/world-language-project-based-learning-education-curriculum-don-doehla