Menguasai atau dikuasai: menanggapi polemik “asli” vs. “pendatang” di Bali

Sekapur sirih: tiada guna berilmu jika tidak berbagi. Mungkin itu. Kalimat sederhana yang membuat saya beberapa hari ini berpikir untuk kembali menulis. Profesi utama saya, guru bahasa Inggris, mengharuskan saya berbagi ilmu kepada murid-murid dan kadang teman-teman saya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata saya mengembangkan begitu banyak ketertarikan di bidang lain. Maka proses pencarian saya terhadap ilmu pengetahuan pun terus berjalan. Dan saya seperti merasa memiliki kewajiban untuk menyumbangkan barang satu dua hasil olah pikir saya dari proses pencarian ilmu itu. Untuk mengawali janji saya pada diri sendiri untuk rutin menulis mulai sekarang, tulisan ini saya ambil dari postingan saya di Facebook tentang polemik “asli” vs. “pendatang” yang saat ini sedang santer di Bali, yang membuat saya “gatal” untuk tidak mengomentari. Silakan tinggalkan komentar, bagi, atau like jika menurut Anda tulisan ini menarik (atau tidak).

Kalau semua masalah dijawab dengan kalimat, “Saya asli sini,” saya pikir apapun masalahnya (sampah, pembakaran sampah, kependudukan, dsb) tidak akan ada solusinya. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang pernah mengalami hal ini. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kali dan jujur, kali ini saya sudah tidak mau ambil pusing. Banyak teman-teman saya orang Bali dan mereka tidak bodoh. Hidup saya dan mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal remeh temeh yang sumbernya adalah kebodohan (ignorance). Saya sudah bisa memaafkan dan memaklumi orang-orang ini, karena pada dasarnya yang suka ngomong begini ini bodoh atau tidak tahu apa-apa (ignorant). Meminjam kata-kata Yesus, “Father, forgive them, for they know not what they do.

Mempermasalahkan asli vs. tidak asli, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang “asli”; kita semua migran. Karena tidak ada satu pun manusia yang tumbuh dari tanah tempat dia berpijak, seperti layaknya biji yang berkembang jadi tanaman. Yang ada, nenek moyang kita bermigrasi beribu, beratus, atau berpuluh tahun yang lalu ke tempat di mana kita tinggal saat ini. Untuk konteks Bali, ada beberapa tahap migrasi masuknya manusia ke Bali (lihat gambar; diambil dari buku Bali’s First People, karya Richard Mann):

Four groups of settlers arrived in Bali

  1. Cave dwellers (penghuni gua): ini penduduk Bali paling tua, menetap di gua dan hutan, migrasi ke Bali ketika zaman es. Bali masih menjadi bagian dari Paparan Sunda dan menjadi satu dengan Kalimantan. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Waktunya tidak tanggung-tanggung, 17.000 sampai 20.000 tahun yang lalu! Jangankan buyut, buyutnya buyut kita pun belum lahir!
  2. Bali Mula: pendatang setelah penghuni gua. Bukti menunjukkan mereka telah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Tinggal di Zaman Batu atau Perunggu, telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan sudah bisa membuat tempat tinggal dalam bentuk gubuk sederhana.
  3. Bali Aga: konon berasal dari sebuah desa dengan nama Aga di Banyuwangi, Jawa Timur. Konon (lagi) datang setelah abad ke-8. Kenapa konon? Karena rupanya (menurut buku ini) kebenaran tentang Bali Aga masih menjadi perdebatan para ahli.
  4. Majapahit settlement (kolonisasi Majapahit): datang di abad ke-14 dan 15, terutama setelah penguasa terakhir Majapahit di Jawa Timur beralih ke Islam, sementara yang masih memeluk Hindu Majapahit (Siwa-Buddha) berbondong-bondong bermigrasi ke Bali.
  5. Saya tambahkan satu lagi: Bali modern, yang asalnya dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan orang-orang dari luar Indonesia.

Itu masih dalam konteks Bali (yang sempit sekali)… Bagaimana kalau ternyata di masa depan kita bisa berkomunikasi dengan penduduk dari planet bahkan galaksi lain, dan memungkinkan mereka berkunjung ke bumi atau sebaliknya? Seperti yang ada di film Star Wars atau Men in Black? Atau seperti di cerita Superman. Dia dari planet Krypton, bukan planet bumi. Bukannya membasmi kejahatan, kalau kita ungkit-ungkit masalah asli dan pendatang, bisa-bisa dia didemo disuruh kembali ke planetnya (sementara diceritakan bahwa planetnya hancur dan peradabannya musnah, bagaimana mungkin dia kembali ke sana?). Untuk konteks dunia yang fana ini pun, kita manusia cuma pendatang. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Dunia tidak selebar daun kelor.

Jadi sebenarnya dari mana asalnya kata-kata seperti, “Saya asli sini,” dsb? Apalagi setelah dirunut (berdasarkan penjabaran di atas), tidak sedikit pun ungkapan ini mendekati kebenaran. Usut punya usut ternyata karena memang ia tidak hadir dari kebenaran, melainkan dari keinginan untuk menguasai orang lain. Ibarat orang yang sedang dipenuhi rasa takut, ia harus serta merta memilih antara lari atau melawan (flight or fight). Mengeluarkan gertakan (bully) bisa menjadi pilihan untuk melawan, dan tujuannya sederhana: supaya membuat lawan tampak lebih lemah atau tidak berdaya dari dirinya.

Anda tahu kenapa ada orang yang suka menggertak (bully)? Karena ia merasa terancam, ia sadari atau tidak. Ingat, orang-orang yg hebat tidak perlu mempertontonkan bahwa dirinya hebat. Karena begitulah dia apa adanya, tanpa dibuat-buat. Orang yang tidak hebat, di lain sisi, justru harus mencari cara untuk mengkompensasi ketidakhebatannya. Ini bisa dimaklumi, karena seperti halnya hewan, manusia pun memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mempertontonkan diri seperti lebih kuat, hebat, besar daripada yang sesungguhnya. Lihat saja ular kobra yg memipihkan lehernya ketika terancam dengan tujuan menakut-nakuti penyerangnya.

Tapi sayangnya, pola pikir menguasai atau dikuasai, menggertak atau digertak ini sebaiknya sudah harus ditinggalkan. Di era keterbukaan serta informasi di mana orang bekerja dengan otak dan hati, nafsu untuk menguasai (dan memangsa!) berdasarkan ego dan rasa takut harus segera disingkirkan. Kenapa otak? Dalam bidang ekonomi pun ada istilah knowledge-based economy, di mana pembangunan ekonomi hari ini dan masa depan dilandaskan pada ilmu pengetahuan. Masyarakat yang bisa bertahan dan bersaing hari ini dan di masa depan adalah mereka yang mengusai ilmu. Maka kita harus pastikan bahwa titik berat adalah penguasaan ilmu, bukan kemampuan menggertak, mengintimidasi, lebih-lebih menggunakan kekuatan fisik belaka! Bukti sederhana, negara maju adalah di antara negara-negara di dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Yang ke dua, karena kita punya hati, karena kita manusia, bukan lebih rendah dari itu. Dan kita bukan hewan, jadi tidak perlu saling menguasai. Kembali ke poin nomor satu, karena kita dianugerahi kemampuan berpikir, maka berpikirlah, cari tahu, dan mengerti. Sekali lagi: bukan menguasai. Ada pepatah Latin yg berbunyi Homo homini lupus. Artinya a man is a wolf to another man (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Artinya lagi, manusia memiliki potensi untuk kejam, seperti predator yang saling memangsa sesamanya. Tapi dengan berat hati saya harus katakan: saya menolak disamakan dengan binatang. Kita manusia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kita semua setara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua warga negara punya hak dan kewajiban yg sama.

Tapi memang, seperti yang pernah saya tulis di salah satu status, tidak semua manusia mau atau bisa diperlakukan seperti manusia. Maksudnya, tidak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik, ada yang harus dipaksa, diintimidasi, digertak dulu baru berubah (biasanya tipikal yang kurang menggunakan otaknya – silakan kembali ke atas; atau yang kesehatan jiwanya terganggu – silakan baca-baca tentang ciri orang depresi). Nah, ini tugas kita (sebagai anggota masyarakat) dan pemimpin. Saya pikir makin pintar, maju, sadar sebuah masyarakat, tidak perlu lah saling gertak-menggertak. Jadilah manusia. Artinya, jika ingin hidup enak, maka enakkanlah dulu hidup orang lain. Jika ingin hak-haknya dihargai, hargailah dulu hak orang lain. Jika ingin rumahnya bersih, ya bersih-bersihlah. Jika ingin udara segar, ya jangan bakar-bakar sampahlah (untuk yang satu ini, Denpasar dan sekitarnya sudah ada di tahap gawat darurat, potensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara yang ditimbulkannya sudah cukup tinggi).

Kebodohan jangan dibalas dengan kebodohan, tapi dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu pelita, ibarat sinar yang menerangi jalan yang gelap, menuntun kita melangkah ke arah yang ingin kita tuju. Tanpa itu, sama dengan menerka-nerka dan meraba-raba dalam kegelapan. Orang bodoh tidak akan bisa menolong orang bodoh lainnya. Dan untuk saya pribadi, saya enggan hidup dalam kegelapan.

Saya dengan senang hati menerima tanggaan dan sanggahan. Tapi sekali lagi, dengan prinsip: menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Tidak menerima debat kusir, apalagi pengetahuan yang didasarkan pada klenik dan omong kosong.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements