Resensi buku: Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke

Bagi siapa saja yang sedang bingung atau gagal memahami apa dan siapa itu Indonesia, saya sarankan untuk berpaling pada buku ini. Buku ini bisa dibilang usaha paling komprehensif merangkum sejarah Indonesia sejak tahun 130 – 1940-an M, yang ditulis secara padat dan ringkas (untuk garis waktu sepanjang itu, 450 halaman kelewat ringkas!).

Siapa Indonesia? Tidak lain tidak bukan adalah wilayah kepulauan di Asia Timur yang dulunya berada di bawah kekuasaan VOC (1602 – 1799) dan Kerajaan Belanda (seterusnya sejak pembubaran VOC hingga Indonesia Merdeka), yang juga disebut Hindia Timur (atau East Indies). Tak perlu menyesali ataupun merasa malu akan kenyataan ini. Faktanya, sebelum adanya pemerintah kolonial Belanda, Indonesia belum mengenal konsep sebuah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan pulau.

Salah satu hobi nenek moyang kita adalah saling memerangi dan menguasai satu sama lain, antar negara (baca: kerajaan) satu dan lainnya. Kehadiran pemerintah kolonial dalam perang-perang itu sebagian besar bersifat insidental, didorong karena adanya kepentingan Belanda sendiri untuk menjalankan misi dagangnya.

Di tengah kemelut di dalam kerajaannya sendiri serta pemberontakan yang berlarut-larut, Gajah Mada, seorang panglima dari Kerajaan Majapahit, mengangkat sumpah tidak akan menikmati “palapa” sampai ia berhasil mempersatukan wilayah-wilayah di sekitarnya, yaitu Nusantara. “Nusantara” sendiri bermakna “pulau-pulau lain”. Tapi jika kita ingin memahami dari mana asalnya ambisi ini serta “Nusantara” sebagai sebuah gagasan, kita harus kembali ke masa-masa pemerintahan raja terakhir Singasari, Kertanagara.

Situasi internasional yang rumit di akhir abad 13, di mana invasi Mongol memporak-porandakan Eropa dan Asia, membuat Kertanagara merasa bahwa negara-negara di Asia Tenggara harus bersatu untuk menghalangi kekuatan ini. Ia tewas sebelum bisa mewujudkan mimpinya. Semangat ini lah yang menjadi sumber inspirasi Gajah Mada, yang seterusnya diteruskan oleh kerajaan Jawa lainnya, Mataram. Diperkenalkan kembali oleh Ki Hadjar Dewantara, istilah “Nusantara” lalu diusulkan untuk digunakan kembali oleh Muhammad Yamin di sidang-sidang BPUPKI. Pada akhirnya nama Indonesia lah yang dipakai, yang dipopulerkan oleh seorang etnolog asal Jerman.

Peristiwa dalam garis waktu sejarah Indonesia dalam buku ini dibagi ke dalam 16 bab, yang disajikan penuh dengan fakta aktual yang dijamin akan membuat kita terus membuka satu halaman ke halaman berikutnya. Tapi satu yang perlu dicatat, untuk saya sendiri, perlu beberapa waktu untuk mencerna fakta-fakta di dalamnya dan mengaitkannya satu sama lain. Ketika membaca, pembaca diharapkan untuk berkonsentrasi penuh pada apa yang sedang dibaca (dengan kata lain tidak bisa disambi).

Yang paling menarik adalah buku ini tidak hanya berfokus pada sejarah Jawa (atau Majapahit!), tapi juga wilayah lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Sunda Kecil (NTB, NTT), Timor, dan wilayah kepulauan lain di Indonesia. Selain itu, kualitas terjemahannya baik dan tidak banyak terdapat kesalahan penulisan.

Selain kelebihan tadi, ada satu catatan yang perlu diwaspadai, karena walaupun ditulis dengan sangat komprehensif, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada semacam sentimen dari penulis sendiri bahwa Indonesia seharusnya merasa “berterima kasih” kepada (pemerintah kolonial) Belanda karena telah membawa “kemajuan” dan “ketertiban” di Nusantara (dan penulis sendiri adalah seorang Belanda!). Dengan mengesampingkan sentimen itu, kita masih bisa menikmati suguhan-suguhan fakta yang ada.

Jika ada satu hal yang menjadi kekurangan buku ini, adalah peletakan catatan kaki yang jauh di belakang. Mungkin dengan tujuan untuk tidak menginterupsi proses membaca. Saya sendiri melewatkan catatan kaki. Tapi jika pembaca merasa perlu (apalagi untuk tujuan penulisan kembali atau studi), bisa selalu membuka halaman belakang.

Hal-hal lain yang bisa dibaca di buku ini: penerapan Sistem Kultur yang membawa berbagai tanaman dari luar Indonesia untuk dibudidayakan di Indonesia, seperti kopi, teh, tembakau, kayu manis, ubi kayu, kelapa sawit, kina, dan karet, sejarah Istana dan Kebun Raya Bogor, perkembangan Kesultanan Yogya dan Surakarta, sekelumit kisah kepemimpinan Raffles, asal-usul Singapura, sejarah bagaimana agama-agama di Indonesia masuk, jejak-jejak Wahabi di Indonesia, sejarah Kalimantan yang terbagi antara Britania dan Belanda, rekonstruksi sejara Indonesia pra-Islam, dsb.

Buku ini bisa dibeli di toko buku Gramedia. Bagi yang belum membaca, boleh meluangkan waktu dan mencoba membacanya… Bagi yang sudah, bagaimana menurut Anda?

Catatan tambahan: masih ada hubungannya dengan buku ini, silakan cek garis waktu sejarah Indonesia di laman Wikipedia, menarik sekali: Garis waktu sejarah Indonesia.

Advertisements