Tips membaca buku untuk pekerja yang sibuk

tips membaca buku

Source: facebook.com/activeenglishbali

Tulisan iseng-iseng tidak berhadiah ini saya dedikasikan kepada para pekerja yang tiap hari harus bekerja keras sampai seringkali tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca buku. Ternyata kita masih bisa lo membaca buku walaupun sedang sibuk. Karena semua ada triknya. Hal apapun akan mungkin terwujud kalau ada niat sejak awal. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca buku karena sibuk ya… Berikut tips yang bisa diikuti:

  1. Pilih buku yang menjadi minat dan/ atau kebutuhan Anda. Misal: jika Anda seorang praktisi HR, buku tentang psikologi industri atau manajemen SDM akan sangat menarik dan berguna. Dengan begini akan ada motivasi lebih untuk membuka dan membaca buku itu, serta Anda tidak akan berpikir sedang membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Ingat: Anda tidak perlu membaca semua buku di dunia ini. Jadi sebelum membaca, seleksi yang ingin Anda baca terlebih dahulu.
  2. Atau kalau untuk Anda yang suka membaca untuk mencari hiburan (karena banyak yang ingin “lari” dari beban kerja!), pilih buku yang menurut Anda akan menghibur Anda. Yang masuk dalam kategori buku yang Anda cari adalah fiksi, biografi, memoar, spiritual, pengembangan diri, travel, kuliner, lifestyle, hobi, dsb.
  3. Bawa buku yang sedang Anda baca kemana-mana (entah dalam bentuk buku fisik atau pdf di gadget Anda). Tujuannya adalah, ketika ada jeda di antara aktivitas lain (biasanya menunggu orang, sebelum meeting, dsb) Anda bisa meluangkan waktu untuk membaca daripada melakukan hal-hal lain yang kurang bermanfaat.
  4. Setelah kerja atau sebelum tidur, luangkan sedikit waktu untuk membaca (saya biasanya 1 jam, 2 jam kalau saya beruntung). Selain “mengistirahatkan” otak Anda dari jenuhnya bekerja, membaca sebelum tidur bisa berfungsi untuk membuat refleksi diri dan me-reset pikiran. Bonus lain tentu ilmu yang lebih melekat.
  5. Last but not least, kalau ingin lebih termotivasi, bisa bergabung di book club (klub buku tempat orang-orang membaca buku dan membicarakan apa yang mereka baca) sesuai dengan minat Anda, offline atau online. Atau Anda bisa membuatnya sendiri di tempat kerja Anda sendiri. Fungsi bergabung dengan book club adalah untuk mendapat dorongan positif dan motivasi untuk terus membaca. Karena jujur, tidak ada yang lebih mengecilkan hati selain dihadapkan pada orang-orang yang tidak memahami manfaat membaca atau secara terus terang menyuruh Anda berhenti membaca! Saya pun pernah mengalaminya dan hal itu tidak menyenangkan…

Jadi bagaimana? Tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca buku kan? Coba sekali lagi saya ingatkan apa saja manfaat membaca buku. Di antaranya mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan menganalisa lingkungan, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, menambah kosakata, serta memberikan hiburan. Dan yang terpenting untuk orang yang bekerja adalah menambah ilmu dan meningkatkan ketrampilan sesuai dengan bidangnya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri! Selamat membaca! 🙂

 

Advertisements

Perpusda Bali: layanan yang buruk dan nasibmu kini

Tulisan ini adalah hasil kumpulan beberapa postingan saya di Facebook tentang Badan Perpustakaan & Arsip Pemerintah Provinsi Bali (disingkat Perpusda Bali), yang merupakan hasil kunjungan, pengamatan, dan pengalaman saya datang selama 3 kali selama bulan Juni lalu. Selain hasil pengalaman saya sendiri, di akhir tulisan akan saya tambahkan cerita dari beberapa teman lain mengenai pengalaman mereka mengunjungi perpus ini.

Sebelum ke hasil pengamatan, saya ingin menceritakan sedikit alasan saya berkunjung ke tempat ini untuk pertama kalinya dalam hidup. Selama ini sumber penyedia buku saya adalah toko buku – biasanya Gramedia. Ketika saya merasa ingin membaca buku baru, saya selalu pergi ke toko buku untuk membelinya. Tapi seiring dengan waktu, dengan semakin banyaknya buku yang ingin saya baca, kebutuhan akan buku saya meningkat.

Ini artinya biaya untuk membeli buku pun bertambah tinggi. Sementara bujet tidak juga bertambah. Harap diketahui rata-rata buku yang saya beli 3 sampai 5 per bulannya, tergantung dari topik/ tema dan ketebalan atau harga, dan rata-rata non-fiksi. Karena belum menemukan perpus swasta di Denpasar, saya berpikir untuk ke perpus ini, yang konon katanya terbesar di Bali (tentu karena tidak ada lagi alternatif lain).

Tapi alangkah terkejutnya ketika saya berkunjung, tidak saja fasilitasnya yang sangat minim, tapi keadaan diperparah dengan pelayanannya yang sangat tidak memenuhi standar pelayanan untuk tempat umum. Untuk lebih jelasnya, mari saya runutkan kronologi kunjungan saya yang cuma 3 kali itu (dan maaf beribu maaf, saya belum tertarik untuk kembali lagi, kecuali untuk protes atau bertemu dengan pimpinannya)…

Tanggal 15 Juni 2016, sore hari menjelang pukul 3 sore…

Perpusda Bali 1

Jam buka Perpusda Bali yang terlalu singkat.

Saya datang untuk pertama kali. Saya pikir saya ingin mampir setelah keliling menyelesaikan urusan. Di pintu depan saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, jangan-jangan sudah tutup. Dan ternyata benar. Sewaktu masuk, petugas di loket penerima tamu mengatakan bahwa mereka sebentar lagi akan tutup. Akhirnya saya ke sana cuma untuk mengambil foto syarat keanggotaan untuk saya bawa di kunjungan berikutnya.

Cuma satu hal yang saya sesali dari kunjungan pertama saya ini: apa pihak pengelola perpus ini berpikir bahwa orang-orang yang datang ke perpus HANYA murid-murid sekolah dan mahasiswa yang tidak bekerja dari pagi sampai sore?  Maka jam bukanya begitu identik dengan jam buka kantor pemerintahan yang dikelola PNS yang (maaf) terkadang malas? Ini sungguh aneh dan sangat tidak menguntungkan pekerja.

Tanggal 16 Juni 2016, sekitar jam 2 siang…

Akhirnya saya berkunjung lagi. Kali ini dengan membawa syarat keanggotaan (pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar) dan mendaftar. Kali ini saya sudah bisa meminjam buku (3 judul). Berikut hasil pengamatan berikut penilaian saya ketika masuk ke dalam:

Perpusda Bali 8

Saya bisa meminjam 3 buku dengan “kartu anggota” sementara.

Lokasi

Perpusda Bali sendiri berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 15 Denpasar, di pinggir jalan besar yang sibuk. Ini artinya dari segi bisnis dan pemasaran, serta akses dan visibility (mudah dilihat/ dicari), sangat menguntungkan. Tapi sayangnya pihak pengelola sepertinya kurang berinisiatif untuk menarik lebih banyak pengunjung ke tempat ini. Ini bisa dilihat dari sepinya perpus dan sedikitnya pengunjung tiap kali saya datang. 

Suasana

Dengan gedung yang tua, jangan berharap suasana yang modern. Bahkan rak buku, tempat duduk dan mejanya pun tua (termasuk mayoritas pegawainya). Tapi yang menyenangkan adalah suasananya sangat tenang. Ironisnya, yang paling berisik sendiri adalah ibu penjaga yang tiap 10 menit menjelang tutup mengingatkan bahwa perpus sebentar lagi tutup (padahal jam dinding di tempat itu juga tidak kurang jumlahnya).

Perpusda Bali 3

Salah satu lorong dengan rak-rak buku tua.

Buku

Beberapa kawan di Facebook sudah menyebut sebelumnya, kebanyakan koleksi buku lama. Lama di sini tidak hanya dalam artian buku (terbitan) lama, tapi koleksi buku lama yang sepertinya sudah ada di sana sejak dahulu kala dan koleksi ini jarang diperbarui dengan bukti hanya ada sedikit buku baru. Dan maksud saya dengan koleksi buku lama di sini bukan buku-buku kuno. Ini buku-buku yang ada di Ruang Baca Umum.

Tapi tidak menutup kemungkinan ada buku-buku baru walaupun sangat terbatas (beberapa judul dari Pramoedya Ananta Toer ada). Peletakan dan penyusunan buku agak berantakan, tapi kalau sabar dan telaten mencari, bakal menemukan beberapa permata di tumpukan lumpur. Peminjaman buku maksimal 3 judul dalam satu waktu (kurang banyak!) dan untuk 3 buku itu waktu peminjaman selama 2 minggu.

Perpusda Bali 4

Buku-buku tua yang tidak tertata rapi.

Teknologi

Jangan berharap ada sistem inventaris buku ber-barcode, karena tidak ada! Di Ruang Baca Umum di lantai 3, ibu petugas (yang saya bilang berisik tadi) mencatat berapa jumlah buku berdasarkan kategori yang dipinjam hari itu (di hari itu saya intip cuma ada sekitar 20 judul yang keluar; tidak banyak). Lalu saya ke bagian pendaftaran/ loket di lantai 1 untuk dicap tanggal pengembalian buku di bagian belakang masing-masing buku.

Saya bertanya apa ada sesuatu yang harus saya bawa waktu mengembalikan, petugas bilang tidak. Semua dilakukan secara manual. Bahkan di ruang baca waktu saya tanya apa bisa mencari buku di komputer, petugas mengatakan komputernya sedang error (di kunjungan saya yang ke tiga pun demikian). Sepertinya komputer yang digunakan bekas atau hibah yang sudah tidak memadai. Sejauh mata memandang tidak ada free wifi.

Oh ya, perlu saya tambahkan, website resmi Perpusda Bali sudah tidak diperbarui sejak tahun 2012. Jika permasalahannya adalah tidak adanya pegawai yang mumpuni untuk melakukan ini (karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pegawai rata-rata sudah berumur), seharusnya tugas seperti ini bisa di-outsource asalkan pengelolaan tetap berasaskan profesionalisme (pihak perpus membayar orang untuk jasanya).

Ruang baca

Sejauh yang saya lihat ada 3 ruang baca yg bisa diakses publik: Ruang Baca Umum, Ruang Referensi, Ruang Baca Anak-Anak. Ruang Baca Umum dengan koleksi yang bisa dipinjam, Ruang Referensi tidak bisa. Sementara Ruang Baca Anak-Anak saya lihat dari luar cat dan dekorasinya terlihat kuno dan tidak terawat. Agak menyedihkan sebenarnya. Bahkan tidak ada karpet atau sejenisnya untuk tempat anak-anak bermain atau gegoleran.

Yang mengherankan, dengan demikian banyaknya ruangan (dan pegawai) bisa dibilang koleksi bukunya tidak banyak. Menurut website resminya, ada lebih dari 10.000 judul buku. Menurut UNESCO, lingkungan miskin di AS memiliki rasio jumlah anak dan buku sebesar 300: 1. Untuk Bali yang jumlah penduduknya di tahun 2015 sudah mencapai 3.9 juta jiwa, artinya rasio penduduk dan buku adalah 390: 1. Tapi yang lebih buruk adalah fakta bahwa masih sedikit sekali yang memanfaatkan keberadaan perpus.

Pegawai dan pelayanan

3 kali berkunjung dan satu hal yang pasti soal kualitas pelayanan: jangan berharap terlalu banyak. Anggap berkunjung ke kantor pemerintahan yang belum tereformasi. Ibu-ibu petugas sepertinya buru-buru ingin pulang dengan bicara keras-keras di ruang baca. Waktu ada 2 orang datang mendekati jam tutup, dengan sigap dia berseloroh, “Kok sore banget (datangnya)?” Atau waktu sehabis saya pinjam buku dan tak kunjung pergi, dengan “bersemangat” dia berkata, “Ya, yang sudah pinjam silakan langsung ke bawah. Besok lanjut lagi. Oh ya, besok bukanya sampai jam 1 ya!” Sungguh terlalu.

Keanggotaan

Biaya keanggotaan GRATIS. Tapi walaupun demikian, penggratisan ini bukan trik sulap yang serta merta membuat orang tertarik bekunjung dan membaca buku, terutama setelah kejadian yang menimpa saya di kunjungan ke tiga (cerita di bawah). Syarat keanggotaan cuma dua: pas foto 2×3 sebanyak 4 lembar dan fotokopi KTP. “Kartu anggota” (lihat wujudnya di foto di bawah) jadi di kunjungan berikutnya, dalam bentuk yang jadul.

Perpusda Bali 5

Ini yang pengelola sebut sebagai “kartu anggota” – 90-an banget!

Tanggal 22 Juni 2016, sekitar jam 2.30 siang…

Saya kembali lagi karena ingin mengembalikan buku-buku yang saya pinjam. Cukup tipis dan 1 buku terjemahannya kurang bagus, jadi saya tangguhkan untuk membacanya. Saya kembalikan buku-buku di loket di lantai 1 lalu menuju ke Ruang Baca Umum. Alangkah terkejutnya saya karena ditegur oleh petugas (total 3 orang) yang menyuruh saya menaruh tas jinjing saya di tempat penitipan di luar gedung, dekat tempat parkir.

Ini cukup tidak konsisten karena di kunjungan sebelumnya saya pun membawa tas backpack serut dan tidak ada satu pun yang protes. Di kunjungan kali ini pun ibu petugas di loket pengembalian tidak berkata satu patah kata pun mengenai tas yang saya bawa. Dan saya lihat sekeliling, tidak sedikit yang membawa tas juga. Tegurannya tidak menjadi masalah. Yang mengangetkan adalah bagaimana cara mereka menegur.

Ketika petugas ke dua di Ruang Baca Umum menyuruh (saya katakan menyuruh karena nadanya memang tidak menyenangkan) saya menaruh tas di salah satu ibu petugas yang duduk di sudut ruangan, saya menghampiri ibu itu dan bertanya apa benar ini tempatnya untuk menaruh tas. Dengan sangat ketus dan mata memicing seolah-olah saya punya dosa besar (mungkin mengganggu bengongnya dia), dia malah bertanya, “Siapa yang suruh?!” Detik itu juga saya langsung kehilangan selera untuk mencari buku.

Perpusda Bali 7

Maklumat Pelayanan yang pihak pengelola langgar sendiri.

Saya kembali ke loket di lantai 1, lalu mulai marah-marah ke petugas yang menangani pengembalian buku tadi. Saya minta sebuah kertas dan meminjam pulpen, untuk menulis saran. Anehnya, sepanjang kunjungan saya yang pertama sampai hari ini, tidak satu kali pun saya mendapatkan senyum tulus dari satu pegawai pun, walaupun tak jauh dari loket ada x banner berjudul “Maklumat Pelayanan” (lihat foto di atas).

Melihat saya marah, si ibu petugas ini tiba-tiba melunak dan mulai bisa tersenyum. Ada kehati-hatian dalam cara dia menimpali keluhan saya, begitu juga sedikit rasa takut. Yang mana sebenarnya tidak harus dia lakukan jika pegawai tidak ketus sejak awal. Yang membuat saya lebih kecewa, waktu saya ingin memasukkan kertas ke kotak saran, dia malah mengambilnya. Saya curiga tulisan saya tidak akan sampai ke mana pun. Dan yang paling penting: tidak ada satu pun kata maaf yang keluar dari mulutnya.

Itu lah kali ke tiga dan terakhir saya berkunjung ke Perpusda Bali. Niat awal saya adalah ingin menulis surat yang saya tujukan langsung pada pimpinannya dan saya serahkan di sana, tapi saya masih ragu dan memikirkan satu cara yang punya dampak lebih besar dan langsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya keberadaan perpustakaan. Jika pembaca ada masukan, silakan tinggalkan komentar.

Pentingnya perpustakan bagi masyarakat 

Satu hal, agaknya saya tidak perlu menguliahi lagi soal manfaat membaca. Mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kosakata, hingga memberikan hiburan, adalah sedikit dari banyak manfaat membaca. Kondisi sebuah perpustakaan daerah adalah cermin tingkat literasi daerah itu. Jika bisa dikatakan demikian, saya bisa dengan percaya diri mengatakan tingkat literasi Bali rendah.

Jujur, di kunjungan pertama saya sepulang dari Perpusda saya menangis. Kenapa? Apa yang saya lihat tiap hari di sosial media (online) maupun lingkungan sekitar (offline) entah itu masalah rasisme, kebiasaan membuang dan membakar sampah, pola pikir bebal dan susah maju, itu semua akarnya adalah kurang terbukanya wawasan masyarakat. Dan kunci keluar dari masalah-masalah ini tidak lain tidak bukan adalah pendidikan.

Dan yang saya maksud dengan pendidikan ini bukan gelar atau sekadar hadir di sekolah, tapi proses penyerapan ilmu, keterbukaan pikiran, penerimaan akan perubahan dan ide-ide baru, kemampuan menganalisa fenomena sosial dan menelusuri akar-akar masalahnya, serta menciptakan solusi yang inovatif berdasarkan logika dan ilmu pengetahuan. Untuk sampai ke tahap itu, perlu ada perubahan dalam mindset.

Sebelum sebuah masyarakat maju dan modern secara fisik, terlebih dahulu mereka harus maju dan modern sejak dalam pikiran, sejak dalam jiwa. Dan nutrisi atau makanan apa yang paling tepat bagi jiwa yang sakit dan rusak selain ilmu pengetahuan? Tiada lain tiada bukan sumber ilmu adalah buku. Kegiatannya kita sebut membaca dan kemampuannya kita sebut literasi. Inilah inti dari life long learning, proses belajar seumur hidup.

Perpusda Bali punya segala kekuatan untuk mengubah wajah masyarakat sekitarnya untuk menjadi lebih maju dan modern, tapi sayangnya mereka tidak menyadari kekuatan itu. Ketika untuk membeli bahan kebutuhan saja daya beli masyarakat masih rendah, jangan harap mereka akan berpaling untuk membeli buku. Maka tersedianya buku yang bisa dipinjam secara gratis adalah solusi yang tepat akan akses masyarakat terhadap buku.

Dan satu lagi, salah satu masukan berharga dari seorang teman yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat (dengan pengelolaan perpusda yang jauh lebih baik daripada yang kita punya di Bali ini), salah satu tujuan adanya perpustakaan daerah adalah agar masyarakatnya bisa terus mengembangkan diri dari segi pengetahuan dan ketrampilan yang pada akhirnya memungkinkan dia berkontribusi lebih banyak untuk daerahnya.

Jika kita sering mengeluh sumber daya manusia kita yang tidak memiliki daya saing, mengapa kita begitu lalai dengan fasilitas yang seharusnya tersedia untuk masyarakat kita supaya mereka mengembangkan diri? Dan tentu perpustakaan tidak hanya melulu soal buku, ada banyak kegiatan lain yang bisa diinisiasi dari institusi ini, hanya saja jika dikelola dengan kecintaan tinggi (passion) dan profesionalisme. Itu harapan saya!

Cerita dari teman-teman

Bagian pertama: cerita teman-teman tentang Perpusda Bali

Rika, warga Denpasar:

Pertama kali ke Perpusda pas SD, sama Papa. Sekitar kelas 3 – 4 SD, sekitar tahun 1993 – 1994. Ke sana pinjam buku. Waktu itu kesannya tempatnya bagus, bukunya banyak. Mungkin karena masih kecil ya. Waktu SMA pernah ke sana lagi, untuk baca komik. Dan waktu kuliah (tahun 2007) ke sana lagi untuk cari bahan skripsi. Seingatku dari dulu tidak terkomputerisasi, banyak debu, peletakan buku tidak bagus, padahal banyak buku yang berkualitas, tidak dijual umum, langka. Dan seingatku pegawainya tua-tua. Dari SMA sampai kuliah rasanya tidak banyak berubah.

Perpusda Bali 9

Agaknya dari dulu hingga sekarang rak dan buku ini tidak berubah.

Muthiah, warga Denpasar:

Saya pernah punya pengalaman buruk di sana waktu mencari tanda tangan untuk sidang skripsi (awal 2016). Cuma satu tanda tangan dan sebuah surat, tapi mereka bersikukuh tidak mau memberikan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Lalu saya bilang kalau saya perlu untuk keesokan harinya, dengan nada tinggi. Salah satu pegawai tiba-tiba berubah jadi baik dan pergi ke atasannya untuk mem-print surat dan menandatanganinya. Beberapa teman yang berusaha sopan setelah ditolak oleh mereka, perlu seminggu untuk mendapatkannya. Saya menikmati pergi ke ke sana waktu kecil, tapi sekarang sepertinya saya tidak akan pernah mau kembali lagi.

Elida, pernah kuliah di Denpasar:

Aku lumayan sering ke sana tahun 2014 – 2015. Kesannya ya kesal. Karena perpusnya cukup berisik, terutama ibu-ibu yang jaga. Dia suka mengingatkan pengunjung mengenai jam tutup. Aku ya sudah tahu tutupnya jam berapa, jadi kesannya seperti mengusir. Wifi ada tapi tidak bisa diakses. Pelayanannya jadul, self-service. Kadang petugas tidak tahu rak buku yang dicari di mana. Pegawai jutek, seolah-olah kita yang merepotkan mereka. Koleksi buku tidak kunjung bertambah. Ada buku baru tapi dipajang di etalase depan dan digembok. Cara pinjamnya manual, tulis tangan.

Bagian ke dua: cerita teman-teman tentang perpustakaan di daerahnya

Menariknya, ada beberapa tanggapan menarik dari teman-teman di Facebook yang menceritakan tentang perpustakaan di daerah mereka masing-masing. Berikut saya ambilkan contoh satu dari dalam negeri, satu di luar negeri (Belanda).

Elisabeth, warga Pontianak, Kalimantan Barat: 

IF

Salah satu sudut Perpusda Kalimantan Barat

Sayang ya layanan perpusnya seperti itu. Kalau di Pontianak, layanannya membaik setelah kepala perpustakaannya diganti dengan orang baru yang sebenarnya bukan ahli perpustakaan, tapi beliau mau berusaha membuat lingkungan kerjanya jauh lebih baik. Jadi, mau tidak mau semua bawahan harus ikut visi beliau, sehingga perpustakaan di sini lebih menyenangkan. Koleksi buku baru diperbanyak, semua ruang baca full AC, disediakan ruang komputer, dan ruang serbaguna untuk umum, free wifi, bisa meminjam buku sampai jam 10 malam, dan ada fasilitas ruang belajar untuk umum dari pagi sampai malam, karena di sini jarang ada fasilitas umum yg buka 24 jam. Dan perpustakaannya sampai malam pun tetap ramai.

Banyak mahasiswa yang belajar di sana. Jadi, pemimpin itu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan instansi yang dibawahinya. Jujur saya terkejut baca cerita Ms Neno bahwa perpustakaan di sana (Bali) begitu parah. Padahal, dalam studi pengembangan kawasan di Indonesia, Bali itu termasuk kawasan internasional loh. Seharusnya punya standar kualitas dan layanan yang lebih bagus untuk pendidikan supaya masyarakatnya bisa ikut berkarya dalam standar internasional. Kalbar ini termasuk dalam golongan kawasan terbelakang secara pendidikan loh, tapi terus berusaha supaya masyarakatnya makin pintar.

Di sini perpustakaannya berusaha menjangkau masyarakat ke tempat-tempat nongkrong. Perpustakaan menitipkan koleksi buku dalam sebuah lemari ke warung-warung kopi/ cafe supaya bisa dibaca semua orang. Judul-judul bukunya menarik dan baru. Jadi, sambil nongkrong orang bisa baca gratis. Mereka juga menyediakan perpustakaan keliling yang mampir ke sekolah-sekolah, penjara, dan berbagai tempat umum. Jadi pakai sistem “jemput bola” supaya makin banyak yang rajin membaca. Dan juga menyumbangkan/ mengatur koordinasi sumbangan paket-paket buku ke daerah-daerah pedalaman, juga dibantu LSM. 

Tambahan dari saya, website resmi Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi (BPKD) Provinsi Kalimantan Barat secara rutin diperbarui hingga sekarang. Sumber foto di atas: Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat, Kunci Peningkatan IPM Masyarakat.

Ruri, warga Gouda, Belanda:

blogger-image-1349804047

Salah satu sudut Perpustakan Kota Rotterdam

Selain perpustakaan, di dalam gedung juga ada kafe di lantai 2. Total ada 6 lantai. Walaupun jam buka untuk akhir pekan bervariasi, tapi tiap hari buka. Di lobby ada concierge (penjaga pintu) yang setia menjawab pertanyaan pengunjung dengan ramah. Juga dipasang poster menampilkan program perpus selama bulan berjalan. Contoh kegiatannya: pembacaan buku (anak dan dewasa) oleh penulisnya sendiri, sale buku-buku perpustakaan yang sudah tidak terpakai, dan pemutaran film di ruang digital.

Centerpiece (hiasan di tengah ruangan) dipasang di tengah lobby sesuai tema buku yang akan dibacakan oleh penulisnya bulan ini. Juga touchscreen dan display tentang tokoh yang sedang diangkat untuk bulan ini. Tokoh bulan ini adalah Erasmus. Di meja-meja tempat meminjam buku tidak ada petugasnya. Kalau sudah selesai memilih buku-buku mana yang mau dipinjam, tinggal taruh di atas meja ini dan scan barcode-nya satu-satu. Ada juga ruang digital untuk CD, DVD, dan LP.

Keranjang belanja juga disediakan, kalau-kalau mau pinjam buku banyak. Setahu saya seperti di Gouda, jumlah buku yang boleh dipinjam tidak dibatasi. Di bagian anak-anak ada tribun untuk acara seperti pembacaan buku atau mendongeng atau drama kecil-kecilan. Di tiap lantai ada petugas yang rajin mengembalikan buku sesuai kategorinya. Di lantai dasar, ada permainan catur raksasa untuk warga senior.

Jika ingin membaca lebih lanjut tentang perpustakaan ini, silakan mengunjungi blog Ruri di Rotterdam Library atau Perpustakaan Kota Rotterdam. Saya belum pernah berkunjung ke sini, tapi kesan saya pribadi: inilah contoh perpustakaan yang dikelola oleh orang-orang yang punya kecintaan tinggi pada kegiatan literasi.

Rekomendasi untuk Perpusda Bali

Nah, setelah menceritakan tentang keadaan Perpusda Bali dan perbandingan dengan perpustakaan di daerah lain, saya bisa menyimpulkan rekomendasi di bawah ini (selain dari saya sendiri, ini juga termasuk masukan dari teman-teman):

  1. Jam buka diperpanjang, setidaknya sampai jam 10 malam, dan buka di hari libur. Karena kalau untuk umum, rata-rata orang sekolah, kuliah, kerja pagi dan siang.
  2. Perpustakaan dilayani oleh pegawai yang profesional. Memalukan sekali rasanya Bali sebagai pusat kegiatan pariwisata memiliki tempat umum dengan hospitality (keramah-tamahan) yang sangat rendah. Pegawai juga harus sering dilatih.
  3. Gedung diperbarui dengan disain interior modern. Kalaupun ingin mempertahankan ciri khas arsitektur Bali, sebaiknya dikombinasikan dengan sentuhan modern.
  4. Digitalisasi pelayanan, seperti penggunaan bar code untuk buku-buku, sistem pendaftaran online, serta akses online terhadap buku-buku digital.
  5. Ada ruangan main anak dengan buku-buku. Jadi anak-anak bisa belajar membaca dan mencintai buku sejak dini. Dilengkapi juga dengan toilet yang memadai.
  6. Yakin masih mau mempertahankan sistem penitipan tas? Bagaimana kalau memasang CCTV? Kalaupun keukeuh, cukup taruh loker di depan Ruang Baca.
  7. Bekerjasama dengan berbagai pihak, terutama swasta, untuk menyelenggarakan acara-acara yang berhubungan dengan dunia literasi.
  8. Semua poin di atas mungkin terjadi kalau… Ada reformasi birokrasi.

Jika teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman tentang Perpusda Bali atau cerita tentang perpustakaan di daerah Anda, silakan tinggalkan komentar atau hubungi saya. Tak lupa, jika teman-teman memiliki ide supaya tulisan ini bisa sampai di tangan pihak yang paling mungkin bisa melakukan perubahan di Perpusda Bali (siapapun itu, pemimpin perpus, anggota eksekutif atau legislatif provinsi, dsb), silakan kirimkan info.

Last but not least, jika menurut teman-teman sekalian tulisan ini menarik atau bermanfaat, tidak perlu sungkan untuk menyebarkannya seluas-luasnya. Agar makin banyak orang yang sadar bahwa perlu kerja keras dan kerjasama seluas-luasnya untuk memerangi musuh terbesar umat manusia: kebodohan. Sekian dan terima kasih.

Update: berikut saya sertakan tautan beberapa tulisan blogger mengenai Perpusda Bali.

Berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bali (2009)

Koleksi Buku Pertanian Sedikit (2011)

Melali sambil Melajar di Perpustakaan (2014)

The day I met iTDi

The faces of iTDi Indonesia, posing at the iTDi Day. From left to right: Ami, Marlene, Indrie, Ika, Nina, Icha, Grace, Neno (that’s me), Desti. Bottom: Chuck, Tujuh, Eric, Arief, Try.

So, here’s the story how I ended up attending iTDi Day in Jakarta on May 18, 2013:

So one night, around 2 weeks before May 18, 2013, Chuck Sandy (yes, that Chuck Sandy), approved my friend request on Facebook and sent me a message, inviting me to come to iTDi Day. I knew about iTDi some time before from a post about their event in a Facebook group for English teachers. Thinking it was just a random message, I simply replied to him, “But it’s in Jakarta, Chuck. Perhaps next time if you have it in Denpasar I’ll go.” Then he mentioned about giving scholarships for the event to some people, including me if I’m interested. The next day I gave my answer to him and I never regretted my decision ever since…

The last time I went to Jakarta was when I had a Jakarta-Bandung trip with a former colleague in 2010. To be honest I’m definitely not a fan of the city – or province, should I say (was born in Jakarta, but raised and have been living in Bali all my life, I see a city like Jakarta is pretty much unbearable), but yeah, one has to know what one’s capital city is like. So I booked the tickets and voila! There I was… iTDi team members who came from out of the city stayed in a nice apartment not far from Soekarno Hatta airport (‘not far’ = as in Jakarta definition). I stayed in Jakarta for 3 days, met some old friends (and new!) and relatives too.

Back to iTDi, at the iTDi Day I learned a lot more about what iTDi is. It stands for International Teacher Development Institute. It’s a global community for English teachers who are keen to improve both their language and teaching skills. How does it work? One of the biggest dreams of iTDi is ‘providing professional development for all teachers that is meaningful, accessible, and affordable’. Hence: itdi.pro. On the website, iTDi provides regular courses (and yes, you get certificates from taking these courses), forums (where you can discuss anything related to English teaching and connect to English teachers all around the world), global webinars, and special courses (again, you’ll get certificates from enrolling).

Like the motto ‘for teachers by teachers‘ suggests, if you’re an English teacher (wherever you are, not just in Indonesia) and you wish to improve your language and teaching skills as well as connect and collaborate with English teachers around the world, then this is the right place for you. Attending iTDi Day gave me the opportunity to meet some of the most passionate English teachers in Indonesia, and not to mention Chuck Sandy and Eric Kane of iTDi. At the iTDi Day I also had the chance to meet bu Itje Chodidjah, whose brilliant and provocative thoughts on education I have always followed online, in person. Surprisingly, not until I met her (after watching some of her videos on YouTube) I realized that she’s from Malang, the home city of my university, Brawijaya University. How strange we are all connected.

I took a few lessons on itdi.pro and I can say they use simple and easy-to-understand language as instructions, and also useful and practical lessons that we teachers can relate to. Last night I attended the iTDi Global Webinar for the first time, ‘Breaking Rules’ with John F. Fanselow. In just 2 hours (and we didn’t realize it was 2 hours already!) I learned a lot about how to break the habits in teaching. One thing I remember was when John said, “Language is a skill.” Many countries (including Indonesia) have mistaken English for a content subject in which the students are asked to memorize vocabulary rather than use it. This is true and I can truly relate to that. Along with the webinar, iTDi also provides courses on ‘Breaking Rules’. To learn more about the webinar and courses, visit iTDi Breaking Rules.

So that’s the story how I met iTDi. Rest assured, my teaching journey will never be the same again.

You can also read about iTDi Day on Icha’s blog: iTDi day Indonesia 2013.

Photo credit: iTDi Indonesia

Menjelaskan pendidikan Indonesia dengan Bloom’s Taxonomy

Para pendidik atau yang pernah kuliah di jurusan pendidikan sudah pasti tidak asing lagi dengan Bloom’s Taxonomy. Di tahun 1956, Dr Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan, memimpin sekelompok pendidik dalam mengembangkan teori klasifikasi tujuan pembelajaran (classification of learning objectives) yang dikenal dengan Bloom’s Taxonomy. Bloom’s Taxonomy sangat populer digunakan di kelas-kelas hingga saat ini kiranya karena mudah diterapkan. Ini dia penampakan Bloom’s Taxonomy untuk wilayah kognitif yang tersohor itu (versi baru yang direvisi oleh Lorin Anderson):

Bloom’s Taxonomy Versi Baru, direvisi oleh Lorin Anderson

Tujuan Bloom’s Taxonomy sungguh sederhana. Ia membantu pendidik menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Apa tujuan pendidikan? Apa tujuan belajar dan mengajar? Apakah hanya sekadar menghapalkan fakta dan rumus yang ada di buku pelajaran? Atau menciptakan anak-anak didik yang nantinya akan dapat menemukan solusi dari permasalahan yang ada di masyarakatnya, sesuai dengan perkembangan jaman? Bloom’s Taxonomy membantu pendidik untuk merancang kurikulum, lesson plan (RPP), dan ujian sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Karena saya seorang guru bahasa Inggris, maka saya akan mencontohkan penerapan Bloom’s Taxonomy dalam pembuatan pertanyaan-pertanyaan ujian (grammar) yang kiranya akan saya gunakan di kelas saya sebagai berikut (contoh di bawah ini tidak baku dan dapat diubah sesuai dengan mata pelajaran dan bahan yang diujikan):

  1. Remembering (mengingat): Hapalkan rumus Simple Past dan Present Perfect Tense.
  2. Understanding (memahami): Jelaskan dengan bahasamu sendiri apa itu Simple Past danPresent Perfect Tense.
  3. Applying (menerapkan): Buatlah contoh kalimat menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense.
  4. Analyzing (menganalisa): Bandingkan Simple Past dan Present Perfect Tense dan penggunaannya, serta cari perbedaannya.
  5. Evaluating (mengevaluasi): Siswa diberikan contoh teks menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense dan diminta untuk memberikan pendapat tentang penggunaan kedua tenses dalam teks tersebut.
  6. Creating (menciptakan): Siswa dihadapkan pada sebuah cerita (dalam L1/ first language/ bahasa ibu) dan diminta untuk membuat teks menggunakan Simple Past dan Present Perfect Tense tentang cerita tersebut, serta menjelaskan alasan mengapa kedua tenses tersebut harus atau tidak harus digunakan.

Jika kita lihat dari nomor 1 hingga 6, begitu juga pada piramida di atas, terdapat hirarki, di mana ‘remember’ (mengingat) mengisi posisi paling bawah dan memiliki bobot pertanyaan paling mudah, dan ‘creating’ (menciptakan) mengisi kedudukan paling atas dan memiliki bobot pertanyaan paling sulit. Tanda panah menunjukkan ‘increasing difficulty’ (meningkatnya kesulitan) dari ranah paling bawah ke paling atas. Dari sini kita bisa menyimpulkan adanya ‘Higher Order Thinking Skills’ di mana siswa diharapkan tidak hanya ‘mengetahui’, tapi juga dapat ‘menciptakan’ sesuatu dari ilmu yang didapatnya.

Higher Order Thinking Skills vs. Lower Order Thinking Skills

Kembali ke pendidikan Indonesia, di tahap manakah dari Bloom’s Taxonomy ini kita sudah banyak bermain? Saya kira semua akan setuju jika saya mengatakan tujuan belajar dan pendidikan adalah agar anak didik dapat menerapkan ilmu yang dia dapat di sekolah (atau di mana pun itu) ke dalam masyarakat (di luar tempat ia mendapatkan pendidikan itu tadi), di mana di situlah fungsi pendidikan yang sebenarnya akan diuji bermanfaat atau tidaknya. Jadi, sudahkah pendidikan Indonesia ‘hijrah’ dari ‘Lower Oder Thinking Skills’ ke ‘Higher Order Thinking Skills’?

Saya memang belum pernah mengajar di sekolah, namun pengalaman 12 tahun di SD, SMP, SMA, 5 tahun di perguruan tinggi, pengalaman mengajar murid-murid saya yang masih sekolah, serta fakta masih adanya Ujian Nasional (UN) yang jawabannya berupa pilihan ganda, membuat saya ‘curiga’ jangan-jangan kita memang masih belum beranjak dari ranah ‘remembering’ dan ‘Lower Order  Thinking Skills’ ke tingkatan yang lebih tinggi. Saya masih ingat ketika sekolah dulu pekerjaan saya hampir tiap hari adalah menghapalkan teori dan rumus. Menghapalkan = ‘remembering’. Jangankan mengaplikasikan, memahami saja saya belum tentu bisa. Dan sayangnya, apa yang diingat, itu pula yan diujikan.

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan serta merta mengubah wajah pendidikan di Indonesia, tapi sebagai pembelajar dan pendidik, biarlah ini menjadi refleksi saya akan pendidikan di Indonesia. Kalaupun kita ingin perubahan itu segera datang, mungkin para pendidik yang membaca ini dapat segera mengaplikasikan Bloom’s Taxonomy di kelas masing-masing, sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Baca salah satu contoh penerapannya di sini: Applying Bloom’s Taxonomy in Your ClassroomAt lastSelamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berkarya, wahai para pendidik.

Update: menurut Index of cognitive skills and education attainment (indeks ketrampilan kognitif dan pencapaian pendidikan) oleh Pearson, dari setidaknya 39 negara di dunia, Indonesia berada di urutan terbawah.

Sumber gambar 1: lionden.com.

Sumber gambar 2: angelamaiers.com.

Apa itu PLN? PLN = Personal/Professional Learning Network

Tulisan ini sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar dibaca oleh sebanyak-banyaknya guru di Indonesia.

Apa itu PLN? Pertama kali saya mendengar dan membaca kata ini saya pun bertanya-tanya. Mungkin yang belum mengenal betul juga begitu. Bagaimana tidak. Karena di Indonesia ‘PLN’ lebih dikenal sebagai singkatan dari ‘Perusahaan Listrik Negara’. Nah, PLN yang ini tidak ada sangkut-pautnya dengan perusahaan listrik yang satu itu ya. Dalam dunia pendidikan PLN adalah kependekan dari ‘Personal Learning Network‘ atau ‘Professional Learning Network‘.

Mungkin para guru yang membaca tulisan ini sudah melakukannya tapi belum sadar bahwa itu adalah bagian dari PLN (seperti saya beberapa bulan yang lalu). Jadi, inti dari PLN adalah bagaimana guru memanfaatkan teknologi, internet, dan media sosial untuk mengikuti perkembangan dunia pendidikan terkini di dunia dan mendapat pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan profesionalisme (professional growth).    

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi, internet, dan media sosial. Pernah tidak suatu waktu kita merasa ada kesulitan dalam mengajar sementara tidak ada seorang pun yang bisa kita tanyakan pendapatnya? Berdasarkan pengalaman saya sendiri, biasanya saya akan browse internet dan mencari solusi akan masalah saya tadi. Hasilnya? Ternyata ada banyak sekali bahan di luar sana dan saya merasa sangat terbantu! Itu lah PLN.

Bagaimana cara membangun PLN? Jika kita sudah terbiasa browsing internet, sudah aktif menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn, maka membangun PLN tidaklah sulit. Silakan tentukan langkah Anda sendiri atau buka tautan ini untuk tips-tips hebat cara memulainya: 50 Great Ways to Grow Your Personal Learning Network. Kalau untuk saya sendiri, ini yang selama ini saya lakukan dengan PLN saya:

  1. Facebook: saya menggunakan akun Facebook untuk berhubungan dengan guru bahasa Inggris, guru, dan pendidik di wilayah saya dan Indonesia. Seperti halnya di Facebook group dan Twitter, di sini saya suka membagi tautan, gambar, dan video yang berhubungan dengan English Language Teaching (ELT).
  2. Facebook Group: September 2012 saya memulai grup Facebook Indonesian English Teachers’ Club, di mana anggotanya adalah guru bahasa Inggris dari seluruh Indonesia. Di grup ini kami biasa mendiskusikan tentang belajar mengajar, event, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa Inggris.
  3. Twitter: saya menggunakan Twitter kebanyakan untuk mem-follow para ahli atau akun Twitter yang memfokuskan pada ELT dan bidang lain yang saya minati seperti educational technology (edtech). Dari sini saya banyak mendapatkan informasi tentang tren dunia pendidikan dunia, terutama yang berhubungan dengan ELT. Saya juga dapat secara aktif berinteraksi dengan para guru bahasa Inggris lain, di dalam dan luar negeri. Salah satu ‘forum’ diskusi di Twitter yang paling populer adalah #ELTChat yang diadakan tiap Rabu yang diorganisasikan oleh eltchat.org. Guru bahasa Inggris dari seluruh dunia bisa berpartisipasi di sini.
  4. Blog: dibuatnya blog Ms Neno’s Blog ini awalnya adalah untuk media saya merefleksikan kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan. Tetapi mulai bulan April ini, saya berusaha untuk terus aktif ngeblog, terutama setelah memahami lebih dalam apa itu PLN dan bagaimana ia bisa membantu meningkatkan profesionalisme saya. Fokus saya adalah membuat refleksi, berbagi pengalaman, teknik dan metode mengajar, serta hal-hal lain.
  5. LinkedIn: akun LinkedIn saya saya dedikasikan untuk membuat network dengan para profesional di bidang pendidikan, pengajaran bahasa Inggris, maupun di luar kedua itu. Walaupun bukan pengguna aktif, saya juga bergabung dengan beberapa grup yang berhubungan dengan ELT dan ada banyak diskusi menarik dan penting yang terjadi di sana.
  6. Paper.li: saya lupa kapan saya membuat akun Paper.li tapi terbukti ‘harian’ English Teaching and Learning Daily yang saya buat telah membantu guru maupun murid yang juga follower saya karena seringkali mendapatkan retweet dan favorite. Paper.li adalah salah satu cara terbaik untuk mengkurasi (curating) konten yang berhubungan dengan belajar mengajar bahasa Inggris. Konten bisa kita atur sesuai dengan pembaca yang ingin kita tuju – untuk harian saya, saya membuatnya untuk guru dan murid bahasa Inggris.
  7. Google Chrome Bookmark. Kenapa saya pakai Google Chrome untuk mem-bookmark laman-laman yang saya baca? Seharusnya saya tidak menggunakannya karena dengan begitu saya tidak bisa membaginya dengan orang lain. Saat ini saya masih dalam tahap belajar menggunakan Diigo. Di Diigo, laman-laman yang kita bookmark bisa dilihat oleh orang lain, dalam hal ini sesama guru yang mungkin mendalami bidang yang sama dengan kita. So… Wish me luck untuk yang satu ini…

Selain di atas, pembaca bisa menentukan mau menggunakan website atau media sosial pilihan Anda sendiri lo… Gambar di bawah ini cukup menjelaskan bagaimana media sosial digunakan dalam PLN:

Gambaran cara memanfaatkan media sosial sebagai PLN

Atau… Bisa juga nih tonton video keren yang satu ini, tentang bagaimana PLN itu penting bagi para pendidik, sehubungan dengan bagaimana di jaman informasi dan teknologi saat ini penguasaan teknologi telah menjadi syarat wajib dan utama menjadi seorang guru yang baik: You can’t be my teacher. Kutipan paling mengena ada di akhir video:

“Do you really think it is possible to be an educator in the information age and not understand and use the internet? Continue to pretend, maybe the internet is just a fad.”(Apakah Anda benar-benar berpikir adalah mungkin menjadi seorang pendidik di era informasi dan tidak memahami dan menggunakan internet? Terus saja berpura-pura, mungkin internet hanya sekadar demam sementara saja.)

Bagaimana? Mudah kan membuat PLN? Mulai dari sekarang yuk! Untuk membaca lebih banyak tentang PLN, kunjungi laman ini: Teacher’s Guide on Creating Personal Learning Networks.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Guraru.org dan Kompasiana.com.

Image credit: educatorstechnology.com.