Diigo: ayo bangun perpustakaan onlinemu!

Logo Diigo

Seorang rekan guru yang juga anggota Indonesian English Teachers Club lewat Facebook Chat baru saja menyarankan saya untuk memasukkan referensi ke dalam tulisan-tulisan saya di blog ini. Sontak saya langsung teringat dengan akun Diigo saya. Mungkin karena terbiasa ngeblog (baca: bukan menulis tulisan akademik atau ilmiah), saya jadi tidak terpikir kalau referensi itu perlu. Ditambah lagi kebiasaan ngeblog yang biasanya tanpa menyertakan referensi. Tapi bukan berarti saya tidak pernah membaca ya… (Guru yang tidak pernah membaca? Apa-apaan ini?)

Jadi apa sebenarnya Diigo? Diigo mungkin bisa dibilang sama seperti sistem Bookmark yang terdapat di browser pada umumnya. Untuk Chrome biasanya Bookmark berintegrasi dengan Gmail, di mana ketika kita login dengan akun Gmail kita, kita tidak perlu khawatir jika kita tidak menggunakan komputer atau device yang sama. Asalkan kita menggunakan Chrome dan login ke akun Gmail, kita pasti akan tetap bisa mengaksesnya di perangkat mana pun. Bedanya dengan Diigo, Chrome Bookmark tidak memungkinkan orang lain (selain pengguna akun Gmail yang bersangkutan) untuk melihat dan mengakses tautan-tautan yang telah kita simpan dalam Bookmark.

Di Diigo, jika kita lihat, tiap pengguna mempunyai My Library sendiri yang terdiri dari tautan-tautan yang telah ia simpan dan tanggal kapan mereka disimpan. Dan orang lain dapat membaca daftar tautan ini dan mengaksesnya. Jadi, My Library lebih seperti sebuah perpustakaan online (atau digital) yang terbuka di mana tiap orang bisa mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan dibaca seseorang. Konsep Diigo juga sebenarnya adalah media sosial. Jadi sesama pengguna bisa saling menambahkan kontak atau teman seperti layaknya Facebook. Tapi tanpa itu pun orang lain yang bukan teman dapat mengakses daftar bacaan kita selagi mengetahui tautan atau nama user (selagi ketika disimpan pengaturannya public, bukan private). Contoh: http://www.diigo.com/user/retnosofyaniek.

Bagaimana cara membuat akun Diigo? Sederhana. Buka diigo.com, klik Join Diigo, lalu isi keterangan yang diminta seperti halnya mendaftar di sebuah website atau media sosial pada umumnya. Setelah memiliki akun Diigo, kita akan diminta untuk mengunduh dan meng-install add-on Diigo di browser kita. Setelah add-on terpasang akan terlihat seperti yang ada di foto yang saya ambil dari komputer dan browser Google Chrome saya di bawah ini (di antara panah merah muda).

Diigo add-on di Google Chrome

Add-on Diigo di Google Chrome

Bagaimana cara mulai membangun perpustakaan kita sendiri? Buka laman yang kita baca, lalu klik add-on Diigo yang menampilkan logonya seperti di foto di atas. Kita bisa menyimpan laman yang kita baca berdasarkan tag (tagar) yang sesuai dengan konten atau isi laman. Misal: Laman dengan judul ‘An Introduction to Project-Based Learning’ kita kategorikan ke dalam tagar ‘PBL’, ‘education’, ‘teaching’. Atau karena laman ini berasal dari website Edutopia yang tersohor itu, kita bisa juga masukkan tagar ‘Edutopia’. Dan tautan ini pun otomatis akan masuk ke My Library kita, asalkan kita sign in di akun Diigo kita (saya biasanya selalu sign in – dan saya tidak pernah berganti perangkat).

Kelebihan Diigo lainnya adalah karena web-based (berbasis web), ia dapat diakses melalui browser apapun (Chrome, Mozilla, Internet Explorer, etc.) dan perangkat apapun yang mendukung (komputer, iPad, iPhone, Android). Kita juga bisa memilih untuk sign in ke akun Diigo kita atau melalui Gmail. Selain itu, seperti layaknya sebuah buku, kita juga bisa meng-highlight (menstabilo) laman web yang sedang kita baca dengan berbagai macam warna. Lucu bukan? Untuk cara menggunakan Diigo yang lainnya, silakan tonton video tutorial ini yang diambil dari laman depan website Diigo.

Untuk Chandra (rekan guru yang saya sebut di atas), terima kasih telah mengingatkan. Mulai sekarang saya akan memasukkan referensi di tulisan-tulisan di blog ini. Dan jika Anda belum mencoba Diigo, ayo coba sekarang… And let’s start connecting! 😉

Sumber gambar Logo Diigo: edudemic.com

Advertisements