Teachers, learn from your mistakes

Leaders lead by example, and so do teachers. We teach by example. How many times do we tell our students not to be afraid of making mistakes? Then we should do that too to ourselves. During my first year of teaching my aim was simple: to gain as much teaching experience as I can, and I did. Second year it only got better. Third year I was much more confident to the point that I was so sure my techniques and methodes were the best and most efficient that I turned a blind eye to my own shortfall.

Fourth year, as class size and program design might no more be an issue, I felt something was missing. My teaching practices had grown monotonous as I started to overlook quality over quantity (thinking number of students was what mattered the most). Students became less motivated and English classes were considered to be nothing more than a mere obligation from their company (I teach mostly ESP). By that time, I thought, “I have to do something. I need to change.”

Learning from mistakes means we can identify which practice works the least and which works the best – for us and our students. One practice can be successful in one class, but fail in the other. It is only by more experience and teaching hours that we can raise our self-awareness in this area. Learning from mistakes also helps us with our professional development and makes us a better teacher. These 3 are what I learned the most about my mistakes in the past:

1) Beware of becoming an accuracy freak.

A teacher should be aware as when to become a control freak grammar Nazi and an English teacher. If you are asked to edit an English textbook, you might have to be strict with grammar rules as they are important. However, if you are teaching a class of elementary leveled students, I don’t think that’s the case. I used to be strict with grammar, but as I went on, I came to realize that fear of making mistakes is one of the main reasons that hinders students’ progress.

Mistakes are part of learning. Mistakes should be considered a sign of breakthrough instead of setback. In the past 2 months I have been applying the ‘no correction, no judgement on students’ mistakes’ policy in an ESP class I’m teaching. The outcome is tremendous. Students’ participation, confidence, and self-correction increases. No more shyness and passivity. Changing how I give corrections that keeps them comfortable also builds trust. Students no longer feel patronized.

Mistakes should be considered as a sign of breakthrough, not setback.

2) Always adjust to your students’ speed.

One day I was drilling my 12 year old private tutoring student with exam questions (as the summative test was near), when she whined that she didn’t want to do that, but other things instead. Pulling out game cards I brought with me, she refused doing any game as well. Thinking that my way was the only way, I was frustrated and talked to her mother, expressing my concern. I even mistakenly considered her as in-compliant, but a few meetings afterwards opened my eyes. I was wrong.

It was me as a teacher who failed to understand that as a student she has her own learning speed and preference that she feels comfortable with, and has the right to comply to them. I found that she prefers one-on-one discussion in English to being forced to answer test questions, and apparently this is the best way she learns English. Now she gains much more confidence and is better to cooperate with since I follow her way instead of me imposing mine. And yes, she’s a very chatty 12-year-old!

3) Learning pace is not always linear.

As a first or second year teacher, have you ever been in a situation when you get to a new class then panic on what to teach them and how? Then you turn to ‘holy’ textbooks that you think will save you from all the fuss and worry? I used textbooks all the time (I even worshipped them at some point!), but here’s the thing about them: if you go through the chapters, sub-chapters, and pages one by one according to their original order, the class will lose its dynamics. It becomes dull.

Learning pace does not have to be linear. We can modify and adjust it based on our needs, as long as it makes up the syllabus. Using a textbook is commendable, but how we use it makes all the difference. I usually go from one topic to another, jump from one page to another, as long as I make good connection and flow. Instead of following a strict order, I pace the materials based on class situation. I also choose to use mixed materials than a single book. Keeping the class dynamic is the key.

One reason why I enjoy being a teacher is because I am also an avid learner. This means that inevitably, I am (and will always be) in the process of learning to become a better teacher. What I do today might not be as efficient in the future. I believe as long as we have the willingness to learn, we will continue to grow. Isn’t this the exact same thing we expect from our students? How about you? What have you learned so far from your own mistakes? Share them with me! 🙂

Mengapa mengajar itu menyenangkan

I love teaching!! (Neno, October 2012)

Seumur hidup, saya tidak pernah punya aspirasi menjadi guru. Sewaktu saya kecil (dan mungkin sepanjang waktu saya dibesarkan hingga sebelum kuliah), menurut saya, kata ‘guru’ selalu identik dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru sekolah yang sering saya temui waktu itu. Saya memang termasuk jenis orang yang unggul secara akademis, tapi saya tidak pernah bisa ‘bersahabat baik’ dengan institusi yang namanya sekolah. Saya menganggap sekolah itu membosankan, penuh dengan kegiatan belajar mengajar yang itu-itu saja. Well, mungkin itu yang akhirnya membuat saya ‘terdampar’ di tempat saya sekarang, penyedia pelatihan dan bimbingan bahasa Inggris yang saya kelola sendiri. 

Sewaktu kuliah saya beraspirasi menjadi jurnalis. Salah satu profesi yang waktu itu saya anggap heroik. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler jurnalistik, hingga kuliah. Sekarang, setelah berpikir ulang, saya menyadari ternyata ada satu kualitas yang harusnya ada dalam diri seorang jurnalis (menurut saya lo ya, this is my personal opinion) yang tidak saya miliki: saya tidak bisa hidup dengan intrik dan pola pikir yang terlalu ‘berat’, yang menurut saya adalah makanan sehari-hari seorang jurnalis. Maka ketika saya pertama kali mengajar, saya merasa, “Wah, tak disangka pekerjaan ini asyik ya.” Saya bisa melakukan hal-hal yang saya sukai (saya suka sekali belajar), berbagi ilmu (yang juga saya suka) kepada orang yang membutuhkan.

Dengan pengalaman empat tahun mengajar (saya tahu ini belum seberapa jika dibandingkan dengan guru-guru senior lainnya), inilah beberapa alasan mengapa saya suka sekali mengajar dan akan terus melanjutkan profesi ini.

1) Mengajar itu wajib untuk orang yang suka belajar. Saya suka sekali belajar dan menemukan pengetahuan baru. Saya juga tidak mudah puas dengan apa yang saya tahu atau ketika saya ingin mengetahui tentang suatu hal. Saya juga lebih suka memperdalam satu ilmu secara spesifik ketimbang mengetahui banyak hal tapi hanya sedikit saja. Tentu jika saya ‘memiliki’ ilmu, tidak mungkin saya menyimpannya sendiri.

2) Bagi saya mengajar itu mudah. Tentu ini karena saya memiliki bekal ilmu tadi (dan pengalaman). Banyak guru baru yang mungkin baru terjun mengajar tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup karena bisa saja ilmu atau pengalamannya kurang. Pada awal saya mulai mengajar, saya pun kurang dalam hal pengalaman. Tapi seiring dengan waktu, mengajar menjadi lebih mudah.

3) Saya adalah tipe orang yang lebih suka bekerja secara dinamis. Maksudnya, saya tidak bisa bekerja selama, misal, 8 jam sehari di depan komputer saja tanpa adanya interaksi dengan orang lain. Mengajar memungkinkan saya untuk bertemu orang yang berbeda, dan situasi dalam kelas pun dijamin tidak akan sama di tiap pertemuannya.

4) Mengajar memungkinkan saya untuk berbagi. Untuk urusan ilmu, saya bukan tipe orang yang pelit (untuk apa juga ya? Hehe…). Saya suka membagikan hal-hal yang saya ketahui kepada orang lain yang memerlukannya. Ini juga yang sedikit banyak melatarbelakangi saya untuk membuat akun @EnglishTips4U di Twitter.

5) Dengan mengajar saya bisa banyak belajar dari orang lain. Tentang pengalaman, pekerjaan, dan terutama sekali kehidupan mereka. Saya suka sekali mendengarkan cerita orang lain, terutama dari yang berlatar belakang berbeda dengan saya. Mengenal murid-murid saya berarti mengenal individu-individu baru beserta keunikan mereka masing-masing.

6) Mengajar membuat saya selalu berpikir positif. Saya yakin menjadi guru adalah salah satu profesi di dunia yang membutuhkan banyak kesabaran, pikiran positif, dan semangat. Dengan mengajar saya jadi tidak mudah curiga atau menghakimi orang lain. Kenapa? Karena saya butuh murid-murid saya untuk berpikir positif kalau mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan. Jika saya tidak bisa demikian, bagaimana saya bisa mengajak mereka untuk begitu?

7) Mengajar itu menstimulasi ide-ide kreatif. Seperti yang sudah saya tulis, saya bukan penggemar metode mengajar yang kuno dan monoton. Saya suka membuat sendiri cara dan kegiatan belajar mengajar yang menurut saya fun dan disukai murid-murid. Mungkin caranya tidak biasa, tapi tujuannya sama. Kreativitas dan improvisasi yang membuat seorang guru survive selama pelajaran.

8 ) Satu hal yang tak kalah pentingnya yang membuat saya enjoy mengajar adalah pola pikir bahwa menjadi guru tidak harus di sekolah (atau menjadi PNS). Mengajar privat, di lembaga kursus, atau tempat-tempat lainnya tidak akan mengurangi hikmah dan makna kita sebagai seorang guru.

9) Last but not least, mengajar bisa membawa saya ke dunia yang sama sekali baru. Ketika saya mengajar, saya tidak pernah menganggap kegiatan ini sebagai pekerjaan (aneh ya?). Saya selalu menganggap mengajar is a fun thing to doYou can even sometimes put your best mask and be that perfect teacher you want to be. Adakah di antara pembaca yang juga guru merasakan hal yang sama?

Well, mungkin tidak semua guru menikmati profesinya dengan alasan yang sama dengan saya. Bagaimana dengan Anda?