Bantu ekonomi lokal, makan di warung lokal

Tumben tulisan ini tidak ada hubungannya sama mengajar atau belajar bahasa Inggris. Boleh dong ya… Saya jadi tergelitik saja dengan orang-orang yang mendengung-dengungkan katanya cinta Indonesia, dukung ekonomi lokal, karya anak bangsa, dsb, tapi sehari-harinya makan di restoran fast food (cepat saji) atau tempat-tempat ‘wah’ lainnya yang kebanyakan empunya (baca: bos besarnya) bukan orang Indonesia. Jadi saya mau berbagi pandangan sedikit kenapa makan di warung lokal itu penting kalau (katanya) kita cinta Indonesia.

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari

Pindang goreng sambal, menu paling enak di Warung Bu Kum, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar

Suatu hari saya membuat janji dengan seorang teman di sebuah tempat makan baru dengan gaya kebarat-baratan. Tempat makan ini bukan warung biasa, dengan menu campuran barat dan Indonesia. Karena saya ingin makan makanan yang mengandung nasi, jadi saya pesan soto ayam. Ketika hidangannya disajikan, saya pun mulai mencicipinya. Alangkah terkejutnya saya. Saya yang terbiasa makan di warung pinggir jalan langsung kaget dan rasanya ingin marah dan protes ke yang punya tempat. Sama sekali tidak terasa seperti soto ayam! Kuah hambar cenderung pahit. Bumbu sama sekali tidak terasa. Sementara 100 meter dari tempat itu saya tahu ada warung soto dan nasi goreng Jawa yang menjual soto ayam paling enak di Denpasar. Ini terlalu!

Sampai hari ini saya memang belum menyampaikan komplain atau keberatan saya ini ke pemilik atau manajemen tempat itu. Tapi biarlah saya simpan dalam hati dan saya ceritakan di sini saja. Inti dari pengalaman saya ini… Ada terlalu banyak tempat yang walaupun ia menawarkan kenyamanan, tapi makanan yang disediakan di situ justru tidak otentik dan tidak enak. Apalagi makanan yang berhubungan dengan makanan tradisional atau khas Indonesia. Rata-rata semua menawarkan kemasan yang menarik dan fasilitas yang dicari kebanyakan anak muda dan para profesional, misal: free wi-fi. Saya paham tiap tempat mempunyai model bisnis dan segmen pasarnya sendiri. Mungkin ini yang membedakan tempat-tempat seperti ini dan warung lokal biasa yang menjual ‘makanan asli’ (yang memang menjadi barang dagangan utama dan rasanya enak).

Rujak kuah pindang di warung rujak (tanpa nama) dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Rujak kuah pindang di Warung Pak Ketut Sudiana dekat Pasar Renon, Jl. Tukad Balian, Denpasar

Bukannya saya tidak pernah makan di restoran atau restoran cepat saji, hanya saja kalaupun saya makan di sana, biasanya jarang sekali saya foto atau unggah foto-fotonya di media sosial. Alasannya sederhana, kebanyakan tempat-tempat itu sudah punya channel (saluran) promosi mereka sendiri. Tentu karena modal mereka besar. Tanpa kita mengunggah foto-foto makanan mereka di media sosial, mereka sudah cukup mampu mempromosikan makanannya. Lain halnya dengan warung-warung lokal (yang seringkali makanannya enak betul). Karena model bisnis mereka masih tradisional, maka mereka tidak mengenal sistem promosi seperti perusahaan besar yang modern. Justru kita harus membantu warung-warung yang dimiliki orang lokal ini.

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cenik Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Bulung (rumput laut) kuah pindang di Warung Bu Cening Khas Singaraja, Jl. Tukad Irawadi, Denpasar

Saya penggemar makanan Indonesia dan tidak pernah malu mengunggah makanan Indonesia se-ndeso apapun dan di mana pun ia berada – di dalam gang, dekat pasar, dari desa. Bukan karena ndeso-nya tapi karena makanan-makanan itu otentik dan sangat pantas untuk didukung. Jadi sudahlah, kalau ingin mendukung ekonomi masyarakat lokal, lakukan hal sederhana ini: sering-sering makan di warung lokal dan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengunggah foto-fotonya di media sosial, tentu dengan cara yang menarik. Jadi, jangan melulu ke mal ya… Hehehe… Saya bersyukur di Bali ‘cuma’ ada 3 mal (tolong jangan ditambah lagi!) dan sekarang ini saya jarang banget main-main ke sana… Selamat makan! 😉

Advertisements

Diigo: ayo bangun perpustakaan onlinemu!

Logo Diigo

Seorang rekan guru yang juga anggota Indonesian English Teachers Club lewat Facebook Chat baru saja menyarankan saya untuk memasukkan referensi ke dalam tulisan-tulisan saya di blog ini. Sontak saya langsung teringat dengan akun Diigo saya. Mungkin karena terbiasa ngeblog (baca: bukan menulis tulisan akademik atau ilmiah), saya jadi tidak terpikir kalau referensi itu perlu. Ditambah lagi kebiasaan ngeblog yang biasanya tanpa menyertakan referensi. Tapi bukan berarti saya tidak pernah membaca ya… (Guru yang tidak pernah membaca? Apa-apaan ini?)

Jadi apa sebenarnya Diigo? Diigo mungkin bisa dibilang sama seperti sistem Bookmark yang terdapat di browser pada umumnya. Untuk Chrome biasanya Bookmark berintegrasi dengan Gmail, di mana ketika kita login dengan akun Gmail kita, kita tidak perlu khawatir jika kita tidak menggunakan komputer atau device yang sama. Asalkan kita menggunakan Chrome dan login ke akun Gmail, kita pasti akan tetap bisa mengaksesnya di perangkat mana pun. Bedanya dengan Diigo, Chrome Bookmark tidak memungkinkan orang lain (selain pengguna akun Gmail yang bersangkutan) untuk melihat dan mengakses tautan-tautan yang telah kita simpan dalam Bookmark.

Di Diigo, jika kita lihat, tiap pengguna mempunyai My Library sendiri yang terdiri dari tautan-tautan yang telah ia simpan dan tanggal kapan mereka disimpan. Dan orang lain dapat membaca daftar tautan ini dan mengaksesnya. Jadi, My Library lebih seperti sebuah perpustakaan online (atau digital) yang terbuka di mana tiap orang bisa mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan dibaca seseorang. Konsep Diigo juga sebenarnya adalah media sosial. Jadi sesama pengguna bisa saling menambahkan kontak atau teman seperti layaknya Facebook. Tapi tanpa itu pun orang lain yang bukan teman dapat mengakses daftar bacaan kita selagi mengetahui tautan atau nama user (selagi ketika disimpan pengaturannya public, bukan private). Contoh: http://www.diigo.com/user/retnosofyaniek.

Bagaimana cara membuat akun Diigo? Sederhana. Buka diigo.com, klik Join Diigo, lalu isi keterangan yang diminta seperti halnya mendaftar di sebuah website atau media sosial pada umumnya. Setelah memiliki akun Diigo, kita akan diminta untuk mengunduh dan meng-install add-on Diigo di browser kita. Setelah add-on terpasang akan terlihat seperti yang ada di foto yang saya ambil dari komputer dan browser Google Chrome saya di bawah ini (di antara panah merah muda).

Diigo add-on di Google Chrome

Add-on Diigo di Google Chrome

Bagaimana cara mulai membangun perpustakaan kita sendiri? Buka laman yang kita baca, lalu klik add-on Diigo yang menampilkan logonya seperti di foto di atas. Kita bisa menyimpan laman yang kita baca berdasarkan tag (tagar) yang sesuai dengan konten atau isi laman. Misal: Laman dengan judul ‘An Introduction to Project-Based Learning’ kita kategorikan ke dalam tagar ‘PBL’, ‘education’, ‘teaching’. Atau karena laman ini berasal dari website Edutopia yang tersohor itu, kita bisa juga masukkan tagar ‘Edutopia’. Dan tautan ini pun otomatis akan masuk ke My Library kita, asalkan kita sign in di akun Diigo kita (saya biasanya selalu sign in – dan saya tidak pernah berganti perangkat).

Kelebihan Diigo lainnya adalah karena web-based (berbasis web), ia dapat diakses melalui browser apapun (Chrome, Mozilla, Internet Explorer, etc.) dan perangkat apapun yang mendukung (komputer, iPad, iPhone, Android). Kita juga bisa memilih untuk sign in ke akun Diigo kita atau melalui Gmail. Selain itu, seperti layaknya sebuah buku, kita juga bisa meng-highlight (menstabilo) laman web yang sedang kita baca dengan berbagai macam warna. Lucu bukan? Untuk cara menggunakan Diigo yang lainnya, silakan tonton video tutorial ini yang diambil dari laman depan website Diigo.

Untuk Chandra (rekan guru yang saya sebut di atas), terima kasih telah mengingatkan. Mulai sekarang saya akan memasukkan referensi di tulisan-tulisan di blog ini. Dan jika Anda belum mencoba Diigo, ayo coba sekarang… And let’s start connecting! 😉

Sumber gambar Logo Diigo: edudemic.com

Apa itu PLN? PLN = Personal/Professional Learning Network

Tulisan ini sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar dibaca oleh sebanyak-banyaknya guru di Indonesia.

Apa itu PLN? Pertama kali saya mendengar dan membaca kata ini saya pun bertanya-tanya. Mungkin yang belum mengenal betul juga begitu. Bagaimana tidak. Karena di Indonesia ‘PLN’ lebih dikenal sebagai singkatan dari ‘Perusahaan Listrik Negara’. Nah, PLN yang ini tidak ada sangkut-pautnya dengan perusahaan listrik yang satu itu ya. Dalam dunia pendidikan PLN adalah kependekan dari ‘Personal Learning Network‘ atau ‘Professional Learning Network‘.

Mungkin para guru yang membaca tulisan ini sudah melakukannya tapi belum sadar bahwa itu adalah bagian dari PLN (seperti saya beberapa bulan yang lalu). Jadi, inti dari PLN adalah bagaimana guru memanfaatkan teknologi, internet, dan media sosial untuk mengikuti perkembangan dunia pendidikan terkini di dunia dan mendapat pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan profesionalisme (professional growth).    

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi, internet, dan media sosial. Pernah tidak suatu waktu kita merasa ada kesulitan dalam mengajar sementara tidak ada seorang pun yang bisa kita tanyakan pendapatnya? Berdasarkan pengalaman saya sendiri, biasanya saya akan browse internet dan mencari solusi akan masalah saya tadi. Hasilnya? Ternyata ada banyak sekali bahan di luar sana dan saya merasa sangat terbantu! Itu lah PLN.

Bagaimana cara membangun PLN? Jika kita sudah terbiasa browsing internet, sudah aktif menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn, maka membangun PLN tidaklah sulit. Silakan tentukan langkah Anda sendiri atau buka tautan ini untuk tips-tips hebat cara memulainya: 50 Great Ways to Grow Your Personal Learning Network. Kalau untuk saya sendiri, ini yang selama ini saya lakukan dengan PLN saya:

  1. Facebook: saya menggunakan akun Facebook untuk berhubungan dengan guru bahasa Inggris, guru, dan pendidik di wilayah saya dan Indonesia. Seperti halnya di Facebook group dan Twitter, di sini saya suka membagi tautan, gambar, dan video yang berhubungan dengan English Language Teaching (ELT).
  2. Facebook Group: September 2012 saya memulai grup Facebook Indonesian English Teachers’ Club, di mana anggotanya adalah guru bahasa Inggris dari seluruh Indonesia. Di grup ini kami biasa mendiskusikan tentang belajar mengajar, event, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa Inggris.
  3. Twitter: saya menggunakan Twitter kebanyakan untuk mem-follow para ahli atau akun Twitter yang memfokuskan pada ELT dan bidang lain yang saya minati seperti educational technology (edtech). Dari sini saya banyak mendapatkan informasi tentang tren dunia pendidikan dunia, terutama yang berhubungan dengan ELT. Saya juga dapat secara aktif berinteraksi dengan para guru bahasa Inggris lain, di dalam dan luar negeri. Salah satu ‘forum’ diskusi di Twitter yang paling populer adalah #ELTChat yang diadakan tiap Rabu yang diorganisasikan oleh eltchat.org. Guru bahasa Inggris dari seluruh dunia bisa berpartisipasi di sini.
  4. Blog: dibuatnya blog Ms Neno’s Blog ini awalnya adalah untuk media saya merefleksikan kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan. Tetapi mulai bulan April ini, saya berusaha untuk terus aktif ngeblog, terutama setelah memahami lebih dalam apa itu PLN dan bagaimana ia bisa membantu meningkatkan profesionalisme saya. Fokus saya adalah membuat refleksi, berbagi pengalaman, teknik dan metode mengajar, serta hal-hal lain.
  5. LinkedIn: akun LinkedIn saya saya dedikasikan untuk membuat network dengan para profesional di bidang pendidikan, pengajaran bahasa Inggris, maupun di luar kedua itu. Walaupun bukan pengguna aktif, saya juga bergabung dengan beberapa grup yang berhubungan dengan ELT dan ada banyak diskusi menarik dan penting yang terjadi di sana.
  6. Paper.li: saya lupa kapan saya membuat akun Paper.li tapi terbukti ‘harian’ English Teaching and Learning Daily yang saya buat telah membantu guru maupun murid yang juga follower saya karena seringkali mendapatkan retweet dan favorite. Paper.li adalah salah satu cara terbaik untuk mengkurasi (curating) konten yang berhubungan dengan belajar mengajar bahasa Inggris. Konten bisa kita atur sesuai dengan pembaca yang ingin kita tuju – untuk harian saya, saya membuatnya untuk guru dan murid bahasa Inggris.
  7. Google Chrome Bookmark. Kenapa saya pakai Google Chrome untuk mem-bookmark laman-laman yang saya baca? Seharusnya saya tidak menggunakannya karena dengan begitu saya tidak bisa membaginya dengan orang lain. Saat ini saya masih dalam tahap belajar menggunakan Diigo. Di Diigo, laman-laman yang kita bookmark bisa dilihat oleh orang lain, dalam hal ini sesama guru yang mungkin mendalami bidang yang sama dengan kita. So… Wish me luck untuk yang satu ini…

Selain di atas, pembaca bisa menentukan mau menggunakan website atau media sosial pilihan Anda sendiri lo… Gambar di bawah ini cukup menjelaskan bagaimana media sosial digunakan dalam PLN:

Gambaran cara memanfaatkan media sosial sebagai PLN

Atau… Bisa juga nih tonton video keren yang satu ini, tentang bagaimana PLN itu penting bagi para pendidik, sehubungan dengan bagaimana di jaman informasi dan teknologi saat ini penguasaan teknologi telah menjadi syarat wajib dan utama menjadi seorang guru yang baik: You can’t be my teacher. Kutipan paling mengena ada di akhir video:

“Do you really think it is possible to be an educator in the information age and not understand and use the internet? Continue to pretend, maybe the internet is just a fad.”(Apakah Anda benar-benar berpikir adalah mungkin menjadi seorang pendidik di era informasi dan tidak memahami dan menggunakan internet? Terus saja berpura-pura, mungkin internet hanya sekadar demam sementara saja.)

Bagaimana? Mudah kan membuat PLN? Mulai dari sekarang yuk! Untuk membaca lebih banyak tentang PLN, kunjungi laman ini: Teacher’s Guide on Creating Personal Learning Networks.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Guraru.org dan Kompasiana.com.

Image credit: educatorstechnology.com.

@EnglishTips4U: who we are

@EnglishTips4U’s logo

Tahu @EnglishTips4U? Atau jangan-jangan sudah follow aka sudah jadi fella? Atau sering mampir ke website EnglishTips4U.com? Sebagai yang memulai @EnglishTips4U, di tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang apa itu @EnglishTips4U, bagaimana kami memulai, dan apa saja yang sudah kami lakukan selama ini. Sebagai pembuka, ada baiknya kamu membaca tulisan saya sebelumnya tentang @EnglishTips4U: @EnglishTips4U: the project.

Di tulisan itu (tertanggal 15 September 2011 – 8 bulan setelah ia dimulai pada Januari 2011), follower Twitter kami baru mencapai 5.000 lebih, dengan jumlah admin aktif 3 orang (saya, Patty, dan Chatrine – Chatrine saat ini sudah tidak aktif). Sampai tulisan ini dibuat, jumlah follower kami 49,121, dengan jumlah admin aktif 8 orang (7 orang admin harian dan 1 supporting admin). Dan seperti yang saya tulis, sudah tahu dong ya asal mula @EnglishTips4U? 😉

Menurut Cambridge Dictionaries Online (kamus online favorit!), definisi portal adalah:

“a page on the internet that allows people to get useful information, such as news and weather, and to find other websites”

Ketika akhirnya menggunakan tagline “Twitter-based English learning portal”, saya berpikir waktu itu koleksi materi kami di website sudah cukup banyak (ketika itu masih menggunakan Posterous), traffic ke website pun lumayan, dan rata-rata pengunjung datang untuk mencari dan membaca materi bahasa Inggris. Tiap hari admin yang bertugas pun secara rutin memberi tautan website dan tiap ada postingan baru selalu muncul di timeline Twitter dan Facebook (walaupun halaman Facebook tergolong baru).

Kenapa “Twitter-based”? Karena semua materi berawal dari Twitter, baru dipindahkan ke website. Dari awal sudah seperti itu alurnya. Sejak website pertama kami di WordPress dengan nama yang sama sekali berbeda: Rumah Belajar Bali, Posterous, sampai EnglishTips4U.com. Keuntungan menggunakan sistem ini, orang akan tetap bisa mengikuti pelajaran di Twitter dengan menyenangkan, tapi masih bisa membaca di website kalau kelewatan.

Sering ada mention yang masuk, “Adminnya siapa sih?” Well, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini ya: About us. Yang jelas saya sendiri berasal dan tinggal di Denpasar, Bali. Admin ke dua yang bergabung, Firdaus, di Malang, lalu Patty di Jakarta, Chatrine di Semarang (namun sekarang sudah hijrah ke Denpasar), Ika di Jakarta, Vitri di Denpasar (yang tidak sengaja saya ‘temukan’ di sini), dan tiga yang terakhir: Iis, Wai, Febby, semua di Jakarta.

Bagaimana kami bekerja? Dulu ketika semua admin masih menggunakan BlackBerry, sehari-hari kami berkomunikasi melalui BBM. Sekarang kami pindah ke WhatsApp (ya, ya… You certainly know why… 😛). Tiap hari sesi di’admini’ oleh admin yang berbeda. Admin bebas memilih topik asalkan belum pernah dibahas sebelumnya dan tiap hari menggunakan tagar yang diselang-seling (tidak boleh sama). Di bawah ini daftar tagar yang kami punya:

Sudah pernah mengikuti semua tagar? Yang mana favoritmu? Beberapa tagar populer antara lain #USSlang, #UKSlang, #AUSSlang (semua yang slang sepertinya populer ya?), #IOTW, #EngTalk, #FixIt, #EngQuiz, dan #EngGame. Sementara yang sudah jarang sekali digunakan: #EngSurvey dan #folktale. Selain fasih dengan penggunaan tagar, para admin tentu harus memiliki English proficiency yang baik dan kecintaan yang tinggi akan belajar bahasa Inggris (cieh…).

Sekarang setelah kami berdelapan, kami merasa para admin lebih seperti sebuah online community ketimbang kumpulan admin. Community kecil dengan format lebih besar terdiri dari semua para fellas (mungkin juga kamu yang membaca ini!). FYI, panggilan ‘fella’ (dengan bentuk jamak ‘fellas’) sendiri pertama kali diusulkan oleh Chatrine. Belum tahu apa arti fella? Coba dilirik dulu penjelasannya di Oxford Dictionaries Online: fella.

Well… Sepertinya sekian dulu ceritanya… Supaya lebih enak dilihat, mari saya sajikan timeline @EnglishTips4U (yang sesungguhnya) yang sudah ingin saya buat dari beberapa waktu yang lalu. Dari saat kami ‘lahir’ sampai sekarang. Check it out! And don’t forget to leave comments on what you think about us. Suggestions and inputs are highly appreciated. 🙂

@EnglishTips4U’s Timeline

  • 31 December 2010: blog post pertama lahir… Dengan bahasan yang cukup membahana: ‘gold digger’ and ‘bitch’ (what was I thinking?!).
  • 2 Januari 2011: @EnglishTips4U lahir. Twit pertama muncul… (tapi saya sendiri sudah lupa apa twit pertama kami… Well…)
  • 30 Januari 2011: Firdaus, admin ke dua, bergabung dengan kultwit tentang ‘phrase’.
  • 18 Juni 2011: blog post pertama di Posterous. Kita pindah ke rumah ke duaaa…
  • Agustus 2011: Patty dan Chatrine bergabung…
  • September 2011: Ika bergabung…
  • 26 November 2011: Saya mewakili @EnglishTips4U menjadi fasilitator di ‘@EnglishTips4U, Learn English the Social Media Way‘ Workshop di ajang Bali Creative Festival.
  • Maret 2012: Vitri bergabung…
  • May 2012: Neno, atas nama @EnglishTips4U, menyumbang dua artikel di majalah ‘Essay’ terbitan English Students’ Association (ESA) Universitas Udayana, Bali. Masing-masing tulisannya berjudul Commonly Used English Idioms dan Etymology and the History of English Words.
  • Juni 2012: Iis dan Wai bergabung… (keduanya berhasil ‘lolos’ dari seleksi #AdminHunt – ajang pencarian admin yang waktu itu kami adakan).
  • Juni 2012: dalam rangka ‘mencari’ logo baru, kami mengadakan #LogoCompetition (yang logonya masih dipakai sampai sekarang, didisain oleh Fatima. Profil Fatima bisa dibaca di laman About us ya…). Pengumuman pemenang diumumkan awal Juli 2012.
  • Juli 2012: Febby bergabung… Febby juga kami ‘temukan’ via #AdminHunt.
  • 23 Juli 2012e-learningenglish.net, website belajar bahasa Inggris online yang dikelola native English speakers yang juga ESL instructors yang berdomisili di Korea, memasukkan @EnglishTips4U di urutan ke-3 dalam daftar ‘Suggested Sites for ESL Learners‘.
  • 22 Oktober 2012: Vitri, salah satu admin kami, menjadi pembicara di ‘Having Fun with English‘ Seminar yang diselenggarakan oleh President University, Jababeka.
  • 31 Oktober 2012: Learn English Online, sebuah blog yang menyediakan berbagai tautan dan materi bahasa Inggris, menempatkan @EnglishTips4U di nomor 2 ‘Top Twitter Accounts to Follow to Help You Learn English‘.
  • Januari 2013: dalam rangka merayakan hari ulang tahun yang ke-2 (setelah sekarang panel of admins jadi lebih rameee…), kami mengadakan #PhotoContest dengan jumlah total peserta 45 orang dan 146 foto! Info acara bisa dilihat di #PhotoContest dan daftar pemenangnya di #PhotoContest Winners.
  • 7 Februari 2013i-studentglobal.com, portal yang didedikasikan untuk mahasiswa internasional yang berbasis di UK, memasukkan @EnglishTips4U di urutan ke-2 ‘5 Twitter accounts to help you learn English‘. The remarka brilliant free English learning portal.
  • 1 April 2013: Ruth Theodora, mahasiswi Teknik Informatika Universitas Gunadarma, dan timnya berhasil membuat aplikasi Android sederhana yang menggunakan materi bahasa Inggris dari website @EnglishTips4U sebagai tugas kuliah dan dilombakan di universitasnya.
  • 10 April 2013Joan Winona, mahasiswi Ilmu Komunikasi UI, membuat laman @EnglishTips4U di Wikipedia Indonesia sebagai tugas kuliahnya. Laman itu bisa diakses di English Tips For You (update: karena beberapa alasan, laman ini dihapus oleh salah satu admin Wikipedia Indonesia dan saat ini tidak tersedia).
  • 11 April 2013: Firdaus muncul di Radio Kencana, Malang, sebagai bintang tamu, ngobrol tentang @EnglishTips4U dan bahasa Inggris.
  • April 2013 – …it’s a tough work but we are trying to finish a book! Kapan terbitnya? Surprise, surprise… Tunggu saja tanggal mainnya ya! 😉
  • May – June 2013: di ajang kompetisi Top 100 Language Lovers 2013 yang diselenggarakan oleh sebuah portal bahasa di Jerman, @EnglishTips4U dinominasikan di 2 kategori: Top 100 Language Twitter Accounts 2013 dan Top 100 Language Professional Blogs 2013.
  • 12 June 2013: hasil kompetisi Top 100 Language Lovers 2013 diumumkan. @EnglishTips4U mendapat peringkat 9 The Best Language Twitter Account 2013 dan Top 100 Language Professional Blogs 2013, sementara secara umum berada di urutan ke 12 Top 100 Language Lovers 2013. Terima kasih untuk semua yang sudah memilih!