Bantu ekonomi lokal, makan di warung lokal

Tumben tulisan ini tidak ada hubungannya sama mengajar atau belajar bahasa Inggris. Boleh dong ya… Saya jadi tergelitik saja dengan orang-orang yang mendengung-dengungkan katanya cinta Indonesia, dukung ekonomi lokal, karya anak bangsa, dsb, tapi sehari-harinya makan di restoran fast food (cepat saji) atau tempat-tempat ‘wah’ lainnya yang kebanyakan empunya (baca: bos besarnya) bukan orang Indonesia. Jadi saya mau berbagi pandangan sedikit kenapa makan di warung lokal itu penting kalau (katanya) kita cinta Indonesia.

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar

Suatu hari saya membuat janji dengan seorang teman di sebuah tempat makan baru dengan gaya kebarat-baratan. Tempat makan ini bukan warung biasa, dengan menu campuran barat dan Indonesia. Karena saya ingin makan makanan yang mengandung nasi, jadi saya pesan soto ayam. Ketika hidangannya disajikan, saya pun mulai mencicipinya. Alangkah terkejutnya saya. Saya yang terbiasa makan di warung pinggir jalan langsung kaget dan rasanya ingin marah dan protes ke yang punya tempat. Sama sekali tidak terasa seperti soto ayam! Kuah hambar cenderung pahit. Bumbu sama sekali tidak terasa. Sementara 100 meter dari tempat itu saya tahu ada warung soto dan nasi goreng Jawa yang menjual soto ayam paling enak di Denpasar. Ini terlalu!

Sampai hari ini saya memang belum menyampaikan komplain atau keberatan saya ini ke pemilik atau manajemen tempat itu. Tapi biarlah saya simpan dalam hati dan saya ceritakan di sini saja. Inti dari pengalaman saya ini… Ada terlalu banyak tempat yang walaupun ia menawarkan kenyamanan, tapi makanan yang disediakan di situ justru tidak otentik dan tidak enak. Apalagi makanan yang berhubungan dengan makanan tradisional atau khas Indonesia. Rata-rata semua menawarkan kemasan yang menarik dan fasilitas yang dicari kebanyakan anak muda dan para profesional, misal: free wi-fi. Saya paham tiap tempat mempunyai model bisnis dan segmen pasarnya sendiri. Mungkin ini yang membedakan tempat-tempat seperti ini dan warung lokal biasa yang menjual ‘makanan asli’ (yang memang menjadi barang dagangan utama dan rasanya enak).

Rujak kuah pindang di warung rujak (tanpa nama) dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Rujak kuah pindang di Warung Pak Ketut Sudiana dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Bukannya saya tidak pernah makan di restoran atau restoran cepat saji, hanya saja kalaupun saya makan di sana, biasanya jarang sekali saya foto atau unggah foto-fotonya di media sosial. Alasannya sederhana, kebanyakan tempat-tempat itu sudah punya channel (saluran) promosi mereka sendiri. Tentu karena modal mereka besar. Tanpa kita mengunggah foto-foto makanan mereka di media sosial, mereka sudah cukup mampu mempromosikan makanannya. Lain halnya dengan warung-warung lokal (yang seringkali makanannya enak betul). Karena model bisnis mereka masih tradisional, maka mereka tidak mengenal sistem promosi seperti perusahaan besar yang modern. Justru kita harus membantu warung-warung yang dimiliki orang lokal ini.

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cenik Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cening Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Saya penggemar makanan Indonesia dan tidak pernah malu mengunggah makanan Indonesia se-ndeso apapun dan di mana pun ia berada – di dalam gang, dekat pasar, dari desa. Bukan karena ndeso-nya tapi karena makanan-makanan itu otentik dan sangat pantas untuk didukung. Jadi sudahlah, kalau ingin mendukung ekonomi masyarakat lokal, lakukan hal sederhana ini: sering-sering makan di warung lokal dan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengunggah foto-fotonya di media sosial, tentu dengan cara yang menarik. Jadi, jangan melulu ke mal ya… Hehehe… Saya bersyukur di Bali ‘cuma’ ada 3 mal (tolong jangan ditambah lagi!) dan sekarang ini saya jarang banget main-main ke sana… Selamat makan! 😉

Advertisements

NELTAL dan jalan-jalan di Malang

Tiap tahun selalu ada alasan untuk main ke Malang. Tahun lalu ada Malang Tempoe Doeloe (MTD) di bulan Mei, tahun ini ada National English Language Teacher and Lecturer (NELTAL) yang ke-5 di akhir bulan Maret. Menarik banget bisa datang ke NELTAL karena sejak Indonesian English Teachers’ Club (IETC) saya jadi merasa perlu banget untuk bertemu guru-guru lain dan juga menimba banyak ilmu dari mereka. Event ini jadi momen yang tepat untuk melakukan keduanya. Saya tidak akan bercerita banyak, tapi biarlah foto-foto ini yang menceritakan perjalanan saya di Malang tahun ini…

Ternyata di kapal feri bisa nge-charge hape lo… Tapi sayang gak gratis, cukup tiga ribu rupiah saja…

Sebelum NELTAL, mampir dulu ke Kantin CL makan nasi tahu telor. Universitas Brawijaya (UB) ini banyak banget berubah. Jaman dulu kantin CL belum ada (CL katanya singkatan dari ‘Ciputra Land’). Letaknya di antara lapangan basket (yang sekarang sudah jadi gedung olahraga) dan tempat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Dunia itu sempit… Mungkin juga karena aku dulu kuliah di Malang. Di antara presenter yang ada, ada beberapa nama dan wajah yang aku kenal. Di antaranya Renzy (paling kiri), kakak kelas di Bastra (sebelum namanya berubah jd FIB). Pak Abdul dan Rahma (paling kanan) anggota IETC yang akhirnya kopdar juga di sini.
NELTAL kit (kit?).

Di Malang kali ini akhirnya berhasil berkunjung ke kampus lama. Ini hasilnya… 

Dulu tulisan di depan gedung ini bukan ‘Fakultas Ilmu Budaya’ (FIB) tapi ‘PPI’. Yay! Akhirnya kita punya fakultas sendiri. Setelah sekian lama?
Daerah tempat parkir dan rumput di belakangnya itu dulu dikenal dengan ‘Green Grass’. Tempat mahasiswa dulu suka duduk-duduk, kumpul, iseng, tidur, belajar, dsb. Separonya sudah jadi tempat parkir. Well, gimana gak, mahasiswanya sekarang 10x lipat!
Lab Bahasa. Sudut yang ini tidak banyak berubah. Dulu juga sama persis, ya begini.
Self Access Center (SAC). Ini juga sama, tidak berubah. Yang berubah paling meja dan tempat duduk yang di tengah itu.
Nah, ini baru berubah banget. Tempat saya ambil foto ini dulu lapangan dan ada tempat main tenis meja. Sekarang jadi lobi yang cantik (walaupun front desk-nya masih belum berfungsi).
Mejeng dulu dong di lantai 7… Dulu mana ada? Gedung PPI cuma 2 lantai. Sekarang bisa balapan sama gedung rektorat dan teknik (sepertinya yang di ujung sana). Dan waktu itu saya jalan-jalan pakai kaos @EnglishTips4U dong… 
Ini dia front desk yang saya sebut tadi… Sekarang fakultasnya sudah punya nama!
Malang sekarang… Selain punya 2 mall (Matos dan MOG), akan ada lagi dan lagi… Belum lagi apartemen yang sepertinya lagi ngetren.
Bolak-balik Malang baru kali ini foto di sini. Hehehe…
Dan akhirnya jalan-jalan di Malang di akhiri dengan menggila di Inul Vista. Seru! Reuni sama teman-teman tempat kerja dulu…

Until next time, Malang! 😉