Tips membaca buku untuk pekerja yang sibuk

tips membaca buku

Source: facebook.com/activeenglishbali

Tulisan iseng-iseng tidak berhadiah ini saya dedikasikan kepada para pekerja yang tiap hari harus bekerja keras sampai seringkali tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca buku. Ternyata kita masih bisa lo membaca buku walaupun sedang sibuk. Karena semua ada triknya. Hal apapun akan mungkin terwujud kalau ada niat sejak awal. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca buku karena sibuk ya… Berikut tips yang bisa diikuti:

  1. Pilih buku yang menjadi minat dan/ atau kebutuhan Anda. Misal: jika Anda seorang praktisi HR, buku tentang psikologi industri atau manajemen SDM akan sangat menarik dan berguna. Dengan begini akan ada motivasi lebih untuk membuka dan membaca buku itu, serta Anda tidak akan berpikir sedang membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Ingat: Anda tidak perlu membaca semua buku di dunia ini. Jadi sebelum membaca, seleksi yang ingin Anda baca terlebih dahulu.
  2. Atau kalau untuk Anda yang suka membaca untuk mencari hiburan (karena banyak yang ingin “lari” dari beban kerja!), pilih buku yang menurut Anda akan menghibur Anda. Yang masuk dalam kategori buku yang Anda cari adalah fiksi, biografi, memoar, spiritual, pengembangan diri, travel, kuliner, lifestyle, hobi, dsb.
  3. Bawa buku yang sedang Anda baca kemana-mana (entah dalam bentuk buku fisik atau pdf di gadget Anda). Tujuannya adalah, ketika ada jeda di antara aktivitas lain (biasanya menunggu orang, sebelum meeting, dsb) Anda bisa meluangkan waktu untuk membaca daripada melakukan hal-hal lain yang kurang bermanfaat.
  4. Setelah kerja atau sebelum tidur, luangkan sedikit waktu untuk membaca (saya biasanya 1 jam, 2 jam kalau saya beruntung). Selain “mengistirahatkan” otak Anda dari jenuhnya bekerja, membaca sebelum tidur bisa berfungsi untuk membuat refleksi diri dan me-reset pikiran. Bonus lain tentu ilmu yang lebih melekat.
  5. Last but not least, kalau ingin lebih termotivasi, bisa bergabung di book club (klub buku tempat orang-orang membaca buku dan membicarakan apa yang mereka baca) sesuai dengan minat Anda, offline atau online. Atau Anda bisa membuatnya sendiri di tempat kerja Anda sendiri. Fungsi bergabung dengan book club adalah untuk mendapat dorongan positif dan motivasi untuk terus membaca. Karena jujur, tidak ada yang lebih mengecilkan hati selain dihadapkan pada orang-orang yang tidak memahami manfaat membaca atau secara terus terang menyuruh Anda berhenti membaca! Saya pun pernah mengalaminya dan hal itu tidak menyenangkan…

Jadi bagaimana? Tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca buku kan? Coba sekali lagi saya ingatkan apa saja manfaat membaca buku. Di antaranya mengembangkan imajinasi, kreativitas, kemampuan menganalisa lingkungan, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, menambah kosakata, serta memberikan hiburan. Dan yang terpenting untuk orang yang bekerja adalah menambah ilmu dan meningkatkan ketrampilan sesuai dengan bidangnya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri! Selamat membaca! 🙂

 

Advertisements

Menguasai atau dikuasai: menanggapi polemik “asli” vs. “pendatang” di Bali

Sekapur sirih: tiada guna berilmu jika tidak berbagi. Mungkin itu. Kalimat sederhana yang membuat saya beberapa hari ini berpikir untuk kembali menulis. Profesi utama saya, guru bahasa Inggris, mengharuskan saya berbagi ilmu kepada murid-murid dan kadang teman-teman saya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata saya mengembangkan begitu banyak ketertarikan di bidang lain. Maka proses pencarian saya terhadap ilmu pengetahuan pun terus berjalan. Dan saya seperti merasa memiliki kewajiban untuk menyumbangkan barang satu dua hasil olah pikir saya dari proses pencarian ilmu itu. Untuk mengawali janji saya pada diri sendiri untuk rutin menulis mulai sekarang, tulisan ini saya ambil dari postingan saya di Facebook tentang polemik “asli” vs. “pendatang” yang saat ini sedang santer di Bali, yang membuat saya “gatal” untuk tidak mengomentari. Silakan tinggalkan komentar, bagi, atau like jika menurut Anda tulisan ini menarik (atau tidak).

Kalau semua masalah dijawab dengan kalimat, “Saya asli sini,” saya pikir apapun masalahnya (sampah, pembakaran sampah, kependudukan, dsb) tidak akan ada solusinya. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang pernah mengalami hal ini. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kali dan jujur, kali ini saya sudah tidak mau ambil pusing. Banyak teman-teman saya orang Bali dan mereka tidak bodoh. Hidup saya dan mereka terlalu berharga untuk mengurusi hal remeh temeh yang sumbernya adalah kebodohan (ignorance). Saya sudah bisa memaafkan dan memaklumi orang-orang ini, karena pada dasarnya yang suka ngomong begini ini bodoh atau tidak tahu apa-apa (ignorant). Meminjam kata-kata Yesus, “Father, forgive them, for they know not what they do.

Mempermasalahkan asli vs. tidak asli, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang “asli”; kita semua migran. Karena tidak ada satu pun manusia yang tumbuh dari tanah tempat dia berpijak, seperti layaknya biji yang berkembang jadi tanaman. Yang ada, nenek moyang kita bermigrasi beribu, beratus, atau berpuluh tahun yang lalu ke tempat di mana kita tinggal saat ini. Untuk konteks Bali, ada beberapa tahap migrasi masuknya manusia ke Bali (lihat gambar; diambil dari buku Bali’s First People, karya Richard Mann):

Four groups of settlers arrived in Bali

  1. Cave dwellers (penghuni gua): ini penduduk Bali paling tua, menetap di gua dan hutan, migrasi ke Bali ketika zaman es. Bali masih menjadi bagian dari Paparan Sunda dan menjadi satu dengan Kalimantan. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Waktunya tidak tanggung-tanggung, 17.000 sampai 20.000 tahun yang lalu! Jangankan buyut, buyutnya buyut kita pun belum lahir!
  2. Bali Mula: pendatang setelah penghuni gua. Bukti menunjukkan mereka telah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Tinggal di Zaman Batu atau Perunggu, telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan sudah bisa membuat tempat tinggal dalam bentuk gubuk sederhana.
  3. Bali Aga: konon berasal dari sebuah desa dengan nama Aga di Banyuwangi, Jawa Timur. Konon (lagi) datang setelah abad ke-8. Kenapa konon? Karena rupanya (menurut buku ini) kebenaran tentang Bali Aga masih menjadi perdebatan para ahli.
  4. Majapahit settlement (kolonisasi Majapahit): datang di abad ke-14 dan 15, terutama setelah penguasa terakhir Majapahit di Jawa Timur beralih ke Islam, sementara yang masih memeluk Hindu Majapahit (Siwa-Buddha) berbondong-bondong bermigrasi ke Bali.
  5. Saya tambahkan satu lagi: Bali modern, yang asalnya dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan orang-orang dari luar Indonesia.

Itu masih dalam konteks Bali (yang sempit sekali)… Bagaimana kalau ternyata di masa depan kita bisa berkomunikasi dengan penduduk dari planet bahkan galaksi lain, dan memungkinkan mereka berkunjung ke bumi atau sebaliknya? Seperti yang ada di film Star Wars atau Men in Black? Atau seperti di cerita Superman. Dia dari planet Krypton, bukan planet bumi. Bukannya membasmi kejahatan, kalau kita ungkit-ungkit masalah asli dan pendatang, bisa-bisa dia didemo disuruh kembali ke planetnya (sementara diceritakan bahwa planetnya hancur dan peradabannya musnah, bagaimana mungkin dia kembali ke sana?). Untuk konteks dunia yang fana ini pun, kita manusia cuma pendatang. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Dunia tidak selebar daun kelor.

Jadi sebenarnya dari mana asalnya kata-kata seperti, “Saya asli sini,” dsb? Apalagi setelah dirunut (berdasarkan penjabaran di atas), tidak sedikit pun ungkapan ini mendekati kebenaran. Usut punya usut ternyata karena memang ia tidak hadir dari kebenaran, melainkan dari keinginan untuk menguasai orang lain. Ibarat orang yang sedang dipenuhi rasa takut, ia harus serta merta memilih antara lari atau melawan (flight or fight). Mengeluarkan gertakan (bully) bisa menjadi pilihan untuk melawan, dan tujuannya sederhana: supaya membuat lawan tampak lebih lemah atau tidak berdaya dari dirinya.

Anda tahu kenapa ada orang yang suka menggertak (bully)? Karena ia merasa terancam, ia sadari atau tidak. Ingat, orang-orang yg hebat tidak perlu mempertontonkan bahwa dirinya hebat. Karena begitulah dia apa adanya, tanpa dibuat-buat. Orang yang tidak hebat, di lain sisi, justru harus mencari cara untuk mengkompensasi ketidakhebatannya. Ini bisa dimaklumi, karena seperti halnya hewan, manusia pun memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mempertontonkan diri seperti lebih kuat, hebat, besar daripada yang sesungguhnya. Lihat saja ular kobra yg memipihkan lehernya ketika terancam dengan tujuan menakut-nakuti penyerangnya.

Tapi sayangnya, pola pikir menguasai atau dikuasai, menggertak atau digertak ini sebaiknya sudah harus ditinggalkan. Di era keterbukaan serta informasi di mana orang bekerja dengan otak dan hati, nafsu untuk menguasai (dan memangsa!) berdasarkan ego dan rasa takut harus segera disingkirkan. Kenapa otak? Dalam bidang ekonomi pun ada istilah knowledge-based economy, di mana pembangunan ekonomi hari ini dan masa depan dilandaskan pada ilmu pengetahuan. Masyarakat yang bisa bertahan dan bersaing hari ini dan di masa depan adalah mereka yang mengusai ilmu. Maka kita harus pastikan bahwa titik berat adalah penguasaan ilmu, bukan kemampuan menggertak, mengintimidasi, lebih-lebih menggunakan kekuatan fisik belaka! Bukti sederhana, negara maju adalah di antara negara-negara di dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Yang ke dua, karena kita punya hati, karena kita manusia, bukan lebih rendah dari itu. Dan kita bukan hewan, jadi tidak perlu saling menguasai. Kembali ke poin nomor satu, karena kita dianugerahi kemampuan berpikir, maka berpikirlah, cari tahu, dan mengerti. Sekali lagi: bukan menguasai. Ada pepatah Latin yg berbunyi Homo homini lupus. Artinya a man is a wolf to another man (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Artinya lagi, manusia memiliki potensi untuk kejam, seperti predator yang saling memangsa sesamanya. Tapi dengan berat hati saya harus katakan: saya menolak disamakan dengan binatang. Kita manusia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kita semua setara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua warga negara punya hak dan kewajiban yg sama.

Tapi memang, seperti yang pernah saya tulis di salah satu status, tidak semua manusia mau atau bisa diperlakukan seperti manusia. Maksudnya, tidak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik, ada yang harus dipaksa, diintimidasi, digertak dulu baru berubah (biasanya tipikal yang kurang menggunakan otaknya – silakan kembali ke atas; atau yang kesehatan jiwanya terganggu – silakan baca-baca tentang ciri orang depresi). Nah, ini tugas kita (sebagai anggota masyarakat) dan pemimpin. Saya pikir makin pintar, maju, sadar sebuah masyarakat, tidak perlu lah saling gertak-menggertak. Jadilah manusia. Artinya, jika ingin hidup enak, maka enakkanlah dulu hidup orang lain. Jika ingin hak-haknya dihargai, hargailah dulu hak orang lain. Jika ingin rumahnya bersih, ya bersih-bersihlah. Jika ingin udara segar, ya jangan bakar-bakar sampahlah (untuk yang satu ini, Denpasar dan sekitarnya sudah ada di tahap gawat darurat, potensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara yang ditimbulkannya sudah cukup tinggi).

Kebodohan jangan dibalas dengan kebodohan, tapi dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu pelita, ibarat sinar yang menerangi jalan yang gelap, menuntun kita melangkah ke arah yang ingin kita tuju. Tanpa itu, sama dengan menerka-nerka dan meraba-raba dalam kegelapan. Orang bodoh tidak akan bisa menolong orang bodoh lainnya. Dan untuk saya pribadi, saya enggan hidup dalam kegelapan.

Saya dengan senang hati menerima tanggaan dan sanggahan. Tapi sekali lagi, dengan prinsip: menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Tidak menerima debat kusir, apalagi pengetahuan yang didasarkan pada klenik dan omong kosong.

Sekian dan terima kasih.

Dear guru bahasa Inggris Indonesia: ini PR kita bersama

Tulisan ini sebenarnya hasil unek-unek yang saya tuangkan di akun Twitter saya, @NenoNeno, pada tanggal 22 Agustus 2013. Niatnya saya chirpify tapi karena lama tidak ngeblog, jadi lebih baik saya pindahkan ke sini saja.

Jika menurut Anda apa yang saya sampaikan di sini mengandung ketidakbenaran, silakan dikoreksi atau tinggalkan. Karena saya tidak ingin mengubah isinya, maka penulisan dan bahasa saya biarkan seperti sebagaimana yang saya tulis di Twitter.

Semoga bermanfaat. Syukur-syukur menjadi bahan renungan.

“Lama-lama risih jg memang lihat guru bahasa Inggris yg banyak salah grammar. Sayangnya bahasa Inggris memang bukan content subject.

@cath_mw: how come? mereka lokal atau native? kata temen yg di jkt, ada juga native yg ga menguasai grammar.

Bukan ‘menguasai’ grammar secara teori, mbak.
Tp menggunakannya dgn baik dan benar dlm speaking/writing. That’s why it’s a skill. @cath_mw

Content subject: mata pelajaran yg dipelajari utk dapat informasi (sejarah, biologi, dsb). Smtr bahasa Inggris = skill (ketrampilan).

Tp kalo misal syarat guru bahasa Inggris nilai TOEFL-nya harus minimal 600 mungkin ada banyak banget guru Indonesia yg bakal ‘terpangkas’.

Plus gosipnya kalo kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris ga semua perkuliahan pake bahasa Inggris (kalo saya salah tolong dicerahkan).

@tionovita: saya kuliah Pendidkan Bahasa Inggris, dan emang ga semua perkuliahan pake Bahasa Inggris. Parahnya, ada mata kuliah yg ga penting.

Smtr bahasa itu didapat (acquired), bukan cuma dipelajari (learned). Utk mahir prosesnya bisa panjang, biar maksimal biasanya sejak kecil.

Bayangkan.. Calon guru bahasa Inggris masuk kuliah.. Sblmnya ga terekspos bahasa Inggris dan ketrampilan minim. Smtr kuliah cuma 4 tahun..

Jd.. Ini kyk ‘membentuk’ orang utk jd guru bahasa Inggris cuma dlm waktu 4 tahun & stlh itu mereka dilepas utk jd ‘panutan’ murid-muridnya.

@angelaamoy: iya betul mba, 4tahun itu ga cukup. Aku aja ngerasa masih kering ilmu, dan masih sering ikut course buat referensi mengajar. 🙂

Makanya ga heran akhirnya banyak cerita guru ngajar bahasa Inggris pake bahasa Indonesia sepanjang pelajaran atau ngajarin sesuatu yg salah.

Ditambah lagi perilaku guru (biasanya yg udah tua) yg merasa dia tau segalanya jd ga usah belajar lagi. Ilmu dan skill ga pernah ke-upgrade.

Di kurikulum 2013 jam pelajaran bahasa Inggris utk SMP/SMA dikurangi & utk SD ditiadakan (ga wajib). Ini jd kayak lingkaran setan.. Ngerii.

Anak-anak yg kurang terekspos bahasa Inggris ini nanti dewasa jd guru bahasa Inggris dan akhirnya ujung-ujungnya jd guru spt yg td. Ngerii..

Yg lebih ngeri lagi adalah keadaan ini (banyak guru bahasa Inggris dr Indonesia yg ga berkualitas) bikin celah utk guru-guru asing masuk.

Saya ga bilang guru penutur asli itu jelek atau ga perlu. Tp imbasnya ke persaingan tenaga kerja di dlm negeri — yg kadang ga masuk akal.

Gaji guru penutur asli (biasanya dr negara-negara asal bahasa Inggris) di lembaga kursus biasanya 3-4x lipat guru Indonesia utk entry level.

Yg bikin ga masuk akal bukan ketrampilan bahasa Inggrisnya (jelas ‘bule’ takdirnya dr lahir udah pake bahasa Inggris dong ya, pastinya fasih).

Tp kualifikasi mereka di luar ‘bisa bahasa Inggris’. Sama aja spt menjeneralisasi semua orang Indonesia pasti bisa ngajar bahasa Indonesia.

Kenyataannya mengajar itu perlu ketrampilan khusus. Saya banyak contoh kok ‘guru’ penutur asli yg ga suka ngajar, malah asal-asalan banget.

Tapi walo ‘asal-asalan’ gitu gaji mereka 4x di atas saya dong.. Bagi kalangan guru bahasa Inggris di Indonesia ini udah bukan rahasia lagi.

Saya masih respek sama guru penutur asli yg mengajar bahasa Inggris krn dia menikmati itu, punya gelar di bidang yg sesuai, dan kompeten.

Banyak kah guru penutur asli yg kompeten spt ini? Banyak.. Banyak kah guru penutur asli yg ga kompeten dan asal-asalan? Banyak juga..

Jd sama kayak guru Indonesia jg. Jd mentang-mentang ‘bule’ jangan langsung ‘takluk’ (baca: percaya 1.000%). Cari tau/tanya kualifikasinya, pengalamannya, dsb.

Jangan cuma orang dalam negeri, Indonesia, yg terus-terusan dipertanyakan/diragukan kualifikasinya. Kualat banget sama negeri sendiri..

Kalo cuma pengen temen ngobrol penutur asli, mending ke internet, cari temen chatting, jangan ke tempat kursus. Tempat kursus buat belajar.

Jadi apa nih intinya? Intinya apa? Pesan utk para calon & guru bahasa Inggris: PR-mu banyak. Belajar bahasa Inggris, pengajaran, pendidikan.

Bahasa Inggris skrg statusnya lingua franca. Cepat/lambat kualitas guru ga akan lagi dilihat dr warna kulitnya. Kita harus ambil momen itu.”

Dear students, this is what your homework really means to you

I was so embarrassed… To have given a speech in front of my class. But it was a speech I had to give.

Last week, a student from my business English class complained about me giving too much homework. I have to say this is a typical issue in adult classes. I understand they have lots on their plates: work, family, spouse (husband/ wife), kids, other stuff in other places, etc. In the past, what I usually did was let them get away with it. I would usually just give in to the idea that they should not be given any homework. But not today. Not again. So, what was the homework actually about?

I asked them to do pair work to present a topic on English tenses. Each group was assigned to prepare and present one tense based on the number they got. I mentioned about this assignment on this blog a little bit here. The presentation did not have to be perfect (probably only according to my point of view). I let them find their own materials and make the presentation outside class, and they did not have to prepare any handout. The supervision was done at the presentation.

When you teach at school, it’s easier to give your students homework. However, when you teach a group of adults, they will have all the reasons not to do it. Usually the higher their position is in the company, the more reasons they have to avoid doing it. To some extent, some adult students also think (probably because they are used to other people do the work for them?), that the success of their learning relies solely on what their teacher can make of them.

For all we know, as an English teacher, this kind of mindset is a bit… misleading. I believe, just like the Chinese proverb, teachers open door but students must enter by themselves. They have to be actively involved in and responsible for their own learning. And so with a smile and a bit of wrinkles on my forehead, I replied:

“English is not a content subject where you can read a book one night and suddenly speak English the next day. One needs to constantly keep in contact with the language. We only have two times 90 minutes a week. Do you really think that your English will improve in just 3 hours a week? I personally think as an English teacher, no, it won’t. That’s why I’m giving you homework. The homework functions as a bridge. The bridge to connect the time you learn in class and outside class. So you will not forget that you are learning English when you’re not here.

This is not the first time I teach adult class, and I’ve seen many classes I taught did not give significant change in my students’ English. And I don’t want that to happen. Again. Especially to this class. I learned my lesson. Do you want this class to be effective? Do you want your learning to be successful? Well, I’m sorry that I have to break the truth: there’s no shortcut to success. You have to do the hard work. If you have a particular goal, I’m pretty certain you will somehow do anything possible to reach that goal. And I hope that’s what you do in this English class.

And so about the homework? That’s all for you, not for me.”

Do you think I am doing the right thing? Do you think that some tough love is necessary in teaching? Let me hear your thoughts. 🙂

“Bu, Anda lebih pintar dari bos Anda. Karena Anda menguasai 3 bahasa dan dia tidak.”

Refleksi kali ini…

Jumat pagi. Murid saya yang satu ini memang super sibuk. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa meluangkan waktu untuk bertemu lagi dan belajar bersama. Ini adalah pertemuan kami yang ke dua. Ia adalah seorang manajer di salah satu perusahaan retail yang cukup besar di Badung, Bali. Dengan bahasa Inggris yang lancar, walaupun dengan aksen Bali yang kental (tentu karena dia orang Bali), ia menceritakan salah satu alasan utama mengapa ia mengambil les privat yang kami lakukan. Tentu setelah saya bertanya (dalam bahasa Inggris), “Ibu bahasa Inggrisnya lancar sekali. Kenapa ibu merasa perlu kursus?”

Alkisah saat ini ia dipimpin oleh seorang bos baru. Seorang perfeksionis berkebangsaan Inggris. Selain perfeksionis, ia dikenal kerap kali mengoreksi bahasa Inggris karyawan atau bawahannya di depan karyawan lain. Hal ini yang membuat banyak karyawan takut berbicara di depannya. Bukan karena mereka tidak bisa. Tapi karena mereka takut salah dan takut dipermalukan di depan umum. Ini lah alasan mengapa ia (yang sebenarnya sudah memiliki ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris yang cukup baik) tiba-tiba kehilangan kepercayaan diri. Belum lagi ditambah ia baru saja kehilangan anak-anak kesayangannya karena sakit.

Dengan kritis saya langsung berpikir, “Saya yakin pasti bos murid saya ini frustasi kalau memang benar bawahannya tidak memiliki ketrampilan bahasa Inggris yang cukup untuk memungkinkan komunikasi terjadi dengan lancar. Tapi sebagai seorang penutur asli, apa iya ia sekejam itu dan tidak memaklumi kalau bahasa Inggris bukan bahasa utama (bahkan ke dua) kita?” Pada kenyataannya memang banyak orang (atau turis di Bali) yang memaklumi keadaan ini. Dengan lemah lesu dan tidak bertenaga murid saya menyelesaikan ceritanya. Otak saya langsung berkata, “Saya tidak bisa membiarkan dia pulang dari sini merasa rendah diri.”

Lalu saya pun berkata pada ibu ini (tentu – lagi – dalam bahasa Inggris):

“Bu, Anda lebih pintar daripada bos Anda. Kenapa? Coba bayangkan. Ibu menguasai setidaknya 3 bahasa, bahkan termasuk bahasa yang sama sekali bukan milik (kebudayaan dan asal muasal) ibu, bahasa Inggris. Ibu bisa bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ibu sudah mengalami banyak proses (pemerolehan bahasa) yang tidak dialami bos ibu. Sejak ibu kecil hingga sekarang (ibu ini sudah separuh baya). Coba bayangkan lagi. Bos ibu mungkin lahir dan besar di Inggris. Menikah, tinggal, dan berinteraksi dengan sesama penutur asli bahasa Inggris. Sementara ibu? Ibu belajar, berusaha sampai akhirnya bisa 3 bahasa. Sementara dia tidak. Lihatlah prestasi yang telah ibu capai. Lain kali jika ia mengoreksi ibu, katakan terima kasih padanya. Tapi ingat, proses yang telah ibu lalui membuat ibu jauh lebih unggul daripada dia. Katakan dalam hati, ‘I’m much better than you.’ Dengan begitu ibu akan selalu merasa tenang.”

Saya mengakhiri kalimat terakhir dan murid saya terlihat sedikit berkaca-kaca sambil mengangguk-angguk pasti. “Iya, ya… You are right,” ujarnya. Ada secercah harapan dalam pandangan matanya yang tadinya sempat layu. Di akhir pertemuan kami ia pun melangkah pulang dengan lebih semangat.

Sering kali kita menganggap remeh kekuatan yang kita miliki sendiri. Saya tidak tahu apakah ini hasil penjajahan selama lebih dari 300 tahun atau lebih hingga saat ini, tapi kita seharusnya tidak menempatkan diri sebagai warga dunia kelas 2, 3, dan seterusnya. Apalagi ketika berhubungan dengan penguasaan bahasa. Bayangkan orang-orang asing datang ke Indonesia melihat orang Indonesia berbahasa Inggris. Tidakkah itu sesuatu yang menakjubkan? Sementara kita ke negara mereka, tidak ada sedikit pun yang berbahasa Indonesia (kalaupun ada jumlahnya tidak sebanyak penutur bahasa Inggris di Indonesia).

Jadi, tolong, kalau sekarang Anda sedang belajar bahasa Inggris, jangan dulu merasa down atau rendah diri. Hargai dan rayakanlah usaha dan kerja keras Anda. Tidak banyak dari penutur asli bahasa Inggris yang tertarik belajar atau menguasai bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Percayalah, bahkan yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris (di Indonesia khususnya). Atau bahkan yang telah lama tinggal di Indonesia pun masih banyak yang ogah-ogahan untuk bisa menguasai bahasa tempat ia berpijak. Jadi jika Anda tertarik mempelajari bahasa yang bukan bahasa ‘asli’ Anda, bukankah ini hal yang menakjubkan? 🙂

Suka dengan tulisan ini? Silakan bagi ke teman dan kolega Anda melalui tombol social media di bawah ini. Terima kasih.

Teachers, learn from your mistakes

Leaders lead by example, and so do teachers. We teach by example. How many times do we tell our students not to be afraid of making mistakes? Then we should do that too to ourselves. During my first year of teaching my aim was simple: to gain as much teaching experience as I can, and I did. Second year it only got better. Third year I was much more confident to the point that I was so sure my techniques and methodes were the best and most efficient that I turned a blind eye to my own shortfall.

Fourth year, as class size and program design might no more be an issue, I felt something was missing. My teaching practices had grown monotonous as I started to overlook quality over quantity (thinking number of students was what mattered the most). Students became less motivated and English classes were considered to be nothing more than a mere obligation from their company (I teach mostly ESP). By that time, I thought, “I have to do something. I need to change.”

Learning from mistakes means we can identify which practice works the least and which works the best – for us and our students. One practice can be successful in one class, but fail in the other. It is only by more experience and teaching hours that we can raise our self-awareness in this area. Learning from mistakes also helps us with our professional development and makes us a better teacher. These 3 are what I learned the most about my mistakes in the past:

1) Beware of becoming an accuracy freak.

A teacher should be aware as when to become a control freak grammar Nazi and an English teacher. If you are asked to edit an English textbook, you might have to be strict with grammar rules as they are important. However, if you are teaching a class of elementary leveled students, I don’t think that’s the case. I used to be strict with grammar, but as I went on, I came to realize that fear of making mistakes is one of the main reasons that hinders students’ progress.

Mistakes are part of learning. Mistakes should be considered a sign of breakthrough instead of setback. In the past 2 months I have been applying the ‘no correction, no judgement on students’ mistakes’ policy in an ESP class I’m teaching. The outcome is tremendous. Students’ participation, confidence, and self-correction increases. No more shyness and passivity. Changing how I give corrections that keeps them comfortable also builds trust. Students no longer feel patronized.

Mistakes should be considered as a sign of breakthrough, not setback.

2) Always adjust to your students’ speed.

One day I was drilling my 12 year old private tutoring student with exam questions (as the summative test was near), when she whined that she didn’t want to do that, but other things instead. Pulling out game cards I brought with me, she refused doing any game as well. Thinking that my way was the only way, I was frustrated and talked to her mother, expressing my concern. I even mistakenly considered her as in-compliant, but a few meetings afterwards opened my eyes. I was wrong.

It was me as a teacher who failed to understand that as a student she has her own learning speed and preference that she feels comfortable with, and has the right to comply to them. I found that she prefers one-on-one discussion in English to being forced to answer test questions, and apparently this is the best way she learns English. Now she gains much more confidence and is better to cooperate with since I follow her way instead of me imposing mine. And yes, she’s a very chatty 12-year-old!

3) Learning pace is not always linear.

As a first or second year teacher, have you ever been in a situation when you get to a new class then panic on what to teach them and how? Then you turn to ‘holy’ textbooks that you think will save you from all the fuss and worry? I used textbooks all the time (I even worshipped them at some point!), but here’s the thing about them: if you go through the chapters, sub-chapters, and pages one by one according to their original order, the class will lose its dynamics. It becomes dull.

Learning pace does not have to be linear. We can modify and adjust it based on our needs, as long as it makes up the syllabus. Using a textbook is commendable, but how we use it makes all the difference. I usually go from one topic to another, jump from one page to another, as long as I make good connection and flow. Instead of following a strict order, I pace the materials based on class situation. I also choose to use mixed materials than a single book. Keeping the class dynamic is the key.

One reason why I enjoy being a teacher is because I am also an avid learner. This means that inevitably, I am (and will always be) in the process of learning to become a better teacher. What I do today might not be as efficient in the future. I believe as long as we have the willingness to learn, we will continue to grow. Isn’t this the exact same thing we expect from our students? How about you? What have you learned so far from your own mistakes? Share them with me! 🙂